
...🔥EPILOG JERAT IBLIS - SEASON 2🔥...
Iblis tetaplah menjadi iblis. Perjalanan hidup Bima menjadi manusia hanyalah semu. Tuan Abaddon hanya memberi kesempatan agar bisa memberi cobaan pada dirinya. Bima sadar jika rasa cinta yang dia punya, tak seharusnya ada. Cinta itu hanya akan menyengsarakan satu dengan yang lainnya jika dilanjutkan. Manusia tidak bisa bersatu dengan Iblis meski sudah mencoba banyak hal, akhirnya cinta mereka kalah dengan ketetapan yang ada.
"Maafkan aku ... Ningsih, Wahyu, Alex, dan Cahaya. Aku harus menjalani hidupku sebagai iblis karena tak mungkin kita bersatu. Hanya akan ada luka dan kesakitan. Kita tak bisa bersatu karena pada dasarnya tugasku adalah menyesatkan manusia. Iblis tetaplah menjadi iblis. Semoga kalian bahagia," ucap Bima yang melihat keluarganya menjalani hidup tanpa dirinya.
Bima menahan air mata. Meski berat harus meninggalkan wanita satu-satunya yang dia cintai dan ketiga anaknya yang berharga, dia tetap harus meninggalkan mereka demi kebahagiaan mereka. Bima memilih berkorban agar keluarganya bahagia karena dia tahu kalau hubungan itu dilanjutkan hanya akan menambah permasalahan. Bima dan Ningsih pernah berjuang, tetapi akhirnya kalah dengan takdir yang membentang.
Bima kembali menjalani takdirnya menjadi iblis. Menyesatkan manusia dengan tugas barunya. Tuan Abaddon tidak memerintahkan untuk pesugihan dan pencarian harta seperti tugas Tuan Chernobog, tetapi kali ini lebih menantang. Tugas menyesatkan manusia-manusia yang memiliki kekuasaan di dunia. Para penguasa yang meraih segala macam cara untuk mendapatkan kedudukan. Apa pun profesi manusia itu, apa pun jabatannya, berhati-hatilah! Siapa tahu Bima ada di sana, membisiki manusia dengan banyak hal agar para manusia tersesat! Ketika manusia memilih jalan itu, maka JERAT IBLIS akan selalu ada!
...****************...
Ningsih menjalani kehidupan dengan tegar. Dia mengasuh ketiga anaknya dengan baik. Mengembangkan usaha minimarket dengan baik pula. Saat Ningsih ke cabang minimarket di Magelang, dia tak sengaja bertemu dengan seseorang. Anak sekolah yang memperingatkan soal bangunan minimarket yang Ningsih sewa karena tempat itu pernah menjadi tempat pembunuhan dan banyak orang yang tak berani menyewa tempat itu.
"Bu, maaf ... kalau boleh usul, sebelum dibuka lebih baik selamatan dan doa agar makhluk yang ada di dalamnya tidak mengganggu," kata remaja yang masih mengenakan pakaian seragam OSIS SMA.
"Hmm, adik siapa, ya?" tanya Ningsih.
"Saya Rens. Kebetulan sering lewat sini. Maaf, bukannya ikut campur. Tapi tadi saya lihat ada pegawai Ibu kerasukan saat hendak membuka gerbang. Ini baru mau mulai acara pembukaan kan, Bu?" ujar remaja kelas satu SMK yang terlihat seperti laki-laki padahal perempuan.
"I-iya. Baik, kalau begitu bisa bantu cari Pak Ustad untuk doa di sini? Namaku Ningsih. Ningsih Sukmasari," ujar Ningsih sambil mengulurkan tangannya.
"Bisa, Bu. Kawan saya rumahnya ada dekat sini. Ayahnya seorang Ustad. Saya akan sampaikan. Ibu hati-hati, ya, di sini," kata Rens berlalu pergi.
Setelah menemui kawannya dan meminta ayah dari kawannya untuk membantu Ningsih pembukaan cabang minimarket itu, Rens pun hendak pulang. Namun Ningsih mencegah dan memegang tangan remaja itu. "Jangan pergi dulu, Rens. Kenapa kamu tadi memperingatkanku? Ada apa?" selidik Ningsih.
"Karena aura gelap itu mengganggu. Ibu juga ada sesuatu," lirih Rens yang sebenarnya tak ingin mengungkapkan alasannya.
"Jangan panggil Ibu, donk. Panggil Tante saja, ya? Rens mau Tante traktir makan dulu sebelum pulang?" bujuk Ningsih yang penasaran dengan remaja itu.
"Hmm ... iya, Tante. Tapi Tante mau pembukaan dan acara di sini, kan?"
"Ya, deh. Baik, Tante. Rens tunggu di sini saja, ya."
Ningsih menjalani pembukaan minimarket dengan doa, sambutan, dan juga pemotongan pita. Setelah itu acara pembagian sembako pada warga sekitar serta makan-makan dimulai, Ningsih segera pergi menghampiri anak sekolah yang menarik perhatiannya.
Hari itu, Ningsih pertama kali mengenal Rens. Saat makan bersama, banyak hal yang mereka bahas. Termasuk penglihatan Rens tentang Ningsih. Mereka pun semakin dekat karena Ningsih sering datang ke cabang minimarket itu untuk memantau perkembangan di sana.
Saat pertemuan ketiga, Ningsih akhirnya bisa menceritakan hal aneh yang dia rasakan. Rens tahu jika Bima bukan manusia, tetapi tidak bisa menceritakan pada Ningsih karena ingatan Ningsih memang dibuat oleh Tuan Abaddon agar tidsk bisa mengingat soal iblis dan neraka.
"Tante Ningsih, lanjutkanlah hidup Tante dengan anak-anak sebaik mungkin. Ingatlah Sang Pencipta yang memberi berulang kali kesempatan untuk menjadi lebih baik. Soal suami Tante, dia selalu ada dinhati Tante dan anak-anak. Tante tak perlu khawatir. Rens juga akan bantu mendoakan Tante dan keluarga agar selalu bahagia," jelas Rens pada Ningsih, membuat Ningsih terharu.
"Baik, Rens. Terima kasih banyak." Ningsih pun segera berpamit pulang setelah menemui Rens ketiga kalinya.
Ningsih menjalani hidup dengan ketiga anaknya dan mendekatkan diri pada Allah. Segala ketetapan-Nya Ningsih lakukan dengan senang hati. Mendidik ketiga anaknya dengan bahagia. Mulai mengenakan hijab dan menutup aurat. Ningsih berhasil keluar dari JERAT IBLIS karena Allah begitu menyayanginya. Bima pun melepaskan dan merelakan demi kebaikan orang-orang yang dia cintai.
Terkadang, ada rahasia yang tetap menjadi rahasia dan ada hal yang tak bisa diungkapkan karena memang harus tersembunyi. Rens hanya diam, padahal dia melihat Bima ada di belakang Tante Ningsih. Setelah Rens berpisah dengan Tante Ningsih, Bima mengikutinya pulang.
"Jangan ikuti aku. Aku tidak bicara apa-apa soal kamu ke istrimu itu," gumam Rens yang berjalan pulang karena tak ingin diantar pulang oleh Tante Ningsih. Dia memilih berjalan kaki karena menghindari pertanyaan tetangga jika diantar oleh Tante Ningsih dengan mobil mewah seperti tempo lalu.
"Iya, aku tahu. Terima kasih. Apakah kamu mau mendengar kisah itu dariku?" tanya Bima yangbhanya bisa didengar Rens.
"Tak mau. Jangan ke rumah. Papaku pasti mengusirmu. Pulang saja sana atau kembali lakukan apa yang harusnya kamu lakukan!" tegas Rens membuat Bima tak akan menyerah karena dia ingin kisah cintanya yang tak berjalan indah didengar oleh Rens.
"Kalau begitu, aku akan menemuimu lagi tiga belas tahun lagi. Aku akan menemui kamu saat kamu dewasa dan sudah mengerti soal cinta dan pengorbanan. Saat itu tiba, kamu harus mendengarkan ceritaku dan menulisnya agar semua orang tahu apa yang terjadi padaku dan pada Ningsih. Bagaimana?" Bima tak menyerah dan dia mencoba membuat kesepakatan.
"Hmm ... terserah. Mungkin saat itu tiba, aku sudah lupa dengan kalian dan kamu juga akan lupa padaku. Sudah, jangan ikuti aku lagi," usir Rens pada Bima.
"Kalau aku tak lupa, kamu harus mau mendengarkanku, ya? JERAT IBLIS itu nyata," bisik Bima membuat Rens merinding.
Iblis itu segera menghilang meninggalkan Rens yang saat itu masih SMK. Suatu hal yang tak disadari mengubah segalanya di masa depan. Soal cinta, pengorbanan, dan bisikan iblis yang begitu nyata. JERAT IBLIS memang ada di sekitar manusia!