
Seorang lelaki menatap tajam ke arah meja Ningsih. Lelaki yang meminum kopi sedang memperhatikan setiap tawa dan ucapan wanita menarik itu.
"Ningsih ... kapan kamu akan menerimaku?"
DEG! Ningsih mendengar batin lelaki itu. Seketika dia menengok ke arah lelaki yang sedari tadi mengawasinya. Mata mereka pun bertemu sekian detik dan Ningsih langsung membuang muka.
"Yuk udahan yang makan, Tante ajak pergi ke Monas ya atau Dufan?" kata Ningsih sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Loh kok buru-buru sih, Tante? Masih kekenyangan nih," protes Santi.
Joko menatap Ningsih dan mengerti ada kecemasan dari sorot matanya. Joko segera berdiri dan pergi ke parkiran mengambil mobil
"Udah ayo ikut kata Tante aja," bujuk Reno pada kakaknya.
Santi pun tak bisa membantah. Mereka meninggalkan MCD segera.
"Siapa tadi lelaki yang membuat Tante takut?" tanya Reno spontan.
"Ha? Oh, itu... bukan siapa-siapa. Tante nggak takut, cuma risih."
"Dia gangguin Tante? Biar Reno hajar saja kalau begitu," ucap Reno terpancing emosi.
"Apaan sih kamu pakai emosi segala. Dengerin kata Tante Ningsih dulu!" kata Santi menyela ucapan Reno.
"Sabar... sabar... Lelaki tadi hanya orang aneh kok. Salah satu klien yang investasi di tempat Tante. Tapi dia entah suka atau gimana ya, jadi sering kirim bunga dan hadiah ke kantor. Tenang aja, nggak kenapa-kenapa kok," jelas Ningsih meredam emosi keponakannya.
"Tua bangka seperti itu naksir Tante? Ah, jauh lebih keren Reno kan!" seru Reno dengan kepercayaan diri tinggi.
"He he he.... Iya, Reno memang keren and ganteng. Tapi tua bangka itu mempunyai pengaruh besar di Jakarta. Brams namanya," terang Ningsih.
Mendengar nama itu, Joko kaget dan mendadak mengerem mobil. Suara decitan ban mobil dan kampas rem terdengar nyaring membuat Ningsih, Reno dan Santi terkejut.
"Kenapa Joko?" tanya Ningsih.
"Maaf, Bu. Tadi sepertinya saya lihat kucing nyebrang," sangkal Joko.
"Oh, yaudah hati-hati ya."
Joko jelas saja tak berkata yang sesungguhnya. Dia terkejut nama Brams disebut Bosnya. Brams adalah nama yang sama dengan ayah Sita, suami Tante Silvi. Joko takut jika ketahuan masih hidup. Meski penampilan dan wajah Joko sedikit berbeda sekarang. Saat di ICU tempo dulu, beberapa kali operasi dilaluinya. Dahi dan bibir Joko sobek karena hantaman bogem mentah orang suruhan Brams.
"Sial! Untung saja lelaki itu tak melihatku atau mengenaliku. Bisa makin suram jadinya kalau dia tahu aku masih hidup," batin Joko.
Ningsih langsung melihat Joko yang gelisah. Jelas Ningsih mendengar kata hatinya.
"Kamu kenal lelaki tadi, Jok?" tanya Ningsih perlahan.
"Oh, emm... nggak Bos, eh, Bu. Saya tidak kenal," elak Joko.
Ningsih makin curiga dengan gelagat Joko. Mungkin lelaki yang pernah hendak membunuh Joko adalah Brams yang mengejar Ningsih.
****
Setelah seharian berjalan-jalan, sore harinya mereka sampai di rumah Ningsih. Mak Sri dan Wahyu menyambut kedatangan mereka.
"Joko, kamu boleh pulang. Maaf ya semalam buat kamu menginap di sini," kata Ningsih sambil memberi dua kantong plastik yang tadi dibelinya di mall, berisi oleh-oleh.
"Terima kasih, Bu." Joko pun pergi, pulang ke rumahnya dengan motor.
"Tante, ngapain tadi malam dengannya?" selidik Reno.
"Eh, Reno jangan mikir macam-macam. Dia itu sopir Tante. Tadi malam dia antar Tante dan Wahyu ke mall sampai larut. Karena Paginya jemput kamu, Tante suruh deh dia nginam di kamar tamu. Paham? Jangan mikir yang iya-iya," jelas Ningsih kepada keponakannya yang sekarang terlihat lebih menarik tetapi sifatnya masih sedikit sama, cemburuan.
"Oh... ya deh. Reno percaya," lirihnya.
Santi menggendong Wahyu sambil mengamati tante dan adiknya. Tidak ingin kejadian masa lalu terulang lagi. Reno yang tahu diperhatikan kakaknya, lantas jaga jarak dengan Ningsih.
Wahyu turun dari gendongan Santi dan berlari ke ibunya. Mak Sri yang sudah menyiapkan dua kamar tamu membawakan barang bawaan Reno dan Santi ke kamar.
"Reno," panggil Santi.
"Ya?"
"Iya, iya... kan udah janji dari tahun lalu sebelum ke sini," jawab Reno santai.
Mereka pun beristirahat di kamar tamu. Sedangkan Ningsih bermain dengan anaknya. Dia sengaja membelikan beberapa mainan baru untuk puteranya yang sudah berusia tujuh tahun.
"Wah, bagus-bagus, Ma. Terima kasih, Mama. Wahyu sayang Mama," ucap puteranya sambil memeluk tubuh ibu.
Rasa tenang dan senang hinggap di hati dan pikiran Ningsih. Betapa bahagianya bisa memenuhi segala kebutuhan anaknya. Tak ada lagi kekhawatiran akan keuangan. Tak ada lagi rasa takut atau bingung apa yang akan dimakan besok. Semua jauh berbeda dengan kehidupan Ningsih bersama Agus dahulu kala. Hal itu yang selalu membuat Ningsih bersyukur bersama Bima, meski dalam kesesatan.
****
Malam harinya, Ningsih masih di tempat tidur bermain ponselnya. Saat itu dia membalas pesan dari Lee.
[Hari ini sibuk, ya?]
Tanya Lee kepada Ningsih membuka percakapan lewat Whatsapp.
[Iya, Lee. Maaf baru balas.]
[Besok ada waktu?]
[Hmm... kenapa emangnya?]
[Aku mau ajak kamu ke Meikarta.]
[Untuk apa, Lee?]
[Aku membeli sebuah apartemen eksekutif di sana. Ingin kuberikan padamu sebagai bukti kesungguhan. Tolong diterima. Besok tinggal tanda tangan kepemilikan.]
[Maksudmu? Kamu mau menyuapku atau membeliku? Sombong sekali!]
Seketika Ningsih sebal dengan kelakuan Lee yang pamer kekayaan. Memang wajah Lee tampan, tetapi Ningsih tak suka dengan orang yang sombong. Biasanya, kesombongan adalah awal kehancuran.
[Maaf jika kamu tak suka. Aku hanya bingung ingin memberimu hadiah. Kamu wanita dewasa, sukses dan mandiri. Tak mungkin aku memberimu sebucket bunga atau sekotak cokelat ala anak sekolah. Tentunya kamu akan menertawakanku. Jangan tersinggung dengan pemberianku ini. Kamu wanita spesial yang pantas menerima hadiah spesial.]
Jelas Lee, berharap Ningsih tidak marah atau salah paham. Harga apartemen di Meikarta sangat mahal terlebih type Eksekutif dengan fasilitas VIP. Lee menginginkan yang terbaik untuk wanita yang berhasil mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Ningsih terdiam sejenak membaca pesan Lee. Ada benarnya juga. Tak mungkin orang dewasa menghadiahkan hal romantis tetali kuno seperti yang dilakukan Brams Si Tua Bangka tak tahu diri itu. Ningsih pun tertawa. Lee orang yang sangat realistis.
[Ok, baiklah. Besok jemput aku saja. Aku terima hadiahmu yang menarik. Tetapi jangan berharap berlebih dulu!]
[Siap Ratuku. Everything for you. Good night.]
Lee pun mengakhiri berbalas pesan itu. Dia sangat bahagia ada jalan terbuka untuknya mengenal Ningsih, walau harus dibayar dengan nominal yang fantastis. Semua Lee lakukan demi bisa mendekati wanita cantik dan mandiri itu.
Ningsih meletakkan gawainya. Dia memejamkan mata dan tidur. Bima tidak datang malam ini.
Saat tertidur, Ningsih bermimpi bertemu Ratih. Dalam mimpinya, Ratih hanya menunduk dan menangis. Saat Ningsih hendak mendekatinya, dia menghilang.
Mimpi itu bukan kali pertama yang Ningsih alami. Beberapa kali mimpi itu datang dan membuat Ningsih bertanya-tanya. Saat bertanya pada Bima pun tak ada jawaban. Entah kenapa Ratih datang dalam mimpinya.
****
Pagi hari pun tiba, Lee mempersiapkan semua yang dia rencanakan. Apartemen yang dia beli atas nama Ningsih sudah dihias sedemikan rupa agar membuat Ningsih terkesan. Lee menyiapkan sebuah cincin berlian dan ingin mengajak Ningsih saling kenal dan berlibur di negaranya, Singapura.
Lee berpikir terlalu jauh dan berharap semua berjalan sesuai pemikirannya. Jika tidak, dia sudah mempunyai beberapa rencana cadangan untuk mendapatkan hati Ningsih. Seperti urusan bisnis, selalu ada cadangan berikutnya.
Lee bergegas menjalankan mobilnya menuju rumah Ningsih. Dia memakai pakaian rapi, cukup formal untuk hitungan kencan.
[Aku sudah dalam perjalanan. Bersiap, ya.]
Pesan Lee terkirim. Ningsih pun juga sudah bersiap-siap. Meski ada keponakannya, Ningsih sudah terlanjur mengiyakan ajakan Lee.
"Santi, Reno, maaf ya Tante ada perlu sebentar. Kalian main dengan Wahyu, ya. Kalau mau kemana-mana biar Joko yang antar. Tante pergi dulu, ya." pamit wanita itu tergesa-gesa.
"Ok, Tante...." jawab Santi. Reno hanya terdiam memandang Ningsih pergi.
Reno berusaha menahan semua rasa yang dipendamnya empat tahun ini. Kerinduan kepada Ningsih sudah terobati dengan menatapnya saja. Tetapi rasa cinta itu, belum menemukan balasan.
Bersambung....