JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 33


...🔥 BATAS KEMAMPUAN 🔥...


Lauren mengajak Boy ke dunia gaib berkabut. Dia yakin bisa menyelamatkan Bima dan keluarganya. Lauren memang manusia keturunan penyihir. Neneknya dahulu adalah penyihir zaman kuno yang menginginkan cucu lelaki. Karena salah mantra, nenek Lauren membuatnya jadi buta. Karena rasa bersalah, nenek Lauren memberika kemampuannya untuk Lauren agar dia bisa melihat meski buta. Melihat dari cara lain yang tak bisa dimengerti orang lain.


"Boy, kamu tahu jika hari ini akan terjadi, bukan?" tanya Lauren saat sampai di dunia gaib berkabut dan mencari di mana Bima dan anak-anaknya berada.


"Iya, ada dalam penglihatanku. Bagaimana denganmu? Manusia yang unik. Meski kamu keturunan penyihir, kamu membantu pengusiran roh halus yang mengganggu orang lain? Lucu sekali, ya?" jawab Boy yang tersenyum menerawang Lauren.


"Aku lucu? Lalu, bagaimana dengan manusia setengah malaikat yang mencintai wanita iblis? Ha ha ha ... itu baru namanya lucu," celetuk Lauren yang seperti biasa menyebalkan.


Mereka pun melihat pusaran angin yang besar dan membumbung tinggi. "Itu pasti mereka!" seru Boy yang kemudian membawa Lauren terbang agar segera sampai di sana lebih cepat.


Di dalam pusaran angin yang kencang, Wahyu melawan Rivero sekuat tenaga. "Kau tak akan bisa mengalahkanku, manusia!"


Rivero mengeluarkan air dari dalam pusaran anginnya. Wahyu tenggelam dalam air yang keluar dari atas pusaran angin itu. Dia hampir kehabisan napas. Rivero tertawa melihat Wahyu yang hampir kehabisan napas dan meninggal. Jika manusia meninggal di dunia gaib, artinya dia juga akan meninggal di dunia nyata.


Wahyu sekuat tenaga berenang ke arah Rivero. Dengan tenaga terakhirnya, dia memukul Rivero dengan tasbih yang sudah mengumpulkan energi dan doa Wahuyu sejak tadi. Wahyu menyebut Asma Allah dalam hati dan menghantam dada Rivero dengan tasbihnya. Seketika, Rivero terbelalak. Air yang mengguyur pun berhenti. Pusaran angin itu pun berakhir. Tubuh Rivero mulai retak seiring tasbih itu bercaha dan kemudian meledak. Wahyu terpental cukup jauh hingga tak sadarkan diri. Namun, Rivero sudah musnah. Wahyu berhasil mengalahkannya.


"Kakak!" teriak Alex melihat kakaknya terpental jauh. Maksud hati hendak menolong, justru hal itu membuat Alex lengah dan mendapat hantaman dari Zatan.


Alex pun terjatuh. Red dan Zet segera menyergapnya. Alex marah dan muak dengan hal itu. Dia melawan sekuat tenaga. Red pun menangkisnya. Melepas genggamannya saat Alex menyerang. Alex menghadapi tiga iblis sekaligus. Dia terpojok. Dia paham jika mereka memang menginginkan dirinya untuk dibawa ke penguasa neraka lapis keenam.


"Hentikan! Jika aku menyerahkan diri, maukah kalian membebaskan keluargaku? Jangan sakiti orang tua, kakakku, dan keluarga Lisa." kata Alex mencoba bernegosiasi.


Zatan pun tertawa. "Bocah licik. Kukira akan percaya denganmu? Lagi pula, kami juga tertarik dengan kedua iblis buangan itu. Juga gadis kecil itu. Ha ha ha ha ...."


Alex pun tersenyum. Dia hanya ingin memastikan keluarganya baik-baik saja. Namu, jika itu jawaban Zatan, berarti mereka tidak akan membiarkan keluarganya selamat. Alex pun mengepalkan tangan. Dia berjanji akan membunuh mereka semua.


Pertempuran pun berlanjut. Red, Zet, dan Zatan mengelilingi Alex dan menyerang bergantian agar Alex lelah dan kalah. Mereka memang licik.


Bima pun teriak saat melihat Wahyu terpental lumayan jauh. "Wahyu!" Saat yang sama, Warth menggigit lengan Bima. "Aarrgh!" Bima pun kesakitan.


Dia segera mengeluarkan bola api untuk menghantam wajah Warth yang kemudian melepaskan gigitannya. Warth adalah iblis yang rakus. Dia memiliki bentuk yang mengerikan. Dua bola mata sebesar piring dan berwarna merah menyala. Gigi yang besar dan runcing memenuhi mulutnya. Tubuhnya besar dan kekar. Tidak seperti tubuh manusia, Warth berwajah mengerikan dengan tubuh seperti gorila.


"Menyerah saja, iblis buangan! Aku tidak ingin membuang tenagamu. Aku hanya ingin memakanmu. Mengambil energimu," ucap Warth sambil menjulurkan lidah mengusap darah Bima yang berwarna hitam di sekitar bibirnya.


"Aku tidak akan menyerah! Apalagi dengan iblis sepertimu!" Bima kembali menyerang dan berharap segera menyelesaikan ini agar bisa menolong Wahyu yang tak sadarkan diri.


Boy menggandeng Lauren, melesat dan sampai di sana tepat pada waktu kritis. Lauren meminta berhenti di tempat Wahyu terpental jauh. Dia pun meminta Boy membantu Alex karena Lauren tahu Alex sedang tersudut oleh tiga iblis. Sedangkan Lauren akan mengobati Wahyu dan mencoba menyadarkannya.


"Boy, bantulah Alex. Jangan biarkan tiga iblis itu membawa Alex ke neraka lapis keenam!" seru Lauren yang langsung dipahami. Boy menganggukkan kepala dan kemudian terbang ke arah Alex.


Lauren pun meraba Wahyu, meletakkan tangan tepat di dada Wahyu, dan menyalurkan energinya ke pemuda itu. "Ayo, berjuanglah. Lawan kegelapan itu. Kau harus bangun. Jangan kalah!" gumam Lauren sambil menyalurkan energinya.


Wahyu dalam kondisi kritis antara hidup dan mati karena seluruh energinya sudah ia letakkan di tasbih yang membuat Rivero musnah. Lauren berharap banyak. Dia tak ingin melihat Ningsih bersedih. Lauren tahu jika sesungguhnya Ningsih sangat mencintai putera pertamanya.


Boy mengeluarkan pedangnya dan dengan segenap energinya menebas kepala Zet. Percikan darah hitam Zet bersamaan kepalanya yang putus pun membuat Zatan dan Red terkejut. "Kurang ajar! Siapa kau ijut campur!" gertak Zatan yang tak terima.


Jelas saja Zatan marah karena tebasan pedang Boy membuat kepala Zet putus dan tubuhnya langsung musnah terbakar api. Boy pun tersenyum. "Sudah saatnya iblis jahat seperti kalian musnah! Karena kejahatan kalian, iblis yang tak berbuat apa-apa pun kena imbas. Kalian harus merasakan akibatnya!" seru Boy yang kemudian menyerang Zatan.


Bima yang melihat Lauren dan Boy datang pun merasa senang. Terlebih saat melihat Lauren sedang menolong Wahyu, Bima merasa ada harapan. Dia pun langsung menyerang balik Warth. Pertempuran itu membuat Bima terluka cukup parah karena Warth beberapa kali menggigit Bima dan meninggalkan bekas serta darah yang berceceran.


"Warth lapar. Menyerah saja. Aku akan memakanmu!" seru Warth yang sangat terobsesi untuk memakan Bima. Tak hanya memakan tubuh Bima, dia juga ingin menyerap tenaga Bima.


Bima pun menghindar dan menangkis. Setiap kali menyerang, Warth dengan mudah menghalaunya. Warth yang rakus tak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai.


Lauren yang menyalurkan energinya pun merasa lega saat Wahyu bergerak. "Syukurlah. Bangun, bangun, Nak." kata Lauren sambil membantu Wahyu untuk duduk.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... si-siapa kau?" tanya Wahyu yang bingung ketika membuka mata melihat Lauren dengan mata yang berkornea putih agak abu-abu.


"Aku kawan dari ibumu. Ningsih dan Bima adalah kawan baikku. Syukurlah kamu bangun. Aku akan mengantarmu ke dunia nyata. Di sana akan lebih aman untukmu," jelas Lauren dengan singkat. Dia tak bisa membuang waktu karena semua terasa lebih cepat di dunia gaib berkabut.


"Ta-tapi ... bagaimana dengan Papa dan Alex?" tanya Wahyu yang khawatir.


"Mereka juga akan mendapat bantuan. Terpenting sekarang, ayo kita kembali ke duniamu." Lauren pun memegang tangan Wahyu dengan erat. Dia segera merapalkan mantra dan melintasi ruang dan waktu.


Lauren berhasil membawa pulang Wahyu dengan selamat. "Wahyu!" seru ibunya yang khawatir melihat kondisi Wahyu yang penuh luka.


"Mama!" jawab Wahyu langsung memeluk ibunya.


"Ningsih, biarkan Wahyu juga berlindung di sini. Energinya habis karena pertempuran tadi. Dinda, Daniel, kalian tak apa melindungi mereka semua, bukan? Aku harus kembali ke sana. Bima, Alex, dan Boy membutuhkan pertolongan," kata Lauren yang tergesa-gesa.


"Tak apa. Pastikan mereka kembali selamat," jawab Dinda yang paham dengan situasi ini.


"Sayang, berhati-hatilah. Aku mencintaimu," ucap Daniel yang memeluk dan mengecup kening isterinya sebelum akhirnya melepaskan Lauren pergi.


Wanita buta itu kembali ke dunia gaib berkabut. Dia segera menolong Bima. Saat Warth hendak menggigit kaki Bima, Lauren datang dan mengarahkan telapak tangannya ke wajah Warth. Seketika sinar putih membuat Warth silau. Tak hanya silau, sinar itu pun membuat Warth terbakar dan perlahan meleleh. Lauren berhasil memusnahlan Warth. Dia langsung menolong Bima yang sudah penuh luka dan darah hitamnya berceceran di mana-mana.


"Terima kasih, gadis buta. Kau datang tepat waktu." gumam Bima menahan sakit.


"Gadis? Aku sudah menikah, Bima. Aku ini wanita dewasa. Bukan gadis kecil lagi. Ha ha ha ... mari, aku bantu kau menyembuhkan beberapa lukamu," kata Lauren dengan senyum di wajahnya. Membuat Bima merasakan rasa lega meski hanya sesaat.


"Terima kasih, Lauren. Pastikan kau membawa pulang Alex ke Ningsih," lirih Bima sebelum akhirnya matanya terpejam.


Lauren langsung panik karena dia tak menyangka luka Bima terlalu dalam dan parah. "Bima! Bangun Bima! Jangan seperti ini! Jangan!" Lauren mengguncangkan tubuh Bima meski sulit rasanya. Bima memejamkan mata dan tak bergerak. Lauren langsung mencoba menyalurkan energinya. Dia sangat khawatir.


Boy menghadapi Zatan dengan pertempuran yang sengit. Zatan merasa hal ini di luar rencana. Dia memberi aba-aba pada Red. Hal ini di luar batas kemampuan Zatan. Boy adalah makhluk yang cukup kuat ketika mengeluarkan sayap dan pedangnya. Menjadi ancaman yang serius untuk Zatan.


Segera Red yang paham aba-aba dari Zatan pun menyergap Alex. Alex dibekap dan dengan cakar Red yang tajam digores ke lehernya. "Menurut atau kubunuh ayahmu yang sudah sekarat," gertak Red yang membuat Alex melihat ke arah Bima dan Lauren.


Alex tak berkutik karena takut ayahnya akan dimusnahkan, dia justru menurut dengan Red. Zatan langsung bergabung dengan Red dan menghilang.


"Tidak! Jangan bawa Alex!" seru Boy yang gagal mencegah mereka pergi dengan membekap Alex.


Zatan dan Red menghilang entah ke mana. Sedangkan Lauren berteriak karena Bima tidam merespons. "Boy! Tolong! Bima terluka parah!"


Boy pun langsung terbang menghampiri Lauren dan Bima. Dia mencoba melihat kondisi Bima. Darah yang keluar cukup banyak dan kondisi Bima kritis. Sedangkan Boy masih syok karena Alex dibawa pergi oleh dua iblis tadi. Apa yang bisa Boy dan Lauren katakan kepada Ningsih ketika kembali ke dunia manusia? Lauren pun menangis. Baru kali ini dia merasa sangat ketakutan.