
"Mona!" ucap Reno syok melihat tubuh telanjang di ranjangnya.
Mona yang tertidur pulas sama sekali tak mendengar Reno. Reno pun menatap tubuh polos gadis itu. Gelora napsunya kembali menyala. Reno pun menjamah Mona. Melakukan hal itu sampai lelah dan ketiduran.
Keesokan harinya ....
Santi terkejut saat membuka kamar Reno, adiknya.
"Astafirullah! Reno! Mona! Apa yang kalian lakukan?" jerit Santi membuat kaget Reno dan Mona yang masih telanjang dalam balutan selimut.
Mereka bergegas menutupi badan dan bangun dari tempat tidur. Reno meraih pakaiannya dan menyusul Santi yang terlihat marah besar, berjalan ke ruang tamu. Mona lekas memakai pakaiannya dan menyusul Reno.
"Maaf kak. Kami khilaf." ucap Reno perlahan.
"Maaf kak Santi." imbuh Mona yang ketakutan.
"Apa sih yang kalian pikirkan? Kalian itu masih sekolah! Hari ini malah bolos kalian! Kakak nggak percaya kalian melakukan perbuatan itu!" Santi marah besar.
Reno dan Mona tertunduk malu. Ningsih yang sudah mandi dan menyiapkan sarapan, mendengar suara gaduh itu dan menyusul ke ruang tamu.
"Ada apa ini?" ucap Ningsih seakan tidak mengetahui yang terjadi.
"Tuh Reno, apa nggak malu ada Tante Ningsih juga! Dasar adik mesum nggak tahu diuntung!" Santi pun menampar adiknya.
Reno hanya terdiam tak berani menjawab karena kesalahannya. Mona pun mulai menangis.
"Sudah Santi. Jangan kasar terhadap adikmu. Dia satu-satunya keluargamu. Teman Reno ini jangan menangis ya. Nanti biar Tante antar temanmu pulang. Reno di rumah saja." Ningsih mencoba menengahi situasi ini.
Santi menatap Reno dengan penuh kekecewaan. Ningsih menggandeng Mona yang masih menangis, untuk diantar pulang ke rumahnya.
"Sudah jangan menangis ya." ucap Ningsih lembut sembari memberikan tissue kepada Mona.
"M-maafin aku Tante." Mona masih menunduk entah takut atau malu.
"Iya, nggak apa. Jangan minta maaf sama Tante donk. Mona itu pacar Reno?"
"Hmm, iya Tante. Tapi suer baru kali ini Mona sama Reno seperti itu."
Astaga! Jadi ini maksud Bima kemarin. Pantas saja, Bima membiarkan Reno melepas keperjakaan denganku. Berarti Bima kemarin mengambil keperawanan Mona sebelum Reno datang.
Ningsih mulai mengerti maksud Bima.
"Ini belok mana Mona?" tanya Ningsih sebelum perempatan jalan.
"Ini lurus Tante. Terus belok kiri masuk perumahan. Rumahku Blok A nomer 3." Mona menjelaskan.
Sebuah rumah megah dengan gerbang tinggi berwarna emas, terlihat tulisan nomer 3 Blok A. Namun Ningsih merasa sangat tak nyaman.
"Benar ini rumahnya?" Ningsih meyakinkan kembali.
"Iya Tante." Mona menghapus air matanya.
Sekali klakson, ada seorang satpam membuka gerbang rumah itu dan mempersilahkan masuk. Ningsih pun memarkirkan mobil silver yang dia pinjam dari Santi.
"Mona! Kenapa baru pulang? Papamu khawatir menelepon handphonemu tidak aktif." tegur seorang wanita yang suaranya sangat familiar.
"R-ratih?" Ningsih terpaku melihat wanita itu.
"Oh, kamu yang tempo lalu beli mobil ya? Saya Ceacil, Mamanya Mona."
Deg!
Ini takdir atau hanya kebetulan semata? Ningsih gemetar saat masuk ke rumah Mona, yang jelas ini kediaman Frans Gumelar yang mengancamnya kemarin.
"Ma, maaf. Mona semalam tidur di rumah Reno." Mona menunduk takut.
"Yaampun ternyata di rumah Reno ya." Ceacil memeluk Mona.
"Maafkan keponakan saya yang mengajak Mona tidur di sana. Sebagai permintaan maaf kami, alangkah baiknya Reno dan Mona bertunangan saja." Ningsih mencoba memberi solusi.
"Tak sudi!" suara lelaki menggelegar di ruangan. "Pasti kau menjebak anakku!"
"M-maafkan ponakan saya." Ningsih masih teringat ancaman kemarin.
Terlihat jelas jika lelaki di hadapan Ningsih bukan orang sembarangan. Frans Gumelar memiliki ilmu tinggi dan dia manusia setengah siluman.
"Kau mencoba menantangku ya! Apa yang kau lakukan pada gadis kecilku ini" mata Frans mulai melotot ketika memeluk Mona.
Terlihat jelas Frans mengetahui apa yang terjadi dengan Mona.
"Sabar, Pa. Dia punya niat baik mau melaksanakan tunangan antara keponakannya dengan Mona." Ceacil mendekati Frans.
Ningsih merasa badannya mulai panas. Frans menatap tajam Ningsih. Hingga Ningsih mengeluarkan darah dari hidungnya.
------------------
FRANS GUMELAR
Setahun yang lalu, istri Frans meninggal karena kecelakaan. Jasadnya remuk dan tak bisa dikenali. Saat itu si penabrak adalah seorang wanita. Frans mengetahui wanita itu terjerat perjanjian dengan Jin yang menjadi suaminya.
Frans yang setengah siluman, dengan berani menantang Jin itu. Jika Frans menang, Jin itu harus melepaskan wanita yang diketahui namanya Ratih. Jin suami Ratih pun menyanggupi tantangan yang berujung kekalahan.
Frans jelas menang. Lalu dengan bantuan dukun sakti, Frans membuat Ratih menjadi istrinya, Ceacil. Mengganti identitasnya dan memanggil arwah Ceacil untuk masuk ke jasad Ratih.
Kejadian meninggalnya Ceacil segera ditutupi dengan kebohongan operasi plastik. Ceacil yang baru, mulai menjalani hidupnya. Pernah beberapa kali bermimpi tentang kehidupan sebelumnya, namun Frans sangat pintar menutupi itu semua.
Frans bersekutu dengan iblis dan mendapatkan kesaktian menjadi setengah siluman, tak bisa tua maupun mati sebelum perjanjian selesai. Mona merupakan anak angkat Frans dan Ceacil. Sejak bayi, Mona diasuh dengan kasih sayang penuh. Sehingga Mona sama sekali tak tahu menahu soal adopsi.
Tentang wajah Ceacil, Frans menutupi semuanya dengan dalih operasi plastik. Mona yang masih muda pun percaya, karena sikap Mamanya tetap sama tak berubah.
Selama tubuh Ratih menjadi milik Ceacil, arwah Ratih tak bisa kembali ke raganya. Semakin lama, semakin lemah dan bisa musnah. Frans sengaja mengelabui semuanya dan mengancam Ningsih. Frans hanya menginginkan hidup bersama istrinya, meski menggunakan tubuh orang lain.
----------------
Ningsih mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Seketika kepalanya terasa berat. Ceacil dan Mona membantu Ningsih duduk dan mencoba menghentikan mimisannya. Frans hanya terdiam menatap Ningsih.
"HEI SILUMAN BERANINYA KAU MELUKAI ISTRIKU!"
Suara Bima menggelegar bersamaan terpentalnya Frans secara tiba-tiba.
"Uhuk ... uhuk ...." Frans muntah darah.
"Papa!" Mona bergegas menolong papanya yang terkapar di lantai.
"Sayang!" Ceacil pun meninggalkan Ningsih dan menolong Frans untuk duduk di sofa.
"Pergi kau dari sini!" Frans mengusir Ningsih.
"AKU AKAN MENGHABISIMU JIKA KAU MELUKAI ISTRIKU LAGI! INGAT ITU SILUMAN KUDA!"
Bima terlihat tak main-main saat menggertak Frans. Ningsih pun berdiri dan berpamitan untuk pulang. Ceacil mengantar Ningsih sampai mobil.
"Kamu yakin bisa mengemudikan sendiri?" Ceacil terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Ratih, bertahanlah. Aku akan membebaskanmu." ucap Ningsih perlahan.
"Sorry, aku Ceacil. Sepertinya kamu butuh istirahat."
Ningsih pun melajukan mobilnya perlahan pergi. Air matanya menetes. Tak disangka, sahabatnya terjebak dalam situasi seperti ini.
"SUDAHLAH NINGSIH. TEMANMU TAK AKAN KEMBALI. AKU MENCEMASKAN KONDISIMU DAN ANAKMU. JANGAN KAU LAKUKAN ITU LAGI."
Bima menasehati Ningsih sekali lagi. Frans Gumelar bukan orang sembarangan. Sesampainya Ningsih di rumah, terlihat sangat ramai dan ada sebuah ambulance.
"Tante! Reno kejang-kejang dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Ini ambulance membawa Reno ke rumah sakit." Santi panik dan cemas.
Ningsih merasa lemas mendapat kabar itu. Frans Gumelar bukan orang sembarangan.
1 pesan diterima ...
[Kau menyerangku, aku akan menyerangmu! Jangan usik Ceacilku lagi atau anak lelaki itu akan mati!]