JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 122


πŸ€ MERELAKAN - PART 1 πŸ€


Seharian Ningsih mengurung diri dalam kamar. Menangis dan bimbang dengan langkah apa yang ingin dia ambil. Bima mendekatinya, tetapi tak mampu berkata karena Ningsih hanya terdiam. Sedangkan Santi, Reno, Mak Sri, dan Budi sedang berkems untuk pulang ke kampung halaman. Mereka hanya menanti keputusan Ningsih soal Wahyu.


Joko pulang dari sekolah Wahyu. Membawa putera Ningsih yang baru kelas 1 SD. Tak ada yang mmeberi tahu Joko soal kejadian yang sesungguhnya. Joko merupakan orang yang realistis dan sulit percaya hal gaib. Kecuali kejadian saat di perjalanan pulang dari puncak.


"Bima ... apa yang harus kulakukan?" batin Ningsih mengajak bicara Bima setelah sekian jam hanya menangis dan terdiam.


"MAAFKAN AKU NINGSIH JIKA MEMBUATMU SEDIH. NAMUN SEMUA KEPUTUSAN KEMBALI PADAMU." Bima tak bisa berkomentar lebih karena soal anak adalah daulat Ningsih.


Meski Bima tahu jika kemungkinan Wahyu selamat adalah kecil. Semua yang menjadi pengikutny, berarti menjadi pengikut Tuan Chernobog juga. Hal itu tak akan mudah dilepaskan. Bahkan sampai keluarganya.


"Lalu ... Wahyu bagaimana? Apakah aku egois menahannya di sini? Apakah dia bahagia bersamaku?"


Bima menghampiri Ningsih yang masih menangis di ranjang. Bima mengusap rambut Ningsih. Bima membiarkan Ningsih menangis sepuasnya untuk pemulihan perasaan. Ada waktunya Ningsih juga harus memutuskan sesuatu sendiri.


Setelah tenang dan tak menangis lagi, Ningsih memutuskan untuk beranjak dari kamarnya. Bagaimana pun keputusan ada di tangan Ningsih. Bima hanya terdiam lalu menghilang. Tak bisa berbuat apa-apa karena saat ini pun dia mendapat tekanan dari Tuan Chernobog.


Ningsih turun dari tangga dan melihat Wahyu sedang bermain dengan Santi dan Reno. Senyum dan tawa yang jarang Ningsih lihat. Ningsih sadar jika banyak sekali waktu yang dia lewatkan untuk bersama Wahyu. Kesibukan, ambisi, bahkan segala hal yang Ningsih lakukan selama ini lebih sering mengabaikan Wahyu. Waktu berlalu dengan cepat dan Ningsih hanya memikirkan kebutuhan harta untuk anaknya tanpa memikirkan keinginan maupun kasih sayang.


"Wah, anak Mama senang sekali ya. Main sama Kak Santi dan Kak Reno ya," sapa Ningsih membuat yang lain kaget.


"Mama! Ma, tadi di sekolah ada murid baru. Katanya ikut Nenek tinggal di sini karena orang tuanya sibuk kerja. Tadi Wahyu beri pensil soalnya dia lupa bawa pensil." celoteh dari bibir mungil Wahyu membuat Ningsih tersenyum.


Sepertinya Ningsih sudah tahu apa yang harus dia lakukan dan putuskan. "Iya, sayang. Anak Mama pinter ya. Oiya sebentar ya, Mama mau bicara sama Kak Santi dulu."


"Iya, Mama." jawab Wahyu tersenyum lalu kembali bermain dengan Reno.


Santi pun menghampir Tante Ningsih dan diajak ke taman samping rumah untuk berbicara empat mata. Santi mengikuti Tante Ningsih. Sempat merada tak enak hati juga, tetapi hal ini satu-satunya jalan menyelamatkan Wahyu.


"Santi ... kamu sudah besar ya. Sudah dewasa. Bisa memikirkan yang terbaik untuj diri sendiri dan orang lain. Maafin Tante ya tadi berkata kasar karena Tante bingung, takut, dan cemas." ucap Ningsih sambil memandang awan putih di langit.


Santi pun menjawab dengan hati-hati. Tak ingin melukai perasaan Tante Ningsih. "Tabte nggak salah kok. Santi justru minta maaf sudah lancang dan buat Tante stress."


Mereka terdiam sesaat. Ningsih mengirup napas panjang lalu menghela agar rasa di dada mereda. "Santi, setelah Tante pikirkan masak-masak, ada baiknya perkataanmu diwujudkan. Tante sadar bukan ibu yang baik untuk Wahyu. Namun Tante sangat sayang padanya. Batas rasa inilah Tante memilih untuk menyerahkan Wahyu padamu. Kamu bisa kan jaga dia baik-baik?" Ningsih menengok ke arah Santi yang duduk di sampingnya.


Santi menatap dalam mata Ningsih. Mata yang sudah berkaca-kaca dan bisa mengucurkan air mata kapan saja. Santi menata ucapan sebelum menjawabnya. Tak ingin semakin membuat luka hati Tante Ningsih.


"Insyaallah ... Santi pasti jaga Wahyu. Jika Tante sudah yakin dengan keputusan ini, Santi pasti sebaik mungkin menjalankan amanah yang Tante Ningsih beri."


Ningsih pun memeluk Santi. "Terima kasih Santi. Terima kasih. Pastikan Wahyu sehat dan bahagia di sana. Mungkin Tante harus menebus segala kesalahan ini, tetapi entah Tante pun bimbang. Terpenting selamatkan Wahyu."


"Insyaallah semua akan baik-baik saja. Tante ... pikirkan kembali jalan pulang. Semua pasti ada jalannya jika Tante mau." lirih Santi mencoba membujuk Tante Ningsih bertaubat.


"Entah, Santi." Ningsih melepas pelukannya dan tertunduk meratapi kehidupannya. "Tante sudah terlalu jauh dalam hal ini. Bahkan terdengar gila jika Tante mencintai suami gaib Tante. Bukan hanya sekedar demi harta kekayaan, tetapi cinta selayaknya sepasang kekasih yang melindungi dan mendukung. Tante tak yakin jika semua ini ada jalan keluarnya."


"Tante ... tidak ada kata terlambat bagi umat yang mau bertaubat. Insyaallah semua ada jalannya. Tante jangan putus asa begitu," kata Santi menggenggam tangan Tante Ningsih.


"Santi, pastikan Wahyu tidak tahu semua ini ya. Jangan sampai dia tahu jika Tante melakukan perbuatan tak terpuji ini. Tante tak ingin sisa hidup Wahyu membenci atau bahkan menyesali perbuatan Tante. Nanti Tante akan tanya ke Wahyu kapan dia mau ke Yogyakarta. Selain itu, Tante juga harus mengurus kepindahan sekolah Wahyu." Ningsih mencoba tersenyum menatap Santi.


Dalam senyum Ningsih, Santi tahu jika hati Tante Ningsih terluka bahkan tercabik saat harus merelakan anaknya pergi dari sisinya. Meski semua demi kebaikan Wahyu. Santi pun berjanji dalam hati akan melindungi Wahyu dan tak akan mengatakan semua hal ini pada Wahyu.


"Baik, Tante. Sekarang ayo masuk, Tan. Setelah ini menunggu waktu yang tepat untuk pulang ke Yogya. Maafkan kami ya, Tan kalau sudah packing pakaian juga." kata Santi sambil berdiri. Ningsih pun ikut berdiri dan berjalan ke dalam rumah.


Wahyu masih berlarian dengan Reno dan Mak Sri. Budi dan Joko berada di luar dekat parkiran mobil masih berbincang soal Budi sakit kemarin. Ningsih dan Santi masuk rumah.


"Wahyu ... Wahyu sayang ...." panggil Ningsih.


"Wahyu, mau nggak ke Yogya lagi?" Ningsih coba melihat respon anaknya.


"Wah, mau banget Ma! Di sana asyik. Mau ketemu Uti dan Kakung ya, Ma?" Wahyu terlihat antusias.


"Tapi kalau ke Yogya sama Mak Sri, Om Budi, sama Kak Santi dan Kak Reno aja mau? Mama ada kerjaan di sini."


"Mmm ... Mama nyusul kan?"


"Mungkin iya. Kalau Wahyu sama cari sekolah di sana gimana biar dapat teman lebih banyak. Nanti ditemenin Kak Santi dan Kak Reno terus."


Wahyu menatap mamanya. Sebenarnya ada rasa takut di hati Ningsih untuk mengatakan hal itu pada puteranya.


"Ma, itu ide keren sekali! Yeay ... yeay ... Wahyu mau. Kak Santi dan Kak Reno bisa main terus sama Wahyu!"


Di luar perkiraan, Wahyu justru sangat antusias dan senang untuk bersama Santi dan Reno dari pada berpisah dengan Ningsih. Seperti itulah anak kecil. Hal yang dipikirkan hanyalah hal yang mudah dan sederhana. Ningsih merasa lega. Tak ada tangis atau paksaan. Dia pun yakin melepaskan Wahyu demi kebahagiaan anaknya.


"Ok sayang. Kalau begitu besok Mama ikut ke sekolahan ya untuk pamitan dan mengurus kepindahan biar akhir pekan bisa ke Yogyakarta," ucap Ningsih tersenyum menatap puteranya.


"Iya, Ma. Yeay ... yeay ... ke Yogyakarta lagi. Mau main ke mana-mana. Kak Santi dan Kak Reno bisa main sama Wahyu terus. Mak Sri juga. Om Budi juga. Yeay ... yeay ...." teriak Wahyu sambil berlarian membuat hati Ningsih lega sekaligus bersedih.


Sedemikian tak pentingnya kah hidup Ningsih di mata anaknya. Bahkan saat melepaskN, tak terlihat sedih di wajah putera semata wayangnya itu. Namun hal itu menjadi kelegaan tersendiri bagi Ningsih. Meski dirinya terluka.


"Bu, saya minta maaf ya tidak bisa melanjutkan mengabdi pada Ibu Ningsih." kata Mak Sri kepada Nyonyanya.


"Tak apa, Mak. Mak kalau bisa juga jaga Wahyu. Nanti tiap bulan saya transfer uang gaji Mak Sri."


"Insyaallah, Bu. Saya pasti jaga. Tak perlu khawatir soal gaji. Ibu terpenting sehat dan bahagia. Jaga diri baik-baik, Bu."


"Terima kasih, Mak. Terima kasih banyak." kata Ningsih sambil memeluk wanita setengah baya yang selama ini setia mendampinginya meski sering dalam bahaya.


Di luar rumah, Budi sedang bercakap dengan Joko. Bahkan membahas soal resign. Hal ini tak bisa dimengerti oleh Joko.


"Gimana sih Bro Budi? Gaji di sini kan gede banget. Kerjaan juga ringan. Bos juga baik. Ngapain mau resign? Apa Mak Sri juga tak memikirkan lagi?" tanya Joko yang masih penasaran.


"Maaf, Bang. Keputusan sudah bulat. Bapakku meminta untuk pulang saja dan mengurus kebun di rumah. Selain itu sudah empat tahun ini bagiku cukup untuk pengalaman kerja. Bang jaga Bu Ningsih baik-baik ya. Soalnya Mak Sri juga berhenti karena faktor usia. Namun semisal ada hal aneh berkaitan gaib, lebih baik Bang Joko juga berhenti kerja." kata Budi memperingatkan.


"Hal gaib apa? Aneh-aneh saja Bro. Aku tak mungkin resign karena hutang nyawa dengan Nyonya Ningsih. Mau gimanapun kalau tak ada Bu Ningsih pasti aku sudah tiada waktu itu. Ya sudahlah kalau keputusan kalian begitu. Aku bisa apa? Hanya mendoakan yang terbaik. Lagi pula Nindy sudah lulus SMA. Biar dia bantu di sini saja kalau Mak Sri resign." jawab Joko dengan santai.


"Kalau saran, mending jangan. Apa lagi Nindy kan gampang sakit. Mending cari kerjaan lain."


"Kenapa? Kan kerja di sini santai. Lagi pula ada petugas cleaning servise tiap dua hari sekali bersihin rumah full. Enteng kan kalau cuma buat makanan dan bersih-bersih dapur dan kamar." Joko memang tak tahu hal gaib dan tak suka mempercayai hal seperti itu.


"Baiklah Bang terserah saja. Terpenting jangan putus doa ya."


"Iya, Bro. Thanks ya. Terus kapan mau pulang kampung?"


"Kemungkinan setelah Den Wahyu mengurus pindah sekolah dan pamitan."


"Ha? Kenapa sama Den Wahyu? Terus Bu Ningsih ditinggal sendirian? Bukannya Santi dan Reno juga mau balik Yogyakarta?"


"Nah, iya Bang. Wahyu mau diajak tinggal sama Den Reno dan Non Santi. Bu Ningsih sudah mengijinkan. Tahu sendiri usaha Bu Ningsih juga bangkrut." kata Budi menjelaskan dari sudut yang bisa diterima nalar.


Joko pun terdiam. Dia memang tak percaya hal gaib. Dia juga tak habis pikir kalau semua orang meninggalkan Ningsih yang notabene baik dan royal. Bagi Joko bekerja untuk Ningsih merupakan pengabdian karena dia pernah diselamatkan oleh Ningsih. Selain itu, dia juga bersimpati lebih pada Ningsih.


Bersambung ....