JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 127


πŸ€ IBLIS TETAPLAH IBLIS πŸ€


Malam kian larut, penyelidikan dari pihak kepolisian pun terhenti karena kurangnya bukti menjadi kendala utama. Ningsih masih syok dan terpukul atas kejadian itu. Dia merasa salah langkah dan takut jatuh miskin lagi.


"Maaf, Bu. Penyelidikan akan kami lanjutkan besok. Untuk saat ini rumah akan kami segel untuk lanjutan penyidikan. Tim penyidik akan menempatkan beberapa polisi berjaga di sini," jelas polisi yang menangani kasus perampokan di rumah Ningsih.


"Berarti saya dan pegawai saya harus meninggalkan rumah ini sementara?" tanya Ningsih yang masih lemas.


"Iya, Bu. Besok tim kami akan mengabari lebih lanjut."


Ningsih terdiam dan lemas. Joko berinisiatif mengajak Ningsih dan Nindy pergi. "Dek, pulang rumah aja. Ningsih, gimana kalau menginam di rumah Abahku?" kata Joko yang khawatir dengan Ningsih.


"Tidak usah, terima kasih. Sebentar lagi Bima datang. Mungkin sudah di depan," lirih Ningsih yang meyakini suami gaibnya segera ke rumah ketika dia memanggil dalam hati.


Tepat seperti dugaan Ningsih, Bima berada di depan dengan wajah cemas. "Ningsih, kamu nggak apa-apa?" ucap Bima yang terburu-buru menghampiri Ningsih.


"Bima ... kenapa orang-orang itu tega," kata Ningsih dengan sangat sedih.


"Sudah tak apa. Kita pergi dahulu dari sini," ujar Bima, kemudian meminta kunci mobil pada Joko. Supir pribadi Ningsih itu lantas memberikan kunci salah satu mobil pada Bima.


Bima mengajak Ningsih pergi. Joko pun pulang dengan Nindy mengendarai motornya. Terlihat mobil yang digunakan Bima menjauh dan hilang ditelan jalanan yang sepi di malam itu. Sepanjang perjalanan, Bima mencoba menenangkan Ningsih.


"Sudah, sayang. Tenang dulu. Aku akan beri pelajaran kepada mereka. Soal lelaki kepala sekolah tempo lalu juga sudah kubereskan." dengus Bima kesal dengan manusia-manusia serakah dan penuh napsu yang selalu mengganggu Ningsih.


"Ma-maksudnya? Bima, kamu menghilang hanya untuk membunuh Pak Hansen?" tanya Ningsih yang terbelalak, tak percaya dengan ucapan Bima.


"Iya, kubuat dia bunuh diri dengan perlahan di rumah tahanan. Dalam sel yang gelap dan suram. Dia ketakutan melihatku dan membentur-benturkan kepala ke dinding hingga luka parah. Baru saja dia meninggal saat aku datang ke rumahmu," ucap Bima dengan seringai yang mengerikan.


Ningsih yang menjadi istri dari Bima pun terkadang bergidik ngeri melihat seringai itu. Ningsih lupa jika Bima tetaplah Iblis. Mempunyai sudut gelap yang tak bisa dijangkaunya.


"Bima ... harusnya tak perlu kamu lakukan itu. Dia juga sudah diproses hukum dan akan mendapatkan sidang putusan hukuman minggu depan."


Ningsih menunduk, kecewa. Bima terlihat begitu menggebu untuk balas dendam. Seolah hal itu kebiasaanya. Padahal hal ini semata karena Bima ingin melindungi istrinya dari manusia keji tak bermoral.


"Hukum dunia manusia itu tak adil. Lantas si perampok yang tadi ke rumah juga kena hukum? Aku yakin tak mudah mereka menemukan. Ningsih mau melihat mereka? Aku sudah menemukan tempat persembunyian mereka." Bima melirik ke arah Ningsih. Dia tahu betul Ningsih marah karena hartanya dicuri orang. Kemungkinan besar Ningsih pasti mau diajak menghabisi perampok itu.


"Bima ... bawa aku ke mereka. Aku ingin melihat siapa mereka yang berani mencuri di rumahku," lirih Ningsih dengan mata berapi-api menahan emosi.


"Lalu hanya ingin melihat saja? Orang-orang itu masih pantas hidup?" Bima menguji kesabaran Ningsih.


"Kita lihat saja nanti. Siapa mereka dan mengapa mereka menggangguku."


Mendengar jawaban Ningsih, Bima tersenyum puas. Pada dasarnya manusia sejak dulu saling menyingkirkan untuk mendapat kedudukan. Bahkan dosa yang menjadi lingkaran Iblis adalah dendam manusia yang tak ada habisnya.


Bima pun melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan pinggiran kota yang sudah sepi. Menuju ke tempat persembunyian perampok yang sudah Bima ketahui tempatnya. Kawasan yang terbengkalai, gudang besar yang pernah mengalami kebakaran dahsyat. Kelima orang bengis itu berada di sana merayakan keberhasilan mereka menggasak kekayaan Ningsih.


"Ha ha ha ha ... harusnya kita sabar nunggu tuh janda pulang biar bisa culik sekalian!" Perampok dengan tattoo naga tertawa sambil menenggak minuman alkohol di dalam botol berwarna bening.


"Wah, ide Lu bener juga. Gue juga demen model begitu. Kenapa tadi kagak kepikiran?" sahut perampok dengan kumis tebal yang sudah mulai mabuk.


"Kalian yang dipikir cewek doang! Kalau kita-kita ketangkap bisa ****** lah! Bagus begini aja dapat uang dapat barang. Besok kita cari tempat senang-senang!" kata perampok berbadan besar dan gagah yang sepertinya pemimpin mereka.


Ketiga perampok itu masih bercakap sambil mabuk-mabukan sedangkan dua orang lainnya sudah terlelap karena terlalu banyak minum. Mereka tak membayangkan jika malam itu menjadi tragedi yang panjang.


Bima dan Ningsih sudah sampai di dekat gudang tua itu. Terlihat dari kejauhan, cahaya yang bersumber dari bakar-bakaran kayu para perampok. "Ningsih, mobil kita tinggal di sini saja. Kamu ingin mendekat atau tetap di mobil?" tanya Bima pada istrinya yang sedari tadi sudah mengepalkan tangan.


Bima tersenyum mendengar jawaban istrinya. Memberi pelajaran kepada penjahat bukankah tak apa? Bima dan Ningsih pun berjalan mendekat tanpa bimbang. Melihat ada yang mendekat, perampok bertatto itu lekas mengajak kawannya siaga.


"Ada orang mendekat! Ayo siap-siap! Jangan lengah. Bangunkan dua sampah itu!"


Mendengar hal itu lantas mereka bersiaga. Kedua orang yang sudah mabuk tak mau dibangunkan jadi ketiga perampok yang sudah agak sempoyongan itu menggertak Bima dan Ningsih.


"Siapa Lu berdua? Ngapain ke sini! Nyasar ya?" gertak Bos perampok yang berbadan besar.


"Eh, itu cewek bahenol mirip ama rumah target kita tadi, Bos!" kata perampok yang berkumis.


"Beneran, Bos. Mirip! Apa Gue ngantug kali ya?" sahut perampok bertatto naga.


Bima menatap Ningsih seakan mengisyaratkan apa yang harus dia katakan. "Iya, aku wanita yang rumahnya kalian rampok! Aku tak kenal kalian jadi kenapa menggangguku?" kata Ningsih yang membuat ketiga perampok itu melotot.


"Mau setor nyawa Lu kemari? Bawa laki seorang begitu mau lawan kita? Awas ya!" Bos perampok itu mulai menyerang.


Bima langsung menunjuk dan menjatuhkan orang itu dengan sekali ayunan jari. Dua perampok yang lain langsung mencoba menyerang Bima. Jelas percuma. Justru mereka terpental dan luka parah.


"Ningsih, mau diapakan mereka ini?" tanya Bima kepada istrinya.


"Bagaimana kalau kita lihat siapa mereka sebenarnya?" jawab Ningsih sambil tersenyum penuh arti.


Bima pun mengabulkan permintaan Ningsih. Dia membuat kelima perampok itu berdiri tegak. Dua perampok yang tertidur karena mabuk pun terbangun dan bingung.


"Ningsih, lihatlah orang ini. Bos dari kumpulan pendosa. Dia perampok, pembunuh, dan menjadi predator bagi anak di bawah umur. Baiknya kita apakan dia?" ucap Bima sambil menghampiri perampok berbadan besar yang tak bisa bergerak. Bima mengunci tubuh mereka sehingga mereka hanya bisa mendengar tetapi tak bisa melakukan apapun.


"Hukuman apa yang pantas untuk predator anak-anak? Dasar penjahat!" Ningsih pun semakin emosi.


Bima pun dengan sekali tebas memenggal kepala perampok pertama. Darah mengucur deras dari lehernya. Terlihat keempat perampok yang lain ketakutan.


"Bagaimana, Ningsih? Hukuman setimpal? Lalu orang berkumis ini ... selain menjadi perampok, dia juga pemerkosa, pembunuh, dan menerlantarkan anak istrinya. Hukuman apa yang pantas untuknya?" kata Bima membuat Ningsih semakin geram.


"Cincang dia! Dasar penjahat kelamin!" teriak Ningsih yang mulai menikmati penghakiman itu.


Bima pun melakukan seperti yang Ningsih katakan. Aroma ketakutan itu, jiwa penuh dosa itu, semua menjadi kesukaan Bima yang tak bisa dielakkan. Malam itu dia panen jiwa berdosa. Perampok kedua itu sudah dicincang oleh Bima. Sisa tiga lagi yang terlihat pucat ketakutan.


"Orang bertatto naga ini menjadi perampok karena terbujuk rayuan kawannya yang baru saja tercincang. Namun, kejahatannya juga mengerikan. Membunuh ibu kandung karena tak diberi uang, pernah mencuri dari pedagang kecil hingga menghilangkan nyawa orang demi uang lima puluh ribu. Hukuman apa baginya, Ningsih?"


"Ambil darahnya sampai habis! Bisa-bisanya membunuh ibu sendiri!" Ningsih menjadi kejam karena mendengar perbuatan mereka yang sungguh keterlaluan. Bima mewujudkan apa yang dikatakan Ningsih. Bima mengeluarkan lintah dari dalam kobaran api neraka yang kemudian menghisap darah orang itu hingga habis.


"Kedua orang ini ... hanya perampok biasa. Namun, dosanya sama. Mereka bersenang-senang dan menindas anak istri. Menerlantarkan dan menikmati hasil jarahan untuk kepuasan duniawi. Manusia yang aneh! Hukuman apa yang cocok bagi mereka berdua, sayang?" Sekali lagi Bima mampu memancing emosi Ningsih makin membara.


"Lemparkan mereka segera ke api Neraka! Aku tak ingin melihat orang-orang itu lagi. Ayo kita pergi, Bima." ucap Ningsih dengan tegas.


"Baik, sayang." Bima pun membakar kedua orang itu bersama ketiga mayat kawannya dalam api neraka. Tak menyisakan bekas dan tak membuat orang mengetahui hal itu pernah terjadi. Lima orang perampok yang sudah dihakimi menurut kesalahan mereka.


Ningsih masuk dalam mobil dengan rasa yang berkecamuk. Bima pun masuk dalam mobil serta mulai melaju ke arah villa milik mereka di puncak.


"Sekarang kamu tahu seperti apa perasaanku saat menghabisi orang-orang yang mengganggumu. Aku dengan mudah melihat kesalahan mereka. Aroma dosa mereka. Melihat semua kejahatan yang sudah dilakukan. Lalu bagaimana aku bisa menahan untuk tak melenyapkan manusia yang mengganggu hidupmu? Ningsih, aku harap kau tahu semua ini hanya demi melindungimu. Demi kamu ...." jelas Bima sambil mengusap tangan Ningsih.


Ningsih masih terdiam dengan tatapan nanar ke depan. Dia masih tak menyangka apa yang diucapkan tadi dan apa yang dia saksikan seperti pembantaian manusia. Jika perampok itu berdosa dan bersalah, lantas pantaskah Ningsih ikut andil mengambil nyawa mereka? Ningsih menjadi tak enak hati. Bukan hanya karena secara tak langsung membunuh orang, pun juga dia merasakan sisi kemanusiaannya mulai luntur. Ningsih pun menoleh ke arah Bima. Menatap suaminya yang terlihat selalu tampan dan mempesona. Ningsih tak dapat berkata apa-apa. Bukankah Iblis tetaplah Iblis? Rasa ngeri itu pun kembali muncul dan membuat bulu kuduk Ningsih meremang..


Bersambung ....