JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Kado Terindah


Wahyu menatap ke arah Alex dan Lisa yang sebentar lagi akan menikah. Dia tersenyum dan mengeluarkan kotak merah agak besar. Lelaki itu segera memberikan kotak itu ke adiknya.


"Alex ... Lisa ... ini kado pernikahan untuk kalian. Semoga kalian suka." Wahyu tersenyum menatap mereka berdua.


Alex dan Lisa saling menatap dan segera meraih kotak itu. Alex membukanya perlahan. Dia mengira isinya perhiasan atau cincin pernikahan. Ternyata bukan.


"Ku-kunci? Ini kunci apa, Kak?" tanya Alex yang bingung.


"Ini ... kunci rumah kalian. Kado dari Kakak untuk kalian. Rumahnya ada di sana," ujar Wahyu sambil menunjuk rumah yang berada tak jauh dari depan gerbang mereka.


"Ma-maksud Kakak? Rumah tetangga kita?" Alex langsung bengong mendengar perkataan Wahyu.


"Iya. Itu sudah Kakak beli untuk hadiah pernikahan kamu dan Lisa. Semoga kalian suka. Jadi, tak perlu bingung untuk tinggal. Kita tetap dekat," imbuh Wahyu membuat Lisa amat senang.


"Terima kasih, Kak Wahyu!" seru Lisa yang langsung memeluk tubuh Wahyu.


Alex masih bengong dengan bingung karena tak menyangka kakaknya sangat perhatian. Harga rumah di sana tidaklah murah. Namun Wahyu mau membeli untuk adiknya. Usaha Alex maju pun karena Wahyu mau memberikan modal tanpa meminta kembali.


Kini Alex menyadari satu hal mengapa kakaknya masih sendiri. Alex baru memahami kalau kakaknya mencoba menjadi sosok ayah untuk keluarga. Mengganti peran Bima yang pernah ada. Wahyu hanya menginginkan kebahagiaan keluarganya, tanpa memikirkan hari esok untuk diri sendiri.


Alex pun berjalan mendekati Wahyu. Dia terlihat berkaca-kaca dan menatap kakaknya. "Kak, terima kasih banyak atas perhatian dan cintanya. Kak, aku tak menyangka kalau kakak begitu memperhatikan kami. Terima kasih," kata Alex dengan bergetar hampir menangis.


Wahyu langsung memeluk Alex dengan erat. "Sama-sama my brother. Tetap di Indo, ya. Mama sayang sekali padamu. Ini langkah awal yang bagus. Namun keluarga tetap yang utama," bisik Wahyu pada Alex.


Alex menyadari penuh pesan Wahyu. Dia sudah salah dengan menyia-nyiakan waktu bertahun-tahun menjauh dari ibunya karena takut membuat ibunya sedih. Bukannya bahagia, bertahun-tahun Alex menjauh dari Indonesia justru membuat hati Ningsih bersedih. Wahyu mengetahui hal itu dan mengambil kesempatan baik saat Alex akan menikahi Lisa agar mau tinggal di Indonesia.


"Iya, Kak. Aku dan Lisa akan tinggal di sini. Biarlah perusahaan di Sydney aku pantau dari sini. Maafkan aku selama ini. Maaf ...."


Ningsih yang berdiri di depan teras hanya sanggup menatap dari kejauhan. Wahyu sangat memikirkan keluarganya. Ningsih terharu melihat mereka di depan gerbang berpelukan. Gerbang yang terbuka itu membuat Ningsih bisa mengamati kedua putranya dari kejauhan.


Rasa haru hinggap di hati Ningsih. Sebagai seorang ibu, dia ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Sebagai seorang wanita, dia pun menginginkan kisah cinta dengan akhir bahagia. Meski sekarang keadaan tak sesuai dengan harapan.


...****************...


Seminggu kemudian ....


Hari yang ditunggu sudah tiba. Pernikahan Alex dan Lisa akan dilaksanakan di rumah Reno. Akad nikah serta resepsi yang cukup meriah. Dari depan rumah hingga taman belakang semua dihias menarik oleh event organizer.


Terasa mendebarkan di sana. Alex hendak mengucapkan ijab qobul. Saat menengok ke arah ibunya, betapa terkejutnya Alex melihat ada Bima di sana.


"Saudara Alex binĀ Bima Prawisnu. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Lisa dengan maskawinnya berupa emas sebelas gram dan seperangkat alat salat. Tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Lisa binti Reno Perdana dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."


"Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah."


šŸŽ¶Kupilih hatimu dan takkan kuragu ... mencintamu adalah hal yang terindah ... dalam hidupku oh, sayang ... kau segalanya bagiku ....šŸŽ¶


Alex pun mengecup kening Lisa, lalu mereka sungkem ke Reno dan Ningsih ... dan ... Lisa ternyata juga melihat adanya Bima. "A-Alex ... ada Papa kamu ...." bisik Lisa.


"Iya, Lisa. Nanti kita sungkem ke Papa. Nanti aja," kata Alex yang tak yakin apakah yang lain melihat Bima atau tidak.


Setelah selesai akad nikah, Alex dan Lisa dibawa ke ruangan ganti untuk berganti gaun dan jas. Mereka akan melaksanakan resepsi. Sebelum itu, Alex dan Lisa menyelinap ke tempat Bima. Bima berjalan ke taman belakang yang belum ramai.


"Papa ... Papa di sini?" tanya Alex memastikan itu Bima.


Bima membalikkan badan. Dia tersenyum. "Iya, Nak. Papa di sini. Maaf, Papa tidak bisa memberikan kado untukmu dan Lisa. Papa harap kalian akan bahagia. Papa senang melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang hebat," kata Bima membuat Alex berkaca-kaca.


"Pa ... aku panggil Mama, ya? Mama merindukan Papa."


Bima menatap Alex. Sedangkan Lisa berada di belakang Alex. "Maaf, Alex. Kalau Mamamu tahu Papa di sini. Ini akan membuatnya semakin sedih karena Papa hanya sebentar di sini dan harus pergi. Jaga Mamamu baik-baik. Jaga Cahaya juga. Jangan biarkan Wahyu menjalani ini semua sendiri. Sudah cukup penyesalanmu dan menyendiri di Sydney. Sekarang mulailah hidup baru. Papa akan menjaga kalian dari alam lain," jelas Bima sambil menepuk-nepuk bahu putranya.


"I-iya, Pa. Alex akan berusaha mewujudkan apa yang menjadi pesan Papa."


Bima pun berpamitan dan menghilang. Lisa langsung mengusap punggung suaminya. "Sabar, Kak. Papa Kak Alex makhluk yang baik. Meski mereka semua tak memahami hak itu, setidaknya Kakak tahu, Papa tidak meninggalkan kalian. Papa selalu menjaga kalian dan mengamati kalian," lirih Lisa yang membuat Alex semakin bersedih.


Mereka pun berjalan ke lantai dua untuk berganti jas dan gaun serta riasan. Alex sebenarnya masih tertegun. Dia senang ayahnya datang, tetapi juga sedih karena tak bisa bersama. Kado terindah ini akan selalu Alex kenang. Dia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, tidak akan meninggalkan ibu dan keluarganya lagi. Alex menyesal. Sangat menyesal sudah membuat Wahyu menanggung semua tanggung jawab sendirian. Sampai Wahyu tak bisa memikirkan masa depan dan juga memilih pendamping. Alex merasa dirinya begitu egois.


"Maafkan aku selama ini, Kak Wahyu. Aku terlalu egois. Aku meninggalkan Mama, Kakak, dan Cahaya di rumah dalam kondisi sedih kehilangan Papa. Aku egois dan tidak memikirkan betapa sedihnya kalian dan kalian membutuhkan aku di sana. Maaf ... setelah bertahun-tahun terlewat, ternyata tetap saja rasa sedih ada jika mengingat Papa tak ada di sini," batin Alex bergejolak.


Setelah selesai berias, mereka pun turun. Cahaya mengenakan gaun berlari ke arah Alex. "Kakak! Tadi Kakak bicara dengan Om siapa? Wajah Om mirip dengan Kakak. Itu Om yang sering ikuti Mama dan Cahaya kalau pergi sama Kak Wahyu," celoteh bocah itu mengagetkan Alex. Cahaya bisa melihat Bima selama ini?