JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 54


Malam harinya, Joko terbaring di kasur kapuk yang sudah usang. Di rumah jangankan ranjang, kursi pun tak ada. Dia memegang kartu nama yang Tante Silvi beri. Membolak balikan kertas kecil itu sambil bergumam, "SMS atau nggak, ya?"


Lalu Joko mengambil koin uang lima ratusan. "Kalau gambar berarti nggak usah SMS, kalau lima ratus berarti harus SMS. Yok toss koin aja," katanya pada diri sendiri.


Joko melemparkan koin ke atas dan di tangkapnya dengan sekali tepukan tangan. Dia pun perlahan membuka telapak tangannya.


"Lah.... lima ratus! Yaudah, SMS ah," lirihnya sambil mengambil handphone keluaran Cina yang masih jadul.


Bagi Joko, tak masalah handphone usang asal masih bisa untuk telepon, SMS, Whatsapp dan Facebook-an. Dia bukan anak hits yang suka berbagai aplikasi lengkap. Lag pula sebagian besar waktunya habis untuk bekerja.


Joko mengetik SMS dengan gugup. Lalu dia kirim dan menunggu balasan Tante Silvi.


[Malam, Tante Silvi. Ini saya Joko. Maaf baru menghubungi.]


Joko menanti resah balasan wanita separuh baya yang tadi menolong hidupnya. Bukan hanya makanan, tetapi perhatian dan uang yang dia berikan tepat saat Joko dan keluarganya membutuhkan.


[Hallo, Joko. Tante kira kamu sudah tidur. Iya nggak apa. Kok SMS? Pakai Line atau Whatsapp saja.]


Joko gugup membalas SMS itu. Dia sebenarnya malu mau berkata yang sesungguhnya, tetapi apa boleh buat.


[Maaf, Tante. Joko handphonenya masih jadul. Ini aja cuma muat Whatsapp sama Facebook sudah penuh memorinya. SMS saja ya, Tante.]


[Oh begitu.... Iya, nggak apa kok. Besok berangkat kerja jam berapa?]


[Besok berangkat jam tujuh, Tante. Naik bisa paling dua puluh menit sampai. Saya masuk jam delapan sih, cuma sudah terbiasa lebih awal berangkatnya.]


[Kalau begitu, Tante jemput jam enam di gang, mau?]


[Kok pagi banget kenapa, Tante?]


[Gini, Joko. Tante di rumah ada motor nggak kepakai. Dari pada mubazir, mending dibawa Joko saja dulu. Sekalian biar mudah Joko kalau mau ke rumah Tante untuk service mobil. Kebetulan di rumah mobil juga beberapa tidak dipakai jadinya belum diservice.]


[Wah, serius Tante?]


[Serius dong.... Sampai ketemu besok yaa...]


[Iya, Tante. Terima kasih.]


Joko meletakan gawainya di samping bantal. Dia tersenyum membayangkan punya motor dan bekerja jadi sopir pribadi Tante Silvi yang baik hati.


Di sisi lain, Tante Silvi pun tersenyum membayangkan wajah Joko yang masih lugu dan polos. Dia bukanlah tante biasa. Menjadi istri dari orang kaya raya membuatnya sangat mudah mendapatkan segala sesuatu. Terlebih suaminya sering ke luar kota dan ke luar negeri. Bagi kehidupan Silvi dan suaminya, selingkuh itu hal biasa, asal tidak ketahuan publik dan tak terliput media masa.


Kehidupan kotor di tengah Ibu Kota bukan hal yang menjadi rahasia, bukan? Bahkan istilah tante girang, berondong, Sugar Dady, Sugar Baby menjadi hits dan terkesan lebih terhormat dari pada kata pelakor atau pebinor. Salah kaprah yang menasional.


Tante Silvi termasuk salah satu tante girang yang suka mencari berondong tampan dengan kesulitan ekonomi. Dia senang jika merasa diperlukan, diinginkan serta menjerat para berondong yang diincarnya dengan sesuatu yang disebut hutang budi.


****


Pagi harinya, Joko bangun subuh dengan semangat. "Pagi Ibu, Abah, Adik.... Bang mau berangkat awal hari ini. Ada calon Bos tempat Bang mau pindah kerja. Rencananya akhir bulan yang pindah. Jadi montir sekaligus sopir pribadi."


"Wah, alhamdulilah, Bang." ucap keluarga Joko bersamaan.


"Ibu cuma pesan, kalau sudah dapat kerjaan yang cocok, jangan pindah-pindah kerja ya. Biar adaptasi dulu," imbuh Ibu sambil berbinar menatap Joko yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga.


"Iya, Bu. Joko mandi dulu ya. Terus mau berangkat jam enam," ucap Joko.


"Bang, kalau dapat uang lebih, Nindi pingin sepatu dan tas baru ya," celetuk adik Joko yang baru duduk di bangku SD kelas lima.


"Siap, Adik, terpenting harua rajin belajar."


Joko seorang kakak dan anak yang berbakti pada orang tua. Dia hanya ingin membahagiakan keluarganya.


Setelah mandi dan bergant pakaian, Joko bergegas ke gang rumah di mana Tante Silvi menunggunya.


"Joko! Ke sini!" seru Tante Silvi dari dalam mobil Pajero Sport nya. Berwarna putih dan kelihatan terlalu maskulin untuk Tante Silvi yang cantik menawan meski usianya sudah masuk ke kepala empat tetapi terlihat segar bagaikan wanita berusia dua puluh delapan tahun.


"Ya, Tante," sahut Joko sambil berlari ke arah mobil Pajero Sport itu. "Tante kok di sebelah sini?"


"Kamu coba kemudikan mobil ini. Tante tunjukan jalan ke rumah lewat GPS. Anggap saja sebagai uji coba sopir pribadi," jelas Tante Silvi.


"Oke, Tante. Siap!"


Joko dengan mantab mengemudikan mobil itu. Tante Silvi sesekali memandangnya dengan senyum.


Sesampainya di gerbang berwarna emas, dua satpam yang berjaga segera membukakan gerbang besar itu. Rumah Tante Silvi bak istana yang megah. Halaman yang luas, parkiran yang penuh dengan mobil berjejer, kebun bunga di sebelah kiri, kolam ikan di sebelah kanan. Bahkan, Tante Silvi pun menceritakan ada kolam renang di belakang rumahnya. Berlantai dua tetapi luas sekali, seperti gambaran istana di negeri dongeng.


"Nah, ini rumah Tante. Itu garasinya di belakang parkiran mobil," jelas Tante Silvi sambil keluar dari mobilnya.


"Ah biasa saja, Joko. Ayo lihat motor yang akan dipakai kamu."


"Tante, sebelumnya terima kasih banyak ya. Joko janji akan segera resign dari bengkel dan bekerja dengan Tante."


"Iya, Joko. Tenang aja. Tante senang kok bisa membantu." Mereka berjalan menuju garasi, di balik parkiran mobil yang berjejer. "Ini, Joko. Semoga kamu suka, ya."


"Astaga.... ini motor Ninja keluaran terbaru. Tante beneran nggak pakai ini?"


"Iya, Joko. Jadi ceritanya, motor ini dapat dari undian berhadiah di bank. Karena Tante nggak bisa pakai motor, lebih baik digunakan Joko untuk transportasi," kata Tante Silvi berbohong. Motor itu sengaja dia beli baru untuk calon berondongnya. Para Tante Girang suka berganti berondong dengan cepat jika bosan. Mereka hanya mencari kepuasan dan kesenangan. Jika bosan, buang! Berondong yang dipertahankan biasanya yang lugu, tampan, dan masih perjaka saat didapatkan. Semua kriteria itu ada di Joko dalam pandangan Tante Silvi.


"Terima kasih, Tante. Joko janji segera resign dari pekerjaan. Joko akan bekerja dengan baik di sini," jawab Joko dengan mata berbinar. Dia senang sekali mendapatkan pekerjaan yang bagus dan menjanjikan untuk ekonomi keluarganya.


"Bagus kalau Joko berpikir seperti itu. Tante juga senang bisa mendapat sopir pribadi seperti Joko. Pemuda hebat yang senang bekerja keras," puji Tante Silvi kepada calon berondongnya.


Pagi ini menjadi gerbang Joko masuk ke dunia yang membuatnya berantakan. Hal ini terjadi jauh sebelum bekerja dengan Ningsih. Demi keinginannya mendapatkan cinta seorang kasir yang matre, Joko masuk ke dunia Tante Silvi yang dikiranya orang baik hati.


"Coba kamu pakai motornya. Ini helmnya cocok buat kamu, Joko," ucap Tante Silvi.


"Wah, ini namanya satu set, Tante! Keren banget," kata Joko melihat helm fullface dengan harga yang pastinya fantastis.


Joko mencobanya dan terlihat sangat keren dengan Ninja biru dan helm yang seirama dengan motornya.


"Joko sudah sarapan belum?"


"Belum, Tante."


"Kalau gitu, ayo kita sarapan di dalam."


"Ya, Tante."


Mereka masuk ke rumah. Menuju ke ruang makan yang mewah. Sudah tersaji aneka makanan yang enak untuk sarapan.


"Wah, Tante masak sendiri kah?"


"Aduh, Joko.... Mana sempat Tante masak. Semua yang sediakan pelayan di sini, yang memasak ada orang khusus juga."


"Kirain Tante yang masak. Keren kan kalau Tante udah cantik, baik, dan jago masak."


"Emangnya Joko pikir Tante cantik, ya?"


"Eh, ii... iyaa...." Joko tersipu malu dan merasa kik kuk di depan wanita yang berusia dua kali lipatnya.


"Nggak usah malu, Joko. Sudah ayo makan," kata Tante Silvi sambil menepuk paha Joko.


Joko merasa detak jantungnya menjadi tak karuan. Dia merasa malu dan gugup seketika. Tetapi perut keroncongan membuatnya tetap melahap makanan yang ada di hadapannya. Omelet, roti bakar, cream soup, nasi goreng, sosis bakar, salad sayur, dan salad buah menjadi pilihan hidangan breakfast di rumah Tante Silvi. Sedangkan minuman yang tersedia ada susu, kopi, teh, dan air putih. Joko kekenyangan menyantapnya.


"Kamu lucu banget, Joko. Semua disantap tanpa ampun."


"He he he he.... Maaf ya, Tante. Lapar soalnya. Oiya, boleh tanya sesuatu?"


"Tanya aja nggak apa, Joko."


"Kenapa sih Tante baik sama aku? Lalu tawaran servis mobil dengan harga tinggi dan gaji sopir pribadi yang menggiurkan. Alasan Tante apa?" selidik Joko yang sudah selesai makan.


"Ehm... kalau Tante bilang, suka sama Joko gimana? Kalau servis mobil aja dapat sejuta, apa lagi kalau servis hati Tante? Ha ha ha ha.... Joko, mau?" pancing Tante Silvi menunggu reaksi Joko untuk melanjutkan aksinya. Dari pada ikut arisan berondong dengan harga ratusan juta dan juga bekas orang, Tante Silvi lebih suka mencari berondongnya sendiri.


"Ma... maksud Tante? Aku ini kan jelek, miskin juga. Kenapa Tante suka sama Joko?" jawabnya bingung dan tak percaya diri.


"Joko sayang, bukankah rasa suka atau cinta itu tak bisa dilogika? Tante suka sejak pertama liat Joko di bengkel. Tante juga kesepian di sini. Butuh teman bicara dan bepergian bersama. Tante nggak minta apa-apa kok, asal Joko mau bersama Tante."


"Tan.... jujur Joko belum pernah pacaran. Deketin cewek pun baru sekali itu juga baru belakangan ini. Jadi Joko bingung mau jawab apa."


"Joko naksir kasir di tempat kerja, ya?"


"Loh kok Tante tahu?"


"Ha ha ha ha.... Joko.... kamu itu polos sekali. Nggemesin," ucap Tante Silvi sambil mencubit lengan Joko. "Sudah sana berangkat kerja, takutnya telat loh! Kamu pikirkan dulu tawaran Tante. Mau jadi kekasih Tante? Atau jadi sopir plus montir pribadi Tante? Nanti sore kita ketemuan ya sepulang Joko kerja," imbuhnya sambil mengerlingkan mata.


"Ya, Tante. Maaf Joko perlu memikirkannya dulu. Tapi misal jadi kekasih, Joko ini masih...."


"Ssstt.... Nggak usah bilang, Tante tahu kok. Itu yang Tante suka dari Joko, jadi nilai plus."


Joko semakin tersipu malu karena perkataan Tante Silvi. Dia pun lekas berangkat kerja takut terlambat. Tante Silvi mengecup pipi Joko sebelum dia pergi. Joko pun mengendarai Ninja birunya dengan perasaan yang nano nano.


Bersambung....