JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 85


...🔥 Lepas Dari Cobaan 🔥...


Saat manusia menyerah, di situlah iblis membuka kedua tangannya lebar untuk menangkap manusia dan memasukkan dalam lembah dosa. Banyak tipu muslihat yang terkadang seperti bantuan, ternyata bukan. Seperti rasa sedih yang menaungi Reno. Dia merasa jika suara gaib yang didengar adalah suara Nindy, padahal bukan.


Saat itu, Wahyu merasa gelisah. Tiba-tiba dia ingin ke rumah Reno. Setelah pamit kepada Ningsih, Wahyu segera mengendarai motor ke rumah Reno yang jaraknya cukup jauh. Wahyu sampai mengendari motor dengan kencang karena takut ada sesuatu hal terjadi pada Kak Reno. Entah mengapa dia merasa ada firasat buruk.


"Kak Reno, ada apa sebenarnya? Jangan lakukan apa pun. Aku akan segera sampai," gumam Wahyu yang melaju kencang membelah jalanan yang gelap karena sudah malam. Sesampainya di rumah Reno, Wahyu mengetuk pintu serta menekan bel rumah dan membuat Reno terkejut.


Ting ... tong!


"Assalamualaikum, Kak Reno!" seru Wahyu yang panik.


Reno langsung melepaskan tali yang sudah ada di tangannya tadi. "Astagfirullah! Apa yang aku pikirkan tadi?" Reno langsung membuang tali itu dan bergegas keluar kamar. Saat dia membuka pintu rumah, Wahyu langsung berhambur dan memeluknya.


"Ada apa Wahyu?" tanya Reno dengan bingung.


"Tak apa, Kak. Syukurlah Kak Reno baik-baik saja. Aku khawatir sekali," kata Wahyu membuat Reno ingat hal yang baru saja terjadi.


"Masuk dulu, Wahyu. Para Bibi sudah tidur. Hampir tengah malam ini." Reno mengajak Wahyu masuk. Dia merasa kalau feeling Wahyu benar dan tepat. Hampir saja Reno melakukan hal yang dibenci Allah---bunuh diri.


"Maaf kalau aku mengganggu malam-malam begini, Kak. Tadi aku ...."


"Terima kasih sudah ke sini, Wahyu. Andai kamu tidak datang, entah apa yang sudah aku lakukan. Aku ... aku terlalu sedih hingga hampir saja mengakhiri hidup dengan seutas tali," kata Reno memotong pembicaraan Wahyu. Dia bersyukur Wahyu datang ke rumahnya.


"Kak Reno ... jangan kalah dengan rasa sedih. Aku akan di sini menemani Kakak jika diizinkan. Jangan menutup diri, Kak. Tidak baik untuk kesehatan Kakak." Wahyu benar-benar takut dan khawatir. Untung saja feelingnya tepat, sehingga Reno lolos dari keinginan melenyapkan nyawanya sendiri.


"I-iya, Wahyu. Tinggal di sini, tak apa. Kau sudah meminta izin Tante Ningsih? Maaf jika merepotkanmu. Kali ini ... aku benar-benar takut," lirih Reno yang tangannya mulai gemetar.


"Tenang, Kak. Kita berdoa bersama meminta perlindungan dari Allah. Semua akan baik-baik saja." Wahyu mencoba menenangkan Reno meski dia tahu ada yang aneh dengan keadaan Reno. Wahyu berjanji dalam hati akan melindungi kakaknya itu seperti waktu kecil, Santi dan Reno membantu merawat Wahyu yang sedih dan ketakutan.


Malam itu, Wahyu menginap di rumah Reno. Reno menceritakan semua yang dia alami selama beberapa pekan ini. Tentang surat dari Nindy dan gangguan tiap malam seolah Nindy kembali ke rumah Reno, tepatnya di kamar. Wahyu pun paham, Reno sedang diincar makhluk gaib. Kali ini, dia tidak akan menyerah begitu saja karena Reno adalah keluarga yang Wahyu sayangi.


Saat di dalam kamar Reno, Wahyu merasakan aura hitam di sana. "Kak, ini bukan Kak Nindy. Ini intesitas lain. Aku akan mencoba membersihkan kamar ini," ucap Wahyu yang khawatir.


"Bu-bukan Nin-Nindy?" tanya Reno pada Wahyu dengan terbata.


"Iya, Kak. Itu bukan almarhumah Kak Nindy. Berhenti berbicara dengan makhluk itu. Bisa jadi bahaya mengintai selain mengambil rasa sedih Kak Reno, makhluk itu juga menginginkan jiwa Kak Reno," jelas Wahyu yang menatap penuh rasa curiga ke arah jendela. Wahyu pun mengeluarkan tasbihnya dan berdoa, lalu menutup jendela dan menempelkan tasbih di sana. Seketika iblis yang menggoda Reno pun pergi.


"Terima kasih Wahyu. Aku kira suara itu ... gerakan benda itu ... aku kira adalah Nindy. Aku memang merindukan Nindy dan ingin bertemu dengannya. Namun bukan berarti bunuh diri. Hampir saja aku terhasut dan melakukannya," kata Reno yang mulai menunduk, sedih. Tak terasa air matanya mengalir.


"Sabar, kak Reno. Sabar. Aku tahu yang Kakak rasakan. Aku akan di sini menemani Kakak sampai semua keadaan membaik."


Wahyu pun tidur sekamar dengan Reno. Mereka terlelap hingga terbangun subuh. Wahyu mengajak Reno kembali salat. Mereka pun mengambil wudhu dan Salat Subuh bersama.


Para Bibi yang mulai bersih-bersih dan memasak pun senang melihat tuannya mau salat kembali. Mereka mengamati perubahan Reno yang drastis dan sekarang ketika tuannya mau kembali mengambil wudhu dan salat, para Bibi merasa bersyukur.


"Alhamdulilah, Tuan Reno mau kembali salat. Den Wahyu itu masih muda tapi luar biasa, ya, Bi?"


"Iya, Bi. Aku saja kagum. Ah, andai Den Wahyu masih jomblo, rasanya anak gadisku mau kujodohkan sama Den Wahyu."


"Husst! Emangnya Den Wahyu mau? Jangan mimpi terlalu tinggi, Bi. Nanti sakit kalau jatuh!"


"Eh, i-iya, Den. Terima kasih," jawab ketiga Bibi serempak. Mereka melihat Wahyu dan Reno yang berjalan ke depan.


Wahyu pun mengajak Reno ke depan rumah. Duduk di teras sambil berbincang banyak hal. Seakan merasakan kesejukan, Reno merasa pikirannya mulai terbuka dengan percakapan dengan Wahyu.


"Benar, kan, Kak? Kak Nindy itu sangat menyayangi Kakak. Tertulis di surat juga, Kak Nindy ingin Kak Reno bahagia dan menjalani hari dengan semangat. Kalau rindu Kak Nindy, jalankan saja apa yang dia lakukan dahulu. Apa yang dilakukan dan belum selesai. Wahyu akan bantu mewujudkan itu, Kak Reno harus semangat ya. Ingat satu hal, Kak, Lisa juga membutuhkan Kak Reno. Dia butuh Papanya yang kuat dan sehat. Jangan pernah menyerah, Kak," kata Wahyu sambil menatap langit fajar menyingsing. Cahaya matahari mulai terlihat menyinari bumi. Menerpa wajah kedua lelaki yang duduk santai di teras.


"Iya, Wahyu. Benar yang kamu katakan. Terima kasih, ya. Selama ini, aku menutup diri karena terlalu sedih. Hingga melupakan banyak hal, hidup harus berjalan. Nindy pasti sedih kalau melihat aku seperti ini. Ha ha ha ... aku konyol sekali. Terima kasih banyak, Wahyu. Kau sudah menyadarkanku. Ternyata adik kecilku yang cengeng sudah menjadi dewasa dan pandai," ujar Reno sambil mengacak-acak rambut Wahyu. Reno merasa senang sekali ada yang mengerti perasaannya tanpa memaksakan ini itu.


Salah seorang Bibi pun mengantarkan dua gelas kopi dan sepiring tela goreng dengan nampan. "Tuan Reno, Den Wahyu, ini camilan dan kopinya," ucap Bibi sambil meletakkan gelas dan piring di atas meja.


"Terima kasih banyak, Bibi," jawab Reno yang kemudian mengajak Wahyu menyantap tela goreng dan kopi hitam itu.


...****************...


Pagi menjelang, selepas salat subuh Budi dan Santi segera melakukan perjalanan ke Kota Yogyakarta. Tentu saja mereka menuju ke rumah Tante Ningsih terlebih dahulu seperti yang Santi sudah katakan kemarin untuk meminta izin manginap di sana. Santi sangat senang hendak bertemu dengan adiknya. Sedangkan Budi sangat senang hendak bertemu dengan Ningsih. Dalam hati lelaki itu tetap tak bisa berdusta. Dia menginginkan Ningsih. Apakah mungkin dia meminta izin Santi untuk poligami? Apakah mungkin Ningsih mau? Ah, semua pertanyaan itu hanya membuat Budi semakin bingung.


Sepanjang perjalanan, Budi dan Santi tidak banyak bicara. Mereka pun berhenti saat hendak sarapan di warung sop ayam berwarna hijau muda yang terkenal di kawasan Yogyakarta hingga Solo sekitarnya. Setelah selesai sarapan, Budi dan Santi pun melanjutkan perjalanan. Mereka tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan dengan pemikiran masing-masing.


Sekitar pukul delapan pagi, Budi mengendarai mobilnya sampai di depan rumah Ningsih. Setelah mobilnya berhenti, Santi langsung turun dan bergegas ke dalam. Budi sedang memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


"Assalamualaikum ... Pagi, Tante Ningsih!" seru Santi dengan semangat.


"Wa'alaikumsalam ... Pagi, Santi," jawab Ningsih yang kebetulan sedang di ruang tamu. Wanita itu langsung berdiri dan berjalan menyambut kedatangan Santi.


"Wah, Tante sudah cantik, nih. Ada acara kah?" tanya Santi menggoda tantenya.


"Cantik apa? Tante biasa aja gini. Tante nunggu kamu datang soalnya mau ke Reno. Tadi malam Wahyu ke sana, menginap di sana," kata Ningsih menjelaskan.


"Wah, Wahyu boleh menginap di tempat Reno? Issh, Reno, kok, curang ya? Aku tak boleh di sana. Huh," dengus Santi kesal membuat Ningsih tertawa karena geli.


"Assalamualaikum ...." sapa Budi yang muncul setelah memarkirkan mobil di garasi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ningsih dengan singkat.


"Maaf sudah terlalu pagi ke sini, kami mau ke tempat Reno," ucap Budi dengan canggung.


"Iya, tak apa, Budi. Sini masuk saja dulu," kata Ningsih mempersilakan Budi dan Santi duduk di ruang tamu.


Bibi yang mendengar pun segera membuat minum untuk tamu yang datang. Ningsih pun menceritakan apa yang Wahyu ceritakan lewat pesan singkat tadi. Budi dan Santi pun senang mendengar kabar Reno yang sudah mau berinteraksi dan mau kembali menjalankan salat. Serasa setitik cahaya muncul dalam ketemaraman hidup Reno. Budi dan Santi bersyukur jika Wahyu mampu menghibur Reno.


"Kalau begitu, kita ke sana sekarang, bagaimana?" tanya Budi menatap Ningsih dan tersenyum penuh arti.


"Iya, ayo. Aku bawa mobil sendiri atau gimana?"


"Tante Ningsih bareng kita aja ngga apa. Biar bareng-bareng, kan?" sahut Santi.


Mereka bertiga pun segera pergi setelah meminum teh yang disajikan Bibi. Dalam perjalanan, Santi duduk di belakang bersama Tante Ningsih. Sepanjang perjalanan, Budi mencuri pandang ke arah Ningsih lewat spion.


"Bagus, Budi ... lihatlah Ningsih memberi kode padamu. Dia juga tersenyum, kan? Nanti akan ada waktu kalian berdua dan Ningsih pasti mau menerima cintamu. Dekati dia terus, Budi. Dekati terus," bisik Servus membuat Budi semakin menggebu. Rasa cinta yang tak seharusnya ada semakin tersulut dengan bisikan Servus. Iblis itu selangkah makin dekat dengan tujuannya. Menyesatkan lelaki yang menjadi keturunan musuh Servus.