JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 73


πŸ€ RASA YANG TAK SEHARUSNYA πŸ€


Bima, salah satu manusia yang mengorbankan jiwanya menjadi pengabdi Iblis Neraka. Hal itu membuatnya berubah menjadi penghuni Neraka dan diharuskan menarik manusia ke dalam jerat dosa. Namun, jika dia kembali merasakan sesuatu yang manusiawi, Tuannya akan memberi hukuman yang tak ringan.


"BODOH SEKALI KAU BIMA! TERNYATA SELAMA INI KAU MENCURANGIKU! PANTAS SAJA TAK KAU AMBIL JIWA WANITA LAIN HANYA DEMI PEMBODOHAN! INGAT, KITA INI KAUM IBLIS TAK BOLEH ADA RASA CINTA PADA MANUSIA! BAHKAN SESAMA IBLIS PUN TAK BISA!" suara Tuan Chernobog yang marah menggelegar di Neraka lapis tujuh, tempatnya berkuasa.


Bima tertunduk. Dia merasa kesalahannya memang pantas mendapat hukuman. Dia terpaksa tidak mengambil wanita-wanita lain untuk jadi istri hanya demi menjaga perasaan Ningsih. Ratusan tahun Bima menyesatkan manusia. Meperbudak wanita dengan menjanjikan bergelimang harta. Tentu dengan balasan setimpal. Tumbal suami mereka, serta kebahagiaan akan lenyap dengan cepat. Kekayaan yang Bima beri adalah instan, serta dengan cepat pula akan sirna. Begitulah jalan kerja Iblis menjerat manusia.


Perasaannya terhadap Ningsih membuat dirinya tak berdaya. Dia rela empat tahun tanpa tumbal demi membuat hidup Ningsih tenang, sementara. Dia rela tidak menerima budak wanita yang hendak mencari istri gaib, agar Ningsih tak kecewa. Ternyata hal itu membuat Bima terlihat manusiawi. Rasa yang tak seharusnya ada, cinta.


"MAAF TUAN CHERNOBOG. HAMBA KELIRU DAN SALAH LANGKAH. NAMUN BIARLAH HUKUMAN HAMBA LAKSANAKAN TANPA MEMBUAT MANUSIA ITU DALAM DERITA YANG SAMA. AMPUNI DIA, TUAN. DIA TAK TAHU MENAHU SOAL HAL INI. SEMUA MURNI KESALAHAN HAMBA." kata Bima mencoba membela Ningsih di hadapan tuannya.


Hukuman yang jatuh, dijalaninya demi menjaga Ningsih. Bima siap menerima hal itu.


"KAU MEMBELA WANITA ITU, YA? HA HA HA HA... BARU KALI INI IBLIS MENJADI BUDAK CINTA! BODOH!! KALAU BEGITU, KAU AKAN MENERIMA 1.000 CAMBUK DAN DIBEKUKAN DALAM KUTUB UTARA SELAMA SEMINGGU." gertak Tuan Chernobog dengan amarah meledak-ledak.


"BAIK, TUAN. SUDAH SEPANTASNYA HAMBA MENERIMA HUKUMAN ITU." Bima tertunduk hormat.


Hukuman pun dimulai. Bima berlutut. Kedua tangannya di rantai agar tak mengelak dari cambukan. Kedua anak buah mengeksekusi hukuman cambuk. Bima menghitung setiap lecutan itu dengan lantang.


"SATU... DUA... TIGA... EMPAT... LIMA... ENAM... TUJUH... DELAPAN... SEMBILAN... SEPULUH...." Bima menghitung sambil menahan sakit.


Cambuk itu bergantian mengoyak punggung Bima. Cambuk Neraka berbeda dengan di dunia, berbentuk seperti buah durian dengan ujung runcing dan membara seperti larva gunung berapi. Saat mengenai tubuh Iblis pun akan terluka dan merasa sakit. Bima menahannya. Suara lecutan itu makin sering terdengar seiring hitungan Bima yang bertambah.


Cairan berwarna hitam mengalir di sela punggung Bima yang sudah terkoyak. Darah Iblis berwarna hitam legam. Bima menahan sakit itu.


"... SEMBILAN RATUS SEMBILAN PULUH TUJUH... SEM...BILAN RATUS SEMBILAN PULUH DELAPAN... SEMBI...LAN... RATUS SEMBILAN PULUH SEM...BILAN.... SER...SERIBU...." ucap Bima gontai.


Penjaga yang mencambuknya pun berhenti. Mereka memiarkan Bima meringkuk kesakitan.


"ARRRGHHHH... AARRRGHHH...." Bima menahan rasa sakit tetapi tak bisa menghentikan waktu hukuman.


"LEMPARKAN DIA DALAM KUTUB UTARA! BEKUKAN HINGGA LUKANYA TERBAKAR ES! BUATLAH IBLIS TAK TAHU DIRI INI SADAR BAHWA CINTA ITU MEMBUATNYA LEMAH DAN PANTAS MENDAPAT HUKUMAN BERAT!" teriak Tuan Chernobog dengan tegas.


Kedua penjaga itu lekas membuka rantai di tangan Bima dan menyeret Bima ke Kutub Utara tempat pengasingan Iblis yang melanggar tatanan Neraka.


Sesampainya di Kutub Utara, kedua penjaga itu melemparkan tubub Bima yang penuh darah ke tempat yang membekukannya. Tubuh Bima menggelepar kesakitan saat luka di punggungnya terkena dinginnya es. Perlahan... tubuhnya membeku.


"NINGSIH... KAU HARUS TAHU... MEREKA BISA MEMBEKUKAN TUBUHKU TETAPI TIDAK HATIKU... TUNGGU AKU SEMINGGU LAGI... BERTAHANLAH DI SANA...." gumam Bima sebelum akhirnya tubuh Iblis nan merah besar itu membeku utuh.


***


Ningsih cemas tentang Bima. Memikirkan suami gaibnya membuat dia bingung dan tak tahu harus bagaimana. Dia ingin bertanya pada Dinda, tetapi sepertinya tak akan mendapat jawaban yang diinginkan.


Namun rasa khawatir sudah menguasai ketenangan hatinya. Dia tak bisa menahan lagi. "Dinda... jawab jujur, ke mana Bima? Aku merasakan sesuatu yang tak beres. Pasti ada sesuatu!" Ningsih mencoba menggertak demi informasi yang dia inginkan.


"Kenapa marah padaku? Bima tidak cerita ke mana dia pergi. Bagaimana aku bisa tahu?" jawab Dinda dengan santai.


"Kamu pasti tahu. Kalian kan kembar! Apa yang Bima rasakan, kamu pasti tahu!" ucap Ningsih menyudutkan Dinda.


Dinda bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah jendela lalu menatap pelabuhan yang mulai sepi dari jendela yang terbuka. Sore itu angin dingin mulai menyeruak.


"Ah... dasar manusia! Kakakku terlalu bodoh memasrahkan perasaan yang sudah ratusan tahun tak dirasakannya. Dia mendapat hukuman..." Dinda menerawang jauh, tak ingin menatap Ningsih.


"Hukuman? Maksudmu? Bima di mana sekarang? Apa yang terjadi padanya?" Ningsih mulai berkaca-kaca menahan air mata. Rasa khawatirnya memang terbukti ada yang tak beres sedang terjadi.


"Aku nggak paham hukuman seperti apa... yang jelas, Iblis tidak boleh jatuh cinta. Bahkan pada sesama Iblis pun tak boleh. Kali ini kesalahan besar, Bima menyukaimu. Dia tak pernah seperti itu sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Entah kenapa sisi manusianya timbul sejak melihat hidupmu yang menyedihkan!" jelas Dinda.


Wanita cantik itu membalikan tubuh dan menatap Ningsih yang mulai meneteskan air mata. "Tidak perlu menangis... percuma! Kakakku bisa menjalani hukumannya. Tenang saja." imbuh Dinda mencoba menenangkan Ningsih.


Mengingat segala perjalanan yang sudah dihadapi bersama, Ningsih tak kuasa menahan air mata. Ningsih menangis tersedu-sedu.


"Bimaa... Bima... Please kembali... Bima... tak seharusnya kamu menanggung hukuman sendirian... kenapa kamu tak bawa aku sekalian?" raung Ningsih dibalut tangis.


"Sudah jangan menangis. Dia baik-baik saja. Hukumannya hanya seminggu. Kalau kamu ikut dihukum, pasti sudah tak bernyawa. Maka dari itu Bima menanggungnya sendiri." kata Dinda sambil mengulurkan tangan membantu Ningsih berdiri.


Ningsih masih menangis dan tubuhnya gemetar. Dia merasakan apa yang Bima rasakan. Melindungi orang yang dicintai demi keselamatan orang itu dan rela menanggung sakit sendirian.


"Ningsih... kamu tak tahu... sebentar lagi justru masalah akan datang padamu. Anak buah Lee yang kau jadikan tumbal akan mencari kunci hartanya. Dan itu... mereka tak akan bermain-main karena terhasut sifat serakah. Aku bisa membantu tetapi... aku tak yakin bisa melindungi keluargamu," jelas Dinda yang sudah merasakan kehadiran Josh dan Lily di Jakarta.


Kemampuan Dinda jauh di bawah Bima. Dia tahu jika ancaman Josh dan Lily bukan hal main-main. Namun dia tak tahu ada sesuatu yang merasuki tubuh Joshua.


Ningsih mengusap kedua matanya. Menghentikan tangisnya seketika. Dia mencari ponsel untuk menelepon Santi.


Tut... tut...


"Hallo..."


"Hallo, Santi. Ini Tante masih dalam pekerjaan bisnis. Tante mau peringatkan jangan menerima tamu siapa pun ya. Jika ada lelaki atau perempuan dari Singapura atau dari mana pun yang mengaku teman Tante, tolong jangan tanggapi."


"Oh, baik, Tante. Tante kapan pulang? Wahyu demam. Ini aku mau bawa Wahyu ke rumah sakit dengan Reno dan Mas Joko."


"Apa? Ya, bawa ke rumah sakit dulu. Nanti Tante usahakan pulang, ya."


"Baik, Tante."


Telepon pun diakhiri. Ningsih menjadi galau. Anaknya sakit sedangkan ancaman anak buah Lee semakin mendekat.


"Galau, kan? Sudah kubilang jangan gegabah. Sudah di sini saja. Anakmu akan baik-baik saja," kata Dinda sambil duduk di sofa. "Jenuh sih. Nanti aku akan cari hiburan di luar..."


Ningsih pun membentak Dinda, "Gimana aku bisa tenang kalau suamiku dihukum berat dan anakku demam! Kau wanita tak punya hati! Tak akan paham apa yang aku pikirkan dan rasakan."


Dinda berdiri, menatap Ningsih dengan tajam. "Lancang kau manusia! Jika bukan karena kebodohan kakakku yang menyukaimu, sudah kurobek mulut lancangmu itu! Kau tak tahu apa yang sudah kualami hingga tak punya iba sama sepertimu jadi jangan katakan hal itu lagi atau kubunuh kau!"


"Bunuh saja! Agar aku cepat menyusul Bima!" tantang Ningsih.


"Bodoh! Jika kamu mati sekarang tak akan mengubah apa pun!"


"Sudah... aku tak ingin berdebat denganmu! Aku harus menyusul anakku di rumah sakit."


"TIDAK! Kau hanya boleh di sini. Anakmu akan dirawat dengan baik. Santi sudah paham harus bertindak apa. Dia menjawab dengan singkat karena malas denganmu. Jangan ke sana atau kau akan menyesal!" Dinda menggenggam tangan Ningsih dengan erat. Bahkan setengah mencengkram.


"Sakit... lepaskan tanganku..." lirih Ningsih. "Baik aku akan di sini. Tapi pastikan anakku tak apa-apa."


Dinda melepaskan tangan Ningsih. Membuat bekas merah di tangan Ningsih. "Ya... aku pantau anakmu dari sini. Semua akan baik-baik saja."


Ningsih pun mengelus tangannya yang sakit. Dia hanya bisa berharap anaknya baik-baik saja. Dia juga berharap Bima segera kembali ke pelukannya. Apa pun hukuman yang Bima terima, semoga dia baik-baik saja. Perasaan Ningsih yang mendalam sampai ke rasa Bima.


Meski tubuh Bima membeku seutuhnya, getaran rasa khawatir Ningsih bisa di rasakan Bima. Dia pun menyampaikan pesan lewat batin.


"NINGSIH... BERTAHANLAH DI SANA. DINDA AKAN MENEMANIMU SEMENTARA SAMPAI AKU KEMBALI. SEMINGGU SAJA... BIAR KUTANGGUNG SEMUANYA SENDIRI. JANGAN MENANGISI AKU. BERTAHANLAH...."


Ningsih pun mendengar suara batin Bima. Dia pun membalasnya dengan penuh konsentrasi.


"Bima... aku akan menunggumu... sampai waktu berlalu bahkan dunia ini sirna... aku akan menunggumu. Bima bertahanlah di sana. Semoga semua lekas membaik dan kamu kembali bersamaku. Maafkan aku membuatmu dalam masalah..."


Ningsih menangis. Menutup wajahnya dengan kedua tangan rapuhnya. Merasakan betapa kesakitan yang Bima tahan agar dirinya tak tahu. Ningsih benar-benar mencintai Bima seperti Bima mencintainya. Rasa yang tak seharusnya ada antara manusia dan Iblis. Rasa terlarang yang membelah dua dunia berbeda. Akankah bisa bersatu selamanya?