
...🔥 AMBISI - 3 🔥...
Setelah mengajak Vira minum kopi dan jalan-jalan, Santo pun memberanikan diri membawa Vira ke mamanya. Seorang pengusaha bakery terkenal di Jakarta. Papa Santo bercerai dengan mamanya karena memilih sekretaris yang jauh lebih muda. Hal itu yang membuat Santo berontak dan malas di rumah.
"Vira, aku ajak ke tempat Mamaku, apa kamu mau?" tanya Santo saat mengemudikan mobil ke arah rumah mamanya.
"Iya, nggak apa. Tapi kenapa Santo mau ajak ke rumah Mamanya Santo?" Vira coba iseng bertanya.
"Emm, kalau Santo bilang cinta pandangan pertama, basi nggak, sih? Santo mau kenalkan Vira ke Mama agar bisa lebih dekat. Santo nggak ada niat buruk, kok." ucap Santo yang tersenyum mengandung banyak arti.
"Dasar lelaki tak punya malu! Bukannya malam itu kamu yang pertama mencegah aku pulang! Lihat saja nanti," batin Vira menatap Santo sebelum akhirnya menjawab pernyataannya.
"Oh, apakah begitu? Vira jadi malu, deh." ucap Vira menutupi amarahnya.
Sesampainya di rumah megah dengan taman di depan, Santo pun memarkirkan mobilnya. Dia segera mengajak Vira masuk ke dalam rumah.
"Ma! Santo datang!" seru Santo yang terlihat masih seperti anak kecil.
"Wah, anak Mama pulang. Mana calon istrimu?" ucap mama Santo yang langsung to the point.
Santo terlihat malu dan pipinya memerah. Dia pun segera memperkenalkan Vira pada mamanya. Pesona dan daya tarik Vira sangatlah besar bagi lelaki. Namun, mama Santo yang menyimpan dendam dengan mantan suaminya, justru membenci Vira karena mirip sekretaris suaminya dahulu.
"Kalau wanita seperti ini yang kamu mau, lebih baik tak usah menikah!" kata mama Santo yang sungguh terlalu. Santo pun menatap Vira yang berpura-pura sedih.
"Ma! Jangan bilang gitu ke Vira! Masih beruntung Santo mau ke sini lagi!" gertak Santo yang kemudian menarik tangan Vira untuk pergi dari rumah itu.
Santo mengajak Vira meninggalkan rumah mamanya dan mengajak ke apartemen karena hari mulai malam. "Sabar, Vira. Jangan nangis lagi. Maafin Mamaku, ya? Kita sekarang ke apartemenku dulu. Kamu istirahat saja," lirih Santo mencoba menenangkan Vira.
Vira masih pura-pura menangis untuk mencari simpatik dari Santo. Dia pun tak menolak ajakan Santo agar rencana Dinda berjalan lancar. Vira pun mengetahui bahwa sesungguhnya lelaki itu mudah terlena dengan perempuan cantik.
Perjalanan hampir tiga puluh menit dengan mengendarai mobil dari rumah mama Santo ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Santo mengajak Vira masuk dan segera menyeduh teh untuknya. "Santai aja. Anggap ini rumah sendiri. Aku buat teh dulu, ya."
Vira pun duduk di sofa dan melihat seisi apartemen Santo yang cukup megah untuk ditempati sendirian. "Kamu di sini sama siapa? Apartemennya luas dan bagus," tanya Vira yang kagum.
"Oh, aku sendiri di sini. Kadang teman-temanku datang ke sini kalau suntuk. Kalau Vira suka, boleh tinggal di sini, kok." kata Santo sambil menyodorkan dua gelas teh yang sudah selesai di seduh.
Vira pun meneguk teh itu tanpa khawatir. Ternyata perkiraan Vira salah tentang Santo. Lelaki itu sudah mencampurkan obat tidur di minumannya. Perlahan, Vira pun merasa pening dan tak sadarkan diri.
...****************...
Vira merasa pening dan mencoba membuka matanya karena tubuh Vira terasa terguncang seakan gempa. Betapa kagetnya saat Vira membuka mata, Santo sudah di atasnya dan sedang bermain dengan kenikmatan surgawi. Vira mencoba memberontak, tetapi tubuh Vira masih lemas dan tak berdaya. Malam itu, Vira kembali merasa diperdaya lelaki busuk yang telah menghancurkan hidupnya.
"Sabar, Vira. Tenang. Setelah ini, semua menjadi urusanku. Ketika dia bersenggama denganmu, berarti dia sudah setuju menjadi tumbal untuk kuambil," bisik Dinda yang membuat Vira tak jadi bersedih. Dia memang menginginkan lelaki itu mati secepatnya.
Setelah usai menyalurkan hasratnya beberapa kali dengan tubuh Vira, Santo pun tertidur nyenyak. Dia tak peduli perasaan Vira. Bahkan, dia pun tak menyadari maut sudah berada di dekatnya.
Dinda pun datang menemui Vira. Dia pun membuat Vira tak sadarkan diri agar bisa tiba-tiba bangun di dalam kamarnya seperti waktu itu. Setelah membawa Vira pulang, Dinda pun membuat Santo seolah bunuh diri. Dinda membawa Santo lompat dari apartemen lantai ke dua puluh. Tubuh Santo hancur seketika setelah terjun dari balkon kamarnya. Dinda pun merekayasa semuanya seakan Santo frustasi karena mamanya menolak Vira.
Dinda sangat cerdik dan pintar memanipulasi segala sesuatu, termasuk pikiran dan hati manusia. Dia adalah bentuk yang nyata dari segala ambisi yang perlahan justru menghancurkan si pemiliknya.
Kejadian itu membuat heboh seapartemen. Orang-orang pun menelepon ambulance, polisi, dan juga pihak apartemen menelepon orang tua Santo. Betapa sakit hati mama Santo dan menyesal ketia mendengar kabar anaknya bunuh diri melompat dari atas balkon.
Nasi sudah menjadi bubur, Santo meninggal menjadi tumbal pertama karena menjamah tubuh Vira yang sudah perlahan dikuasai Dinda. Vira tak sadar jika jiwanya terancam masuk ke neraka lapis ketujuh. Sang Penguasa Perbudakan Malam itu tak akan pernah puas menyambut jiwa-jiwa orang berdosa untuk memenuhi kuotanya.
...****************...
Keesokan hari kemudian ....
Vira bangun dengan tubuh yang terasa sangat letih. Dia melihat sekeliling, ternyata seperti malam kelam itu. Vira bangun dalam kamarnya dipagi hari tanpa mengetahui apa yang terjadi setelah dia tak sadarkan diri. Vira mencoba bangun dari ranjangnya.
"Uh, kenapa pusing sekali? Kenapa tiba-tiba aku di kamar lagi?" Vira merasakan banyak hal aneh terjadi di luar logika.
Setelah sanggup berdiri, Vira melangkahkan kaki ke kamar mandi. Dia mandi, kemudian berganti pakaian, dan bergegas untuk ke kantor seperti biasa. Kedua orang tua Vira belum menyadari hal buruk sedang bergulir mengicar jiwa putrinya. Mereka hanya mengira Vira sudah memiliki pacar karena penampilannya berubah drastis.
Sesampainya di kantor, hal tak terduga pun terjadi. Kehebohan melanda perusahaan karena Tuan Brams sebagai pemilik perusahaan, memanggil Edo dan juga Juvy untuk datang ke kantor lebih awal. Ternyata mereka berdua mendapatkan masalah yang cukup serius. Tuan Brams sudah mengetahui pertengkaran yang mereka lakukan kemarin sore.
Saat Vira datang, banyak orang melihat ke arahnya. Dia tidak tahu jika Edo dan Jovy sedang dalam masalah karena Tuan Brams menurunkan jabatan mereka, bahkan mengancam akan memecat mereka jika mereka membuat ulah lagi. Para pegawai yang mendengar hal itu pun setuju karena Edo dan Juvy tidak disukai di sana. Edo suka memanfaatkan jabatan untuk menggaet wanita pekerja di perusahaan tersebut. Sedangkan Juvy karyawan baru yang sok berkuasa karena menjadi kekasih Edo.
"Vira, akhirnya elu datang. Setelah ini, elu ke ruangan Tuan Brams, ya. Karena Tuan Brams meminta elu ke sana," ucap kawan kerja di ruangan Vira.
"Ada apa emangnya? Wah, aku jadi deg-deg'an." jawab Vira sambil menata meja kerjanya dan meletakkan beberapa data dan berkas penting yang kemarin dibuat ulang. Insiden kemarin saat Juvy mengacak-acak meja kerja Vira membuatnya kualahan karena banyak berkas disobek.
"Nggak apa, kok, Vir. Elu kan karyawan berprestasi. Nggak seperti si Juvy itu kebanyakan sensasi. Si Juvy ama Pak Edo baru dihukum Tuan Brams, tuh," celetuk kawan Vira membuat dirinya bertanya-tanya.
Setelah selesai berberes, Vira segera pergi ke ruangan Tuan Brams. Dia menunggu agak lama karena Tuan Brams masih membahas Edo dan Juvy yang tidak sopan, seenaknya di kantor, bahkan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Vira mendengar jika jabatan mereka dicabut sebagai hukuman.
Setelah kedua orang itu keluar dari ruangan Tuan Brams dengan wajah murung, Vira pun segera masuk ke sana. Dia pun berbincang banyak hal saat Tuan Brams mengajukan pertanyaan. Akhirnya, Vira diangkat menjadi ketua management marketing. Di atas posisi Juvy dan Edo dahulu. Vira pun pindah ke ruangan pribadi yang berada di dekat ruangan Sami.
Saat berpindah tempat, Vira tak sengaja dengar cerita kawan-kawannya soal peristiwa lelaki loncat dari balkon dan bunuh diri sehingga membuat gempar Jakarta. Entah mengapa, Vira menyimak cerita itu hingga dia tahu jika lelaki yang dimaksud itu adalah Santo. Bukannya iba, Vira justru tersenyum. Menyeringai. Dia merasa berhasil mengikuti petunjuk Dinda. Dia menjadi bangga dengan kejahatan yang dia lakukan tanpa takut jika hal itu akan menjadi boomerang baginya.
"Vira, selamat, ya. Ini awal karier yang makin cemerlang untukmu," kata Samy sambil memberikan setangkai bunga mawar untuk Vira.
Vira pun senang dan tersipu malu. Dia merasa bahagia Samy mau memperhatikannya. Meski sejak dulu Samy memang perhatian, tetapi Vira selalu minder saat bersama Samy. Namun, saat ini rasa minder itu sudah hilang bak ditelan bumi.
"Terima kasih, Samy. Kamu so sweet banget," jawab Vira yang menerima bunga mawar itu.
"Tak apa, Vira. Kamu perlu mendapatkan ucapan selamat atas kinerjamu selama ini," ucap Samy yang mencoba menutupi rasa di hatinya yang berdebar kencang.
"Iya, aku senang akhirnya Tuan Brams memberikan kesempatan ini." Vira pun masuk ke ruangan tempat dia bekerja sendirian.
Samy membantu Vira membawa barang bawaannya ke ruangan baru. Lalu, meninggalkan Vira dan semua mulai bekerja masing-masing.
"Vira ... lelaki yang memeperkosamu itu sudah mati. Dia terjun dari balkon lantai dua puluh. Kau puas?" lirih Dinda memberi pertanyaan singkat kepada Vira dan ingin mendengar apa yang menjadi isi hati Vira.
"Benarkah itu? Bagus jika orang itu mati. Namun, aku belum puas. Masih ada beberapa lelaki lagi." gumam Vira menjawab pertanyaan Dinda.
Dinda pun tersenyum. Triknya berhasil! Dia bisa memancing rasa amarah dan dendam di hati Vira. Menjadikan hal itu sebuah kekuatan yang disantap Dinda dengan mudah. Lalu, Dinda akan memanfaatkan tubuh Vira untuk membalas dendam. Bukan hanya Vira yang puas membunuh tanpa disadari, tetapi Dinda senang mendapatkan sesaji tumbal jiwa manusia berdosa.
Ambisi, tetaplah ambisi, bukan? Hal yang menjadi kesukaan bagi para Iblis adalah rasa amarah, dendam, ambisi, dan kesombongan. Dosa yang paling menyenangkan untuk disantap dan dipanen. Dosa yang menumpuk tak akan mudah hilang meski sudah berlalu karena dosa itu bersifat mengikat dalam JERAT IBLIS.