
Pagi hari yang indah. Mentari pagi beranjak dari persembunyiannya, membawa kehangatan di sisa malam nan dingin. Ningsih terbangun dan tersenyum mengingat Bima semalam bersamanya. Suami tak kasat mata yang selalu memanjakannya.
"Astaga ... hampir jam enam! Aku harus bergegas menjemput Reno dan Santi di bandara," ucap Ningsih yang terkejut melihat jam dinding di kamarnya.
Dia mandi sebentar dan lekas memakai baju, celana jeans panjang dan jaket. Membawa tas dan ponselnya serta langsung menuju bawah.
"Bu, sudah ditunggu Joko di luar. Baru saja dia minum kopi," kata Mak Sri sambil memberikan infused water minuman yang biasa Ningsih minum di pagi hari.
"Terima kasih, Mak Sri. Maaf aku terlambat bangun. Oiya, nanti jam delapan cleaning service yang biasanya datang. Kamar tamu dibereskan ya, Mak. Nanti Reno sama Santi kuajak pergi berkeliling dulu," jelas Ningsih sambil membawa sebotol minuman yang diberikan Mak Sri.
Ningsih beranjak pergi dari rumahnya. Wahyu masih tertidur lelap di hari Sabtu, sekolah internasional libur.
"Joko, sorry aku kesiangan," kata Ningsih, keluar dari rumah.
"I... iya, Bu. Nggak apa. Mobil sudah siap, Bu."
"Ya, oke. Ayo berangkat."
Mereka pun berangkat menuju bandara. Tidak seperti biasanya, Ningsih duduk di kursi depan, samping Joko. Perjalanan ke Bandara cukup jauh, dan lumayan ramai.
Ningsih mengambil ponelnya dan mengirim pesan ke Santi.
[Kalau sudah landing kabari Tante ya, San.]
lima menit kemudian Santi membalas.
[Sudah, Tante. Ini baru aja sampai di ruang tunggu. Mau beli minum dulu.]
[Ya, San. Tante masih di jalan. Tunggu dulu ya.]
"Joko, kira-kira berapa menit lagi yang sampai?" tanya Ningsih ke sopirnya.
"Sepuluh menitan, Bu."
"Ok."
Joko tidak konsentrasi menyetir karena Bos cantik yang selama ini menolongnya berada di sampingnya. Usia Ningsih sudah masuk 38 tahun, tetapi pesona kecantikannya masih terpancar jelas. Hal itu membuat banyak orang menginginkan hatinya, terlebih kekayaannya yang melimpah.
Joko memang mengidolakan Bosnya. Selain karena cantik dan seksi, Ningsih sosok ibu yang penyayang dan wanita yang mandiri. Namun semua Joko pendam karena statusnya sebagai sopir yang selalu mendapat bantuan dari Bosnya, membuat tak percaya diri untuk mengungkapkan perasaan.
Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, Ningsih turun dari mobil, menjemput keponakannya. Ningsih terkejut melihat Reno yang tambah tinggi dan terlihat lebih dewasa. Sedangkan Santi terlihat alim dan anggun dengan jilbab dan pakaian muslim kekinian.
"Tante Ningsih!" seru Santi melihat tantenya yang tak terlihat bertambah tua.
"Yaampun, Santi ... kamu cantik sekali," jawab Ningsih sambil memeluk Santi. Mengingat wajahnya mirip dengan Ratih, membuat Ningsih terenyuh.
"Tante, ini Si Cakep katanya kangen Tante Ningsih," kata Santi, meledek adiknya.
"Apaan sih...." Reno tersipu malu.
"Reno.... kamu udah besar ya." Ningsih pu. malu melihat ponakannya yang beranjak dewasa.
"Iya, Tante. Reno memang besar, kan?" celetuk Reno yang membuat Ningsih ingat sesuatu yang memalukan di masa lalu.
"Udah... udah... jangan baper... aku laper nih, makan dulu yuk," sela Santi mencairkan suasana.
Mereka pun bergegas masuk ke mobil yang dikendarai Joko. Beberapa kali Ningsih melihat ke cermin yang memantulkan wajah Reno. Joko mengamatinya dan dia merasa terbakar api cemburu.
Reno terlihat lebih menarik dan berkarisma. Saat ini usaha kost yang dikelola Santi bertambah di dua tempat yang berbeda. Reno mendapatkan bagian mengelola di dekat Stadion Maguwoharjo. Selain itu, Reno juga berinvestasi di beberapa Ayam Geprek Keju Yogyakarta. Muda, tampan, dan kaya, membuat Reno dikejar banyak wanita. Namun, entah mengapa dia masih memilih sendiri.
"Tante ... andai kamu tahu, aku begitu merindukanmu setelah sekian tahun tak berjumpa. Aku bukan anak kecil lagi yang takut menghadapi dunia. Lihatlah aku, Tante Ningsih. Aku sudah sukses. Aku mengumpulkan uang untuk bisa menyandingmu," batin Reno, sesekali menatap Ningsih.
Ningsih yang bisa membaca pikiran atau kata hati orang pun dengan mudah mengerti apa yang di batin Reno. Rasa tak enak pun muncul. Kejadian dahulu yang membuat Reno kehilangan keperjakaannya, selalu membayangi pikiran Ningsih.
"Reno...." panggil Ningsih.
"Kamu sekarang pendiam, ya?"
"Oh, iya. He he he ... bukan kah begitu tipe orang dewasa?" kata Reno sambil tertawa kecil.
"Berarti lagi pencitraan ya?" ledek Santi sambil menyikut adiknya.
"Hih, berisik! Tapi aku tambah cakep, kan?"
"Ha? Dasar kepedean!" gerutu Santi.
"Iya.... Reno tambah cakep. Tadi Tante kaget loh. Tambah dewasa juga. Dulu kan Reno banyak bicara, sampai Tante pusing dengernya. Ha ha ha ha...." jelas Ningsih sambil tertawa. Reno langsung terdiam, malu.
Joko hanya mengamati pembicaraan mereka. Terlihat jika hubungan Reno dan Ningsih pernah dekat, bukan keponakan biasa. Joko masih menahan cemburu karena tak bisa berbuat apa-apa.
"Tante, kita mau sarapan dimana nih?" tanya Santi.
"Hmm... kalau jam segini sih Soto Betawi yang buka... atau mau MCD atau KFC?" kata Ningsih sambil melihat jam tangannya, masih menunjukan pukul 08.00 pagi.
"MCD aja, Tante," usul Reno.
"Iya, deh. Aku setuju," imbuh Santi.
"Ok. Joko, cari MCD terdekat ya. Anak-anak dah laper nih," ucap Ningsih pada sopirnya.
"Baik, Bu."
"Aku sudah dewasa, Tante. Jangan panggil aku anak-anak, kalau Tante nggak percaya bisa kubuatin adik untuk Wahyu," celetuk Reno dengan nada datar.
"Dasar, mesum!" gertak Santi sambil menyambit kepala adiknya dengan tangan.
"AW! Sakit tahu, Kak. Sadis bener," teriak Reno spontan sambil mengusap kepalanya.
"Makanya kalau ngomong dipikir dulu. Jangan asal nyeletuk! Nggak ada akhlak!" Santi terlihat sebal dengan adiknya yang mulai mencari perhatian Ningsih.
Ningsih hanya tertawa melihat tingkah laku kedua anak Ratih. Dia berandai-andai jika Ratih masih hidup, tentu dia akan senang melihat kedua buah hatinya tumbuh menjadi orang yang sukses dan mandiri.
Sesampainya di MCD, mereka pun turun dari mobil.
"Joko, ayo ikut sekalian sarapan. Tadi belum makan kan?" kata Ningsih mengajak sopirnya.
"Saya di sini saja, nggak enak Bu," jawab Joko sambil menggaruk kepalanya.
"Ah, kamu ini.... Kaiia ama siapa aja! Yuk ikut masuk," ajak Ningsih sambil menarik tangan Joko.
Joko pun mengikuti Bosnya. Jantung Joko berdetak kencang, Ningsih pura-pura tak tahu apa yang dipikirkan Joko.
Reno menatap tajam ke arah Ningsih yang menggandeng seorang sopir.
"Tante, kenapa nggak gandeng Reno?" protes Reno sambil berjalan di samping Ningsih.
"Oh, pingin digandeng? Ya, sini!" Ningsih menggandeng Reno yang terlihat seperti anak kecil yang cemburu.
Santi hanya tertawa melihat tingkah adik dan tantenya. Diam-diam, Santi tertarik dengan Joko yang pendiam. Memang Joko mempunyai daya tarik tersendiri.
Mereka pun sarapan bersama. Tanpa diletahui, ada seorang lelaki mengamati kegembiraan mereka. Siapakah lelaki itu?
Bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Gabung Grup Chat Yuk! Jangan lupa Like + Vote + bagi Tip yaa kalau punya^^ Author selalu semangat untuk kalian guys!