
π MERELAKAN - PART 2 π
Setelah makan siang, Ningsih akan menelepon kepala sekolah tempat puteranya belajar. Meminta izin untuk kepindahan sekolah sebelum besok dia mengurus langsung ke sekolah. Meski berat dalam benak Ningsih, merelakan adalah hal terbaik untuknya saat ini. Ningsih pun mengambil handphone dan menelepon Pak Hansen.
Tut ... tut ....
Pak Hansen: "Selamat siang, dengan Hansen. Maaf ini siapa?"
Ningsih: "Selamat siang, Pak. Saya Mamanya Wahyu kelas 1-A. Pak Kepala Sekolah apakah sedang sibuk?"
Pak Hansen: "Oh iya, ada apa Nyonya Ningsih? Saya sedang tidak sibuk."
Ningsih: "Begini, Pak. Saya besok mau ke sekolahan mengurus surat pindah sekolah karena Wahyu akan ke Yogyakarta bersama sepupunya. Apakah bisa berhenti sekolah dan mengurus semuanya besok?"
Pak Hansen: "Mengapa mendadak sekali Nyonya? Apakah ada permasalahan?"
Ningsih: "Tidak, Pak. Tidak ada permasalahan di sekolah maupun di rumah. Hanya saja keponakan saya ingin bersama Wahyu lebih lama dan saya sedang ada keperluan bisnis cukup lama. Bagaimana Pak apakah bisa mengurus semuanya besok pagi?"
Pak Hansen: "Baik, Nyonya. Saya akan koordinasi dengan wali kelas Wahyu dan menyiapkan dokumen lengkapnya untuk besok."
Ningsih: "Terima kasih banyak, Pak Hansen. Maaf merepotkan."
Pak Hansen: "Sama-sama Nyonya."
Telepon pun diakhiri oleh Ningsih. Rasanya separuh lega membuat hati Ningsih tak terlalu sesak. Semua dia lakukan demi anaknya. Bahkan merelakan perpisahan pun jalan terbaik untuk kehidupan anaknya.
Santi pun menghampiri Tante Ningsih. "Tante sudah jadi telepon sekolahnya Wahyu?" tanya Santi yang cemas dengan tantenya.
"Sudah kok, Santi. Kepala sekolahnya sudah Tante kabari dan akan disiapkan berkas-berkasnya. Besok pagi Tante sama Wahyu ke sana untuk mengurus surat pindah sekolah. Tenang saja." jawab Ningsih sambil tersenyum meski hatinya berkata lain.
"Alhamdulilah dimudahkan. Tante Ningsih mau ikut ke Yogyakarta dulu?"
"Ah, nggak Santi. Tante masih trauma soal kecelakaan tempo lalu. Terpenting kamu selalu kabari Tante soal Wahyu ya. Tante juga akan buka usaha baru bidang kuliner saja."
"Iya, Tante. Semoga sukses ya. Kalau gitu nanti Santi pesan tiket untuk keberangkatan Minggu saja ya?"
"Baik. Terima kasih ya Santi."
Santi pun kembali bermain dengan Wahyu dan Reno. Sedangkan Ningsih memilih keluar rumah menemui Budi dan Joko. Dua pegawai itu sedang bercakap-cakap saat Ningsih datang.
"Wah, asyik banget ngobrolnya." sapa Ningsih pada Budi dan Joko.
"Iya, Bu. Maaf, apakah memanggilku sampai datang ke sini?" tanya Joko yang mengira Ningsih hendak mengajak pergi.
"Eh, nggak kok. Cuma mau bicara aja sama kalian berdua."
"Iya, Bu. Ada apa?" ucap Budi sebelum Joko berkata.
"Gini, Joko ... jadi besok Minggu Santi, Reno sama Wahyu mau pergi ke Yogyakarta. Nah, bersamaan dengan Budi dan Mak Sri berhenti kerja. Jadi mereka barengan pulang kampung. Joko antar mereka ya?" jelas Ningsih menanti respon Joko atas resign kedua kawan sepekerjaannya.
"Baik, Bu. Tadi Budi juga sudah cerita sedikit. Besok Minggu kuantar ke bandara deh," jawab Joko dengan santai.
"Oh, iya. Baguslah kalau Budi sudah cerita. Kemungkinan besok setelah mengurus surat pindah sekolah milik Wahyu, antar sekalian ke yayasan pegawai rumah tangga ya?" Ningsih merasa lega jika Budi sudah menceritakan resignya pada Joko. Setidaknya Joko tidak ikut pergi dari rumahnya.
"Bu Ningsih, jika tidak keberatan bagaimana kalau Nindy saja yang menggantikan pekerjaan Mak Sri. Kebetulan Nindy sudah lulus SMA dan masih mencari pekerjaan. Kalau diizinkan bekerja di sini pasti dia senang," ucap Joko membuat Ningsih senang.
Padahal terlihat Budi menyenggol tangan Joko untuk memikirkan kembali perkataannya. Namun Joko sudah nekat demi gaji yang tergolong besar untuk adiknya.
"Wah, ide bagus Joko. Boleh banget. Nindy biar tidur di sini ya menemaniku. Boleh kan?"
Jelas saja Joko mengiyakan karena dia tahu pekerjaan Mak Sri selama ini tidaklah berat. Ningsih pun senang karena merasa tak akan kesepian di rumah sebesar itu. Budi hanya terdiam dan menyayangkan keputusan Joko yang terlihat gegabah.
Malam harinya ....
Ningsih mengajak keluarganya bersama Joko dan Nindy untuk makan malam bersama di sebuah restauran ternama. Ningsih berpikir hal ini terakhir berkumpul bersama dan bertemu Bima dalam bentuk keluarga utuh. Ya, Ningsih sudah mengajak Bima untuk ikut dengannya. Tanpa sepengetahuan Santi, Mak Sri, dan Budi. Ningsih mempertemukan mereka dalam satu meja makan di restauran ternama.
"Makan malam kali ini khusus table maner. Anggap saja sajian terakhir bisa berlumpul sebagai keluarga besar bersamaku dan Bima," ucap Ningsih saat Bima berjalan ke arah mereka yang sudah duduk berkeliling di sebuah meja besar.
"Bima, duduk di sini sampingku." ucap Ningsih dengan lembut.
Mereka mengenakan pakaian yang senada dengan warna hitam dan merah menawan. Terlihat pasangan serasi meski bukan dari dunia yang sama. Santi merinding melihat tatapan Om Bima.
"Terima kasih, Ningsih." Bima duduk di samping Ningsih dengan sebuah kecupan di tangan kanan istrinya.
"Sambil menanti hidangan pembuka, aku mau mengatakan hal ini ke kalian. Aku dan Bima akan tetap bersama. Maaf jika membuat kalian kecewa. Namun hal ini pilihanku. Soal Wahyu ... sayang mulai Minggu ke Yogyakarta bersama Kak Santi dan Kak Reno jangan rewel ya di sana. Nanti Mak Sri dan Om Budi juga akan bantu cari sekolah yang bagus untuk Wahyu. Mama di sini mau merintis usaha dulu. Lalu untuk Nindy yang akan bekerja menggantikan Mak Sri, aku harap kamu mau tidur di rumah menemani Tante ya. Terima kasih banyak Mak Sri dan Budi yang selama ini sudah banyak membantuku. Terima kasih juga untuk Santi dan Reno. Sekian. Hidangan pembuka sebentar lagi datang. Kita nikmati santapan malam ini." jelas Ningsih yang membuat mereka tercengang.
Nindy dan Joko tak tahu soal Ningsih dan Bima karena Budi tak menceritakan secara gamblang. Sedangkan Santi, Reno, dan Mak Sri terkejut jika Nindy hendak bekerja dengan Ningsih. Joko hanya tersenyum sambil mengangkat gelas wine yang sudah terisi.
"Mari kita bersulang untuk kejayaan serta kesehatan Nyonya Ningsih dan Tuan Bima. Cheers!" ucap Joko dengan mantab.
Mau tak mau mereka semua bersulang. Kecuali Wahyu karena masih anak-anak. Ningsih tersenyum puas. Setidaknya mereka tahu jika dia akan terus bersama Bima. Begitupun Bima.
Pelayan mulai berdatangan dan memberikan hidangan yang beraneka ragam dan sangat lezat. Mulai dari salad, soup, steak lengkap, cake, pudding, juice, dan wine. Semua mereka nikmati hingga kenyang.
Malam itu menjadi malam terakhir mereka berkumpul bersama karena tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi esok hari. Ningsih melihat Santi, Budi, dan Mak Sri lebih banyak diam. Sedangkan Reno, Joko, dan Nindy tetap seperti biasa. Wahyu dan Bima pun menikmati malam itu. Ningsih berharap semua akan ada jalan keluarnya. Meski tak mungkin dia lari dari segala jerat dan pertanggung jawaban di akhirat atas perbuatannya, setidaknya dia sudah berjuang membuat keluarganya bahagia.
Setelah table maner tersebut, mereka pun pulang ke rumah dengan dua mobil. Sesampainya di depan rumah, Ningsih pun berbisik pada Bima sebelum masuk ke rumah, "Sayang ... nanti malam datanglah ke kamarku. Aku merindukanmu."
Kalimat yang selalu memabukan sepasang kekasih beda dunia itu. Bima pun mengangguk karena memang rumah Ningsih sudah bisa dimasukinya secara leluasa seperti biasa. Rasa yang tertahan serta segala luapan rindu akan segera bertemu pada muara yang sama.
Rasa Ningsih dan perasaan Bima adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Malam harinya saat semua orang terlelap, Ningsih dan Bima melepaskan rasa rindu mereka. Bertaut kasih dalam tetesan keringat. Angin malam dan para bintang yang menjadi saksi cinta mereka. Ningsih sengaja membuka jendela kamarnya dan memberi tirai tipis saja agar udara menerpa tubuh dua sejoli yang dimabuk asmara.
"Bima ... please jangan tinggalkan aku. Aku sudah merelakan Wahyu dibawa oleh mereka demi kamu. Tolong, jangan tinggalkan aku." lirih Ningsih pada lelaki yang berada di atas tubuhnya.
"Tentu. Selamanya aku akan bersamamu. Bagaimana pun caranya pasti kutempuh agar kita bisa bersama. Aku mencintaimu, Ningsih." ucap Bima yang membawa Ningsih ke puncak kenikmatan duniawi.
Mereka berdua pun meleguh dan menyelesaikan tiap permainan dengan kepuasan yang tiada tara. Cinta dan napsu memang sebuah instrumen yang tak bisa terpisah. Jika hanya menggunakan napsu, hubungan tak akan berjalan dengan baik.
***
Di sisi lain sore tadi....
Bima resah dan bingung. Gertakan dari Tuan Chernobog kali ini bukan main-main. Bahkan selama mengemban tugas, baru kali ini Bima mendapat teguran lebih dari sekali dan sempat dihukum berat. Semua dia lakukan demi rasa yang belum pernah dia rasakan saat menjadi manusia. Rasa yang membuat logika menghilang. Rasa yang membuat segala sesuatu menjadi jelas dan samar pada waktu bersamaan. Rasa cinta yang tak seharusnya ada.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?" gumam Bima sambil melempar batu ke arah danau, tempatnya merenung sendirian.
"Oh, ada orang ya?" ucap seorang gadis yang menggunakan tongkat.
"Kamu mendengarku?" Bima terkejut karena dia masih dalam wujud Iblis yang tak bisa dilihat maupu didengar manusia biasa.
"Tentu. Aku ini buta bukan tuli. Hii hii hii ...."
Gadis itu ternyata tak bisa melihat. Terlihat tongkat hitam yang dipegangnya untuk menuntun jalan. Dia terlihat ceria dan santai.
"Maaf, bukan itu maksudku. Aku ini ...."
"Hantu? Ah, sudah biasa kalau orang atau hantu semua terlihat sama bagiku. Aku kan hanya melihat kegelapan. Hii hii hii ...." jawab gadis itu menyela perkataan Bima.
Suara tawa gadis itu sangat lucu seperti makhluk gaib di Indonesia. Tetapi Bima tahu jika gadis itu adalah manusia.
"Baiklah. Memang semua terlihat sama jika kita tak berusaha memilah."
"Namamu siapa? Aku Lauren." kata gadis buta itu mengulurkan tangannya tepat ke arah Bima.
"Namaku Bima."
Perkenalan singkat karena pengawal Lauren menyusul dan mengajaknya pulang karena sudah mulai mendung. Bima hanya mengamati gadis itu yang tersenyum lalu menoleh ke arah Bima dan melambaikan tangan.
"Gadis yang aneh. Tapi kepekaannya melebihi manusia normal lainnya." kata Bima membalas lambaian tangan gadis itu.
Bersambung ....