
π ANTARA RASA DAN LOGIKA π
Rumah sakit teihat semakin sunyi seiring waktu jenguk pasien berakhir. Abah masih berbaring di ICU dan belum sadar. Sedangkan Ibu dan Nindy menjaga di luar ICU dan tak pulang. Sore itu, Joko baru saja mengambil uang dari ATM Nindy. Uang gaji mereka dan tambahan dari Ningsih untuk biaya berobat Abah.
"Bang, uangnya sudah masuk?" tanya Nindy saat Joko kembali dari tempat parkir yang ada ATM Center.
"Sudah, Dek. Sana bilang terima kasih. Bu Ningsih beri Ibu lima juta buat bantu berobat Abah." kata Joko memberi perintah adiknya.
"Alhamdulilah, Bang. Tante Ningsih baik banget, ya. Nindy mau telepon aja. Sebentar, ya," ucap Nindy sambil berlalu ke taman untuk menelepon Tante Ningsih.
Joko di sana, menggampiri ibunya. "Bu, nggak usah khawatir, ya. Nanti biaya Abah pakai uang gaji Joko dan Nindy saja. Ini Bu Ningsih juga titip lima juta buat bantu biaya Abah." lirih Joko sambil mengusap bahu ibunya yang sudah menua.
Sebagai anak lelaki dan anak sulung, Joko terkadang merasa malu tak bisa merangkul keluarganya. Dia masih merasa kurang dalam mencukupi kebutuhan. Terlebih, soal kesehatan Abah yang kian menurun. Joko merasa bersalah dan tak berguna.
"Alhamdulilah, Bang. Bos kamu itu sudah cantik, baik juga. Ibu sama Abah hutang budi banyak sekali." sahut Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, Bu. Entah kenapa, lama-kelamaan malah Joko nggak enak sendiri ama Bu Ningsih. Dia baik banget sama keluarga kita." Joko menghela napas. Sebagai lelaki, pasti ada rasa tak enak hati jika terus menerus diberi. Begitu juga yang dirasakan Joko.
"Iya, Bang. Ibu tahu. Tapi bagaimana lagi ... anggaplah ini sebagai rezeki dari Allah."
Pembicaraan itu pun terhenti saat Nindy kembali. Dia sudah menelepon Ningsih untuk mengucapkan terima kasih. Nindy pun menceritakan kalau Ningsih akan berkunjung nanti malam.
***
Ningsih bersiap pulang setelah selesai breafing pergantian sift satu ke sift dua. Dia juga berpesan kepada seluruh karyawan agar rajin mengisi laporan dan menyerahkan laporan di meja kasir tiap akhir sift. Ningsih pun bergegas pulang, mengajak Bima juga pulang ke rumahnya.
"Bima, ayo pulang ke rumah. Kamu harus banyak istirahat." lirih Ningsih mengelus bahu suaminya.
"Iya, terima kasih, Ningsih."
Bima menatap sendu wanita di hadapannya, yang kemudian mengulurkan tangan padanya. Wanita yang begitu dia cintai. Ada rasa bersalah yang begitu dalam menusuk sanubari karena membuat Ningsih terperosok dalam lembah nan gelap. Namun, apa daya. Semua sudah terjadi.
Sesampainya di rumah, Ningsih segera ke kamar karena tahu Bima sudah menantinya di sana. Bima sengaja mengubah wujud ke asli untuk menghemat energi. Sembari menunggu tumbal ketujuh yang Ningsih harus tuntaskan. Meski dalam hati Ningsih, tak ingin menduakan suaminya yang sedang sakit seperti itu.
Ningsih membuka pintu kamar, kemudian bergegas menutupnya kembali. Ningsih pun mandi dahulu karena nanti malam dia akan ke rumah sakit. Saat itu sekitar pukul 17.00 dan sejak tadi Nindy menelepon, Ningsih mempunyai ide yang bagus.
Setelah mandi, Ningsih berganti pakaian dan menjelaskan ke Bima bahwa dia akan ke rumah sakit menjenguk Abahnya Joko.
"Aku ikut! Aku lupa jika Joko menaruh hati padamu. Rasa cemburunya, akan menjadi santapan untukku dan menghasilkan energi, meski tak banyak. Lumayan. Lagi pula, si rumah sakit banyak hawa kesedihan dan rutuk, itu semua bisa kuserap untuk mendapatkan energi tambahan." jelas Bima yang tentu Ningsih tak bisa pahami.
Iblis memakan hawa dan aura kesedihan, marah, cemburu, bahkan kebencian yang keluar dari hati dna pikiran manusia. Semakin banyak hal negatif itu, semakin kuat Iblis.
"Baik, sayang. Ayo bergegas!" Ningsih pun bersemangat turun ke lantai satu dan keluar dari rumahnya. Bima segera menanti Ningsih di dalam mobil sebelum mengubah wujud jadi manusia dalam perjalanan.
"Mau ke mana lagi, Nyonya?" tanya Pak Umar yang sedang menyeduh kopi.
"Eh, iya, Pak. Saya mau ke rumah sakit, nengoj Abahnya Joko dan Nindy. Bapak mau ikut?"
"Waduh, mau sih, Nyonya. Tapi saya takut ninggal rumah gedong begini tanpa penjaga. Apa lagi pernah kecolongan. Ampun, Nyonya. Saya jaga di pos saja," sahut Pak Umar dengan gaya bahasa yang lucu.
"Iya, Pak. Jangan capek-capek, ya. Nanti saya pesankan makanan online buat Pak Umar," seru Ningsih seraya masuk ke mobil, lalu melaju dengan perlahan meninggalkan rumahnya.
Ningsih tersenyum. Pak Umar sangat baik dan pekerja keras. Dia menafkahi anak dan istri yang ada di desa serta bermimpi membuat panti asuhan. Ningsih berniat akan membantu jika usaha restonya sudah stabil.
"Ningsih ... satpammu tadi orang baik." kata Bima tiba-tiba di samping Ningsih.
"Iya, Bima. Dia punya impian mulia, ingin mendirikan panti asuhan di desanya karena banyak anak gelandangan," jawab Ningsih sambil menyetir mobil.
"Sayang sekali ...." lirih Bima dan terhenti.
"Kenapa Bima? Pak Umar kenapa?" Ningsih jadi curiga dengan perkataan Bima yang terhenti.
Bima menatap Ningsih. "Pak Umar sakit kanker otak stadium akhir. Selama ini dia tidak mau mengeluh sakit dan tetap bekerja demi keluarganya. Umurnya tidak lama lagi." kata Bima sambil tertegun.
"Pak Umar? Kasihan sekali ... Nanti aku akan ajak dia periksa!" kata Ningsih yang sedih, terkejut, dan khawatir dalam waktu bersamaan.
"Kalau begitu ... bolehkah aku membantunya mewujudkan impiannya dan memberi sesuatu untuk keluarganya agar bisa bertahan hidup setelah kepergiannya?" tanya Ningsih dengan hati-hati.
"Tentu, boleh. Hati istriku memang lembut dan sangat baik seperti malaikat. Berbeda jauh denganku. Ha ha ha ha ...." ucap Bima sambil menertawakan dirinya sendiri.
"Bima, bisa aja! Nggak terasa, dah sampai. Pas jam tujuh, waktu menjenguk pasien."
Mereka pun memarkirkan mobil, lalu keluar dan berjalan ke pintu masuk rumah sakit. Ningsih sudah mengetahui ICU tempat Abah dirawat, jadi tak susah dia mencari ruangan itu.
"Ningsih, aura di sini menyegarkan," desis Bima sambil menghirup semua hawa negatif di sana.
Setiap koridor yang dilewati menyajikan kenikmatan bagi Iblis seperti Bima. Rasa sedih ... kesakitan ... putus asa ... rutuk ... umpatan ... bahkan ada yang tega menyalahkan Sang Pencipta. Bima tersenyum karena semua itu membuatnya kembali segar. Lumayan menyembuhkan luka di dada bekas pertarungan dengan makhluk penglaris.
"Bima ... bukannya hawa di sini jadi makin panas?" tanya Ningsih sambil mengapit lengan suaminya.
"Iya ... penghuni rumah sakit marah karena aku menyerap semua makanan mereka. Tenang saja. Semua aman terkendali." kata Bima yang kemudian menyeringai.
Ningsih hanya terdiam. Dia tahu jika semua akan aman dan baik-baik saja selama Bima di sampingnya. Mereka pun sampai di ruangan ICU.
Terlihat Ibu sedang duduk di kursi, Nindy di sampingnya, sedangkan Joko berdiri menatap kaca ruangan ICU. Ningsih mendekati mereka. Dia hendak melepaskan tangan dari Bima. Namun, Bima masih memegang tangannya dan tersenyum.
"Selamat malam, Ibu ... Nindy ... Joko," sapa Ningsih yang membuat mereka langsung menghadap ke arah suara Ningsih.
"Tante Ningsih!" seru Nindy seraya bangkit berdiri dan menghampiri, lalu mencium tangan Ningsih dan tangan Bima.
Ibu pun bersalaman dengan Ningsih dan Bima. Berbeda dengan reaksi Joko yang tak suka melihat Bima di samping Ningsih.
"Joko, kok diam aja? Itu bos kamu datang. Sapa atau bilang terima kasih!" ucap Ibu dengan nada agak tinggi membuat Joko tak enak hati.
"Hmm, iya, Bu. Selamat malam, Ningsih dan Tuan Bima. Terima kasih sudah ke sini dan memberi kami bantuan," kata Joko dengan terpaksa. Dalam hatinya, rasa cemburu itu semakin nyata.
Bima hanya tersenyum menatap lelaki itu. Membuat Joko semakin memendam api cemburu.
"Iya, Joko. Sama-sama. Bagaimana keadaan Abah?" tanya Ningsih yang berjalan menghampiri Joko. Bima melepaskan tangan dari tautannya dengan Ningsih.
"Abah belum sadar ... kondisi Abah menurun." kata Joko menatap kaca pembatas ruang ICU dengan sedih.
"Sabar, ya, Joko ... dokter pasti lakukan yang terbaik untuk Abah. Kamu harus tegar dan kuat," ucap Ningsih seraya mengelus pundak lelaki tinggi berwajah arab itu.
"Iya ... terima kasih." Rasa nyaman Joko dapatkan saat belai lembut tangan Ningsih menyentuh pundaknya. Joko benar-benar menginginkan Ningsih. Meski sudah bekerja lebih dari empat tahun, rasa itu selalu ada.
"Sayang, jangan lupa tadi yang mau kamu beri ke Ibunya Joko," celetuk Bima membuat angan Joko menghilang.
"Oh, iya. Terima kasih, sayang, sudah diingatkan," jawab Ningsih yang tersenyum menatap Bima. Membuat dada Joko semakin nyeri. Bima menikmati cemburu itu menjadi santapannya.
Ningsih berdiri di samping Ibunya Joko, lalu menyerahkan amplop coklat pada beliau. "Bu, ini tolong diterima pemberian Ningsih dan Bima untuk membantu pengobatan Abah. Jangan ditolak, ya, Bu," lirih Ningsih.
"Masya Allah ... terima kasih banyak. Tadi bukannya Nyonya sudah transfer ke Nindy? Masya Allah baiknya Nyonya. Semoga Allah melancarkan rezeki Nyonya Ningsih dan Tuan Bima." kata Ibunya Joko tak henti-henti mendoakan.
Joko tertunduk. Dia merasa malu dan tak berdaya soal keuangan. Dia semakin iri dan cemburu dengan Bima dengan semua kemudahannya. "Andai aku kaya. Andai aku bisa bersama Ningsih. Arrrg!" rutuknya dalam hati dan tentu didengar Ningsih dan Bima saja.
"Bu, tak usah begitu. Ningsih malah nggak enak hati. Ningsih tulus ikhlas kok." kata Ningsih dengan senyuman di wajahnya.
Bima sengaja memeluk pinggang Ningsih. Lalu berkata, "Sayang, sudah mulai malam. Kita masih ada acara, 'kan?" Bima sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ningsih pun paham dan pamit pulang kepada Ibu, Nindy, juga Joko. Mereka pun mempersilahkan dan mengucapkan terima kasih kepada Ningsih dan Bima. Tentunya, Joko semakin kesal melihat tangan Bima yang kekar merangkul pinggang Ningsih yang langsing. Bagi Joko, hal itu seakan sengaja dipertontonkan.
Ningsih dan Bima melangkah keluar dari rumah sakit. "Bima, kamu sudah segar? Sudah pulih?" tanya Ningsih antusias melihat suaminya terlihat lebih segar.
"Lumayan, sayang. Apalagi kecemburuan Joko membuat energiku pun naik hingga 30% saat ini. Kamu bisa mencari waktu yang tepat untuk tumbal ketujuh karena energiku mulai terisi lagi," jawab Bima sambil memeluk dan mengecup dahi Ningsih.
Bersambung ....