JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Peduli Dalam Diam


Malam itu ... Bima bertarung dengan Madame yang hendak mempengaruhi Gladys dan memberi jampi-jampi kepada Wahyu. Bima tak tega dan tak akan rela kalau keluarganya diganggu. Iblis itu menyerang Madame begitu sampai di tempat prakteknya.


"Jangan ganggu keluargaku!" gertak Bima yang langsung mengobrak-abrik tempat praktek Madame.


"Beraninya kau ke sini dan angkuh, hei, iblis!" Madame tak takut dengan Bima. Wanita itu sengaja menyesatkan manusia yang datang meminta bantuan. Mereka diminta melakukan ritual dan membantu mencari darah lelaki yang mau berkorban untuk Madame menjadi awet muda dan tetap cantik.


"Tak usah banyak bicara! Kau itu tak pantas disebut manusia!" Bima menyerang Madame.


Wanita itu menghindar, menangkis, dan menyerang balik ke Bima. Pertempuran tak terelakkan melawan manusia berhati iblis itu. Saat Madame terpojok, dia segera memanggil bantuan. Lima makhluk gaib yang selama ini menjadi pengikutnya. Makhluk gaib yang menyesatkan manusia.


"Berani hancurkan aku? Lawan dulu mereka!" seru Madame mengerahkan lima pengikutnya untuk melawan Bima.


"Aku tak akan menyerah!" Bima melawan mereka sekaligus.


...****************...


Gladys sudah sampai di kamarnya. Dia segera berganti pakaian, mencuci wajah, tangan, dan kakinya. Serta bersiap untuk tidur. Sebelum memejamkan mata, dia berbaring di ranjang sambil melihat foto lelaki yang dia sukai.


"Wahyu ... Wahyu ... Tuan Wahyu yang tampan. Aku mencintaimu. Kita akan menikah segera, bukan? Jodohmu hanya aku," ucap Gladys terobsesi oleh Wahyu.


Wanita itu tak tahu jika keinginannya menjadi bencana. Bukan untuk orang lain saja, tetapi untuk dirinya sendiri juga. Saat ini, dia belum menyadari yang terjadi. Saat dia memejamkan mata, sesuatu terjadi.


"Ambil saja nyawa gadis itu. Dia yang meminta ritual itu dan membuat iblis tadi mengamuk."


"Iya. Dia pantas diambil karena membuat onar. Hampir saja Madame meninggal. Jika meninggal, kita tak bisa dapat tumbal lagi."


"Benar. Kita ambil saja dia. Tak usah mengganggu keluarga iblis tadi."


Ketiga makhluk gaib milik Madame yang tersisa pun mengambil Gladys untuk tumbal. Membantu memulihkan energi mereka dengan menyerap energi manusia di tubuh Gladys.


Wanita itu terasa lemas dan tak berdaya. Dia mendapatkan sakit yang aneh. Dalam waktu sehari, tubuh Gladys menjadi kurus kering.


Pagi harinya ....


Gladys bangun karena alarm berbunyi. Tangannya seakan lemas mencoba meraih ponsel yang berdering. Setelah mengusap layar ponselnya, alarm berhenti berbunyi.


"Ah, kenapa rasanya pening, lemas, dan seluruh badanku terasa sakit. Ada apa ya ini?" Gladys mencoba turun dari ranjang dan berjalan meski tubuhnya gemetar. Dia menatap ke cermin di dinding kamarnya.


"Ke-kenapa tubuhku jadi kurus kering seperti ini? Apa yang terjadi?" gumam wanita itu yang memegang wajah dan tangannya.


Muka Yg Gladys menjadi keriput, tangannya tinggal tulang berbalut kulit. "Tidak!!!"


Gladys pingsan setelah berteriak. Kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat keadaan gadisnya. Mereka langsung membawa ke IGD Rumah Sakit Umum agar mendapatkan perawatan dan pertolongan.


...“Sejak permulaan, Iblis itu pembunuh. Dia tidak pernah memihak kebenaran, karena tidak ada kebenaran padanya. Apabila Iblis berdusta, hal itu memang sudah sewajarnya, karena dia pendusta dan asal segala dusta.”...


Gladys tertipu dengan pemikirannya. Dia mengira akan mendapatkan lelaki yang dia inginkan dengan menemui Madame. Namun akhirnya justru dia terkena masalah sebelum tujuannya terwujud. Makhluk yang menjadi pengikut Madame mengambil Gladys karena kalah melawan Bima.


...****************...


Wahyu hari ini ada banyak janji temu dengan pasiennya. Bimbingan psikiater untuk beberapa pasien yang sudah membuat janji temu terlebih dahulu.


"Ma, Wahyu berangkat dulu, ya," ujar Wahyu yang sudah siap berangkat ke kantornya.


"Iya, sayang. Sini, Mama ingin mencium pipimu," jawab Ningsih yang langsung meraih wajah putra sulungnya dan mencium pipi Wahyu.


"Ma ... aku sudah besar. Malu, kan ...."


"Wahyu malu kalau Mama cium pipi? Maaf, ya," ucap Ningsih sambil mengusap wajah putranya.


"He he he ... Mama itu menggelikan. Wahyu sudah dewasa, Ma. Ya udah, Wahyu berangkat dulu, ya," pamit Wahyu pada ibunya.


Wahyu menyetir mobil menuju ke tempat prakteknya. Kemarin malam, acara lamaran dan dinner itu cukup menyita banyak tenaga. Nanti siang, Wahyu juga hendak memberikan kado pernikahan untuk Alex dan Lisa. Ya, sebuah rumah dekat dengan rumah Ningsih. Wahyu sudah menyiapkannya.


Setelah perjalanan tiga puluh menit, Wahyu sampai ke tempat praktek dan kantornya. Dia segera masuk dan mengenakan jas. Sebagai psikiater, banyak hal yang terjadi. Terkadang manusia sulit membedakan mana yang benar-benar memiliki kelebihan atau sixsence dan mana yang justru gangguan psikologis. Ada beberapa kasus, seorang yang menganggap dirinya memiliki kelebihan, justru orang yang mengidap Skizofrenia. Mengerikan, bukan? Membedakan mana yang nyata dan khayalan pun susah.


Di rumah ....


Alex sudah bersiap menjemput Lisa untuk ke rumahnya. Rencananya, siang ini wedding organizer akan datang ke rumah Ningsih dan sekalian Wahyu hendak memberi hadiah. Lisa tak sabar dengan kabar baik itu.


"Ma, Alex berangkat dulu! Mau jemput Lisa ke sini."


"Iya, Alex. Hati-hati di jalan!" seru Ningsih menjawab sambil menyuapkan sesendok makanan ke Cahaya. Putrinya itu terkadang sangat manja dan ingin selalu diperhatikan ibunya.


Setelah Alex berlalu pergi, Cahaya pun bertanya kepada ibunya. "Ma ... sebenarnya Papa ke mana? Kenapa teman-temanku mempunyai ayah, sedangkan Aya tidak?"


Ningsih terkejut mendengar perkataan putrinya. Dia langsung mengusap rambut putri kecilnya. "Sayang ... Papa memang tidak ada di sini, tetapi selalu ada di hati kita. Papa orang yang baik dan bertanggung jawab. Dia tampan seperti Kak Alex. Dan kini kamu mewarisi senyum dan mata Papamu, Sayang," jawab Ningsih menahan rasa sedih.


"Ma, kalau Papa tidak di sini, kenapa Mama tidak mencari Papa baru untuk kami?" celetuk Cahaya membuat Ningsih tak mengerti.


"Bagaimana Aya bilang begitu?"


"Teman-teman Aya di sekolah begitu, Ma. Kalau Papa Mamanya pisah, nanti mereka dapat orang tua baru."


Ningsih tertawa mendengar penjelasan Cahaya. "Sayang, ayo makan saja. Jangan bahas ini."


Sebenarnya, Ningsih juga memedulikan putri dan kedua putranya. Namun apa boleh buat? Ningsih justru tak bisa membuka hati untuk orang lain. Dia takut orang yang baru, tak akan bisa menggantikan Bima. Karena memang Bima tak akan terganti. Ningsih masih mencintai dan akan selalu menyayangi Bima meski sudah tak lagi bersama.


Siang harinya ....


Setelah menyelesaikan pekerjaan bertemu lima pasien konseling psikolog, Wahyu pun bersiap pulang. Dia sudah menyiapkan kunci rumah di dalam tas dengan kotak merah yang indah. Tak terbayang bagaimana kebahagiaan Alex dan Lisa saat mendapat kado darinya.