JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Melindungi yang Tercinta


Tidak ada satu pun yang bisa menghentikan rasa cinta. Meski terkadang cinta tak selalu benar. Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan perasaan itu. Terkadang, cinta itu menyesatkan.


Bima yang tahu Ningsih dalam incaran lelaki hidung belang pun langsung melancarkan aksinya. Bagi Bima, lelaki tak berguna seperti itu lebih baik mati. Iblis pun tahu, mana manusia yang ada rasa salah dan mau bertaubat, serta mana manusia yang memang tak ingin bertaubat.


Lelaki itu masuk ke hotel bintang lima favoritnya. Dia melangkahkan kaki dengan mantap menuju ke lift. Setelah masuk ke lift, segera menekan angka tiga, karena kamar yang dia pesan di nomor 303. Kamar biasa, bukan VIP karena hanya untuk short time. Dia memesan wanita cantik dengan harga tujuh puluh juta sekali kencan. Membuang uang dengan mudah karena dia korupsi sana sini. Tidak merasa kurang uang karena belum ketahuan.


Saat membuka pintu nomor 303, dia sangat senang melihat wanita cantik dan muda di hadapannya. Wanita yang selama ini sering mondar-mandir di layar kaca. Wanita cantik itu langsung menyambut kedatangannya dengan mesra.


Bima hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan. Saat mereka mulai saling berciuman dan membuka pakaian satu per satu sampai telanjang, Bima mulai beraksi. Polisi yang mencari kasus postitusi artis itu seakan dibimbing Bima untuk datang ke hotel tersebut. Nomor 303 kamar yang dituju. Artis BL itu sudah lama diikuti polisi yang menyamar.


Bruak!


"Jangan bergerak! Kalian kami kepung!"


Suara pintu didobrak bersamaan dengan gertakan polisi membuat lelaki dan wanita cantik itu kaget dan menghentikan aktivitas lendirnya. Mereka langsung meraih bedcover tebal untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang. Polisi meminta mereka mengenakan pakaian dan segera dibawa ke kantor. Banyak media yang ikut meliput. Seketika mereka terkenal dan tercemar. Namun seperti biasa, nama anggota dewan itu disamarkan dan tidak diliput. Hanya wanita artis itu yang diliput.


"Kalian tak bisa menghancurkan nama baik saya. Saya sudah menelepon pengacara terbaik untuk ke sini. Dia lah yang harus dapat hukuman karena menjajakan diri," selak lelaki itu dengan santai.


Tepat saat dia keluar dari hotel dan hendak masuk ke mobil polisi, dua mobil penyidik korupsi datang. "Selamat siang! Bapak C. A? Anda kami tahan dengan tuduhan korupsi uang negara sebanyak milyaran. Semua bukti terkait sudah kami siapkan," kata seorang lelaki yang menjadi penyidik korupsi.


Wajah lelaki itu langsung merah padam. Dia sangat takut karena saat ini hukuman untuk koruptor milyaran adalah hukuman mati. "A-aku ... A-aku ... tidak melakukan itu," ujar lelaki itu yang gugup.


"Jelaskan saja nanti ke penyidik. Semua sudah ada buktinya," tegas petugas yang langsung membawa C. A ke kantor.


Bima tersenyum. Tugasnya hampir selesai. Tinggal menghampiri istri dan anak-anak lelaki itu. Mereka ikut menikmati hasil korupsi dan tidak mencegah lelaki itu berbuat dosa. Mereka juga mendapatkan akibatnya. Rumah besar yang selama ini ditempati, disita oleh negara karena dugaan hasil korupsi. Tak hanya itu, beberapa mobil dan tiga tempat usaha pun diambil. Bima tertawa. Manusia serakah memang mudah terkena tipu daya. Sekali jatuh, habis sudah semuanya.


Istri C. A tak kuasa mendengar kabar perselingkuhan sekaligus korupsi yang ketahuan. Wanita itu langsung sesak napas dan seakan hampir meninggal. Kedua anak C. A sangat panik dan memanggil ambulans. Saat ambulans datang, nyawa istri C. A tidak tertolong. Bima membawa wanita kejam, kikir, dan jahat itu ke dalam neraka. Karena wanita itu yang mendukung suaminya menjadi koruptor dan membimbing anak-anaknya menjadi orang tak berguna yang suka seks bebas dan mabuk-mabukan.


"Sudah usai ... tinggal kedua anakmu yang menjalani kesusahan karena semua harta sirna. Baiklah. Kau tak bisa mengganggu Ningsih. Aku akan ke sana, memastikan semua baik-baik saja."


...****************...


Ningsih bersama Wahyu dan Cahaya sudah sampai di AmPlaz Mall. Mereka naik ke lantai atas untuk santap siang bersama Reno, Lisa, dan Alex yang sudah menunggu di sana. Senyum di wajah mereka tak luntur sedikit pun. Ningsih merasa bahagia. Meski dalam hatinya sangat merindukan sosok Bima--suaminya.


Bima sampai di sana dan melihat keluarga nya berkumpul. Terlihat di meja bundar besar dan keenam orang itu duduk sambil bersendau gurau. Mereka sedang memesan menu yang akan disantap. Membolak-balik halaman menu.


"Ningsih ... lelaki yang hendak mengganggumu sudah kubereskan. Bahagia selalu bersama anak-anak kita, ya. Aku sangat mencintaimu. Mungkin kamu tak akan tahu aku masih di sini menatapmu, tetapi bagiku ini sudah cukup. Lebih dari cukup. Melindungi dan menyayangi kamu dan ketiga anak kita dari kejauhan," gumam Bima sambil menatap ke arah Ningsih duduk.


Entah mengapa, Ningsih merasa ada yang menatapnya. Dia melihat ke arah sudut dekat pintu masuk. Seakan ada sesuatu di sana. "Bima ... kaukah itu?" batin Ningsih sambil menatap ke arah itu.


Bima mengetahui hal itu. Dia menatap Ningsih sambil berkaca-kaca. Andai bisa Ningsih melihatnya, mungkin hati wanita itu tak akan sesakit ini. Andai alam baka tak sejahat itu ... mungkin Bima masih bisa duduk di samping Ningsih bersama ketiga anaknya.


"Mama ... kenapa Mama lihat Om itu?" tanya Cahaya pada Ningsih yang masih termenung.


"Ah, Om? Mana Cahaya?" Ningsih bingung dengan perkataan putrinya.


"Om yang di sudut itu. Dekat pintu masuk. Om itu sepertinya melihat Mama juga," celoteh Cahaya sangat lugu.


"A-apa? Seperti apa Omnya. Ayo kita ke sana," ujar Ningsih yang berharap itu Bima.


Wahyu yang tahu percakapan ibu dan adiknya pun merasa tak enak dengan Reno, Alex, dan Lisa yang menatap Ningsih dan Cahaya. Wahyu langsung memegang tangan Ningsih. "Ma ... sudahlah. Jangan seperti itu. Apalagi Alex baru saja pulang. Nanti Alex bisa pergi lagi kalau tahu Mama seperti ini," bisik Wahyu yang duduk di samping kiri Ningsih.


Ningsih pun mengangguk pasrah. Dia tak jadi pergi ke tempat sesuatu yang Cahaya maksudkan. Ningsih takut jika Alex pergi lagi karena menganggap Ningsih berhalusinasi lagi.


Cahaya yang berada di sisi kanan Ningsih pun berbisik, "Mama ... Omnya melambaikan tangan, lalu menghilang."


Bima sengaja pergi. Dia tak menyangka putrinya tahu keberadaannya. Ini bisa membahayakan keluarganya. Lebih baik Bima menjauh.


Ningsih dan keluarga pun memulai santap siang setelah pelayan datang. Lisa sangat senang berada di sana. Makan siang bersama Alex dan keluarga bersama.


Reno menatap Ningsih yang bernasib seperti dirinya. Sendiri bertahun-tahun, mengasuh anak sendirian. Berjuang menjadi orang tua terbaik. Reno tahu persis bagaimana perjuangan Ningsih.


"Kak Reno ... apakah Kakak mau aku kenalkan dengan kawanku? Ada seorang kawan di seminar yang cukup cantik dan menarik. Cocok untuk Papa muda seperti Kak Reno," kata Wahyu sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Lalu mengunyah makanan itu perlahan.


"Hah? Buat apa? Ha ha ha ... kalau niat cari pasangan, aku sudah dapat dari dulu, Wahyu. Kamu itu yang harusnya cari pendamping," jawab Reno sambil tertawa.


Lisa pun tertawa dan menyahut. "Papa ama Kak Wahyu itu sama aja. Sana ikut Take Me Out aja atau Take Him Out. Ha ha ha ha ...."


"Kalau begitu ... Alex juga, dong. Biar banya cewek antusias ikut," celetuk Wahyu langsung dijawab oleh Lisa dan Alex secara bersamaan.


"Jangan!"


"Eh, kok, bareng?" Lisa menatap Alex dan Alex menatapnya juga.


"Mama ... Alex memang sudah besar. Nah, berhubung pada kumpul ... Alex mau bilang sesuatu. Bolehkah Alex menikahi Lisa?" tanya Alex membuat semua orang terkejut termasuk Lisa.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Reno tersedak makanan yang baru saja dia santap.


Cahaya langsung mengambilkan minum untuk omnya. Sedangkan Wahyu dan Ningsih masih melotot melihat Alex. Lisa sangat malu sampai wajahnya seperti kepiting rebus.


"Kenapa kalian terkejut? Alex sungguhan ini. Daripada Lisa menyusul ke Australia dengan dalih kuliah tapi nggak sungguhan, lebih baik langsung nikah aja sama Alex. Kalau boleh, sih," imbuh Alex yang sungguh-sungguh meminta persetujuan.


Tak disangka, Alex sangat gentleman. Dia berani mengatakan hal itu di depan Reno dan Ningsih. Bahkan ada Wahyu juga.


"Kak A-Alex ...." Lisa menarik lengan baju Alex.


"Kenapa panda? Kamu nggak mau? Aku baru minta restu, nih," ujar Alex.


Reno menarik napas dan mengeluarkan perlahan. "Alex ... sebelumnya terima kasih sudah jujur dan mau menanyakan hal ini. Aku tak menyangka kalau hari ini datang begitu cepat. Baiklah ... aku merestui. Tinggal bagaimana Mamamu dan Lisa sendiri bagaimana?"


Jawaban Reno membuat Alex dan Lisa sangat senang. Mereka langsung menatap Ningsih.


"Mama tak menyangka kalau kamu akan mengatakan hal itu secepat ini. Mama merestui. Tapi Lisa baru usia delapan belas tahun. Nanti kamu disangka menikahi anak di bawah usia, dong." Ningsih pun bingung karena syarat pernikahan negara usia minimal dua puluh satu tahun.


"Mama ... soal itu, Alex akan minta petunjuk Kak Wahyu saja. xixixixi ...."


"Bagaimana ya ... kalau kalian nikah secara agama dulu, bagaimana? Nanti pernikahan secara negara setelah Lisa usia dua puluh satu tahun. Bagaimana? Ini jalan terbaik daripada ntar kalian kumpul bareng belum nikah," jelas Wahyu yang mengambil jalan tengah.


Alex dan Lisa memang saling mencintai. Kalau tidak dinikahkan, takutnya malah menjadikan mereka dosa karena hendak tinggal bersama. Ningsih dan Reno pun setuju. Sangat setuju dengan apa yang Wahyu usulkan.


Makan siang itu berakhir dengan berita menggembirakan. Mereka pun membahas untuk pernikahan Alex dan Lisa. Lisa sangat bahagia dengan dukungan keluarganya.


"Kak Alex ... terima kasih, ya ...." Lisa tersenyum memperhatikan Alex yang akan menjadi suaminya.


"Sama-sama ... Lisa Pandaku. Aku mencintaimu," ucap Alex dengan setulus hati.


"A-Alex ... benarkah itu?" Lisa tak menyangka Alex mengatakan cinta. Sudah lama Lisa menebak-nebak apa yang lelaki itu rasakan.


"Tentu. Kalau tidak mencintai, mengapa aku meminta restu untuk menikahimu? Aku ingin bersamamu dan melindungi kamu selalu," kata Alex sambil memegang tangan kanan Lisa, lalu mengecup punggung tangan gadis itu.


Lisa terharu mendengar perkataan Alex. Dia pun menangis. Ningsih pun tak kuasa menahan haru. Wahyu dan Reno berusaha tidak menangis. Sedangkan Cahaya tersenyum menatap mereka karena belum paham dengan pembicaraan orang dewasa.


Bima tahu ... anak-anaknya satu per satu pada akhirnya akan menikah dan memiliki kehidupan lainnya bersama keluarga mereka sendiri. Hal itu yang selalu Bima cemaskan. Takut Ningsih sendirian. Takut wanita yang dia cintai akan kesepian dan merasakan sedih. Bima hanya bisa menemani dari kejauhan.


"Sayang ... bertahanlah. Tetaplah di jalan Sang Pencipta. Aku tak ingin kamu merasakan siksaan neraka. Aku tak ingin kamu merasakan segala kesakitan. Aku hanya ingin kamu bahagia. Tanpa aku pun, kamu harus bahagia," gumam Bima dari kejauhan menatap keluarganya yang sudah selesai makan siang dan dilanjutkan berjalan-jalan ke mall.


Sebenarnya, Wahyu pun merasakan setiap Bima hadir di dekatnya. Namun, lelaki itu hanya diam. Wahyu belum memikirkan wanita karena takut ibunya akan sendirian atau hanya bersama Cahaya yang masih kecil. Wahyu takut jika memiliki istri tidak seperti yang dia bayangkan bisa menerima keluarganya apa adanya. Wahyu merelakan waktu lajangnya untuk bekerja keras dan membahagiakan ibu dan adiknya.


Meski Alex sudah dewasa dan memiliki penghasilan yang besar, Wahyu selalu memantau adiknya. Bahkan soal rasa Alex dan Lisa pun, Wahyu sudah tahu.


"Aku akan menjadi anak pertama yang bertanggung jawab. Seperti yang Papa dahulu tunjukkan. Berjuang dan berkorban demi keluarga. Aku akan lakukan itu untuk kebahagiaan Mama dan adik-adik. Semoga Papa tahu, aku berjuang di sini menggantikan sosok Papa bagi mereka," batin Reno sambil berjalan menggandeng tangan Cahaya.


"Tuan Wahyu?" sapa seorang wanita cantik dengan rambut pendek sebahu saat berpapasan dengan Wahyu.


"Eh, uhmm ... kamu siapa, ya, namanya?" Wahyu ingat wanita itu yang di tempat seminar tempo lalu.


"Aku Gladys. Tuan Wahyu lupa, ya?" Gladys tersenyum menatap lelaki yang mengesankan.


"Oh, iya, Gladys. Maaf aku lupa namamu ...." Wahyu menggaruk kepalanya.


"Iya, tak apa, Tuan Wahyu. Tuan pasti sibuk."


Gladys berbincang singkat dengan Wahyu. Kemudian berpamit pergi. Ningsih hanya senyum-senyum sendiri melihat putranya. Wahyu tidak mengenalkan Gladys karena tak ada hubungan apa-apa dengannya. Padahal Gladys berharap bisa dekat dengannya.


"Wahyu ... tadi siapa?" Ningsih bertanya sambil berjalan.


"Tadi cuma orang yang mengurus seminar kemarin. Panitia dari universitas ...." jelas Wahyu sambil lalu. Dia tidak merasakan ada hal penting yang harus dijelaskan.


"Jadi ... anak Mama tak tahu kalau wanita tadi tertarik? Aduh ... Wahyu, jangan terlalu kaku. Buka hatimu untuk menerima wanita di hidupmu," lirih Ningsih yang tak ingin anaknya malu karena ada Reno dan yang lainnya.


"Mama ... Wahyu tidak kenal wanita tadi. Hanya ketemu saat seminar. Tidak lebih. Mama ... Wahyu mengutamakan Mama dan Alex juga Cahaya. Nanti kalau jodoh sudah ada, pasti Wahyu juga menikah. Sekarang, kita fokus memikirkan rencana Alex dan Lisa saja, ya?" Wahyu pun merangkul pundak ibunya.


Hari itu, Wahyu membelikan pakaian couple untuk sekeluarga. Termasuk untuk Budi, Santi, dan Syafira. Wahyu memikirkan akan foto keluarga besar sebelum Alex dan Lisa menikah.