JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 86


πŸ€ ARWAH GENTAYANGAN πŸ€


Sudah lima hari keluarga besar Ningsih berada di Kota Yogyakarta, berita tertimbunnya warga di Wonosari menjadi berita Hot News. Tak sengaja saat mereka melihat acara televisi ada tayangan eksklusif membahas longsor yang ganjil beberapa hari yang lalu.


[Berita Terkini


Penyelidikan kasus tanah longsor yang menimbun puluhan warga yang hendak memakamkan keluarga Bu Dwi menyimpan banyak keganjilan. Menurut penyidik yang berada di lokasi dua jam setelah kejadian longsor, kondisi tanah di bukit sangat padat. Tidak ada hujan mengguyur kawasan yang kering itu. Hanya saja seperti kondisi yang terlihat, longsoran bukit seperti di dorong dengan mesin keruk. Namun hal ini masih menjadi misteri karena tidak diketemukannya mesin apa pun di balik bukit.


Oleh sebab itu, hingga saat ini petugas penyidik menyatakan ini murni bencana alam. Meski terdengar sangat aneh, keluarga Bu Dwi yang berjumlah empat orang mengalami kebakaran di rumah tanpa bisa tertolong pada pagi harinya dan longsor terjadi pada siang hari saat hendak memakamkan keempat jenazah kebakaran tersebut.


Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah dengan laporan keluarga yang hilang dari warga setempat. Hingga berita ini ditayangkan, jumlah korban meninggal yang sudah dievakuasi ada tiga puluh dan ada seorang warga yang terluka parah sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Yogyakarta.


Sekian berita terkini.]


"MasyaAllah ... banyak sekali korbannya," gumam Ibu tak berkedip melihat siaran berita lokal itu.


"Iya, Bu. Bapak jadi merinding. Tadi malam saja, Bapak mimpi lihat banyak orang yang kena longsor itu bangun lagi dan jalan-jalan seperti mayat hidup," kata Bapak, menyeruntup kopi di ruang tengah.


Santi, Nindy dan Mak Sri sedang membantu Bu Wik menyiapkan makan malam. Sedangkan Reno sedang bermain dengan Wahyu di kamar. Ningsih juga duduk di ruang tengah bersama orang tuanya. Joko yang sedari tadi berdiri pun tak elak mendengar berita.


"Pak, Bu, apa yang menimpa orang-orang itu memang sudah sepantasnya terjadi. Mereka jahat sekali kepada kita. Jadi tak perlu Bapak dan Ibu memikirkannya. Anggap saja berita itu tidak ada dan kita bisa berwisata di sini sepuasnya," lirih Ningsih dengan nada santai membuat Joko tak percaya jika wanita yang membuatnya tertarik hati adalah orang yang dingin dan kejam.


Malam itu, sisi lain Ningsih terlihat hanya karena mengomentari tayangan berita. "Nduk, walau mereka berbuat salah kepada kita, tetap kasihan kan ...." sela Ibu lantas dipotong dengan hardikan Ningsih.


"Ibu dan Bapak nggak pantas mengasihani orang-orang seperti mereka. Ingat kalau mereka sudah menghina dan melukai hati kita bertahun-tahun! Aku saja tak percaya ada satu orang yang selamat meski terluka parah."


Wajah Ningsih terlihat masam. Joko menepuk pundak Ningsih untuk menenangkannya. "Bu Ningsih, sudah. Terpenting keluarga Bu Ningsih tidak kenapa-kenapa karena tak ikut memakamkan. Ambil segi positifnya saja," ucap Joko perlahan.


Bapak dan Ibu memahami kenapa Ningsih sangat marah. Namun sejak kapan Ningsih yang orang peduli menjadi sedingin dan sekejam itu hanya karena rasa dendam?


Malam itu percakapan terhenti. Makan malam disajikan. Mereka semua makan bersama di ruang makan yang sudah terhidang aneka macam masakan. Bapak dan Ibu pamit istirahat setelah usai makan. Ningsih merasa ucapannya adalah benar, jadi dia pun masih terdiam.


Tengah malam saat semuanya terlelap ... ada suara gemuruh mendera. Ningsih terbangun saat tiba-tiba melihat puluhan mayat hidup hampir mencekik leher Ningsih. Seketika Ningsih berteriak, "TOLONG!"


Joko yang masih terjaga segera berlari ke kamar Ningsih, membuka pintunya dan melihat Ningsih terjatuh dari ranjang dengan tangan yang menutupi mukanya, ketakutan.


"Bu Ningsih ... ada apa, Bu?" tanya Joko sambil merengkuh tubuh wanita yang gemetaran di atas lantai.


"Jok ... Joko ... barusan kamu liat, tidak? Mayat hidup, banyak ... banyak sekali di sini, baru saja," jawab Ningsih terbata-bata.


Joko menengok kanan dan kiri, tidak ada apa pun di sana. Dia lekas menggendong tubuh Ningsih dan meletakkan ke atas ranjang. "Tidak ada apa-apa, Bu. Mungkin Bu Ningsih kecapekan dan mimpi buruk. Ini pukul 00.30 jadi semua orang sudah tidur, Bu. Tadi kebetulan saya haus dan hendak ambil minum ke dapur," jelas Joko.


Ningsih memandang lelaki yang selama empat tahun menjadi sopirnya. Dia mencoba mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Seperti nyata. Tapi bisa jadi hanya mimpi. Buktinya mayat hidup itu hilang saat Joko membuka pintu.


"Iya ... mungkin ... Beneran seperti nyata. Aku takut sekali, Joko," kata Ningsih gemetar.


Joko mengelus pundak Ningsih. Dia duduk di samping Ningsih, ujung ranjang. "Bu ... sepertinya Bu Ningsih terlalu memikirkan kejadian di Wonosari yang masuk berita tadi malam. Lebih baik Bu Ningsih istirahat saja. Saya akan berjaga di ruang tengah. Jika ada apa-apa hubungi saya saja," ucap Joko membuat Nigsih terpana.


Baru kali ini, Ningsih bisa melihat pesona Joko. Padahal sudah sekian lama Joko sering curi pandang padanya. Joko pun keluar kamar dan menutup pintu. Sedangkan Ningsih masih termangu di ranjangnya.


"Bang? Ngapain dari kamar Tante ...." kata Nindy memergoki Joko yang menutup pintu.


"Sst ... Bang nggak ngapa-ngapain. Tadi Bu Ningsih mimpi buruk. Dia jatuh dari tempat tidur. Pas Bang lewat mau ambil minum, jadi Bang tolong. Kamu ngapain malam-malam keluar kamar?" selidik Joko kepada adiknya.


"Tadi Nindy denger orang jerit bilang 'tolong' jadi Nindy buruan keluar kamar. Oh itu suara Tante Ningsih?" kata Nindy sambil mengusap matanya.


"Iya, itu suara Bu Ningsih. Sudah kamu tidur lagi aja."


"Ya, Bang. Bang juga tidur lah."


"Kok nakuti sih, Bang? Bang mau bilang kalau itu perbuatan hantu, ya?" bisik Nindy sambil melihat kanan dan kiri.


"Entah ... tapi Bang yakin ada yang nggak beres ini," lirih Joko, "sudah Nindy tidur saja. Sudah larut malam."


"Ya, Bang." Nindy berlalu kembali ke kamar. Sedangkan Joko duduk di sofa ruang tengah dan menyenderkan tubuhnya di sana. Lelah hinggap di sekujur tubuhnya. Joko pun terlelap dengan tangan terlipat di depan dada.


Ningsih mencoba tidur lagi. Dia berusaha tak memikirkan soal mayat hidup tadi. Sepertinya korban longsor itu tahu jika Ningsih ikut andil dalam kejadian mengerikan yang menimpa mereka. Ningsih pun tertidur.


Di waktu yang sama ... saat tidur, Reno yang sudah lama kesepian dan tidak menikmati keindahan wanita, mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ada seorang wanita mengenakan kain hijau berbalut di tubuhnya. Mendekati Reno dan menyentuh setiap lekuk tubuhnya. Hal itu mengusik kejantanan Reno. Tanpa disadari, Reno terhanyut dalam setiap permainan wanita misterius nan mempesona itu.


Reno berada dalam dekapan tubuh indah yang membuatnya menggelora. Semakin hangat dan semakin cepat mereka menyelesaikan hasrat. Madu duniawi disesap dengan beringas. Reno lupa jika di pelukannya wanita yang tak dikenal. Makhluk itu membuat Reno terperdaya dan terlelap kembali dalam kepuasan.


"Reno ... mulai saat ini, jadilah suamiku. Apakah kau mau?" tanya wanita dengan tatapan menggoda.


"Maksdumu? Aku tak mengenalmu," kata Reno dalam mimpi.


"Namaku Dinda Pratiwi atau kerap dipanggil Nyai ... jadilah suamiku. Akan kubuat kau bahagia setiap saat dan kupuaskan kamu dalam pelukan hangatku setiap malam," lirih wanita berkain hijau yang ternyata adik Bima.


Reno pun terbangun dari mimpi. Napasnya memburu. Takut, bingung, dan terkejut. Reno mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Menarik napas dalam lalu mengeluarkan perlahan.


"Sial! Mimpi apaan ini? Gara-gara aku nggombalin Nindy mungkin, ya?" Reno bertanya-tanya dan semakin kaget ketika melihat celananya yang basah.


"Astaga! Aku mimpi basah? Baru pertama kali seperti ini, ya ampun. Memalukan!" Reno risih dengan dirinya sendiri lalu bergegas ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Reno berganti pakaian dan celana. Lalu mencoba kembali tidur. Hawa dingin menyeruak ke seluruh penjuru kamar. Reno menarik bed cover tebalnya untuk menutupi tubuh yang mulai menggigil.


***


Pagi harinya ... Ningsih kembali terkejut dengan debu yang berterbangan di kamarnya. Banyak tanah di beberapa suduh kamarnya, lalu dari dalam selimut ada yang menggeliyat dan merangkak hendak keluar. Ningsih sudah ketakutan dan menahan napasnya, "AAAaaaa ...."


Joko terkejut dan berlari ke kamar Ningsih. Membuka pintunya dengan cepat. Ningsih pun bercerita hal yang barusan terjadi. Keanehan kembali terjadi. Apa yang Ningsih ceritakan ke Joko tak dilihat lelaki yang menolongnya.


"Sudah, Bu Ningsih. Semua tidak apa-apa," ucap Joko menenangkan Bosnya yang cantik.


"Beneran, Jok. Tadi ada mayat hidup wajahnya mirip si Via anaknya Bu Dwi. Aku takut sekali, Jok," ucap Ningsih ketakutan.


"Sudah, Bu tak apa. Lebih baik nanti malam Bu Ningsih tidur bersama Santi atau Nindy. Jangan sendirian, ya?" Joko memberi solusi baik.


Pukul 05.00 waktu itu dan Mak Sri serta Bu Wik sudah bangun untuk bersiap masak. Sedangkan yang lain belum bangun. Joko memeluk Ningsih dan mengelus punggungnya. Memastikan semua akan baik-baik saja.


"Joko ... terima kasih banyak, ya. Kamu sampai tidur di sofa untuk menjagaku. Kamu sangat baik ...." bisik Ningsih tepat di telinga Joko.


Joko segera melepaskan pelukannya. Takut jika sesuatu yang dia tahan bisa terjadi. Joko menjadi salah tingkah melihat Ningsih.


"Bu ... lebih baik saya keluar kamar. Tidak baik kalau di sini terus ...." ucap Joko terbata melihat wajah Ningsih yang tetap cantik meski baru saja bangun tidur.


"Uhm ... iya, terima kasih Joko." Ningsih tersenyum membuat mata Joko tak berkedip.


Seperti kemarau panjang yang tersiram air hujan. Senyum Ningsih membuat hati Joko meleleh dalam kebahagiaan. Dia pun mendekatkan wajahnya sangat amat dekat dengan wajah Ningsih. Hampir saja dia mengecup sumber madu nan manis di wajah Ningsih. Joko sadar hal ini bukan hal yang baik. Dia lekas berpaling dan keluar kamar Bosnya dengan jantung yang berdetak kencang.


Bersambung ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Yuk bantu Author tetap bekarya dengan share link JERAT IBLIS serta beri Like, Vote, Nilai, serta bagi Tip (coin yang akan langsung masuk ke akun Author) terima kasih all^^