JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 87


πŸ€ TEROR DUKUN SAKTI πŸ€


Dua hari ini hal-hal aneh mulai terjadi. Awalnya hanya Ningsih yang merasakan, tetapi sekarang Ayah, Ibu, bahkan Wahyu yang masih kecil pun mengalami hal aneh. Seperti sore ini saat bermain bersama di Timezone.


"Mak, Wahyu mana?" tanya Reno pada Makk Sri yang melamun. Seketika wanita yang sudah menua itu terkejut.


"Astafirulah ... Mak kok bisa kaget, ya. Gimana Den Reno?" jawab Mak Sri kebingungan.


"Mak ngelamun? Wahyu mana, Mak?" tanya Reno lagi.


"Loh ... tadi eh barusan di sini. Main mobil ini. Kok nggak ada, ya?" Mak Sri gugup dan bingung.


Tanpa ba bi bu lagi, Reno bergegas mencari Wahyu. Reno sudah mempunyai firsat tak bagus terlebih tadi saat di parkiran, Ibu Tante Ningsih hampir saja tertabrak mini bus. Terlebih saat Nindy menceritakan soal Tante Ningsih berteriak tengah malam dan ditolong Joko, Reno semakin yakin ada hal buruk yang akan terjadi.


Reno berlari mengelilingi Timezone mencari Wahyu. Saat melihat anak usia tujuh tahun itu hendak memanjat tralis pengaman lantai tiga, Reno berlari sekencangnya, "Wahyu! Jangan lompat!"


Reno menangkap Wahyu yang hampir saja melompat dari lantai tiga. "Wahyu ... ini Kak Reno. Kamu kenapa?" Seketika Wahyu kaget dan bingung lalu menangis sekencang-kencangnya.


Mak Sri yang sudah mencari bersama Ningsih dan orang tuanya pun mendengar tangisan Wahyu lalu berlari ke arahnya. Nindy, Santi dan Joko juga bergegas ke sana.


"Ya Allah, Wahyu sayang. Sini sama Uti. Sini jangan nangis lagi," ucap Ibunya Ningsih dengan bingung.


Keadaan menjadi mulai tegang saat Wahyu tak mau bicara sepatah kata pun. Ningsih pun semakin tak enak hati.


"Bima ... tolong aku. Ada sesuatu yang tak beres terjadi." gumam Ningsih dalam hati sambil membawa pergi keluarganya agar Wahyu lebih tenang jika tidak dikeramaian. Mereka hendak pulang ke rumah.


"NINGSIH ... MAAF AKU BARU DATANG. INI SEMUA KERJAAN DUKUN DARI WONOSARI YANG INGIN MEMBALAS DENDAM SEORANG KELUARGANYA MATI TERTIMBUN LONGSOR. TENANG SAJA. MALAM INI AKU AKAN SELESAIKAN SEMUA. KEMARIN AKU SUDAH MEMBERESKAN KORBAN YANG LUKA PARAH DI ICU. ROHMAD, NAMANYA. LELAKI YANG BERPIKIRAN KOTOR SAAT MELIHATMU! MALAM INI PERGILAH MAKAN KE RA*INTEN. DI SANA ADA AIR BUNGA TUJUH RUPA, AMBILAH UNTUK MEMBILAS WAJAH WAHYU MAKA ANAKMU AKAN KEMBALI NORMAL. RUMAH MAKAN TRADISIONAL ITU MEMILIKI PENJAGA YANG LUMAYAN KUAT. AKU PERGI DAHULU. NANTI MALAM DINDA AKAN BERKUNJUNG SEBAGAI MANUSIA, TERIMA LAH DI RUMAHMU UNTUK MELINDUNGIMU DARI SERANGAN GAIB." jelas Bima yang tentunya hanya didengar oleh Ningsih.


Ningsih mengangguk paham, lalu meminta Joko untuk menuju rumah makan yang dimaksud. "Joko, ubah google mapnya untuk ke rumah makan Ra*inten di daerah Kota Baru. Kita makan malam di sana saja," kata Ningsih.


Mobil Reno yang berada di belakang mereka mengikuti ke mana arah Ningsih. Mereka pun sampai di sana. Bapak pun protes, "Nduk ... yakin mau makan di sini? Kok bau menyan?"


"Nggak apa, Pak. Tenang saja. Makanannya enak kok," jawab Ningsih dengan senyuman manis di wajahnya.


Melihat air di kolam kecil dengan bunga tujuh rupa, Ningsih mengambil sedikit di tempat minum. Saat mereka memesan makanan, Ningsih mencuri kesempatan untuk mengusap wajah anaknya dengan air itu. Seketika Wahyu menggigil dan ketakutan.


"Mama ... Mama ... Wahyu takut," anak lelaki itu memeluk tubuh ibunya dengan erat.


"Udah nggak apa, sayang. Nggak usah takut lagi. Ada Mama, Uti dan Kakung di sini. Lihat itu ada Kakak kakak juga. Sudah jangan takut," lirih Ningsih dengan mengelus kepala belakang anaknya.


Ningsih lega anaknya sudah lepas dari pengaruh dukun yang tak dikenalnya. Dia yakin jika. Bima akan turun tangan. Seusai mereka makan, saat hendak ke parkiran ... seorang wanita cantik mempesona menghampiri mobil Ningsih.


"Kak Ningsih ...." lirih wanita itu sambil melambai. Mengenakan celana jeans panjang dan kaos hitam ketat serta jaket jeans membuat kecantikan natural terpancar dari wajanya.


"Dinda? Ngapain kamu ...." Ningsih terhenti berucap, teringat perkataan Bima tadi.


"Ish, Kakak pelupa ya. Kak Bima sudah bilang, 'kan?" ucap Dinda sambil mengerlingkan matanya.


Reno kaget melihat wanita itu. Wanita yang ada di mimpinya semalam. Wanita yang pernah berdiri di depan rumah Tante Ningsih selama berjam-jam. Ternyata wanita itu adik dari suami Tante Ningsih.


"Iya, maaf Kakak lupa. Yaudah, kamu mau ikut di mobil siapa?" tanya Ningsih tak ingin mengulur waktu untuk pulang.


"Hmm ... di mobil yang lapang aja deh. Kak Ningsih sama keluarga kan? Aku di mobil satunya aja, ya?" jawab Dinda santai.


"Oh ... ya nggak apa. Reno, Santi ... ini Dinda adiknya Om Bima. Mau nginap sementara di Yogya jadi Tante ajak ke rumah aja. Santi nggak apa kan?" kata Ningsih memastikan bahwa keponakannya tak keberatan.


"Tentu nggak apa, Tante. Santai aja. Kan banyak kamar di rumah. Ayo sini masuk mobil ini. Tante Ningsih mobilnya udah penuh," ucap Santi dengan ramah.


Dinda pun masuk ke mobil Santi yang dikendarai Reno. Santi di depan, samping Reno. Sedangkan Dinda di belakang Reno persis. Samping Dinda ada Nindy. Mobil Ningsih sudah penuh karena Joko menyopirkan. Ada Bapak, Ibu, Mak Sri dan Wahyu juga. Mereka pun bergegas pulang. Hari makin larut malam.


Sesampainya di rumah, Santi menunjukan kamar untuk Dinda tinggal. Kamarnya searah dengan kamar Reno. Reno masih memandang Dinda tanpa berkedip. Seperti mimpi yang menjadi nyata melihat wanita itu di hadapannya.


Pukul 00.30 Reno belum bisa tidur. Entah karena membayangkan Dinda atau karena hawa panas yang menyeruak meski AC di kamarnya sudah suhu terdingin. "Ah, kenapa jadi mikir begini ya? Duh ... kok bisa adiknya Om Bima masuk ke mimpiku semalam dan sekarang malah di sini," gumam Reno gelisah.


Seketika suara ketukan pintu kamar terdengar lirih. Reno pun bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Betapa kagetnya saat dia melihat yang dihadapannya adalah Dinda.


"Reno ... aku nggak bisa tidur. Bolehkah aku masuk?" ucap Dinda perlahan membuat Reno tak sadarkan diri mengiyakannya masuk.


Reno pun gugup. Wanita yang dipikirkan sudah ada di depan mata. Dia menjadi teringat mimpi semalam.


"Din ... Dinda ... kamu adik kandung Om Bima?" kata Reno memulai percakapan agar tidak canggung.


"Iya, mirip tidak? Tidak, ya?" Dinda pun tertawa kecil lalu merapatkan tubuhnya ke dekat Reno.


"Hmm ... Dinda, jangan dekat-dekat. Aku takut kalau ...." lirih Reno terhenti.


"Kalau khilaf? Bukannya semalam kita sudah melakukannya? Mimpi yang terasa nyata atau kenyataan yang terasa mimpi?"


Jantung Reno berdetak sangat kencang seperti ledakan kembang api. Dia semakin gugup menghadapi wanita yang entah bisa membaca pikiran Reno.


"Kok kamu tahu? Apakah kamu memimpikannya juga?" ucap Reno memastikan.


"Reno ... kalau aku bilang, itu bukan mimpi, kamu percaya kah? Semalam, kita melakukannya di sini. Seperti ini ...." bisik Dinda sambil menyentuh tubuh Reno.


Hal itu membuat Reno teringat kejadian semalam yang memang sangat terasa nyata baginya. Malam itu ... hal yang sudah lama Reno inginkan terjadi lagi. Kali ini benar-benar nyata tubuh mereka menyatu dalam peluh dan napas yang memburu.


***


Di waktu yang sama ....


"MATI KAU DUKUN GILA! BERANINYA MENGGANGGU ISTRIKU DNA KELUARGA BESARNYA!" kata Bima membantai dukun sakti yang sudah mulai kehabisan tenaga.


"Wanita dan Iblis? Kalian menikah? Tidak bisa kupercaya kau membela wanita itu hei Iblis jahanam!" geram dukun yang bernama Mbah Putri itu.


Pertempuran sengit pun terjadi. Namun, kekuatan Bima jauh di atas dukun itu. Anak buah dukun yang merupakan makhluk gaib di bawah Bima jelas lari terbirit-birit jika berhadapan langsung dengan Bima. Saat itu keadaan Mbah Putri semakin terhimpit. Tipu dayanya sudah tak mempan melawan Iblis seperti Bima.


"MELAWANKU SAMA DENGAN MENCARI MATI! AYO KUHANTARKAN KAU KE PINTU NERAKA TERCEPAT!" gertak Bima dengan wujud aslinya.


"Sampai mati pun aku tak akan menyerah ... terima ini ...." teriak Mbah Putri sambil menghunuskan keris ke tubuh Bima tetapi seketika terpental sendiri.


Mbak Putri batuk keluar darah kental. Seketika tak sadarkan diri. Kalah dalam pertempuran melawan Bima dan semua kuasa Mbah Putri pun menghilang.


"HA HA HA HA ... DUKUN BODOH! SUDAH TAHU AKAN KALAH MELAWANKU MASIH SAJA CARI MATI!" Bima tertawa dan pergi meninggalkan jasat Mbah Putri yang tersungkur kaku di lantai. Tempat praktik Mbah Putri jadi kacau balau karena pertempuran tadi.


Bima segera pergi ke kamar Ningsih. Memastikan semua baik-baik saja. Saat hendak masuk ke kamar istrinya, Bima dengar suara desahan Dinda dan Reno. Bima pun kesal dengan adiknya yang tak berhenti memikat lelaki. Bima mengerjai Dinda dan Reno yang sedang asyik dengan gempa bumi buatan Bima.


Gempa yang terasa lumayan kencang membuat Reno kaget dan takut. Belum sampai ke puncak dengan Dinda, Reno bergegas memakai pakaiannya dan berlari keluar kamar. Memastikan semua baik-baik saja setelah gempa. Meski tak ada yang terbangun. Dinda kesal dan jengkel, kurang sedikit surga itu direngkuhnya bersama Reno. Namun justru kakaknya berulah. Dinda tahu itu perbuatan Bima.


Saat Reno kembali ke kamar, Dinda sudah tak ada di sana. Dinda kembali ke kamarnya. Bima tertawa sampai perutnya sakit. Dia pun hanya melihat Ningsih yang tidur pulas lalu menghilang. Bima sengaja mengawasi saja. Baginya, keselamatan dan ketenangan Ningsih serta keluarganya menjadi hal nomor satu, terpenting untuk Bima.


Berbeda dengan Dinda yang masih "nanggung" akhirnya dia menghilang dan pergi ke sebuah tempat di mana pemujanya selalu menunggu kembalinya Dinda. Seorang lelaki bertubuh kekar yang memuja Dinda di dalam kamar khusus. Dinda pun mengajaknya berhubungan agar terpuaskan. Tanpa di sadari, saat bersama pemujanya, Dinda tetap teringat wajah Reno. Sungguh lelaki muda itu membuatnya makin penasaran.


Bersambung ....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mana nih suara pendukungnya Bima? Atau malah justru dukung Lee? Tunggu mereka kolaborasi ya pasti seru banget. Oh iya, salam dari Bima, "Selamat malam para pembaca setia. Terima kasih dukungannya. Jangan lupa Senin Vote di restart semoga karya ini masih jadi favorit kalian."