JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 92


πŸ€ PATAH HATI πŸ€


🎢 Terpaksa aku sendiri sementara saja kini


Bersabar 'kan datang hari meskipun ku lelah


Aku takut kamu tak mengerti


Caraku sampaikan rasa ini


Kamu tak mengerti


Ajarkan aku tuk bisa dapat ungkapkan rasa


Agar kamu 'kan percaya begitu kubutuh cinta


Kembali lagi terulang tergores hatiku ini


Setelah lama menyimpan rasa ini


Terlalu dalam,


Terlalu dalam


Ajarkan aku tuk bisa dapat ungkapkan rasa


Agar kamu 'kan percaya begitu kubutuh cinta


Ajarkan aku tuk bisa dapat merangkai kata


Agar kamu 'kan dengarkan bibirku katakan cinta


Sekarang


Aku takut kamu tak mengerti


Caraku sampaikan rasa ini


Kamu tak mengerti


Agar kau percaya


(Agar kamu 'kan percaya begitu ku butuh cinta) Aku butuh cinta


(Ajarkan aku tuk bisa dapat merangkai kata) Merangkai kata


(Agar kamu 'kan dengarkan) Bibirku katakan cinta


Sekarang (Kubenci sendiri, kubenci sendiri, harus terus begini)


(Kubenci sendiri, kubenci sendiri, harus terus begini)


Kubenci sendiri, kubenci sendiri, takut gagal terus begini 🎢


Dinda melangkah di tepi jalanan sepi Kota Yogyakarta. Entah kenapa seakan ada duri menusuk-nusuk pada dadanya yang sudah lama tak merasakan apa pun.


"Aku benci seperti ini! Aku ini kenapa, sih? Menyebalkan! Kak Bima juga menyebalkan! Reno juga nggak belain aku. Aku benci mereka semua!" umpat Dinda, berjalan dengan menghentak-hentak kakinya.


Dinda merasa bahkan menjadi pengikut Iblis pun tal membuat keadaan berpihak padanya. Padahal wajahnya cantik, tubuhnya langsing, banyak pemujanya datang menyembah, bahkan orang-orang yang ingin mendapatkan ilmu pelet berguru padanya. Namun, seorang pemuda seperti Reno saja tak bisa didapatkannya.


Dinda pun teringat pada Boy, seorang pemuda dari negeri seberang yang rela tinggal di Indonesia demi dirinya. Dinda menghilang dan pergi ke tempat Boy dalam waktu beberapa detik saja sudah sampai.


"Boy ... Boy ...." lirih Dinda sambil mengetuk pintu rumah lelaki tampan yang memuja Dinda.


"Dinda, kau kembali!" seru Boy sambil membuka pintu dengan bahagia.


Pelukan Boy sangat erat tubuh Dinda, membuat Dinda pengap. Dinda mencoba melepaskan diri dari Boy. "Iya, aku di sini. Aku kan pamit cuma sebentar," ucap Dinda sambil tersenyum kelihatan giginya yang putih dan rapi.


Boy mempersilahkan Dinda masuk ke rumah, "Iya, Dinda. Terima kasih. Aku senang kamu ke sini. Hampir putus asa aku memikirkanmu sepanjang hari."


"Nggak usah lebay deh Boy. Aku sudah bilang, kita tak ada ikatan serius apa pun. Jadi ... jangan terlalu berharap padaku, ya?" kata Dinda sambil mengerlingkan matanya.



Boy seorang lelaki asal Korea yang pernah bertemu Dinda saat wisata di Bali. Saat itu Dinda sedang bersama orang-orang yang berguru ilmu padanya. Boy, tanpa pengaruh kekuatan Dinda, sudah jatuh hati sejak pandangan pertama. Saat itu, Boy mendekati Dinda. Lalu mereka menikmati matahari terbenam bersama.


"Jika aku ingin menetap di sini, maukah kamu menemuiku setiap hari?" tanya Boy pada Dinda.


"Tergantung, setidaknya akan aku usahakan. Kenapa emang? Tidak ingin kembali ke Korea?" ledek Dinda pada lelaki yang memiliki lesung pipi menarik.


"Mulai sekarang, aku akan tinggal di sini. Nanti orang kepercayaanku akan mengurus izin tinggal serta semua schedul pekerjaanku. Aku ingin lebih lama bersamamu, Dinda."


Hal yang tak pernah Dinda bayangkan, ada seorang lelaki yang tertarik tanpa ilmunya. Lelaki lugu itu menyerahkan hari-harinya dalam penantian. "Baik, tapi aku nggak janji tiap hari menemuimu."



"Kumohon, tinggalah di sini lebih lama bersamaku," bisik Boy pada wanita yang dia impikan menjadi pendamping hidup.


"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Aku takut jika mengecewakan. Janji bukannya harus ditepati?" ucap Dinda membuat Boy terenyuh.


Sebagai seorang pengusaha dan model majalah, tentu banyak wanita yang menginginkan bersanding dengan Boy. Banyak pula yang rela mengobral janji demi bisa menarik hati Boy. Sejak pengkhianatan sahabatnya merebut kekasih yang sudah tiga tahun bersama Boy, lelaki itu tak percaya lagi kata janji. Janji akan sangat menyakitkan jika terucap, lalu tak bisa ditepati. Lebih baik tak berjanji dari pada harus ingkar janji.


"Dinda, taukah kamu jika hal itu yang paling membuatku jatuh cinta padamu. Kamu tak pernah berjanji, tetapi kamu selalu kembali dalam pelukanku. Aku selalu menunggumu dengan tangan terbuka," lirih Boy, tak terasa matanya mulai mengembun.


"Boy, apa kamu pernah merasakan sakit hati? Patah hati itu seperti apa?" tanya Dinda yang berbaring di pangkuan Boy pada sofa panjang berwarna cokelat tua.


"Patah hati itu, hal yang menyakitkan dan menghujam tubuh terdalam. Seakan jantung berdetak kencang bahkan berhenti berdetak. Lalu dunia seakan runtuh mengiringi langkahmu yang menjauh dari keinginan. Takdir mungkin tak berpihak, atau justru jodoh bukan pada orang yang kita inginkan. Patah hati itu tak terlihat, tapi bisa membunuh perlahan. Menghentikan logika bahkan rasa bahagia. Serta susah sembuhnya. Tumben Dinda bertanya seperti itu, ada apa?" jawaban Boy membuat Dinda tak berkedip melihat wajah di atas pandangannya.


"Kalau patah hati itu, harus jatuh cinta dahulu ya?"


Boy tertawa mendengar pertanyaan Dinda yang lucu, "Ya iya, kalau tidak jatuh cinta, gimana mau patah hati? Dinda jatuh cinta dengan siapa?"


Pertanyaan dari Boy membuat Dinda terdiam tak bisa berucap. Sebenarnya apa definisi jatuh cinta? Lalu apa bedanya kecewa dengan patah hati? Hal yang tak pernah Dinda rasakan bahkan saat menjadi manusia. Dunia begitu kejam tak mengizinkan Dinda merasakan hal manusiawi itu.


"Tidak. Kamu tahu kan aku tak suka berkomitmen. Aku hanya penasaran dengan perasaan itu. Bahkan jatuh cinta pun aku belum pernah," celetuk Dinda dengan apa adanya di depan Boy. Boy selalu membuat Dinda ingin berpulang dalam dekapannya. Bukan untuk hal nafsu, tetapi bercengkrama sepanjang hari tanpa jenuh.


"Jika kamu tinggal di sini lebih lama, aku akan buat kamu merasakan jatuh cinta. Namun, aku tidak akan bisa mengajarkanmu patah hati, kecuali kamu meninggalkanku selamanya," jelas Boy membuat Dinda terdiam.


Rasanya sangat susah diungkapkan. Apakah itu hanya rayuan semata atau hal yang membuat Dinda merasa berharga. Tak pernah Dinda sangka, jika olok-oloknya terhadap perasaan Bima ke Ningsih menjadi boomerang baginya. Kali ini ... malam ini ... Boy berhasil menakhlukan secuil hati dan perasaan yang tersisa pada Dinda.


Ternyata bukan Reno yang Dinda inginkan. Boy adalah lelaki tempatnya berpulang yang akan terus membuatnya nyaman untuk tinggal. Dinda pun tersenyum bahagia menatap Boy yang kemudian dengan perlahan menci*m kening Dinda dan turun ke bibirnya.


Bukan hanya bibir merah Dinda yang didapatkan Boy. Hati Dinda, malam itu dalam pelukan Boy. Manusia biasa yang pernah patah hati. Menakhlukan Nyai Pelet yang suka tebar pesona pada lawan jenis.


***


Di sisi lain ....


Santi menghampiri adiknya, "Reno! Dengarkan kakak ya. Kamu jangan dekat-dekat dengan Dinda. Dia punya pengaruh buruk untukmu. Kakak nggak suka."


"Pengaruh apa sih, Kak? Parno deh. Ornagbsi Dinda juga pergi kan," jawab Reno uring-uringan.


"Dia sepertinya sedang mengincarmu. Kakak takut dia pakai pelet. Sekarang, kamu nurut minum air ini ya," ucap Santi sambil menyodorkan sebotol air putih


"Ngawur aja, Kak! Nggak boleh nuduh sembarangan tahu. Kalau nggak suka sih nggak apa tapi jangan nuduh. By the way, ini air apa?" selidik Reno meraih botol minuman itu.


"Ini air bidara untuk ruqiyah mandiri. Kalau kamu mual dan pusing, berarti benar ada gangguan dari makhluk gaib. Minum ya. Biar kakak tenang dan hubunganmu dengan Nindy tidak terganggu lagi," pinta Santi.


Reno tak mau ribut malam-malam, dia mengikuti kata kakaknya untuk meminum air di botol itu sampai habis. Seketika rasa mual dan pusing membuat Reno hampir jatuh. "Kak, aku pamit tidur ya. Ini sudah kuminum kan," pamit Reno tak mengatakan yang dirasa.


"Oke, Kakak juga mau tidur. Selamat malam Reno," ucap Santi sambil lalu.


Reno langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Dia bergegas ke kamar mandi dan muntah-muntah. Ada cairan berwarna hitam dan lengket keluar dari mulutnya. Bersamaan hidung Reno mengeluarkan darah, mimisan.


"Shit! Aku kenapa nih? Jangan-jangan bener kata Kak Santi. Lalu Dinda pakai dukun gitu? Aish ... sial!" gerutu Reno di kamar mandi dengan kondisi lemas. Setelah selesai memuntahkan isi perutnya, Reno terbaring lemas di kamar.


Ingin rasanya menghubungi Kak Santi, tapi Reno tak berani. Menghubungi Tante Ningsih pun tak mungkin karena ada Om Bima, bisa-bisa tersinggung soal Dinda. Reno pun menghubungi Bang Joko karena dia tak berani mengganggu Nindy yang pastinya sudah tertidur nyenyak.


Reno: [Bang Joko, sudah tidur?]


Joko: [Belum. Ada apa Den Reno, tumben?]


Reno: [Panggilnya Reno aja. Bang tolong Reno dong. Ke kamar bisa?]


Joko: [Oke. Ada apa. Bang segera ke sana.]


Reno: [Minta tolong bawakan teh hangat ya, Bang.]


Joko: [Siap!]


Beberala menit kemudian, Joko mengetuk pintu. "Masuk aja, Bang." sahut Reno.


Joko membawakan segelas teh hangat dan minyak kayu putih serta balsem. Dia mengira Reno sakit biasa. "Mau minta kerokan kah kalau badannya nggak enak? Bang bisa kok ngerok and mijit," usul Joko sambil meletakan teh hangan di meja.


"Bang, aku mau ngomong tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Janji ya," lirih Reno.


"Ya. Ada apa sih? Ini minum tehnya dulu," kata Joko sambil membantu Reno duduk meminum teh.


"Bang, lihat ini. Lebam semua," ucap Reno sambil membuka kaosnya.


Joko pun terkejut melihat tubuh Reno yang dipenuhi luka lebam seperti orang habis tawuran. "Kok bisa? Ada apa ini Reno? Kamu nggak berantem kan?" selidik Joko yang merasa ngeri melihat luka di sekujur tubuh Reno.


"Bang, Kak Santi habis kasih aku minum air bidara untuk ruqiyah mandiri. Lalu reaksi tubuhku langsung mual dan pusing. Sampai muntah keluar cairan hitam kental dan lengket banyak sekali. Setelah itu, luka lebam ini muncul. Aku kenapa ya, Bang? Jangan bilang yang lain ya Bang. Please. Nindy juga jangan sampai tahu," pinta Reno ketakutan.


"Astaga, Reno. Bang bukannya mau sok pandai ya. Tapi setahu Bang kalau minum air bidara dan reaksinya separah ini, kamu pernah diganggu makhluk gaib ya? Atau sampai wik wik sama makhluk gaib? Parah loh ini," jelas Joko.


Bersambung....