JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 159


πŸ€ AYAH (?) πŸ€


Penjagaan gerbang Neraka Lapis Keenam sangatlah ketat. Seperti gerbang Neraka lainnya yang memiliki penjaga berwujud anjing berkepala tiga dengan tinggi satu setengah meter yang menakutkan. Namun. hal itu tak membuat niat anak kecil itu surut.


"Ayah, apakah itu kau? Aku akan membebaskanmu," batin anak itu.


Saat Iblis membawa jiwa-jiwa berdosa yang baru saja dia panen, anak kecil itu menerobos masuk. Dia pun mencari jalan untuk menuju sosok yang dia yakini adalah ayahnya.


Setelah melewati penjaga, anak itu pun menghilang dan tiba-tiba sudah berada di dalam sel di mana makhluk yang diamatinya berada. "Hei, apakah kamu ayahku?" tanya anak itu pada Iblis di hadapannya.


Iblis itu hanya menatap anak kecil di hadapannya. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Mungkin, penyiksaan yang begitu banyak dia rasakan membuat tubuhnya penuh luka hingga tak bisa berkata. Dalam benak sang anak, meyakini jika ini adalah ayahnya.


"Aku akan membebaskanmu, Ayah. Sabarlah," gumam anak kecil itu yang perlahan melepas rantai yang membelenggu tangan, kaki, dan leher iblis itu.


Seketika, belenggu itu terputus. Anak itu memegang erat tangan Iblis yang sudah lemas tak berdaya itu. Dia pun memusatkan pikiran dan tenaganya untuk berpindah ke tempat yang lebih aman. Seketika mereka menghilang dari Neraka Lapis Keenam tanpa sepengetahuan siapa pun.


***


Kastil rumah Laurent ....


Anak kecil itu tak tahu harus ke mana membawa iblis yang dia bawa dari Neraka Lapis Keenam. Dia pun memilih ke kastil milik gadis tuna netra. Seakan tahu akan kedatangan tamu, Laurent dan Daniel ternyata sudah menunggu mereka.


Ketika mereka tiba-tiba muncul di dalam Kastil, "Welcome! Wah, anak baik!" seru Laurent mengagetkan anak itu.


"Kakak yang buta ini selalu saja mengagetkan. Kak, aku mau tanya, ini betul Ayahku?" kata anak itu menunjukkan Iblis yang digandengnya.


"Bi-Bima ... apa yang terjadi?" ucap Laurent yang merasa sesuatu terjadi pada Bima.


Daniel bingung karena tak bisa melihat hal gaib. Seakan Laurent berbicara sendiri. "Daniel, kemarilah, aku akan buka mata batinmu. Bantu aku merawat Bima. Jangan takut, ya," kata Laurent pada Daniel.


"Baik. Aku tak akan takut. Demi melindungimu," jawab Daniel.


Laurent mengusap kedua mata Daniel dengan tangannya dan mengucap mantra yang hanya dipahami olehnya. Lalu, seketika saat Daniel membuka matanya, dia langsung terkejut melihat wujud Iblis yang sering diajak bicara Laurent.


"Tak usah takut, mereka tidak akan melukai," ucap Laurent sambil tertawa karena reaksi Daniel yang terkejut.


Laurent pun mendekati Bima. Sama sekali Bima tak bisa berbicara. Seakan trauma yang membuatnya menjadi bingung dan takut. Energi Bima pun dihisap habis oleh entah siapa. Laurent mengepalkan tangan dan geram. "Bisa-bisanya menyekap Bima yang terluka parah hanya untuk mengambil energinya. Dasar Iblis terkutuk! Siapapun itu, pasti suatu saat akan kena batunya!" rutuk Laurent yang marah.


"Kak, ini benar Ayahku?" tanya anak itu dengan lugu.


Laurent tak bisa membendung air matanya. Dia pun mengelus kepala anak kecil itu. "Iya ... dia Ayahmu. Namun, entah apa yang terjadi, hingga Ayahmu seperti lupa ingatan dan tak memiliki energi lagi. Pantas saja selama ini aku mencoba mencarinya tak ketemu," lirih Laurent berharap anak kecil itu tak bersedih.


"A-Ayah ... huhuhuhu ... siapa yang melakukan ini pada Ayah? Aku akan membantu menyembuhkan Ayah. Kakak bisa bantu aku?" tanya anak kecil itu sambil menangis.


"Bisa, meski memakan waktu lama. Ayo kita berusaha!" ucap Laurent optimis.


"Sayang, ingat kesehatanmu yang belum stabil," kata Daniel mengingatkan.


"Iya, tetapi Bima harus kita bantu. Kebetulan lusa adalah purnama, kita bisa membantunya. Apalagi ada anaknya Bima yang hebat," jawab Laurent sambil menyeka air matanya. Dia yakin semua ada tujuan tersendiri. Seperti hadirnya anak kecil nan lucu ini. Entah takdir, atau memang Bima seakan tahu apa yang akan terjadi ke depan.


Mereka pun meletakkan tubuh Bima di ranjang yang besar. Wujud asli Bima yang mengerikan tak membuat Daniel enggan menolong. Justru Daniel bersyukur diberi kesempatan untuk melihat apa yang selama ini istrinya lihat.


Gadis tuna netra itu bahkan bisa melihat jauh lebih baik dari manusia normal. Dia pun bisa melihat isi hati orang. Tak jarang dahulu saat bersekolah, banyak orang mengucilkannya dan membencinya karena geram dengan segala tebakan Laurent yang selalu benar.


***


Satu hari kemudian ....


Anak kecil itu mentransfer energinya perlahan pada Bima. Untuk memulihkan ingatan Bima, Laurent pun membantu memberikan energinya. Semua berusaha keras untuk memulihkan Bima. Perlahan, luka mengaga di sekujur tubuh Bima mulai menutup dan sembuh.


"Hari ini cukup dulu. Kita juga harus istirahat. Persiapan yang baik untuk menyambut purnama. Bima akan segera pulih," kata Laurent yang terlihat lelah.


"Terima kasih, Kak. Kakak hebat sekali. Tidak seperti manusia biasa. Sebenarnya Kakak keturunan siapa?" tanya anak kecil itu.


"Laurent, istirahatlah dahulu. Ini minum teh gingsengnya," ucap Daniel yang membawa segelas minuman yang sudah biasa diminum Laurent jika lelah.


"Iya, terima kasih Daniel. Emm, aku ini sebenarnya kesalahan yang hadir pada orang tuaku." lirih Laurent dengan nada bicara sendu.


"Kenapa kesalahan? Bukankah anak tak bisa memilih siapa orang tuanya?" selidik anak kecil itu membuat Laurent membuka luka lama.


"Papa Mamaku sangat menyayangiku karena aku anak satu-satunya. Namun, tidak dengan nenekku. Dia salah satu manusia yang bersekutu dengan kegelapan dan menjadi ahli sihir. Saat mengetahui aku lahir, dan ternyata perempuan, Nenek sangat kecewa. Dia berusaha menyihirku agar menjadi lelaki. Bukannya aku menjadi lelaki, justru aku menjadi buta. Karena takut ketahuan Papa Mamaku, Nenek memberikan ilmu sihirnya padaku. Agar aku bisa melihat dengan cara lain karena kedua korneaku sudah berubah menjadi warna putih. Begitulah ...." jelas Laurent menahan sedih.


Daniel tersenyum melihat mereka. Meski anak itu makhluk gaib, tetapi Daniel senang jika melihat istrinya senang. Menolong adalah bagian hidup Laurent yang tak bisa dihindarkan. Laurent bahagia jika bisa menolong orang lain, bahkan makhluk gaib sekalipun. Itulah sifat Laurent yang membuat Daniel jatuh cinta.


***


Saat purnama tiba ....


Daniel membantu menyiapkan semuanya. Dia tahu malam ini akan menjadi malam yang panjang. Laurent dan anak kecil itu bersiap untuk melakukan yang terbaim agar Bima segera pulih.


"Kekuatan purnama membuat energi gaib meningkat seratus persen. Saat yang tepat untuk mengembalikan kekuatan Bima dan membawa ingatannya kembali. Kamu sudah siap, Nak?" kata Laurent pada anak kecil itu.


"Siap, Kak. Ayo kita lakukan!" sahut anak kecil itu.


Laurent pun merapalkan mantra. Tepat saat sinar purnama masuk dari jendela, menyinari tubuh Bima dengan sempurna. Mereka berdua pun lekas menyalurkan energi kepada Bima.


"Wahai purnama, bantulah kami memulihkan energi Bima. Pulihkan ... pulihkan!" seru Laurent sambil mentransfer energi.


Cahaya putih bercampur biru keluar dari tubuh Laurent dan anak itu lalu mengalir dan masuk ke tubuh Bima. Perlahan, Bima dapat menggerakan tangannya. Lalu, seketika sinar itu seakan meledak.


Dentuman terdengar dan menyilaukan mata. Daniel langsung memeluk tubuh Laurent agar tak terluka. "Kau tak apa, sayang?"


"Tak apa ... kita ... berhasil." kata Laurent sambil menatap Bima yang sudah bangkit dari ranjang.


"TERIMA KASIH." Ucapan yang pertama Bima katakan membuat Laurent bersorak karena berhasil. Sedangkan anak kecil itu masih terdiam mengamati ayahnya. Berharap ayahnya mengenalinya.


"Bima! Akhirnya kamu sadar. Apa yang terjadi? Aku sangat takut saat mencarimu ke mana-mana tetapi tak ketemu. Jangan menghilang lagi." celoteh Laurent yang bahagia Bima sudah pulih. Dia pun memeluk tubuh Bima. "Bagiku, kamu bukan Iblis. Kau adalah makhluk yang berhati baik."


"SUDAH JANGAN BANYAK MEMUJI. TERIMA KASIH SUDAH MEMBEBASKANKU ... OH, ANAK INI ...." kata Bima terhenti saat melihat anak kecil yang sedari tadi menatapnya.


"Bima, dia itu ...." Belum selesai Laurent berbicara, Bima sudah tahu siapa dia.


"ANAKKU? BENARKAH ITU KAU?" tanya Bima memastikan.


Air mata pun jatuh dari sudut mata anak kecil yang kemudian berlari ke dalam pelukkan Bima. "Iya, Ayah. Ini aku ... huhuhuhu ... ini aku!" seru anak kecil itu sambil menangis haru.


Bima memeluk erak tubuh anaknya. Anak yang tampan dan baik. "TERIMA KASIH, NAK. TERIMA KASIH BANYAK." kata Bima yang tak henti mencium kening anaknya.


"Jangan pergi lagi, Ayah. Jangan tinggalkan aku dan Ibu. Kami membutuhkanmu." lirih anak kecil itu.


"DI MANA IBUMU, NAK? BAGAIMANA KONDISINYA? APAKAH AKU TERLALU LAMA MENGHILANG?" tanya Bima yang langsung mengkhawatirkan kondisi Ningsih. Entah berapa lama Bima tak sadarkan diri, dia semakin khawatir dengan Ningsih.


"Ibu baik-baik saja, Ayah. Aku sudah mengajak Ibu kembali ke tubuhnya. Dia berada di tempat Kakak." jelas anak kecil itu yang belum tahu jika nama tempat itu adalah pesantren.


"KAMU ANAK YANG PINTAR DAN BAIK. AYAH BANGGA PADAMU, NAK." kata Bima yang membuat Laurent tersenyum.


"Eghm ... jadi yang baik cuma si kecil itu, ya? Ha ha ha ...." ledek Laurent pada Bima.


"KAU JUGA BAIK, GADIS BUTA. KAU SUDAH BERSAMA LELAKI BODYGUARDMU ITU?" Bima pun tersenyum.


"Iya, Tuan Bima. Laurent sudah menikah denganku," jawab Daniel dengan lantang.


"KAU BISA MELIHATKU?" Bima bingung.


"Tentu. Aku yang membuatnya bisa melihat makhluk gaib. Ha ha ha ... biar tahu seperti apa wajahmu!" Laurent selalu saja meledek Bima karena mereka memang suka bercanda.


"BAGUSLAH KALAU BEGITU!"


Dalam percakapan itu, anak Bima pun menyela. "Ayah, lantas setelah Ayah bangun, apakah aku akan diberi nama? Selama ini semua memanggilku dengan sebutan anak kecil. Aku ingin memiliki nama," kata anak Bima protes.


"Ha ha ha ... betul juga," imbuh Laurent.


Bima tersenyum lalu berjongkok untuk bisa melihat wajah anaknya dengan jelas. Bima tak percaya jika akhirnya dia bisa memiliki keluarga seperti manusia. "NAMAMU ... ALEX. ALEXANDER." kata Bima membuat anak kecil itu berbinar.


"Terima kasih, Ayah. Nama yang indah. Yeay! Namaku Alexander. Ayo, Kak, panggil aku Alex, ya. Mulai sekarang namaku Alex. Yeay!" seru Alex dengan girang.


***


*) Alexander dari bahasa Yunani yang artinya Pembela manusia.