JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 106


πŸ€ CEMBURU TANDA CINTA? πŸ€


Pagi harinya, setelah mandi Ningsih ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Hanya ada dia, Wahyu, dan Budi untuk sementara waktu. Tinggal bertiga saja di rumah seluas itu membuat Ningsih merasa rumahnya lebih sejuk dan nyaman. Dia tak menyadari apa yang Budi lakukan.


"Pagi, Bu. Saya bantu buat sarapannya?" sapa Budi dengan ramah sambil masuk perlahan ke dapur.


"Pagi juga, Bud. Nggak usah. Aku bisa sendiri kok. Kamu panasi mobil saja, ya. Hari ini aku mau ke beberapa tempat kerja. Mengecek semuanya. Kamu bisa jaga Wahyu untuk hari ini? Soalnya pengganti Mak Sri untuk sementara waktu baru datang nanti malam," kata Ningsih yang sedang membuat omelete dan roti bakar untuk sarapan.


"Tak apa, Bu. Sudah kewajiban saya bantu. Iya, Wahyu biar saya jaga. Tenang saja, Bu," ucap Budi sambil menata meja makan.


"Bud, kenapa kamu nggak mau manggil Ningsih aja sih? Kadang dipanggil Bu itu agak aneh. Dipanggil Nyonya juga. Kita kan sudah seperti saudara. Joko itu kadang panggil Bu, kadang panggil nama, kadang panggil Nyonya. Lucu dia."


Budi selesai menata meja makan dan makanan yang Ningsih masak.


"Iya, Bu. Saya lebih nyaman memanggil Bu Ningsih saja."


"Yaudah, terserah aja. Ayo sarapan. Sambil nunggu Wahyu bangun. Sebentar lagi aku siap-siap ke kantor soalnya."


Sejak dua hari yang lalu beberapa orang kepercayaan Ningsih menceritakan permasalahan di kantor tempatnya usaha toko pakaian. Investor menarik dana dan beberapa memutus perjanjian kerja karena berita kematian Lee menyebar hingga Jakarta.


Bahkan rumor Ningsih menikah di Singapura hanya seminggu pun mengusik ketenangan. Beberapa orang berasumsi Ningsih membuat konspirasi kematian Lee untuk mengeruk hartanya. Ada juga yang mengatakan Ningsih menggunakan pesugihan. Hal itu membuat para investor enggan melanjutkan kerja sama.


"Budi, aku berangkat dulu ya. Titip Wahyu."


"Baik, Bu," jawab Budi sambil menganggukan kepala.


Ningsih mengendarai mobilnya melaju ke kantor seusai sarapan dan berganti pakaian. Banyak hal yang dipikirkannya. Bahkan bisnis yang mulai bermasalah setelah sukses empat tahun di Jakarta membuatnya meragu.


"Bima ... mengapa kamu tak mencariku?" gumam Ningsih sambil mengendarai mobil.


Tak disangka, tiba-tiba Bima muncul duduk di samping Ningsih dengan wujud manusia.


"Mengapa kamu menghindar? Pulang ke Jakarta tanpa memberi tahuku terlebih dahulu?" jawab Bima mengagetkan Ningsih.


"Kaget tahu! Jangan tiba-tiba datang."


"Aku berhak melakukannya. Kamu pun tiba-tiba pergi dari Yogyakarta."


Mereka hening sejenak. Berdebat pun tak akan menyelesaikan masalah. Ningsih membutuhkan bantuan Bima saat ini.


"Baiklah, maafkan aku Bima. Aku cemburu padamu," dengus Ningsih kesal harus mengalah.


"Cemburu untuk apa?" selidik Bima.


"Kamu lupa kalau aku mempunyai kelebihan membaca pikiran? Pemberianmu sebelum aku ke Jakarta. Bukankah termasuk pikiranmu bisa kubaca?" tanya Ningsih membuat Bima tercengang.


Bahkan Iblis pun bisa lupa memberikan kelebihan bagi pengikutnya. Pantas saja Ningsih marah tak jelas pada Bima.


"Kamu tahu apa alasanku melakukan ...."


"Aku tak akan membahas hal itu. Mungkin aku tak berarti untukmu. Namun saat ini, aku butuh bantuanmu. Bima, usahaku akan hancur. Apa yang harus aku perbuat?" tanya Ningsih sebelum Bima menyelesaikan perkataanya.


"Baik. Akan kubantu. Tapi satu hal harus kamu tahu, kulakukan hal yang membuatmu marah demi menyelamatkanmu saat ini."


Ningsih terdiam. Dia meneteskan air mata mengingat apa yang Bima pikirkan waktu itu. Ningsih tahu jika Bima mengambil orang lain sebagai pengikutnya yang berarti, Bima menyentuh wanita lain.


"Mengapa kamu tak jujur? Apakah hanya berkata memiliki wanita lain sesulit itu? Bahkan untuk makhluk yang bukan manusia," lirih Ningsih dengan air mata yang mulai membanjir.


"Hentikan mobilnya. Kita perlu bicara," ucap Bima.


"Jangan menangis, Ningsih. Ini bukan seperti yang kamu kira," kata Bima perlahan sambil mengusap punggung Ningsih.


"Lalu seperti apa? Bahkan Iblis sekalipun mengkhianatiku. Bukankah kamu tahu lukaku seperti apa saat bersama Agus? Mengapa harus wanita lain hadir?" Ningsih sesenggukan.


"Maaf, mungkin kamu mengira aku setega itu. Namun ... kali ini aku memang salah. Tuan Chernobog menginginkanmu segera. Kamu tak tahu jika kekayaan ini hanya sampai pada tumbal suami ke tujuh. Setelah itu ... kamu akan dibawa ke Neraka selamanya. Aku tak ingin ...."


"Bukankah justru baik? Aku bisa bersamamu di Neraka selamanya? Apa yang membuatmu mengkhianatiku?" nada bicara Ningsih meninggi.


"Ningsih ... hal ini tak seperti yang kamu bayangkan. Kamu akan disiksa selamanya di neraka karena menjual jiwamu pada kegelapan. Aku tak ingin melihatmu seperti itu. Aku sedang mencari jalan lain. Lalu soal pengikutku yang baru, aku harus memenuhi kuota jiwa untuk Tuan Chernobog. Aku tak berani mengatakannya padamu sebelumnya karena hal ini ... begitu rumitnya apa yang kurasakan! Sial! Aku tak bisa mengungkapkannya karena ...." Bima menghentikan kalimatnya, menatap wajah Ningsih yang penuh air mata.


"Bima ... aku mencintaimu. Aku cemburu padamu. Aku hanya ingin memilikimu," gumam Ningsih yang bersambut dengan pelukan hangat Bima.


"Maaf ... maaf ... jangan menangis lagi."


Bima menenangkan perasaan Ningsih yang tak karuan. Hal ini membuat Bima merasakan kemanusiawian yang telah lama hilang.


Saat Bima hendak mengecup Ningsih, rasa panas menyeruak dan membuatnya tak melanjutkan. Bima ingin mengatakan soal apa yang dilakukan Budi. Namun hal itu belum tepat waktu.


***


Jerat Iblis mengikuti langkah Ningsih. Ke mana pun dan kapan pun. Bukan hanya kebahagiaan semu yang didapat. Kehancuran pun di depan mata.


Sesampainya Ningsih di kantor, semua komplain masuk dan Ningsih harus mengganti uang investor yang bernilai besar.


"Coba kamu hitung lagi apakah cukup uang perusahaan mengganti investasi mereka?" tanya Ningsih pada kaki tangannya dalam bisnis.


"Sudah saya hitung, Bu. Bahkan jika toko-toko dijual, belum cukup menutup. Kemungkinan kantor ini harus tutup. Sebelum diajukan tuntutan hukum," jelas lelaki berjas hitam itu.


Ningsih tak sadar dan gegabah mengambil keputusan. Bisnis yang dia rintis empat tahun dia putuskan untuk akhiri.


"Jual saja. Tutup toko dan kantor. Bayar uang investor. Sisanya untuk uang pesangon seluruh pegawai termasuk kamu. Berikan rinciannya nanti sore. Aku harus pergi sekarang," jawab Ningsih menandatangani berbagai berkas lalu meninggalkan kantor.


"Baik, Bu."


Lelaki berjas hitam itu tersenyum melihat langkah bosnya menjauh. Sudah lama dia mengincar hal ini terwujud.


"Untung besar! Dasar wanita bodoh!" gumamnya menyeringai.


Ningsih ditipu oleh kaki tangannya. Namun hal hati pada Bima membuatnya tak peduli harta lagi.


Sampainya di mobil, Bima terlihat mengernyitkan dahi.


"Kamu tahu jika anak buahmu akan mencuri harta yang selama ini kamu kumpulkan?"


"Ya, biarlah. Aku masih banyak harta. Terutama aku memilikimu," kata Ningsih sambil tersenyum.


"Kalau begitu, nyawa anak buahmu menjadi santapan empuk," jawab Bima menyeringai.


Keserakahan anak buah Ningsih menghantarnya pada kematian. Bukan hari ini, tetapi secepatnya setelah dia menikmati harta yang bukan seharusnya dia pakai. Hal apa yang akan terjadi?


Bersambung ....


****


"Keserakahan bagaikan meminum darah dari orang yang menderita. Perlahan tapi pasti, akan membinasakan sang empunya."


~ Rens09 ~