JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 15


...🔥 AWAL DAN AKHIR 🔥...


Vira merasa pening, terlebih perkataan Samy membuatnya seakan merinding. Ternyata Dinda tidak main-main dalam berbicara. Hanya satu hal yang Vira syukuri, Samy tidak menyentuhnya meski sudah menjadi suami istri. Namun, Vira tak bisa memastikan hal itu akan bertahan sampai kapan.


Seakan suatu awal yang bahagia dan akhir yang tragis sudah ada di depan mata. Vira terhanyut dalam pikiran dan ketakutannya. Hingga Samy menyadarkan Vira dalam pelukkannya.


"Vir, apa kamu ada masalah sama Dinda? Kalau iya, udah nggak usah dipikir. Sekarang, kita ini suami istri. Saling melindungi dan saling terbuka. Jangan sedih, ya." ucap Samy sambil memeluk tubuh istrinya.


Vira pun terenyuh dan justru menahan tangis dalam pelukkan Samy. Andai ada orang yang bisa menyelamatkan mereka, tentu saja tidak akan sesakit ini. Apakah ada jalan untuk bertaubat? Vira hanya bisa berharap semua ini akan berakhir bahagia. Meski entah apakah ada jalan keluar.


Vira dan Samy menjalani cuti setelah menikah selama seminggu. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Jalan-jalan, makan bersama, belanja, membeli beberapa perabot baru, dan banyak hal menarik lainnya. Vira meninggalkan orang tuanya dengan seorang asisten rumah tangga baru. Dia ingin orang tuanya tidak terlalu capek mengurus pekerjaan rumah.


Tiga bulan kemudian ....


Vira menjalani hari seakan-akan tak ingin berpisah dengan suaminya. Dia memasak makanan kesukaan Samy, memberikan terbaik untuknya. Vira merasa bersalah karena terjebak dalam perjanjian Iblis. Tentu saja, Dinda selalu mengamati mereka dan mencari celah.


Hari demi hari berlalu dengan penuh bahagia. Awal yang sungguh menyenangkan dalam pernikahan jika satu dengan yang lain saling mengerti. Vira masih menutupi semuanya dari Samy. Dia tak ingin Samy tahu pilihan hidup yang salah membawa Vira dalam kegelisahan seumur hidup.


Suatu malam, saat hujan deras, Samy dan Vira saling berpaut bibir dan hampir saja melakukan hal yang memang mereka inginkan. Vira teringat tentang Dinda, lalu mendorong tubuh Samy. Dia ketakutan jika Dinda mengambil Samy.


"Samy, jangan dulu, ya. Aku belum bisa." lirihnya membuat hati Samy kecewa.


"Vir, kita ini sudah suami istri. Apa salahnya? Sudah hampir tiga bulan kamu seperti itu." kata Samy yang mulai protes. Bukan karena tak peduli, tetapi dia justru bertanya-tanya tentang hal aneh itu. Apakah Vira memiliki trauma? Atau dia mengalami guncangan psikis yang membuatnya takut berhubungan suami istri? Pertangaan itu selalu hinggap di kepala Samy sebagai suami yang begitu mencintai istrinya.


"Maaf, Samy ... aku tak bisa katakan yang sebenarnya." Vira mulai menangis. Samy langsung memeluknya. Tak peduli seberapa kelam masa lalu Vira, suaminya sudah menerima apa adanya sebelum memutuskan melamar.


"Maaf untuk apa? Ceritakan semua padaku, Vira. Aku ini suamimu. Aku ingin menjagamu," ucap Samy mencoba menenangkan Vira yang menangis. Dia ingin mengetahui kejujuran meski teramat menyakitkan pun, Samy berjanji dalam hati untuk menerimanya.


"Samy ... maafkan aku. Samy ...." Vira masih tenggelam dalam pelukkan suaminya. Dia menangis tersedu-sedu dan ketakutan.


"Iya, sayang. Aku maafkan semua kesalahanmu. Cerita saja, aku tak akan marah." Samy mengusap lembut kepala Vira.


Vira pun menatap wajah suaminya. Terlihat tatapan sendu nan serius dari setiap ucapan Samy. Malam itu, Vira menceritakan hal pahit tentang pemerkosaan yang terjadi padanya. Samy sempat tak terima dan hendak melaporkan pada polisi meski sudah tempo lalu. Namun, Vira melarangnya. Vira menjelaskan jika semua pelaku pemerkosaan itu sudah meninggal bunuh diri.


" ... entah loncat dari ketinggian, minum racun, gantung diri, atau menusuk diri dengan pisau, mereka sudah mati dan mengakhiri hidup dengan tangan sendiri. Namun, trauma itu masih ada," jelas Vira membuat Samy bersedih.


"Sabar, sayang. Betapa kejamnya aku membuat kamu menyimpan rasa ini sendirian. Besok kita ke psikolog, ya? Aku bimbing sayang lupakan rasa sakit itu perlahan. Sabar, Vira sayang. Semua akan baik-baik saja." Samy menenangkan istrinya. Dia mengecup dahi wanita cantik yang dia nikahi tiga bulan lalu. Sungguh, kehidupan yang bahagia baginya. Meski ternyata Vira menyimpan luka sendirian, dia berjanji akan menyembuhkan trauma istrinya.


Samy tidak tahu jika semua itu tidak hanya soal trauma. Namun, hal magis yang mengintai mereka berbulan-bulan. Semakin dekat dan nyata untuk merusak kehidupan awal pernikahan yang indah.


...****************...


Bima mengunjungi Dinda saat dia sedang kalut. Bima dipanggil oleh Tuan Chernobog untuk menghadap. Sedangkan Ningsih di Jakarta membutuhkan perlindungan sementara Bima harus pergi.


"DINDA ... TOLONG JAGA NINGSIH UNTUKKU. KALI INI, TUAN CHERNOBOG TIDAK MAIN-MAIN SOAL HUKUMAN." kata Bima yang justru khawatir pada istrinya. Meski hanya perjanjian gaib, bagi Bima rasanya kepada Ningsih lebih dari sekedar ikatan gelap.


"Sudah kukatakan, jangan lanjutkan. Kenapa Kakak keras kepala? Sekarang kena hukuman sendiri!" protes Dinda yang sejak awal tak suka Ningsih. Dinda memang wanita Iblis yang tak punya hati.


"INI KEPUTUSANKU. AKU HANYA MEMINTAMU JAGA DIA SELAMA AKU PERGI. BUKAN UNTUK CERAMAH! JIKA TIDAK MAU, AKU AKAN MINTA BANTUAN IBLIS LAIN!" pungkas Bima yang tak ingin banyak berdebat.


Dinda pun tertawa dan menatap tajam ke arah kakaknya. "Ha ha ha ... sekarang Kakak bisa mengancam, ya? Oke kalau begitu, aku akan ke sana. Menjaga wanitamu itu sementara waktu, tapi ... tunggu aku mengakhiri salah satu pengikutku. Aku sudah geram menunggu tumbal selanjutnya." ucap Dinda dengan santai. Dia tak pernah merasa takut sedikit pun. Iblis tanpa hati yang didamba oleh seorang manusia bernama Boy. Hanya Boy yang mencintai Dinda tanpa terperdaya pesona gaibnya.


"BAIK. BESOK, NINGSIH AKAN TINGGAL DI DEKAT PELABUHAN. JAGA DIA UNTUK KAKAK. KAKAK AKAN MENGHADAP TUAN CHERNOBOG SEKARANG." Bima pun langsung menghilang karena percaya adiknya bisa menepati janji.


Dinda pun tersenyum melihat kakaknya pergi. Dia tahu jika hukuman ini tak akan mudah. Oleh karena itu, dia mau menjaga Ningsih sementara demi kakaknya tak terlalu banyak berpikir khawatir.


Setelah itu, Dinda pun pergi ke tempat Vira. Dia memperdaya Juvy dan Edo untuk melampiaskan dendam dan mengambil tumbal. Manusia yang memiliki dendam di hatinya akan dengan mudah terperdaya oleh Iblis. Sekali saja Dinda membisikkan mantra, Edo dan Juvy langsung meradang dan siap membunuh Vira dan Samy.


Malam itu, Juvy sedang bertaut kasih dengan Edo. Saat itu, mereka masih bersama hanyabkarena Juvy belum mendapat pekerjaan dan tidak ada tujuan hidup. Edo menawarkan tempat tinggal untuk memanfaatkan tubuh Juvy sebagai pelampiasan napsu. Mereka cerminan dua manusia keji yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Bagaikan simbiosis mutualisme yang indah, bukan?


"Habisi Samy dan Vira. Bunuh mereka. Mereka yang membuatmu dipecat, Juvy. Mereka yang membuatmu turun jabatan, Edo. Bunuh mereka. Bunuh!" bisikkan Dinda terngiang di telinga sepasang manusia yang sedang hanyut dalam napsu dunia. Setelah pelepasan direngkuh keduanya, akhirnya mereka membicarakan niat untuk menghancurkan Samy dan Vira. Tentu saja, dorongan dosa dan dendam itu nyata. Dinda tertawa bisa menghasut mereka sebagai perpanjangan tangan.


"Bagaimana, sayang?" tanya Juvy pada Edo setelah mengutarakan isi pikirannya.


"Ide bagus. Kita laksanakan sekarang saja. Aku juga tak sabar membalas mereka," ucap Edo dengan sneyum getir tak bisa mendapatkan Vira.


Edo dan Juvy gelap mata. Mereka menuju ke rumah Samy dan Vira. Membawa sebilah pedang, sebuah korek dan sumbu, serta satu botol bensin. Mereka sudah merencanakan untuk membunuh dan membakar rumah Samy dan Vira sebelum Dinda membisikkan dorongan gaib. Jadi, Dinda hanya sebagai pemantik yang membuat bom dendam itu meledak dan melaksanakan aksinya.


Samy dan Vira tertidur nyenyak setelah pulang dari menonton film kesukaan di bioskop. Mereka tidak tahu jika sesuatu yang buruk, atau tepatnya amat buruk akan terjadi. Edo membuka pintu belakang rumah Samy dengan paksa. Samy tak mendengar itu. Lalu, Juvy langsung menuangkan bensin di sekitar ruangan kamar Vira dan Samy.


Tak diduga, bak kesetanan, Edo menerjang pintu kamar dan membuat Samy serta Vira terkejut. Edo membawa sebilah pedang di tangan kanannya. Dengan penuh amarah, dia menusuk ke arah Samy dan Vira yang masih di atas ranjang. Tak ada celah sedikit pun untuk melawan. Seakan malam itu, teriakan Vira pun tak terdengar tetangga perumahan. Malam berkabut menjadi saksi pembantaian itu. Darah di mana-mana. Saat Edo sadar, kedua kawan kerjanya itu sudah bersimbah darah. Edo pun melempar pedang itu ke lantai. Takut. Sangat takut. Dia pun keluar dan tak sengaja menabrak Juvy yang hendak menyusul Edo untuk keluar.


Hal itu membuat sisa bensin di botol yang Juvy bawa tumpah ke tubuh mereka. Satu sentuhan api dari Dinda membuat mereka terbakar dalam sekejab. Saat hendak melarikan diri dari api, Dinda membuat semua pintu tertutup rapat. Rumah itu terbakar oleh bara api. Edo dan Juvy tak bisa membebaskan diri, mereka meninggal secara perlahan dan tersiksa dalam kobaran api dendam yang mereka bawa. Senjata makan tuan, itulah kenyataannya saat ini.


Dinda tertawa melihat hal itu. Setelah keempat manusia itu tewas, dia membawa jiwa keempat manusia itu ke neraka. Menjadi persembahan untuk Tuan Chernobog dan menambah kekuatannya. Dinda puas dengan perbuatannya. Wanita Iblis itu penuh teror yang mengerikan. Setelah pergi dari neraka, dia tak ingin ikut campur soal hukuman cambuk Bima karena dia tahu kakaknya melanggar peraturan neraka.


Dinda segera ke tempat Ningsih. Seperti yang kakaknya perintah. Saat di depan rumah Ningsih, Dinda hanya mengamati dari jauh. Dia di sana berjam-jam hingga keponakan Ningsih melihatnya. Reno langsung terpesona pada pandangan pertam melihat Dinda dengan balutan pancaran mistis nan menggoda. Dinda tersenyum. Dia tahu jika pemuda itu lolos dari cengkraman Bima karena dibantu orang pintar (PakLek Darjo). Dinda pun berusaha untuk mendapatkannya sebagai tumbal.


Setelah mencari Ningsih di rumah, Dinda segera pergi ke dekat pelabuhan. Dia ingat perkataan Bima soal Ningsih menyewa rumah di dekat pelabuhan. Benar saja, Ningsih di sana. Gelisah memikirkan Bima. Seperti Bima memikirkan Ningsih.


"Mengapa aku harus terlibat dengan persaan yang tidak rasional ini? Huh, menyebalkan!" Dinda menggerutu sebelum menemui Ningsih. Dia pun melihat jika ada empat lelaki yang menatap Ningsih