JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 155


πŸ€ KENANGAN TERINDAH πŸ€


Dalam ruang gelap, Ningsih membayangkan semua kenangan indah yang dia lewati bersama Bima. Dia hanya bisa merenung dan menangis di sana. Beberapa jam yang dia lewati sama dengan berminggu-minggu di dunia nyata. Ningsih tak sadar jika dirinya terlalu lama di kegelapan.


Awalnya, Ningsih menyukai Bima hanya sebatas suami gaib yang memberinya kemudahan, kekayaan, dan kepuasan. Namun, seiring berjalannya waktu, semua berubah. Pertama kali Ningsih melihat wujud manusia Bima, saat keluarga Mas Bayu kecelakaan di Gunung Kidul. Kesan pertama yang mempesona. Ningsih makin menyukai Bima.


Berlanjut dalam pertemuan-pertemuan fisik lainnya, Ningsih tak lagi takut dengan wujud iblis Bima. Dia makin mencintai Bima saat diselamatkan dari Satria dan Sugeng. Bima ... bagaiman penolong bagi jiwa rapuh Ningsih.


Ningsih yang sedari dulu tak patuh perintah agama, dengan mudah melangkah ke dalam dunia gelap. Jalan yang dia pilih tidak akan mudah untuk kembali. Sekali terjerat, akan selamanya saling mengikat. Terlebih, hal ini bukan sekedar perjanjian. Namun, Ningsih dan Bima tertaut hati dan perasaan.


Mereka sudah berjalan jauh melebihi ketetapan di bumi. Cinta terlarang antara manusia dan Iblis. Mampukah bertahan dan bersatu? Ningsih makin terhanyut dalam segala pemikirannya.


Waktu berjalan tanpa Ningsih tahu kapan pagi dan kapan petang. Semua terlihat sama di ruang gelap. Hanya ada satu hal yang aneh pada tubuh Ningsih. Perutnya, semakin lama semakin membesar. Namun, dia tak merasakan apa pun. Tidak ada tanda-tanda aneh seperti yang dirasakan manusia pada umumnya.


"Kenapa perutku terasa membesar? Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Ningsih dalam kesendirian.


Ningsih hanya bisa pasrah menjalani sisa hidupnya di tempat aneh itu. Sendirian dalam gelap pada waktu yang cukup lama, membuatnya semakin lama putus asa.


"Bima ... apakah kamu selamat dari semua ini? Mengapa kamu tidak menjawab setiap panggilanku? Aku mencemaskanmu, Bima ...." gumam Ningsih yang diakhiri dengan tetesan air mata.


Hal yang sulit bagi Ningsih. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya sempalan kenangan di dalam pikirannya yang membuat dia bertahan. Kenangan terindah yang selalu melekat dalam memori dan jiwa Ningsih, membuatnya masih berharap akan ada secerca cahaya dan jalan keluar.


***


Di sisi lain ....


Malam itu, terlihat suasana hening dalam kastil yang menjadi rumah pewaris satu-satunya, seorang gadis buta dengan para pegawainya. Kondisi Laurent sudah mulai membaik setelah berbulan-bulan memulihkan energi.


Daniel selalu siap siaga menjaga Laurent, meski tak tahu apa yang terjadi di alam lain. "Laurent, apakah kamu mau menikah denganku?" lirih Daniel disaksikan bulan dan bintang di langit.


"Da-Daniel? Kamu bilang apa barusan?" tanya Laurent yang bingung dan gugup.


"Nona Laurent yang cantik dan baik, maukah kamu menjadi istriku? Biarkan bulan dan bintang menjadi saksi ucapanku malam ini. Maukah kau menikah denganku?" kata Daniel dengan lebih mantab, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin yang indah.


Daniel memperlihatkan cincin itu pada Laurent sambil berlutut di hadapannya. Meski semua orang menganggap hal ini gila, karena Laurent tuna netra. Namun, Daniel percaya jika gadis yang ia cintai melihat ketulusan hatinya.


"Da-Daniel ... apakah kamu serius? Daniel ... aku sungguh tak bisa berkata apa pun lagi," ucap Laurent yang kemudian menangis.


Air mata keluar dari sudut matanya, membasahi pipi begitu deras. Daniel pun berdiri dan menenangkan Laurent. Dia bingung dan merasa bersalah. "Maaf, maaf kalau aku lancang. Maaf, Nona Laurent. Jangan menangis lagi." kata Daniel yang mulai panik.


Daniel segera mengambil tisu dan memberikan ke gadis yang selama ini dilindunginya. "Jika kamu tak suka, tak apa. Aku akan tetap menjadi bodyguardmu seperti biasa." imbuhnya.


Laurent bukannya tak suka pada Daniel, tetapi dia bingung bagaimana menjawab dan mengutarakan perasaannya. Beberapa saat dua orang itu terdiam.


Saat mereka masih dalam rengkuhan sunyi, tiba-tiba dari dalam kotak berwarna emas milik Laurent bergetar hebat. Membuat suara yang lumayan gaduh karena kotak itu diletakkan dalam almari.


"Kotak itu ... aku harus kembali bersemedi. Daniel, jagalah aku selama rohku pergi. Aku akan menjawab setelah hal ini selesai," pungkas Laurent yang kemudian bersila di ranjang-tempat tidurnya, lalu memejamkan mata.


Daniel hanya bisa menunggu dan menjaga Nona Laurent. Dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini meski masih belum bisa menerima secara logika.


***


Ruang Gelap ....


Ningsih yang berhenti menangis akhirnya melihat sebuah cahaya dari kejauhan. Ruang gelap itu akhirnya terlihat celah. Ningsih segera berjalan ke arah cahaya itu. Cahaya yang kecil, lama-kelamaan terlihat bersinar terang dan membesar. "Jalan keluar!" ucap Ningsih yang segera mempercepat langkahnya.


Saat cahaya itu semakin terang dan menyilaukan, Ningsih akhirnya melihat ada seseorang di sana. "K-kau?" kata Ningsih yang tak percaya melihat orang di hadapannya.


"Ya, ini aku. Bagaimana keadaanmu? Sebentar lagi akan ada jalan untuk kembali ke dunia nyata, jika kau mau." lirih gadis buta yang dahulu pernah membantu Ningsih juga. Ya, Laurent yang membuat semua ini.


Ningsih pun menginjakkan kaki ke cahaya tadi. Terlihat padang rumput yang luas dan hijau membentang. Namun, ada hal yang membuat Ningsih kaget. Entah sejak kapan, ternyata perutnya membesar dan buncit layaknya wanita hamil sembilan bulan.


"A-ada apa ini? Kenapa dengan perutku?" tanya Ningsih yang panik sambil memegang perutnya.


"Anak? Ini anakku dengan Bima?" gumam Ningsih yang bingung dan tak percaya.


"Ya, iya. Kalian yang melakukan, kenapa tanya aku? Duh, aneh sekali." protes Laurent sambil menggelengkan kepala.


"Bima ... bagaimana kondisi Bima?" selidik Ningsih pada gadis tuna netra itu.


"Iblis bucin itu belum ada kabar. Khawatirkan saja dirimu sendiri. Sebentar lagi anakmu akan lahir." jelas Laurent yang sebenarnya bingung bagaimana seorang wanita melahirkan anak iblis.


"Lahir? Tapi aku nggak merasakan apa-apa. Bahkan seperti bukan perasaan orang hamil," jawab Ningsih yang bingung.


Laurent pun tersenyum. "Dalam ruang gelap, semua perasaan tak akan terasa. Ruang itu sengaja kubuat untuk menyembunyikanmu dari alam gaib bahkan melampaui ruang dan waktu. Hal itu menyedot energi yang sangat banyak. Hingga baru sekarang aku bisa mengunjungimu. Itu pun karena anakmu akan lahir," jelas Laurent yang membuat Ningsih terharu.


Wanita itu langsung memeluk Laurent dengan erat. "Terima kasih. Terima kasih untuk semuanya. Meski aku belum mengenalmu, aku sungguh berterima kasih." ucap Ningsih tak henti-henti.


"Iya, sama-sama. Aku menolongmu karena tak tega dengan Iblis itu. Lagi pula, aku juga berhutang budi padanya. Jadi sekarang sudah impas. Namun, di mana dan bagaimana keadaannya, aku belum tahu." kata Laurent yang membuat Ningsih melepaskan pelukannya.


"Jadi ... Bima menghilang?"


"Ya, bisa dibilang begitu. Entah di mana dia. Aku juga tak tahu."


Waktu itu, setelah berbincang banyak hal, Ningsih pun merasakan perutnya sangat sakit. Dia tak kuat dan menjerit. Laurent membantu menenangkan. Meski gadis itu tahu jika mengandung dan melahirkan anak Iblis pasti berbeda dengan mengandung dan melahirkan manusia.


Beberapa saat kemudian, perut Ningsih kempes dengan sendirinya. Sebuah cahaya merah seperti bola basket terbang melayang-layang. Ningsih dan Laurent menatap heran cahaya itu.


"Itu ... anakmu." lirih Laurent yang membuat Ningsih tak percaya.


Cahaya itu tak bisa ditangkap dan hanya melayang-layang. Ningsih makin tak paham dengan semua itu. "Bagaimana mungkin itu seorang anak? Itu hanya cahaya merah," kata Ningsih yang tak percaya.


"Tunggu sampai cahaya itu menjadi seorang Iblis kecil, kamu akan percaya," tegas Laurent.


Ningsih pun berharap jika hal itu nyata, semoga bisa menjadi cara untuk menolong Bima. Ningsih pun sudah tak betah berada di alam lain.


"Sampai kapan aku akan berada di sini? Dengan cahaya merah ini?" tanya Ningsih pada Laurent dengan segala hal yang membingungkan.


"Tunggu sampai kondisi di dunia nyata membaik. Anakmu akan menjaga dan menemanimu di ruang gelap. Setelah ini aku akan pergi. Aku tak bisa berlama di sini. Kuatkan hatimu Ningsih," kata Laurent yang kemudian memeluk Ningsih dan mengucapkan kalimat perpisahan.


Ningsih kembali dalam ruang gelap. Cahaya serta padang rumput hijau itu pun menghilang. Hanya ada sebuah cahaya merah seperti bola basket yang melayang-layang di dekat Ningsih. Membuat kegelapan itu tak begitu semenakutkan sebelumnya.


"Nak, terima kasih sudah menemani. Semoga Ayahmu baik-baik saja, ya." lirih Ningsih yang terlihat sedih sambil menatap cahaya merah itu.


Seakan mengerti, cahaya merah itu melompat ke atas dan ke bawah perlahan seperti orang mengangguk. Ningsih paham jika apa pun yang berada dalam cahaya itu, adalah keturunannya dengan Bima. Hasil buah cinta mereka.


"Bima, di mana pun kamu berada ... aku harap kamu dengar ucapanku. Aku mencemaskanmu. Aku merindukanmu. Segera pulih, segeralah datang. Anakmu juga menunggu di sini. Aku mencintaimu," kata Ningsih yang kemudian menangis.


Cahaya merah itu di samping Ningsih seakan tahu kegundahan hati ibunya. Ningsih pun melewati waktu yang tak terhitung di dalam ruang gelap bersama anaknya yang masih berbentuk cahaya.


***


Neraka Lapis Ketujuh ....


Tuan Chernobog sudah mulai melupakan tentang Ningsih dan Bima. Tuan Chernobog juga sudah memilih iblis yang menjadi tangan kanan barunya.


"Taati perintahku dengan baik, jika kau ingin hidup abadi dalam kerajaan neraka. Jangan membangkang seperti iblis lemah sebelumnya. Berakhir dengan musnah dan tak berguna!" seru Tuan Chernobog pada iblis baru yang menjadi kepercayaannya.


"Dengan senang hati, hamba akan laksanakan semua perintah Tuan Chernobog. Hamba akan mengabdi sebaik mungkin." kata Iblis itu.


"Baiklah, berkelanalah di bumi dan sesatkan manusia sebanyak-banyaknya. Ambil jiwa-jiwa berdosa mereka dan bawa ke dalam Neraka Lapis Ketujuh! Ha ha ha ha ...." tegas Tuan Chernobog yang kemudian tertawa. Seisi Neraka Lapis Ketujuh mendengar suara yang bergema nyaring itu.


Bahkan Tuan Chernobog pun tak mengetahui di mana dan apa yang terjadi pada Bima. Mungkinkah Bima sirna karena terluka parah waktu itu? Sedangkan tumbal ketujuh sudah diambil dan Bima tidak memiliki pengikut lain. Mungkinkah dia selamat dari semua ini?