JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 108


...🔥Doa Mengubah Segalanya (2)🔥...


Bima penasaran dengan apa yang menimpa keluarga Richard. Dia dan Wahyu mendengarkan dengan baik soal kisah menyeramkan tentang Stefy saat Richard menyampaikan semuanya satu per satu. Sebenarnya, Bima menghindari Richard dan Stefy karena tak ingin dianggap berselingkuh oleh Ningsih. Namun ternyata, Richard mencari Bima karena menyadari banyak hal aneh pada istrinya.


"Begini ceritanya .... Setelah Stefy bangun dari kritis, aku dan Lucy memang senang dan bahagia. Namun entah mengapa, aku merasa dia sangat aneh. Tidak seperti biasa. Saat pertama kali pulang ke rumah, Aku terkejut melihat Stefy tidur dengan mata terbuka. Sejak itu, Stefy tidur selalu dengan mata terbuka dan melotot. Sebenarnya aku sangat takut, apalagi sering Stefy tertidur hingga beberapa hari. Aku sampai heran. Lucy juga lama kelamaan takut dengannya. Seminggu terakhir ini, Stefy seperti bau busuk. Dia masih melakukan aktivitas biasa, tetapi bau menyengat keluar dari tubuhnya. Hingga malam tadi dia meninggal dengan kondisi seperti orang kerasukan, menakutkan."


Penjelasan dari Richard membuat Wahyu merinding. Apa yang dia perkirakan mungkin benar. Wahyu merasa ada yang aneh dengan Stefy dan hal itu membuat Wahyu selalu berdoa agar ayah dan ibunya dijauhkan dari mara bahaya. Karena sejak kesalah pahaman mimpi Bima, Wahyu mulai waspada akan semuanya.


"Mengerikan sekali, Richard. Sekarang Stefy sudah tenang di alam sana. Kita bisa mengirim doa saja," kata Bima menanggapi hal yang memang dia anggap aneh sejak lama. Stefy sebenarnya sudah meninggal. Namun karena suatu sosok masuk ke tubuhnya, dia bertahan hingga beberapa bulan.


Wahyu pun menepuk-nepuk pundak Richard. Dia mencoba menghilangkan hawa negatif yang menempel pada tubuh Richard yang selama beberapa bulan ini hidup dengan makhluk gaib yang bersemayam di tubuh Stefy.


"Sabar ya, Om Richardm Ikhlaskan semuanya. Allah punya rencana yang terbaik," ujar Wahyu sambil tersenyum.


"Terima kasih, Wahyu dan Bima."


Pagi harinya setelah semua keluarga besar Stefy dan Richard berkumpul, pemakaman pun dilakukan secara haru. Lucy yang masih kecil tak paham apa itu meninggal dan pemakaman. Dia hanya memahami jika ibunya pergi jauh dan tak akan kembali lagi.


Bima dan Wahyu pulang setelah semuanya selesai. Pemakaman selesai, mereka langsung berpamitan pulang kepada Richard. Dari kejauhan, Snowice sangat geram karena tak bisa melancarkan aksinya. Dia kalah karena doa dari Wahyu menggempur dirinya hingga tak betah tinggal di tubuh Stefy yang sudah mulai membusuk. Ternyata doa yang diucapkan berkali-kali bisa mengubah segalanya. Iman seseorang menyelamatkan dari gangguan makhluk gaib karena sesungguhnya Sang Pencipta pasti akan menolong hamba-Nya yang berdoa dan berserah penuh pada-Nya.


...****************...


Kisah kehidupan Bima dan Ningsih memang tidak selamanya mulus. Banyak impian dan keinginan yang tidak sejalan. Kadang terwujud, kadang pula ada banyak rintangan. Namun satu hal yang pasti, cinta mereka tak bisa terpisahkan.


Bima dan Alex menjalani sisa enam bulan menjadi manusia dengan sebaik mungkin. Seperti saat Ningsih masuk ke bulan sembilan kandungannya. Malam itu, dia merasakan kontraksi.


"Papa ... Bim-Bima ... aduh, sakit. Nyeri sekali," kata Ningsih sambil memegang tangan suaminya erat.


"I-iya, Ma. Ayo kita segera ke rumah sakit." Bima segera membawa Ningsih yang perutnya sudah besar ke ruang tamu. Dia segera membangunkan kedua putranya untuk ikut ke rumah sakit. Tak lupa dua tas darurat melahirkan segera Bima bawa. Dia berusaha menjadi suami dan ayah terbaik bagi keluarganya.


"Ayo, Ma. Pelan-pelan saja," kata Wahyu sambil menggandeng tangan Ningsih. Sedangkan Alex segera membawa masuk kedua tas darurat melahirkan. Bima segera menyetir mobil ke rumah sakit bersalin yang selama ini menjadi tempat mereka periksa.


Sesampainya di sana, Ningsih langsung ditangani oleh dokter spesialis kandungan dan juga bidan yang bertugas. Ningsih saat itu sudah bukaan kelima, sehingga butuh waktu tidak begitu lama untuk segera persalinan. Nyawa seorang ibu dipertaruhkan.


Bima sangat khawatir dan mondar mandir di lorong karena cemas. Wahyu dan Alex mencoba menenangkan ayahnya. Tak lupa, Wahyu juga selalu berdoa untuk keselamatan ibu dan juga adiknya yang hendak lahir.


Snowice berada di sana. Dia kembali membawa ujian kehidupan bagi Bima dan Alex yang menjalani hidup sebagai manusia dengan waktu kurang dari dua bulan lagi. "Kalian kira, semua akan mudah? Doamu tidak akan bisa menyelamatkan makhluk yang seharusnya tidak menjadi manusia lagi. Ha ha ha ha ha ...." Snowice penuh percaya diri untuk menakhlukan Bima dan Alex.


Bima tidak menyadari jika keinginannya dan Alex untuk menjadi manusia hanya akan menambah sederet penderitaan bagi Ningsih dan Wahyu, serta bayi yang akan lahir itu pun menanggung hal yang sama.


Sekitar pukul tiga lebih lima belas menit, Ningsih melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik. Namun sayangnya, bayi itu tidak menangis. Dokter segera memberi penanganan khusus pada bayi Bima dan Ningsih. Sedangkan Ningsih terbujur lemas karena pendarahan. Setelah selesai proses persalinan, Ningsih langsung menerima donor darah.


"Tuan Bima, bisa bicara sebentar?" Dokter sudah keluar dari ruangan dan memberi informasi pada Bima.


"Ya, Dokter. Ada apa?" Bima mengikuti ke mana dokter mengajaknya berbicara.


"Lalu bagaimana dengan nasib istri dan bayi saya, Dokter?" Bima merasa panik dan bingung.


"Tunggu kabar selanjutnya. Baiknya jangan panik, Tuan. Saat ini bayi Anda dirawat di tempat khusus, jadi Anda tidak bisa ke sana. Hanya bisa menengok lewat kaca jendela. Banyak berdoa, Tuan. Semoga semua akan baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter yang meninggalkan Bima dengan sejuta kekhawatiran di hatinya. Bagaimana mungkin dia tak khawatir? Kondisi Ningsih dan bayi mereka dalam bahaya.


"Papa, ada apa?" tanya Wahyu pada ayahnya yang tertegun.


"Wahyu ... jagalah ibu dan adik-adikmu dengan baik. Andai kata Papa harus pergi, berjanjilah bawa mereka semua ke jalan seharunya. Bimbing mereka dengan sebaik mungkin," ujar Bima merasa sangat bersalah atas semua ini.


"Ma-maksud Papa?"


"Papa percaya padamu. Kau sudah dewasa dan pasti mengerti yang Papa maksud. Tak seharusnya manusia hidup bersama iblis. Adikmu si Alex masih mempunyai kesempatan karena lahir dari rahim Mamamu. Namun Papa ... sudah saatnya Papa mengakhiri ini semua," jelas Bima membuat Wahyu semakin bingung. "Berdoalah untuk Mama dan adik bayi. Papa akan berusaha juga menyelamatkan mereka," imbuh Bima.


"InsyaAllah, Pa. Wahyu akan berusaha yang terbaik. Mama dan adik pasti selamat," jawab Wahyu mencoba membuat tenang ayahnya.


Bima segera menjauh. Dia pergi ke belakang rumah sakit, mencari tempat yang sepi dan gelap karena waktu itu sebelum subuh. Dia pun mencoba berkomunikasi dengan Sbowice atau Tuan Abaddon.


Wahyu di depan ruangan ibunya pun mengajak Alex berdoa bersama. Meski Alex merasa canggung, dia mengikuti apa yang Wahyu perintahkan. "Doa pasti mengubah segalanya, Alex. Mama dan adik bayi sedang kritis. Kita bantu dengan doa. Papa juga mencari jalan keluar terbaik untuk semua ini," tegas Wahyu membuat Alex mau ikut berdoa.


"Muncullah Snowice! Atau Tuan Abaddon! Aku menyadari satu hal. Kalian tak ingin aku bahagia sebagai manusia, bukan? Kalau begitu, mengapa kalian memberi kesempatan aku menjalani hidup menjadi manusia? Tolong muncul! Aku ingin berdiskusi dengan kalian!" seru Bima dalam hati. Dia memejamkan mata di belakang rumah sakit yang gelap dan sendirian.


Saat mefokuskan diri, Bima merasakan adanya kehadiran. Ya, Snowice mewakili Tuan Abaddon ada di sana. "Ada apa?" tanya Snowice berbisik di telinga Bima.


"Jangan ganggu istri dan anak-anakku. Bebaskan mereka!" gertak Bima pada Snowice.


"Kalau tidak, apa? Kau tidak punya kuasa apa-apa. Ha ha ha ha ... iblis ya tetap iblis. Tak seharusnya menjadi manusia. Apalagi bermimpi hidup bahagia!" Suara Snowice terdengar nyaring.


Bima masih memejamkan mata. Dia memikirkan apa yang terbaik bagi keluarganya. "Apa mau kalian? Ingin mengambilku menjadi pengabdi kalian? Baik. Aku akan lakukan, tapi bebaskan keluargaku. Jangan buat bencana bagi keluargaku. Kumohon, jangan buat Ningsih dan anak-anakku menderita," pinta Bima yang merasa sangat sedih karena dirinya yang membuat segala kesulitan itu. Dalam benak Bima, dia ha.nya ingin istri dan anaknya sembuh dan selamat.


"Hmm ... menarik. Iya, Tuan Abaddon menginginkan kamu menjadi abdinya selamanya di menjadi iblis. Sedangkan Alex, dia bisa tetap menjadi manusia asalkan seluruh kekuatan dan energinya diserahkan kepada Tuan Abaddon," tegas Snowice yang berhasil memancing Bima.


Bima terdiam sejenak. Dia harus memutuskan saat ini juga karena Ningsih dan bayinya dalam kondisi kritis. "Baik. Aku akan menjadi pengabdi Tuan Abaddon dan anakku--Alex biar menjadi manusia seutuhnya. Kali ini, tepati janji kalian untuk tidak mengganggu istri dan anak-anakku. Kumohon ...."


Tepat bersamaan Bima meminta, Wahyu dan Alex juga konsentrasi berdoa meminta pertolongan pada Sang Pencipta. Benar adanya, doa mengubah segalanya. Meski dengan cara yang tak terlihat mudah dan indah, Tuhan sudah mengatur semuanya.


Perawat dan dokter langsung ke ruangan Ningsih. Wanita itu sudah melewati masa kritisnya. Tepat bersamaan dengan itu, bayi Ningsih dan Bima pun menangis. Masa kritis terlewat bagi dua manusia itu.


"Alhamdulilah ya, Allah ...." ujar Wahyu yang mengetahui masa kritis ibu dan adik bayinya terlewat sudah. "Ayo kita ke sana, Alex," imbuh Wahyu yang mengajak adiknya ke ruangan ibunya.


Alex juga segera mengikuti Wahyu ke ruangan ibunya dan kemudian ke ruangan adik bayinya. Mereka bersyukur karena ibu dan adiknya selamat.


Bima menyetujui apa yang dikatakan Snowice. Tuan Abaddon segera mengambil Bima kembali menjadi iblis pengabdinya. Energi dan kekuatan Alex sudah diambil dengan persetujuan dari Bima.


Doa mengubah segalanya? Ya, terlebih soal takdir. Sang Pencipta menetapkan hal yang berbeda dengan apa yang manusia kira.