
Flash back kehidupan Joko sebelum bekerja di tempat Ningsih....
Setelah lulus Sekolah Tehnik Mesin, Joko bekerja di sebuah bengkel motor dan mobil ternama di Jakarta. Kemampuannya menangani motor dan mobil tidak dapat diragukan lagi. Dia sering mendapatkan tawaran bekerja yang lebih menjanjikan, tetapi ditolaknya karena terlanjur cinta lokasi pada kasir di tempatnya bekerja.
Perempuan yang duduk di belakang bilik kasir itu mempunyai senyum yang manis. Kedua pipinya 'bolong', anugerah atau kecacatan dari Sang Pencipta tapi begitu manis terlihat saat tersenyum. Bibirnya yang menawan selalu dipoles dengan warna merah merekah. Kedua matanya yang belok membuat perempuan itu semakin cantik. Namanya Tina, usia tiga tahun di atas Joko.
Beberapa kali Joko melakukan pendekatan, tetapi selalu si Tina menghindar. Gosip beredar jika Tina lebih suka lelaki yang jauh lebih tua dan berduit alias Om-om atau istilah bekennya Sugar Dady. Joko jauh dari kata kriteria yang Tina ciptakan itu sendiri.
Merasa cintanya tertolak bahkan sebelum mengatakan, Joko memutar otak untuk bisa menarik perhatian Tina. Beberapa kali dia membelikan makanan enak untuk makan siang bersama Tina. Selama seminggu makan siang di cafe ternama di sekitar tempat kerjanya, Joko mulai kehabisan uang. Terlebih dia harus membantu orang tuanya yang secara ekonomi yang kekurangan. Saat itu adik Joko masih duduk di bangku SD. Kehidupan Jakarta memang begitu sulit untuk orang menengah ke bawah.
"Sialan! Gajian masih jauh, duit udah mau habis. Gimana besok traktir si Tina makan siang? Seminggu ini dia udah mulai deket ama aku," umpatnya sambil berjalan pulang.
Bahkan uang yang biasanya digunakan untuk naik Bis, Joko pakai hingga tak bersisa. Dia harus berjalan sejauh sepuluh kilometer untuk sampai rumahnya.
Hari semakin sore dan Joko belum sampai di rumahnya. Berjalan dengan lesu dan sering kali mengumpat kemiskinannya. Lalu Joko terkejut saat klakson mobil terdengar nyaring. Ada sebuah mobil di sampingnya, membuka kaca samping dan si pengemudi mencondongkan tubuhnya ke samping.
"Dari tadi jalan, ya? Mau bareng?" wanita separuh baya di dalam mobil itu ternyata langganan servis mobil di tempat Joko bekerja.
"Oh, Bu Silvi, ya? Iya, Bu. Saya tadi ketinggalan Bis jadinya jalan deh," jawab Joko sambil menggaruk kepalanya, merasa kikuk.
"Masuk sini, aku antar ya. Kebetulan juga ke arah sana," ucap Bu Silvi sambil tersenyum ramah.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, kaki Joko selamat dari patah dan lelah. Dia bergegas masuk ke Honda Jass biru milik Bu Silvi.
Setelah Joko menutup pintu dan memakai sabuk pengaman, Bu Silvi menginjak gas dan melaju dengan kecepatan rendah. Sengaja di perlama agar bisa berbincang dengan pemuda gagah dengan hidung mancung itu.
"Kenapa sih jalan? Tadi ada bis lewat juga nggak diberhentikan," kata wanita itu memulai percakapan yang sedikit canggung.
"Ibu lihat ya? Aduh malu sekali. Aku lupa bawa uang, Bu," jawab Joko sangat malu. Pipinya mulai memerah dan itu terlihat jelas.
"Duh, jangan panggil Ibu lah. Aku ini belum terlihat tua, kan? Panggil Silvi aja atau tante," ucap Tante Silvi dengan nada menggoda.
Joko yang belum berpengalaman soal cinta dan masih perjaka, sama sekali tidak tahu maksud Tante Silvi. Dia hanya tersenyum dan menanggapi perkataan wanita.
"Maaf ya, Bu. Eeh... tante.... Tante Silvi baik deh."
"Iya, dong. Selama ini Tante juga kasih kamu tips kan. Disampaikan nggak sama kasirmu?"
"Ha? Tips apaan Tante? Nggak nerima tu," celetuk Joko sangat lugu.
"Duh, nggak dikasih kah? Tante dah hampir lima kali ke bengkel dan selalu minta kamu yang servis mobil Tante. Uang tips yang Tante titipkan ke kasir genit itu cukup banyak hlo, Joko..."
Joko terbengong, jadi selama ini si Tina merampas hak Joko?
"Beneran, Tante. Maaf kalau Joko tidak menerima."
"Eh, jangan minta maaf. Itu salah kasirmu yang kecentilan itu. Tante nggak suka ama dia. Yaudah, ntar Tante kasih lagi tipsnya untuk lima kali servis mobil. Joko sudah makan belum?"
"Tadi siang sudah makan, tapi karena pagi belum sarapan sekarang jadi keroncongan. He he he he.... Anggap saja belum, Tante." Joko yang lugu tak tahu dirinya sedang diincar tante senang.
"Kalau begitu pas banget. Kita makan yuk?" Tante Silvi membelokkan stir ke arah kiri. Tempat makan siap saji, MCD.
"Ayo turun, Joko. Makan di sini saja ya."
"Wah, belum pernah saya makan di situ," ujar Joko, jujur.
"Yaudah nanti kita borong ya. Nggak usah pakai kata saya saya, terlalu kaku sih. Santai aja kalau sama Tante."
Mereka pun masuk ke MCD. Membeli tiga paket makanan untuk disantap di sana. Jelas, dua paket untuk Joko dan sepaket untuk Tante Silvi yang berwajah cantik dan tubuh bak gitar spanyol, sangat terawat.
"Habiskan saja, Joko. Nanti kita beli buat di take away. Ada berapa orang di rumah?"
"Duh, ini beneran enak burger sama kentang dan ayamnya, terima kasih loh Tante Silvi. Oiya, di rumah ada Bapak, Ibu, dan adikku," jawab Joko sambil melahap makanan di hadapannya dengan rakus.
"Nah ini baru mantap jiwa. Porsi banyak dan kenyang. Seminggu ini rugi banget aku traktir si Tina di cafe yang makanannya seuprit. Udah gitu malah uang tipsku diambil olehnya. Tina... Tina.... tak cukupkah kau siksa hatiku? Bahkan dompetku pun kau cabik-cabik." kata Joko di dalam hati.
Setelah makanan habis, Tante Silvi berjalan ke kasir memesan beberapa paket lagi untuk dibawa pulang. Dia sangat perhatian dengan Joko. Joko pun menyang dan senang. Merasa beruntung bertemu langganan servis mobil di bengkelnya, sebaik dan sepengertian Tante Silvi.
"Ayo Joko kita pulang. Ini Tante belikan lima paket ya. Bantuin bawa, berat ini."
"Kok lima, Tante?"
"Lah di rumah ada tiga orang, kan? Terus Joko kalau makan satu nggak kenyang. Yaudah Tante belikan sekalian kalau nanti malam lapar tinggal makan, beres kan."
Tante Silvi perhatiannya maksimal. Uluuh bikin si Joko jadi senang dan ngefans. Hari pertama kenal Tante Silvi, dia sudah kecipratan rezeki.
"Tante kok baik sekali sih?"
"Ah, biasa aja kok, Joko."
Setelah masuk ke mobil. Tante Silvi meraih tasnya dan mengambil segepok uang lembaran biru.
"Rumahmu sudah dekat, bentar lagi sampai ya? Ini uang tips lima kali servis mobil. Diterima ya, Joko."
"Tan... Tante.... Serius ini? Banyak banget," jawab Joko sambil melongo.
Segepok uang lima puluh ribuan itu kira-kira bernilai dua juta.
"Serius donk, Tante nitip tiap ngasi tips empat ratus ribu. Dihitung jadi dua juta kan, Joko?"
"Yaampun banyak banget Tante! Ini sama dengan gajiku sebulan."
"Loh, Joko digaji cuma dua juta toh?"
"Iya, Tante. Katanya karena aku baru lulus STM dan belum ada pengalaman kerja. Padahal UMR Jakarta sudah di atas dua juta. Tapi apa boleh buat dari pada jadi pengangguran. Kalau ada lembur atau proyek tambahan baru dapat bonus. Itu pun seratus ribu untuk satu lembur. Kalau lembur bisa sampai malam, Tante." jelas Joko panjang kali lebar dan Tante Silvi memperhatikan betul.
"Joko, kalau kamu mau servis mobil Tante secara pribadi. Tante beri satu juta per servis, mau ngga?"
"Serius, Tante? Terus gimana nyervisnya?"
"Di rumah Tante. Nanti semacam montir pribadi gitu. Oiya, Joko bisa nyopir?"
"Bisa, Tante. Tapi belum punya SIM A."
"Nah, kalau mau sekalian aja jadi sopir pribadi Tante. Nanti gajinya lima juta per bulan."
Penawaran yang sangat menggiurkan. Joko pun langsung berbinar dan semangat mengiyakan.
"Bangak banget, Tante. Mau dong! Tapi aku nggak bisa langsung keluar kerja. Harus nunggu akhir bulan."
Tak terasa mobil itu sudah sampai di gang rumah Joko. "Eh berhenti, Tante. Rumahmu masuk sana kok."
"Iya, Joko. Gini aja, Tante kasih kartu nama Tante ya. Kalau misal sudah sampai rumah dan istirahat, jangan lupa kabari Tante. Kapan pun Joko mau bekerja di tempat Tante, pasti diterima."
"Siap, Tante."
Joko pun turun dari Honda Jass biru dengan membawa sekantong makanan MCD. Lalu dia melambaikan tangan ke Tante Silvi yang mulai meninggalkan Joko di pinggir gang.
Joko bersemangat menuju ke rumah. Dia membayangkan betapa senangnya orang tua dan adiknya mendapat makanan enak serta uang lebih untuk bertahan hidup di kerasnya Ibu Kota.
"Ibu, Abah, Adik.... Bang pulang nih. Ada rezeki nomplok nasi ayam MCD!" ucap Joko dengan suara lantang.
"Bang dah pulang? Horeee....." sorak adik Joko gembira.
"Alhamdulilah... Joko bawa makanan ya? Pas ini nasi kemarin udah menguning," jawab Ibu sambil bersyukur.
"Maaf ya, Bang, harusnya Abah yang bekerja. Tapi gimana lagi, kaki Abah sudah cacat begini," lirih Abah merasa sesal karena kecelakaan yang merenggut satu kakinya.
"Aduh, napa jadi melow begini. Bang bawa rezeki harunya pada seneng. Udah Abah, Ibu sama Adik mulai sekarang nggak usah sedih. Bang punya calon pekerjaan baru yang gajinya lebih gede. Ntar semua butuhan rumah Bang yang penuhi." kata Joko menyombongkan diri.
Saat ini memang usia Joko dua puluh tahun, tapi dia baru saja lulus STM. Kehidupan yang susah membuatnya telat masuk STM. Itu pun Ibu harus bekerja jadi buruh cuci untuk membantu membayar sekolah. Saat kelas tiga hampir kelulusan, Abah mengalami kecelakaan kerja saat membangun proyek perumahaan. Kaki Abah terpaksa diamputasi karena ada sakit diabetes, lukanya tak mengering. Sejak itu kehidupan yang sudah susah. Semakin sulit dirasa.
Bagi Joko, tawaran Tante Silvi sangat menarik. Dia membayangkan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan membelikan kebutuhan sekolah yang layak untuk adiknya. Tak lupa dia ingat dengan Tina yang suka lelaki berduit, Joko makin yakin bisa menggaet pujaan hatinya.
"Ibu, ini Bang ada uang lebih sejuta. Ibu bawa dan pakai buat beli apa butuhan rumah. Bang mau mandi terus ngaso, ya?" kata Joko sambil mencium tangan Ibunya.
Bersambung.....