
...🔥 PENGORBANAN 🔥...
Bima melawan makhluk gaib dari Jepang itu sendirian. Mereka terlibat dalam permasalahan yang serius. Bima membela Reno karena dia adalah keluarganya. Sedangkan hal yang sama dilakukan makhluk halus dari gunung fuji itu, dia melindungi keturunannya yang ikut dalam geng paling berbahaya di Jepang yaitu Yakuza.
"Jangan ikut campur urusan ini! Iblis sepertimu tak seharusnya membantu manusia!" gertak makhluk itu.
"Aku juga melindungi keluargaku. Sepertinya leluhur sepertimu tak seharusnya membantu kejahatan. Itu akan membuatmu tidak bisa melanjutkan kehidupan setelah kematian!" seru Bima yang tak mau kalah berdebat.
Mereka pun adu kekuatan. Meski Bima sudah memperingati, makhluk itu tak mau menyerah. Tidka seharusnya leluhur membuat onar dengan membela keturunannya yang salah. Mereka seakan saling membutuhkan dan efeknya lebih dahsyat dari JERAT IBLIS karena mereka tak bisa melanjutkan kehidupan setelah kematian karena mencampuri ketetapan Sang Pencipta.
Sesungguhnya, Bima melihat dengan jelas jika makhluk itu tak ingin melakukan hal ini. Seakan ada sebuah perjanjian yang harus mereka jalani dan tepati. Bima mencoba menawarkan kebebasan, tetapi makhluk itu tak bisa. Dia terikat sesuatu yang tak bisa dia pungkiri adalah kesalahannya juga.
"Aku akan bebaskan kau, jika kau mau," kata Bima yang berhenti menyerang makhluk itu. Bima tahu jika diteruskan, makhkuk itu akan musnah.
"Tidak! Aku sudah berjanji akan melindungi keturunanku tanpa kecuali Black Nam Jun," kata makhluk itu yang tak akan menyerah sebelum bisa mengalahkan Bima yang jelas tak mungkin.
Bima pun akhirnya menyerang dengan kilatan api yang menyambar-nyambar. Makhluk itu terpelanting dan kemudian jatuh. Sesaat sebelum makhluk itu musnah dan hilang, Bima melihat senyum di wajah yang sudah penuh kerutan karena usianya yang sudah ratusan tahun. Pengorbanan leluhur menjaga anak, cucu, bahkan cicitnya. Meski mereka pun akhirnya sirna tanpa bisa mendapatkan jalan ke surga atau neraka.
Bima pun bersedih melihat itu. Dia mengingat Ningsih, Wahyu, Reno, Daniel, Lauren, Nindy, Santi, mereka yang menjadi bagian hidup Bima saat ini adalah manusia. Jika dilanjutkan terus bersama, bisa-bisa mereka juga tak bisa menemukan jalan ke dunia selanjutnya setelah kematian.
Bima pun menyadari satu hal di sini, hubungan makhluk gaib dengan manusia hanya akan membantu sesaat. Selebihnya, mereka akan saling menjerat dan menyengsarakan satu dengan yang lainnya.
Bima tak ingin Ningsih dan keluarganya merasakan hal yang sama dengan para pengikut Yakuza yang bersekutu dengan leluhurnya. Dia memikirkan kembali, memang sudah jalan yang terbaik untuk kembali ke tempat yang seharusnya.
Bima segera mencari di mana Boy dan Daniel membawa Reno. Dengan memusatkan perhatian, Bima bisa menemukan mereka.
Reno sudah diobati dari luka-luka memar di wajah dan beberapa luka di tubuhnya. Dokter dan perawat menyarankan untuk rawat inap, tetapi saat Reno sadar, dia ingin segera pulang.
"Tuan, Anda belum sehat betul. Lebih baik ikut anjuran dokter untuk rawat inap," saran perawat kepada Reno yang hendak bangkit dari ranjangnya.
"Ti-tidak ... di-di mana orang yang membawaku ke sini?" lirih Reno bertanya.
"Sebentar, Tuan. Saya panggilkan keluarga Anda." Perawat kemudian pergi keluar IGD untuk memanggil Daniel dan Boy.
Saat yang sama, Bima datang. Dia segera memgubah wujud menjadi manusia. Dia bergegas menemui Daniel dan Boy.
"Bagaimana kondisi Reno?" tanya Bima yang terlihat kelelahan.
"Bima! Kau sudah berhasil mengalahkannya?" tanya Boy yang senang melihat kakak iparnya kembali.
"Ya, tentu. Kasihan dia. Oh, bagaimana Reno? Di mana dia?" Bima terlihat resah melihat seisi rumah sakit yang sibuk.
"Dia ada di dalam. Ayo ke sana," jawab Daniel.
Tepat sekali perawat datang. "Tuan-tuan, Tuan Reno sudah sadar. Dia mencari kalian. Kami sarankan untuk rawat inap terlebih dahulu. Namun, Tuan Reno hendak pulang," kata perawat kepada tiga lelaki tampan itu.
"Baik. Kami akan ke sana," jawab tiga lelaki itu serentak.
Bima, Daniel, dan Boy ke dalam IGD menghampiri Reno. Terlihat lelaki itu sudah lebih baik meski ada beberapa perban di tubuhnya.
"Reno, kau tidak apa?" tanya Bima yang khawatir.
"Tak apa, Om. Kita pulang saja. Perasaanku tak enak. Nindy dan Lisa bagaimana?" ucap Reno yang langsung duduk.
"Tenang dulu, Reno. Iya, kita akan pulang. Tetapi tunggu sebentar," jawab Daniel mencoba menenangkan
Boy pun merasa tak enak karena tahu Nindy menghilang setelah Dinda menghubunginya. Boy takut jika Reno syok. Boy pun menatap Bima dan Daniel berharap mereka paham kalau ada sesuatu hal yang terjadi.
Mendengar perkataan Bima, Reno pun merasa hal itu benar. Dia pun langsung bersender di ranjang IGD. "Ya, Om Bima. Maaf jika aku merepotkan," lirih Reno sambil menghela napas.
Setelah beberapa jam kemudian, Reno pun pulang bersama Bima, Daniel, dan Boy. Dalam perjalanan, mereka lebih banyak hening dan tak ada interaksi karena bingung bagaimana menjelaskan Nindy hilang dan kemungkinan dibawa Tuan Black-saingan Reno.
Bima pun mengirim pesan ke Ningsih. Memastikan jika istri dan anak-anaknya tidak dalam bahaya. Dia tahu jika banyak permasalahan yang akan datang jika dirinya masih di sekitar keluarga Ningsih karena aura kegelapan juga terpancar dari manusia yang bersekutu dengan Iblis.
Bima: [ Ningsih, bagaimana keadaan di sana? Apakah kau baik-baik saja? ]
Ningsih: [ Syukurlah kamu mengabari, Sayang. Kami baik-baik saja. Tapi Nindy menghilang. Dinda dan Lauren tidak bisa melacaknya ada di mana karena ada pengaruh gaib yang menutupi. ]
Bima: [ Tenang dulu. Kami dalam perjalanan membawa Reno pulang. Nanti soal Nindy, aku akan mencarinya sampai ketemu. Jangan khawatir, ya. ]
Ningsih: [ Terima kasih, suamiku Sayang. Aku berharap bisa bersamamu selamanya. ]
Bima hanya terdiam. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam kantong. Dia menahan rasa sedih karena dua minggu sudah berlalu. Itu artinya dua minggu lagi Bima harus berpisah dengan wanta yang paling ia cintai. Berpisah dengan kedua anaknya. Meninggalkan dunia manusia dan kembali ke dalam neraka.
...****************...
Tuan Black memepersiapkan semuanya. Setelah menikmati tubuh Nindy, dia memerintahkan para pengikutnya untuk segera bersiap berangkat ke Jepang dengan pesawat pribadinya.
Meski rasanya dunia Nindy hancur, dia harus kuat demi menyelamatkan keluarganya. Nindy masih diikat dan matanya ditutup sehingga tak tahu bagaimana wajah Tuan Black yang telah menodainya dengan paksa. Dia diletakkan di kursi roda. Masih dalam ikatan dan tutup mata, tetapi mulutnya tidak dilakban. Tuan Black senang berbincang dengan Nindy, meski Nindy menjawabnya dengan terpaksa.
Pesawat sudah siap, Tuan Black sudah mempersiapkan semua untuk kembali ke Jepang dengan membawa Nindy dan uang Reno yang seharusnya untuk pembangunan kost dalam investasi bersama. Tuan Black mengkhianati Reno dan investor lainnya. Dia sangat licik dan juga penuh tipu daya.
Mafia seperti Tuan Black jelas saja punya pegangan yang tak hanya secara manusiawi, tetapi juga back up secara gaib. Hal itu sudah bukan rahasia lagi. Tak hanya di dalam negeri, luar negeri pun menggunakan hal itu sebagai perlindungan. Manusia yang bersekutu dengan makhluk gaib dan mulai melupakan Sang Pencipta.
"Tuan, bagaimana dengan Reno yang lepas?" tanya salah satu bodyguard Tuan Black.
"Tak apa. Biarkan saja. Dia akan mendapatkan masalah setelah ini. Uangnya sudah kubawa. Istrinya pun sudah kubawa. Bisa apa dia?" ucap Tuan Black dengan penuh percaya diri.
Saat masuk ke pesawat, Tuan Black seketika merasakan nyeri dan sakit di bagian dada. Bersamaan dengan leluhurnya musnah, Tuan Black pun terjatuh dan meninggal. Membuat semua pengikutnya panik.
"Tuan Black, bertahalah!"
"Panggil petugas medis!"
"Cepat panggil medis. Tuan Black pingsan!"
Semua orang terlihat panik. Tak kecuali Nindy yang mencoba melepaskan diri, meski sangat susah. Dia sangat takut di sana, walau hanya gelap yang dia lihat karena ditutupi kain, tetapi dia mendengar dengan jelas semua keributan itu.
Seketika, sesuatu memeluk tubuh Nindy dan membisikkan sesuatu padanya. "Jangan bersuara, aku akan membawamu pulang."
Nindy pun hanya diam dan tiba-tiba, dia menghilang dibawa oleh Boy. Manusia setengah malaikat itu menyelamatkan Nindy setelah tahu istri Reno itu menghilang. Dia merasa bersalah karena Reno langsung pingsan mengetahui istrinya diculik Tuan Black. Boy pun mencoba mencari Nindy dan menemukan wanita itu di dalam pesawat yang tidak jadi terbang.
Boy segera membawa Nindy pergi untuk kembali ke Reno. Mereka semua menunggu di rumah Ningsih. Setelah sampai di sana, semua terharu dan menangis karena Nindy bisa selamat.
"Sayang, kau tidak apa?" tanya Reno dan Nindy bersamaan. Sama-sama saling khawatir dengan kondisi masing-masing. Mereka pun berpelukkan erat. Membuat suasana menjadi makin terharu.
"Boy, terima kasih sudah membawa pulang aku dan istriku," kata Reno yang berhutang budi pada Boy. "Terima kasih juga semua. Om Bima, Tante Ningsih, dan semua yang di sini. Aku bersyukur bisa bertemu keluargaku lagi," imbuh Reno. Mereka pun merasa lega. Seakan semua sudah berakhir.
Lantas, bagaimana nasib Tuan Black? Dia benar-benar meninggal karena leluhurnya musnah. Dia membuat perjanjian dengan leluhur dan saling terikat. Jika leluhurnya musnah, maka dia pun musnah. Meninggal mendadak dan membuat gempar keluarganya di Jepang. Jasad Tuan Black pun dibawa pulang ke negeranya oleh para pengikutnya.
Sesampainya di Jepang, semua merasa aneh akan kematian Tuan Black. Mereka menyadari satu hal, lawan Tuan Black juga menggunakan makhluk gaib untuk melawan. Keluarga Tuan Black pun tak terima dan merasa marah dengan kematian lelaki yang menguasai sebagian Jepang. Mereka mengirim orang untuk menyelidiki apakah ada hal yang membuat keluarganya meninggal seperti ini. Cepat atau lambat, keluarga Tuan Black pasti dapat menemukan penyebab kematian yang misterius. Salah seorang cenayang Jepang menerawang dan tahu jika arwah leluhur sudah dilenyapkan dan sebagai gantinya, Tuan Black diambil bersama lenyapnya leluhur sebagai ganti rugi perjanjian.