JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Gelisah Batin


Di dimensi lain ....


Bima meratapi nasibnya. Mencintai dalam diam. Tidak bisa bersanding dengan istri dan anak-anaknya. Membuat iblis itu merasa kalut setiap harinya. Namun bagaimana lagi ... tugas yang dia emban juga harus dilaksanakan. Apakah pantas iblis merasakan perasaan seperti itu?


"Hah!!! Apa sebenarnya yang menjadi tujuan diriku ada?! Jadi iblis setengah-setengah. Jadi manusia juga tak bisa! Kenapa harus begini!" seru Bima yang marah dengan keadaan.


"Ha ha ha ha ha ... kenapa kau, Bima? Marah?!Menyalahkan keadaan? Kau sendiri yang memilih langkah seperti itu. Ingat, kau harus mengikuti semua perkataanku!" gertak Tuan Abaddon yang mengetahui Bima gelisah.


"Iya, Tuan. Bukan bermaksud mengeluh. Tapi ada hal lain yang hamba rasakan." Bima tertunduk. Andai bisa musnah dan terlahir kembali ... ingin rasanya berlaku seperti itu dan hidup bahagia bersama Ningsih, tetapi Bima bisa apa?


"Jangan memikirkan hal itu lagi. Lebih baik fokus pada tugas-tugas mu. Ingat, iblis tak boleh ada rasa cinta!" Penegasan dari Tuan Abaddon membuat Bima tertegun.


Bima mengangguk dan menghilang. Bima memilih untuk pergi ke dunia manusia dan mencari target selanjutnya. Seorang orang yang memiliki jabatan pemerintahan atau jabatan penting lainnya yang mempunyai sifat tamak dan otoriter akan menjadi santapan para iblis. Karena sesungguhnya, kesombongan itu adalah dosa yang termanis. Para iblis menyukai hal itu karena kehancuran berawal dari kesombongan. Satu orang yang sombong akan membuat orang lain merasa iri dan mencoba menghancurkan satu dengan yang lainnya. Dari kesombongan itu pula, manusia bisa melakukan apa saja. Termasuk menyiapkan orang lain.


...****************...


Malam pertama Alex dan Lisa tidak berjalan dengan baik. Siang harinya mereka meminta izin kepada Reno untuk ke rumah yang Wahyu belikan. Rumah itu sedang direnovasi dan diubah sesuai keinginan mereka. Perabotan pun sedang di pesan dan baru beberapa yang sudah datang.


Lisa dan Alex ke rumah tersebut sambil mengobrol banyak hal. Rencana ke depan dan beberapa harapan mereka. Sesampainya di depan gerbang rumah tersebut, Alex bingung karena belum ada tukang di sana.


"Loh, kok, tukangnya belum ke sini? Maaf, ya, Lisa," sesal Alex yang sebenarnya berharap mulai renovasi hari ini.


"Nggak apa, Kak. Kita lihat-lihat ke dalam aja. Mau pilih barang apa lagi buat tambahan di sana," kata Lisa dengan santai.


"Iya, Sayang. Siap. Eh, jangan panggil Kak lagi, dong. Kita kan sudah resmi menikah. Kenapa tidak memanggil Papa atau apa gitu?" tanya Alex sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Lisa.


Lisa yang gugup dan salah tingkah justru keluar dari mobil. "Aku mau masuk ke rumah aja, ah!" Lisa tertawa meninggalkan Alex.


Alex segera menyusul Lisa setelah memarkirkan mobilnya. "Sayang ... tunggu ...."


Lisa malu sekali. Dia ingin memanggil honey atau bebeb, tetapi takut. Masih ada rasa canggung di hatinya.


Alex berlari ke dalam rumah dan mencari di mana istrinya berada. Satu per satu pintu ruangan dia buka. Belum kelihatan ada Lisa di sana. Alex pun berjalan ke lantai dua. Perlahan dia mendekati pintu kamar utama. Membuka perlahan pintu itu dan mencari istrinya.


"Lisa ... kamu di mana? Lisa .... Lisa Pandaku sayang ...." Alex mencari Lisa dan tiba-tiba terkejut saat Lisa keluar dari almari.


"Baaa!" seru Lisa sambil membuka pintu almari.


Alex terkejut dan terjatuh ke atas ranjang sambil menarik tangan Lisa. Gadis itu pun terjatuh di pelukan Alex. Jantung lelaki itu berpacu cepat. Detak jantungnya tak karuan karena ada Lisa di atas tubuhnya.


"Sayang ...." lirih Alex yang menatap wajah istrinya.


Lisa terdiam menatap Alex juga. Dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Alex. Mereka pun berciuman. Saling memagut dengan mesra. Sampai mereka melakukan hubungan yang seharusnya sudah dilakukan tadi malam.


"Kamu yakin mau?" tanya Alex memastikan.


Lisa mengangguk karena sudah penasaran dengan semua cerita dari kawannya. Alex pun memulai dengan perlahan dan menyenangkan.


...🤣🤣 Skip adegan 🤣🤣...


Malam harinya ... Alex tak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lisa tertidur nyenyak setelah mengalami surga dunia yang indah sejak siang tadi.


Alex merasa pegal dan lapar. Dia pun memesan makanan delivery dan menghubungi Reno dengan mengatakan akan tidur di rumah mereka. Alex sangat menghormati Reno sebagai ayahnya sekarang.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Alex yang meletakkan makanan di meja dalam kamar.


"Sudah, Kak. Ta-tapi ... sakit ... rasanya sakit dan nyeri sekali," jawab Lisa yang meringis menahan sakit.


"Kalau sakit, di ranjang saja. Aku siapin, ya?"


Alex pun menyuapi istrinya makan malam. Mereka menghabiskan waktu bersama dalam keceriaan.


...****************...


Di tempat lain ....


"Bagaimana, Mbah? Sudah terlihat siapa pelakunya dan bagaimana cari menyembuhkan putriku lagi?" tanya seorang lelaki berkumis tebal kepada lelaki yang sejak tadi menatap lawan bicaranya yang sedang membaca mantra sambil menyalakan dupa.


"Ya. Anakmu itu bermain ke tempat Madame cenayang tua yang awet muda. Dia menginginkan seorang lelaki yang ternyata memiliki penjaga. Karena penjaga lelaki itu kuat, Madame dan makhluk gaib yang mengikutinya pun kalah. Makhluk gaib itu menyerap energi di tubuh putrimu untuk meminjam energinya. Aku bisa membantumu ... tapi ... biayanya tidak murah," jelas paranormal itu.


"Ya, Mbah. Aku siap membayar berapa pun itu. Asal putriku sehat lagi dan orang yang membuatnya seperti ini harus mendapatkan ganjaran yang setimpal!" geram Pak Gunawan yang kesal dengan keadaan itu.


"Baik ... baik ... aku bisa melakukannya. Besok pagi, putrimu akan tersadar seperti semula dan soal Madame itu ... aku kan bereskan mereka. Ha ha ha ha ...." kata paranormal itu dengan percaya diri.


Pak Gunawan menjadi penasaran siapa lelaki yang membuat putrinya tergila-gila hingga rela menghubungi cenayang untuk mendapatkan cinta. Lelaki itu diam-diam mencari informasi dari teman kerja dan teman sekampusnya. Pak Gunawan pun mendapat informasi.


"Apa kamu tahu, Gladys dekat dengan siapa? Atau lelaki mana yang Gladys sukai? Saat ini Gladys sakit dan dirawat di ICU. Sebagai ayah, aku ingin tahu apakah ada lelaki spesial di hati anakku. Agar ada semangat untuknya sembuh," ucap Pak Gunawan kepada sahabat Gladys.


"Emm ... gini, Om. Sebenarnya Gladys suka sama pembicara seminar Minggu lalu. Tapi nggak kenal, sih, Om. Tamara tahu kalau lelaki itu namanya Wahyu. Dia punya klinik praktek psikiater sendiri. Kalau informasi lain, Tamara nggak tahu, Om. Moga Gladys lekas sembuh, ya," jawab Tamara--sahabat Gladys.


"Oh, begitu. Terima kasih, ya, Tamara. Info ini sangat berarti. Coba aku akan mencari pemuda itu agar mau menjenguk Gladys."


Pak Gunawan tersenyum karena sudah menemukan lelaki yang dimaksud. Dia pun mencari di google klinik psikiater Wahyu di Yogyakarta. Akhirnya sudah didapat alamatnya. Lelaki itu hendak membuat janji temu agar bisa tahu lelaki seperti apa yang disukai putri semata wayangnya.


Sementara Gladys masih dirawat di dalam ICU ... Pak Gunawan pun mencari tempat praktek klinik psikiater milik Wahyu. Lelaki yang sudah berusia sekitar enam puluh tahun itu langsung membuat janji temu yaitu sore hari. Dia bergegas mencari data klinik yang dituju. Terlihat dari profil klinik tersebut, pemuda yang bernama Wahyu itu sangat kompeten di bidangnya dan juga sudah sukses dengan membuat klinik praktek sendiri. Wahyu juga memiliki sebuah kantor untuk konseling anak-anak yang putus sekolah, depresi, maupun orang yang mencoba untuk bunuh diri. Pak Gunawan terkagum kagum melihatnya.


"Jaang sekali di zaman modern ini ada pemuda yang baik hati, pintar, berkompeten, sukses, dan juga tampan. Pantas saja kalau Gladys menyukainya. Dari profil yang dipampangkan dalam internet itu, dia juga terlihat masih muda. Kalau begitu, aku akan mencoba untuk mengajaknya bicara. Siapa tahu dia akan tertarik dengan putriku," gumam Pak Gunawan yang merasa percaya diri dan optimis. Selama ini banyak lelaki yang mengungkap meminang Gladys. Namun belum ada yang pas di hati putrinya.


Pak Gunawan sangat optimis karena percaya paranormal yang dimintanya bisa menyembuhkan Gladys. Siapa pun berfikir kalau pemuda itu pasti akan mau dengan putrinya. Siapa, sih, yang akan menolak seorang Gladys, putri dari Pak Gunawan yang cantik, pintar, dan kaya raya? Begitu yang ada dalam pikiran Pak Gunawan.


Sore harinya ... Pak Gunawan bergegas menuju ke alamat klinik psikiater milik Wahyu. Dalam benaknya, dia berharap jika pemuda itu mau memberi sedikit perhatian kepada putrinya yang sedang sakit di ICU rumah sakit. Sedangkan istrinya saat ini menunggu Gladys di rumah sakit. Pak Gunawan menunggu reaksi dari paranormal yang sudah ditemui semalam. Kata paranormal itu, malam ini Gladys akan sembuh seperti sedia kala. Tidak menjadi kurus kering dan keriput seperti itu. Pak Gunawan tentunya menjanjikan semua akan baik-baik saja kepada istrinya karena selama ini istrinya tidak tahu pak Gunawan memakai jasa paranormal untuk kehidupan dan kesuksesannya.


Sesampainya di klinik psikiater milik Wahyu, Pak Gunawan segera memarkirkan mobil Pajero Sport berwarna putih tersebut. Beberapa orang di sekitar sana menatap Pak Gunawan karena memang beliau sosok yang terkenal di Kota Yogyakarta. Pengusaha sukses yang juga merambah karir di bidang pemerintahan.


"Permisi ... saya atas nama Pak Gunawan sudah membuat janji temu sore ini. Apakah psikiaternya sudah datang?" tanya Pak Gunawan kepada resepsionis.


Tentu saja resepsionis yang mengetahui itu Pak Gunawan langsung memberikan waktu pertama dari urutan yang ada. "Iya, Tuan. Sebentar saya konfirmasi ke Tuan Wahyu sudah mulai praktek atau belum. Tuan Gunawan mendapat urutan nomor satu. Sebentar lagi bisa masuk," kata resepsionis itu sambil tersenyum dan menunduk tanda dia menghormati lelaki yang ada di hadapannya.


"Baik. Terima kasih banyak. Kerja yang bagus. Saya akan menunggu di sebelah sini," ucap pak Gunawan sambil duduk di kursi samping resepsionis.


Beberapa pasien yang sudah membuat janji temu pun menatap ke Pak Gunawan dengan heran. Mereka semua sudah mengantri sejak tadi. Mengapa pak Gunawan yang mendapatkan antrian pertama? Namun ada juga yang merasa maklum karena mengetahui siapa beliau.


"Memang dalam kehidupan ini ... kesuksesan, kejayaan, dan juga harta itu sangat penting. Jika dahulu aku tidak mengikuti usul dari kawanku, mungkin aku tidak bisa menjadi orang terpandang seperti saat ini. Menjadi tidak terpandang dan tidak dihormati orang lain sangat memuakkan," batin Pak Gunawan sambil melihat orang-orang yang ada di ruangan itu.