JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 29


...🔥 RENO DAN NINDY 🔥...


Reno merasa gelisah saat bekerja. Dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Nindy. Hanya isterinya selalu terngiang dalam pikirannya.


"Ada apa dengan Nindy, ya? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini. Apakah ada pertanda sesuatu? Atau aku yang semakin rindu?" batin Reno saat meeting dia tak bisa fokus.


"Tuan Reno, bagaimana gagasan Mr. Gun tadi?" tanya seorang lelaki yang menjadi wakil dari pihak pembangunan.


"Ah, iya. Saya setuju. Mr. Gun sudah senior dalam bisnis kost dan pembangunan, jadi saya percaya kerja sama ini akan berjalan dengan baik," jawab Reno yang sebenarnya tidak fokus dalam pembicaraan.


Tentu saja Reno yang kurang fokus mempengaruhi jalannya meeting. Mr. Gun dan juga orang dari pihak pembangun tahu jika Reno tidak terfokus dalam pembicaraan pagi itu. Setelah mereka selesai membahas banyak hal sebagai permulaan kerjasama, akhirnya selesai juga meeting itu. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Reno bergegas untuk pulang. Dalam pikiran Reno hanya ada Nindy, Nindy, dan Nindy.


Reno tak sadar jika hal itu adalah efek dari Zatan yang membuat Nindy bersekutu dengannya. Tentu saja setelah adanya tumbal dan juga pertanda perjanjian dimulai, hal itu mempengaruhi Reno hingga dalam pemikirannya juga.


Reno segera menyetir mobil yang terparkir di tempat parkiran kantornya. Setelah itu dia segera melaju dengan kecepatan sedang kembali ke rumahnya. Saat itu, dia berpikir jika Nindy ada di rumah.


Sesampainya di rumah, Reno sedikit kecewa karena saat dia berlari masuk ke dalam rumah, dia tidak menemukan Nindy di sana. "Ke mana Nindy, Bi? Mengapa Nindy tak ada di rumah?" tanya Reno kepada asisten rumah tangga yang ada di ruang tamu sedang bersih-bersih.


"Maaf, Tuan Reno, tadi Nyonya Nindy mengajak Tuan Besar dan Nyonya Besar untuk pergi sejenak dengan taksi online," jawab asisten rumah tangga Reno yang merasa agak takut jika salah menjawab.


"Mengapa Nindy tidak izin dahulu dengan ku, Bi? Dan kenapa Bibi tidak bilang? Lantas siapa yang menemani Lisa?" ucap Reno yang merasa gelisah istrinya tidak berada di rumah. Dia terlihat mulai panik. Padahal hal itu bukan suatu yang serius.


"Ampun, Tuan, maafkan saya jika tidak bilang kepada Tuan. Saya kira Nyonya sudah bilang kepada Tuan sendiri. Sedangkan Non Lisa diantar oleh bibi dan sopir tadi pagi. Mungkin sebentar lagi akan pulang," jelas asisten rumah tangga itu, sambil menggenggam tangannya sendiri. Tentu saja Reno yang tidak seperti biasanya itu membuatnya takut.


"Ya sudah kalau begitu. Nanti jika Lisa pulang, uruslah dengan baik. Aku akan pergi menyusul Nindy dan juga Abah serta Ibu. Jaga rumah baik-baik, ya, Bi," ujar Reno yang kemudian langsung pergi ke garasi.


Reno menyetir mobilnya untuk pergi. Sepanjang perjalanan, Reno mencoba untuk menghubungi Nindy berkali-kali. Handphone Nindy berdering, tetapi tidak diangkat sama sekali. Reno semakin cemas dan dia pun teringat aplikasi Find me. Reno menggunakannya karena dia ingin mengetahui di mana istrinya berada.


Setelah menemukan lokasi di mana Nindy berada, Reno segera memutar balik arah mobil menuju ke titik lokasi itu. Lokasi yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah pusat perbelanjaan atau mal yang sangat besar di kota Yogyakarta.


"Apa seasyik itu kamu berbelanja, Nindy? Sampai kamu tidak mengangkat telepon dari suamimu sendiri. Aku ini resah dan khawatir. Aku ini rindu ingin bertemu denganmu. Setelah rapat pagi ini, entah mengapa hatiku hanya ingin melihatmu," gumam Reno sepanjang perjalanan dan dia mengemudi dengan cepat menuju ke mall tersebut.


Sesampainya di mall, Reno segera mengarahkan mobilnya untuk mengambil parkiran tercepat agar bisa segera masuk ke dalam mall. Setelah masuk ke mall pun tak mudah menemukan istrinya. Tentunya dia harus berkeliling untuk menemukan di mana Nindy, Abah, dan ibu. Hal itu tidaklah mudah. Reno berkeliling ke sana dan kemari sambil menelepon Nindy. Beberapa kali teleponnya menghubungi wanita yang dia cintai, tetapi belum ada respon. Nindy masih sibuk berbelanja dengan Abah dan Ibu sampai tidak memperhatikan ada telepon masuk berkali-kali dari Reno.


Setelah berkeliling hampir setengah jam, akhirnya Reno melihat sosok yang ia cari. "Nindy ... sayang ... hei! Aku di sini," seru Reno sambil melambaikan tangannya, membuat banyak pasang mata menatap ke arahnya dengan heran dan aneh. Nindy pun merasa malu melihat suaminya seperti itu.


"Apakah kamu bilang suamimu juga? Mengajak Abah dan ibu kemari, semakin merasa tak enak Ibu takut nanti dikira memboroskan harta suamimu. Apalagi sampai suamimu menyusul ke sini," lirih Ibu yang merasa tak nyaman melihat Reno berteriak dan memanggil Nindy.


"Ibu dan Abah tenang saja. Ini itu memakai uang Nindy murni. Uang Nindy. Nindy membelanjakan Abah dan Ibu demi kebahagiaan Abah dan Ibu. Tak memakai uang Reno. Nindy juga tak tahu kalau Mas Reno menyusul ke sini. Dia tidak bilang dan Nindy juga tidak mengatakan hal ini kepadanya. Abah dan Ibu tidak perlu khawatir, biar Nindy yang urus semua ini," kata Nindy mencoba menenangkan kedua orang tuanya.


"Tumben sekali Mas Reno seperti itu. Biasanya mau aku pergi dari jam berapa pun dia tidak terlalu banyak bicara. Tidak menanyaiku. Bahkan dia malah justru asyik pergi dengan Lisa. Mengapa sekarang dia seperti itu khawatir sekali? Aneh," batin Nindi yang berada dalam pelukan suaminya.


Reno pun menatap Nindy dengan sendu dan tersenyum sangat manis. "Kalau kamu ingin jalan-jalan, bilang saja, sayang. Aku pasti ajak kamu jalan-jalan ke mana pun. Sampai luar kota atau luar negeri pun aku akan turuti, tapi tolong bilang kepadaku. Aku tidak tenang saat meeting memikirkan kamu," ucap Reno kembali. Membuat Nindy jadi teringat sesuatu.


"Iya sayang. Lain kali aku pasti bilang kepadamu. Udah jangan seperti ini, malu dilihat banyak orang. Kita seperti drama Korea saja," kata Nindy yang melepaskan pelukan suaminya karena tak enak orang-orang di sekitar memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.


Reno pun segera membawa barang belanjaan yang sudah dibeli Nindy, Abah dan Ibu. Diia tidak merasa keberatan untuk membawa beberapa kantong belanjaan sekaligus. Mereka pun melanjutkan berjalan-jalan di Mall bersama Reno.


"Aku tahu semua ini. Ini pasti karena magic. Ini pasti karena pengaruh Zatan. Ya ampun, so sweet banget. Andaikan Reno seperti itu sejak dulu. Ke mana-mana, aku selalu di rindukan. Ke mana-mana, aku selalu dicari. Ke mana-mana, aku selalu diperhatikan. Senang sekali. Sudah lama tidak seperti itu," batin Nindy sambil menatap suaminya yang terlihat keberatan membawa kantong belanja yang banyak. Nindy hanya tersenyum kecil melihat Reno yang seperti itu. Sudah sekian lama Reno tidak pernah jalan-jalan sama Nindy, apalagi dengan Abah dan ibu.


Setelah selesai jalan-jalan, mereka pun segera mencari tempat untuk santap siang bersama. Tentunya mencari menu yang disukai Abah dan ibu. Nindy selalu memprioritaskan orang tuanya, seperti halnya almarhum Joko memprioritaskan keluarganya di atas segalanya.


Reno terlihat sangat berbeda kali ini. Dia tidak banyak berbicara atau tidak banyak mengatur. Sepertinya semua berjalan lancar seperti yang diharapkan. Reno bertekuk lutut terhadap Nindy dan mengikuti semua perkataannya. Apapun yang dikatakan, Reno tidak membantah sama sekali.


Setelah selesai santap siang, mereka segera pulang. Dalam perjalanan pulang, Reno tak banyak berbicara. Sedangkan Nindy selalu berbincang dengan Abah dan ibu dengan bahagia. Tatapan mata Reno seakan kosong, entah karena memikirkan apa atau karena pengaruh Magic. Namun yang pasti, Nindy menyukai hal itu. Reno yang sekarang yang lebih perhatian.


Sesampainya di rumah, mereka segera masuk. Reno membawa barang belanjaan masuk juga ke ruang tamu.


"Papa! Mama!" seru Lisa yang berlari menghampiri kedua orang tuanya. "Nenek Kakek habis jalan-jalan ke mana sama Papa dan Mama? Kok, Lisa tidak diajak?" celoteh gadis kecil itu sangat lucu.


"Maaf ya Sayang. Kamu tadi sekolah. Sebenarnya tadi Mama mengajak jalan-jalan Kakek dan Nenek hanya bertiga. Tetapi entah mengapa Papahmu itu menyusul Mama. Jadi kamu jangan marah ya. Bukannya kami tidak mengajak Lisa. Lain kali kita pasti jalan bersama berlima, ya, kan, Pah?" kata Nindy sambil melihat Reno.


"Iya Nindy. Apa pun yang kamu mau, aku turuti. Lisa sayang sabar ya. Besok kita jalan-jalan bersama rame-rame pasti lebih asik." kata Reno menenangkan.


Lisa pun menjadi takut melihat papahnya, karena dia mengetahui apa yang ada di belakang papah mamanya. Tentu saja itu adalah Zatan yang tersenyum menyeringai menatap Lisa. Namun dia tidak bisa menyentuh anak kecil itu karena Gio dan Gilang sudah memberikan pagar gaib pribadi yang cukup kuat untuk menahan sementara.


Tanpa berkata satu patah kata pun, Lisa langsung berlari menuju kamarnya. Dia sangat ketakutan melihat Zatan dengan seringai yang mengerikan. Lisa hanya bisa berdoa.


"Ya Allah, tolong kami. Ya Allah, tolong Papah Mama. Tolong Lisa, ya Allah. Lisa takut sekali. Makhluk mengerikan apa itu yang berada di belakang Papa dan Mama ...."


Lisa berdoa berkali-kali. Kalimat yang sama diulang-ulang sampai dia menangis dan tertidur dalam kondisi ketakutan. Saat yang sama pun, Wahyu dan Alex merasakan ketakutan yang Lisa rasakan.


"Kak, kamu merasakan hal yang sama, tidak? Lisa butuh bantuan kita saat ini juga. Kita tidak bisa menunda waktu untuk mendatangi iblis kurang ajar itu," ucap Alex kepada Wahyu.


"Iya. Kakak juga merasakan itu. InsyaAllah sebentar lagi kita akan bertemu dengan iblis itu. Persiapkanlah semuanya dan hadapilah dengan tenang, jika ingin memenangkan hal ini. Iblis itu sangat licik. Dia pasti mempunyai rencana sebelum kita menghadapinya."


"Ya, Kak. Setelah maghrib kita ke rumah Lisa ya. Kalau saat ini, sepertinya akan membuat kegaduhan di dunia nyata, karena mereka masih bersembunyi di dunia gaib sedangkan para pegawai di rumah Lisa masih tinggal di sana. Jika setelah Magrib, pasti mereka sudah pulang, bukan?" Alex yang cukup berpikir dengan logika membuat Wahyu pun paham apa yang harus mereka lakukan. Wahyu mengangguk yang berarti setuju dengan apa yang dikatakan Alex.