JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 43


Tempat yang sepi... Beberapa bangunan tua tak berpenghuni di pinggiran kota yang tak terawat. Kemungkinan sangat kecil untuk menemukan orang lewat di daerah sana. Berteriak bukan pilihan yang baik, alih-alih mendapat pertolongan, justru bisa membahayakan hidup anaknya. Ningsih berpikir dengan cepat untuk mengakhiri teror ini.


"Sugeng... maafkan aku... aku menyerah. Tolong akhiri ini seperti maumu. Jangan ada lagi pertikaian," lirih Ningsih dengan muka memelas.


"Hahahaha.... andai sedari dulu kau itu nurut! Tak mungkin terjerumus pesugihan seperti itu. Cuiih! Wanita penggila s*ks sepertimu sok berlagak lugu! Ingat penolakanmu waktu itu? Dasar munafik! Bahkan suamimu kau tumbalkan untuk dapat harta, bukan?" Lelaki yang kehilangan kewarasannya semakin mendekat ke Ningsih.


Terlihat jelas dendam masa lalu masih bergulir hingga saat ini. Membawa kehidupan Ningsih ke jurang bahaya. Bahkan orang disekitarnya pun menjadi taruhan. Sugeng tak bisa melupakan saat kegagalannya menyentuh Ningsih dimasa lalu... Ya, saat Ningsih masih miskin dan terlilit hutang.


"Maaf.... Tuan Sugeng... Aku tidak akan melawan lagi."


Sugeng membelai wajah Ningsih yang ketakutan. Dia pun berbisik, "Layani aku di sini. Akan kupertimbangkan untuk tak membunuhmu."


Ningsih merasa jijik melihat wajah Sugeng dari dekat. Bekas luka bakar itu sangat menakutkan. Apa daya demi keselamatan dirinya bersama putra semata wayangnya, Ningsih mengangguk.


Sugeng memeluk dan menindih tubuh Ningsih. Dia mencoba mencium janda itu. Namun, seketika dia terhenti karena rasa nyeri dan panas yang amat sakit dari punggungnya.


Ningsih menancapkan pisau yang dia sembunyikan sejak breakfast di hotel. Dia berjaga-jaga jika terjadi hal buruk. Ternyata feelingnya tepat. Hal itu benar terjadi.


Sugeng melepaskan pelukannya dari tubuh Ningsih. Secepat itu Ningsih mendorong tubuh lelaki tua tak berakhlak itu sambil menarik tusukan pisau dari punggungnya.


"Wa.. wanita Iblis!" Sugeng mencoba melawan.


Namun, kembali Ningsih mengayunkan pisaunya ke arah Sugeng. Berkali-kali hingga dia tak sadar berapa tusukan yang dibuatnya. Darah berceceran dan mengalir membasahi lantai gedung tua itu.


"Mati kau... mati kau.... matii!"


Sugeng terkapar bersimbah darah. Ningsih ketakutan saat melihat tanganya penuh noda merah nan amis. Dia mulai panik. Tak ingin Wahyu melihat kondisinya. Dia melepas jaket untuk mengelap tangan dan wajahnya yang terkena darah. Lalu mengambil kunci mobil dari mayat Sugeng, menyembunyikan jaket dengan penuh noda darah di bagasinya.


"Anak Mama.... terima kasih sudah bersabar. Sini Wahyu duduk depan," ucap Ningsih lembut kepada anaknya.


"Iya, Ma."


Ningsih tersenyum dan beberapa kali mengusap kepala anaknya. Dia pun mengambil handphone dan mengirim pesan ke Santi. Banyak panggilan tak terjawab serta pesan tak terbalas.


[ Maaf, Tante baru ada kabar. Tante baik-baik saja. Ini OTW ke Salatiga. ]


Diletakkannya kembali ponsel itu. Mobil mulai melaju menyusuri jalan nan sepi.


'Selamat tinggal dendam. Lebih baik kuakhiri kau sebelum mengakhiri hidupku.' batin Ningsih.


Kesunyian menjadi saksi bisu kematian Sugeng yang tragis dengan banyak luka tusuk. Pergi dalam keheningan. Memutus dendam di antara mereka.


****


Santi mengecek handphonenya yang baru saja mengeluarkan suara pesan baru diterima.


"Alhamdulilah.... PakLek... BuLek.... Tante Ningsih sudah ada kabar!" seru Santi sambil berlari ke ruang tamu


"Alhamdulilah, Nduk," sahut BuLek.


"Syukurlah... Tante Ningsih langsung ke sini?" tanya Reno.


"Jangan ganjen! Awas kalau mikir macem-macem!" Santi menatap tajam adiknya.


"Nduk, Le.... baiknya kalian istirahat dulu. Biar PakLek yang berjaga di sini," ujar PakLek.


"Santi di sini saja, PakLek. Mau menunggu Tante sama Wahyu. Santi khawatir...."


Mereka pun menunggu kedatangan Ningsih dan putranya. Duduk di ruang tamu dengan resah. Berharap semua akan segera bertemu dan kembali hidup normal.


****


"NINGSIH... PERGILAH KE KAKI GUNUNG MERAPI. DI SANA KAU AKAN BERTEMU DENGAN ORANG YANG AKAN MEMBANTUMU MEMULAI HIDUP BARU DI KOTA LAIN." Bima tiba-tiba memberi instruksi pada Ningsih.


'Ta... tapi... aku harus ke Salatiga terlebih dahulu. Bima, sebenarnya kamu kemana? Sugeng hampir saja....' batin Ningsih berkomunikasi dengan Bima.


"AKU SUDAH TAHU. JASADNYA SUDAH KULENYAPKAN. AKU TAK BISA MEMBERI TAHUMU SESUATU HAL INI. TETAPI IKUTI KATAKU!"


'Baik. Tapi ijinkan aku menemui Reno dan Santi serta menitipkan Wahyu kepada mereka,' pinta Ningsih.


"YA. BESOK PAGI KAMU HARUS KE KAKI GUNUNG MERAPI!"


Ningsih hanya mengangguk dan merasakan Bima sudah pergi lagi. Dia menengok ke kursi sampingnya, putranya tertidur nyenyak karena lelah. Banyak hal yang membuat Ningsih pun tak sanggup berpikir jernih. Namun, dia tetap mengutamakan keselamatan anaknya.


"Sabar ya, Wahyu... Sebentar lagi kita sampai ke Salatiga. Mama akan mengusahakan yang terbaik," lirih janda anak satu itu sambil mengendarai mobil taksi itu.


Sesampainya di Kota Salatiga, Ningsih memarkirkan taksi itu di dekat swalayan. Ningsih menggendong putranya dan membawa tas meninggalkan mobil itu beserta kuncinya. Menghilangkan jejak sebisa mungkin. Dia menelepon Santi....


"Asalamualaikum, Tante...." Santi menjawab panggilan Ningsih.


"Iya, Santi. Kamu dan Reno baik-baik saja?"


"Alhamdulilah baik. Tante sudah sampai mana?"


"Jemput Tante bisa kah? Tante dan Wahyu sudah di pusat kota dekat Ramayana."


"Ya, Tante. Tunggu. Santi segera ke sana."


Mereka pun mengakhiri percakapan. Ningsih berjalan ke depan Ramayana yang cukup ramai. Mencoba mencari tempat yang tepat di mana Santi bisa menemukannya dengan mudah.


Lima belas menit kemudian.....


Klakson mobil berbunyi, Santi membuka kaca mobil dan memanggil Ningsih, "Tante! Sini...."


Senyum mengembang di wajah Ningsih melihat anak Ratih baik-baik saja. Dia bergegas ke arah Santi. Masuk ke mobil sambil menggendong Wahyu. Dia meletakkan tas di kursi belakang lalu duduk di samping Santi yang sedang mengemudi.


"Yaampun Santi.... Tante senang melihatmu..." Air mata menetes di pipi Ningsih.


"Sama, Tante. Santi kira tak bisa bertemu lagi," jawab Santi dengan mata berkaca-kaca.


"Reno dimana?"


"Dia di rumah PakLek. Tante istirahat dulu ya..." ucap Santi sambil menginjak gas mobil, melaju perlahan ke rumah PakLek Darjo.


"Apakah tidak apa? Tante merepotkan ya?"


"Nggak apa, Tante. Oiya... Tante ke sini pakai apa? Mobil Tante dimana?"


Ningsih terdiam sejenak. Menarik napas panjang lalu melepaskan karbondioksida perlahan untuk membuat dirinya tenang sesaat.


"Ceritanya panjang, Santi. Kemungkinan besok pagi pun Tante harus bertemu seseorang di kaki Gunung Merapi. Tante pinjam mobilmu, ya?"


"Santi ikut!"


"Jangan... Tante takut membahayakanmu.... Maaf, semua salah Tante. Ternyata Satria bukan orang baik," Ningsih tertunduk merasa sesal melibatkan anak-anak Ratih dalam permasalahannya.


"Tante... biarlah semua yang berlalu tak diungkit lagi. Bukan salah Tante. Tapi ijinkan Santi ikut menemani Tante besok," pinta Santi pada Ningsih.


Ningsih terdiam. Apakah besok menjadi hari yang panjang untuknya? Siapakah orang yang Bima maksud?