JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 40 SPECIAL LOST PART (RATIH)


RATIH


Ratih kembali mengusap liontin merah pada kalung yang selama ini melingkar di lehernya. Berharap penghuni liontin itu segera datang seperti saat-saat sebelumnya. Menemani setiap malam dengan kepuasan yang tak bisa digambarkan. Sosok yang mengubah hidupnya selama tiga tahun ini.


Demi kebahagiaan anak, alasan yang klasik, bukan? Tetapi ini yang janda beranak dua itu lakukan. Bersekutu dengan roh jahat. Awalnya Ratih tidak mengerti, saat pertama bersetubuh dengan makhluk tak kasat mata ini, hal yang tak pernah terasa sebelumnya. Ketika pagi tiba, harta pun dia dapatkan, meski nyawa suaminya melayang akibat kecelakaan nan tragis pada pagi yang sama.


Mas Seno nama suami pertama Ratih. Kedua anak hasil pernikahan mereka bernama Santi dan Reno. Dua anak kesayangan dan semangat hidup Ratih. Demi kehidupan layak mereka, Ratig rela diperbudak atau memperbudak diri sendiri dalam ikatan gaib sang penguasa malam.


Selang tiga bulan meninggalnya Seno, Ratih menikah dengan Agung. Seorang pegawai lapangan di PLN cabang Wonosari. Meski gajinya terbilang lumayan, tetapi dia tak pernah puas dengan lelaki itu.


Kembali ketika senja tiba dan berganti malam, Ratih mengusap liontin merah itu dan sosok penghuninya merasuki tubuh Agung untuk bisa menyentuhnya secara kasat mata. Kepuasan kembali dirasakannya.


Namun sayang, nasib buruk menghampiri Agung saat bertugas memperbaiki saluran listrik. Dia kesetrum, terpental, dan meninggal seketika. Sedih? Ya, di hadapan khalayak ramai Ratih harus bersedih. Senang? Jelas! Pundi-pundi harta miliknya bertambah setelah kematian Agung. Membuka lemari tempat sesaji, berubah menjadi setumpuk uang dan beberapa emas.


Banyak orang tak mencurigai Ratih, sebab dia membuat pabrik tekstil dan satu bangunan kos-kosan di daerah kota. Dia dengan mudah mengelabui orang-orang dengan drama kesedihannya menjanda dua kali karena nasib buruk suami-suaminya.


Entah Ratih ini masih layak disebut manusia atau tidak. Dia tak pernah pusing memikirkan itu. Enam bulan setelah kematian Agung, Ratih bertemu dengan seorang pedagang bakso keliling yang masih muda serta gagah, namanya Dewa.


Dia pernah membujuk Dewa dan merayunya untuk melakukan perbuatan maksiat di dalam mobil miliknya. Dewa yang khilaf melihat kemolekan tubuh Ratuh, lantas segera terhanyut dalam dekapan permainan dosa nan nikmat.


'Oh sungguh gagah Dewa seperti perawakannya,' batin Ratih


Seminggu kemudian, mereka menikah. Tentu, Ratih mengerti konsekuensinya. Dewa akan meninggal jika menikah dengannya. Apalah daya tak bisa melawan kekuatan besar penghuni liontin merah yang haus darah itu.


Dewa bersama Ratih hanya dua bulan saja. Padahal dia sangat menyukai permainan dengan suaminya yang berumur lebih muda. Makhluk penhuni liontin itu seperti cemburu ketika Dewa mencumbunya. Terkadang liontin itu memanas dan membuat Ratih merasa nyeri dan pusing seketika.


'Ah, aku tetap mencintai makhluk itu, karena dialah aku bisa hidup bergelimang harta,' jerit Ratih dalam hati.


Kepergian Dewa begitu mengenaskan. Dewa dan gerobak baksonya jatuh ke jurang. Tubuh Dewa jelas hancur. Betapa mengerikan, hingga Ratih mual jika teringat kejadian itu. Warga jelas menjadi geger akibat kecelakaan yang ganjil itu. Bahkan pihak polisi dan rumah sakit mengevakuasi dengan susah payah.


Sudahlah, itu masa lalu. Hari ini, makhluk itu akan membawa Ratih pergi. Tempat indah yang dijanjikannya. Ratih tak perlu khawatir tentang kehidupan anak-anaknya. Sahabatnya, Ningsih, bersedia menjaga mereka selagi dia pergi.


Meski sulit memilih pergi, Ratih tetap lakukan demi keselamatan kedua anaknya. Makhluk itu mengancam akan mengambil anak-anaknya jika tak menurut.


Sudah dua hari Ratih berada di luar kota. Menyendiri dan menikmati hubungannya bersama makhluk penghuni liontin merah itu.


Dia, yang kini Ratih mengerti namanya Chernobog, makhluk gagah bermata merah menyala, dengan keempat tangan kekar yang sering memeluk janda itu erat. Membuat Ratih semakin terbuai dalam kehidupan yang dia ciptakan. Sebelum dia memilih pergi bersama kegelapan, dia sudah mengajak Ningsih mengikuti jejak kesuksesannya. Kini Ratih benar-benar merasa bebas.


"Chernobog, sayangku, aku akan bersamamu sampai dunia ini punah," gumam Ratih entah didengar atau tidak olehnya.


Namun, seketika cahaya terang menyilaukan mata Ratih. Udara menjadi dingin dan angin bertiup sangat kencang. Entah darimana datangnya, sosok misterius itu, dengan jubah menjuntai, tak dapat terlihat wajahnya. Sayap besar nan indah membentang di punggungnya. Ratih sadar itu bukan manusia!


"Berikan liontin itu!" Tangan kanan makhluk itu menjulur ke arah Ratih yang ketakutan.


Tangan kanan yang terbalut jubah abu-abu. Sedangkan tangan kirinya memegang erat sebuah pedang yang terlihat berat.


'Chernobog sayang, dimana engkau berada? Aku sangat takut melihat makhluk ini. Padahal wujudnya tidak lebih buruk darimu....' gumam Ratih.


"Lepaskan liontin itu segera, wahai wanita tersesat! Selama ini engkau diperbudak setiap malam tiba. Aku akan membebaskanmu," ucap makhluk bersayap itu lagi.


Ratih gemetar melepas kalung yang tiga tahun telah melingkar di lehernya. Bergegas dia berikan benda itu ke tangan makhluk seperti malaikat itu.


"Aku, Wudhar. Membebaskanmu dan kedua anakmu dari belenggu iblis ini. Namun, rumahmu harus kumusnahkan bersama api untuk melenyapkan pengaruh buruk persetubuhanmu dengan iblis itu. Sekarang pergilah!"


Cahaya terang kembali bersinar menyelimuti kepergian Wudhar. Ratih pun lekas pergi mengendarai mobilnya. Hanya bayangan kedua anaknya yang terlintas dipikiran. Terburu-buru dia injak gas melaju dari Kota Semarang, tempatnya mengasingkan diri bersama kegelapan.


Tiba-tiba ....


Suara decitan ban yang beradu dengan aspal akibat gesekan rem mobil memekakkan telinga.... Dan seketika tabrakan tak terhindarkan.


Kejadian itu terjadi begitu cepat, mobil yang dikendarai Ratih beradu dengan sebuah mobil yang melaju kencang. Kepala Ratih terbentur stir bundar yang mengakibatkan luka dan membuat darah segar mengucur dari pelipisnya.


Telinga Ratih mulai berdengung. Banyak orang berlarian ke arahnya.


"Santi, Reno, semoga Ningsih bisa menjaga kalian dengan baik. Aku tak mampu lagi menahan rasa sakit yang mendera di kepalaku," lirih Ratih bersambut gelap.


Seketika semua menjadi gelap. Ratih tak sadarkan diri.


****


Ratih merasa sangat ringan seperti melayang. Ah, ini sungguh melayang! Namun, mengapa Ratih melihat tubuhnya tidur di samping lelaki asing?


Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ini Ratih, maka apa yang terjadi pada tubuhnya itu?


"Kembalikan tubuhku! Kembalikan! Aku tidak mau menjadi arwah tanpa raga," jerit arwah Ratih.


Lelaki itu menatap Ratih dengan tajam seakan mengerti keberadaannya. Lalu dengan tegas ia mengusir arwah Ratih dengan wujudnya yang berubah mengerikan. Siluman kuda! Dia bukan manusia biasa.


Ratih pun melayang pergi meninggalkan tubuh miliknya yang terisi roh orang lain. Kemana dia bisa menemukan bantuan? Dia pun mencoba mencari Ningsih demi meminta pertolongan.


****


Jangan bingung ya Guys! INI FLASHBACK waktu RATIH PERGI DAN HILANG. Semoga suka!


JANGAN LUPA DUKUN AUTHOR DENGAN LIKE πŸ’• VOTE πŸ’• SHARE πŸ’• KOMENTAR


Love you all..... Selamat Hari Raya Idul Fitri.... MOHON MAAF LAHIR BATIN ❀