JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 66


~~ Kau kan selalu tersimpan di hatiku


Meski ragamu tak dapat ku miliki


Jiwaku kan selalu bersamamu


Meski kau tercipta bukan untukku


Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi


Hanya untuk bersamanya


Ku mencintainya


Sungguh mencintainya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya...


Mengapa cinta ini terlarang


Saat ku yakini kaulah milikku


Mengapa cinta kita tak bisa bersatu


Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu


Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi


Hanya untuk bersamanya


Ku mencintainya


Sungguh mencintainya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya...


Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi


Hanya untuk bersamanya


Ku mencintainya


Sungguh mencintainya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya


Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi


Hanya untuk bersamanya


Ku mencintainya


Sungguh mencintainya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya... ~~


Lagu yang selalu Reno dengarkan sambil menunggu kabar dari Ningsih. Meskipun Ningsih berkata kepergiannya ke Singapura adalah perjalanan bisnis, tak semudah itu Reno percaya. Kecemburuannya bukan tak mendasar. Rasa itu berkecamuk ketika Ningsih yang sudah sekian lama tak bersama lelaki, sekarang mulai dekat dengan lawan jenis.


Pagi itu, sehari sebelum Ningsih pulang....


Reno masih di dalam kamar meski jam melaju sudah pukul sembilan. Sedangkan Santi sedang bermain dengan Wahyu.


Bel dari gerbang pintu rumah Ningsih berbunyi. Budi bergegas membukakan gerbang. Seorang gadis remaja di sana terlihat cemas.


"Maaf Mas, mau cari Bang Joko apa benar kerja di sini?" tanya gadis itu dengan lugu.


"Oh iya, betul. Adik ini siapa ya? Ada perlu apa?"


"Saya Nindy adiknya Bang Joko. Minta tolong dipanggilkan sebentar bisa, Mas?"


"Oh adiknya Joko, ya. Bisa banget. Silahkan masuk dulu," ucap Budi sangat sopan.


Selain menjaga kebersihan dan kerapian taman, Budi juga menjaga keamanan rumah. Diam-diam si Budi ahli bela diri.


Budi mempersilahkan Nindy duduk di bangku pos keamanan dekat gerbang. Dia menuju ke garasi memanggil Joko.


"Joko... Joko..."


"Ya, bro! Ada apa?"


"Adikmu mencari itu di depan. Namanya Nindy, kan?"


"Loh kok sampai sini?"


"Entah, Jok. Aku suruh dia nunggu di pos. Buruan samperin gih. Sapa tahu penting."


"Ok, Bro Bud. Thanks ya. Aku segera ke sana."


Joko yang sedang memanasi mobil-mobil Bos Ningsih, bergegas menemui adiknya. Baru kali ini keluarga Joko ke tempat kerja.


"Nindy ada apa?" tanya Joko kepada adiknya yang duduk, terlihat cemas.


"Bang... Bapak tadi jatuh... sekarang dibawa ke rumah sakit. Bang bisa izin ke Bos? Nindy bingung ini, Bang. Tadi Ibu juga pingsan karena kaget...." Nindy menjelaskan dan membuat Joko terkejut.


"Bentar, Nindy. Bang tanya sama ponakan Bos dulu. Adik tunggu sini dulu."


Joko masuk ke rumah, mencari Reno atau Santi untuk meminta izin.


"Permisi, Mak Sri. Ada Non Santi atau Tuan Reno?"


"Ada, Jok. Sebentar Mak panggilin ya...."


Mak Sri ke dapur memanggilkan Santi yang sedang membuat jus bersama Wahyu.


"Non... Mas Joko mau ketemu sebentar...."


"Oh, iya, Mak. Wahyu di sini dulu ya sama Mak Sri," kata Santi lekas ke ruang tamu.


Joko berdiri di dekat pintu masuk. Santi datang dan mempersilahkan Joko duduk. Namun lelaki itu memilih untuk berdiri saja.


"Ada apa, Mas?"


"Bapak Mas Joko sakit? Iya, boleh banget Mas. Kalau tidak keberatan, Santi dan Reno ikut ke rumah sakit, ya?"


"Iya, Non. Terima kasih banyak. Tapi adik saya ke sini naik angkot, bisa pinjam helm kalau ada, Non?"


"Duh, Mas... pakai mobil saja, ya. Ayo, Mas."


Santi segera mengajak Reno. Joko menuju ke garasi. Setelah Reno dan Santi masuk ke mobil, Joko pun mengemudikan mobil ke depan. Mobil itu berhenti di pos satpam dan membuka kaca.


"Nindy... ayo naik. Bang ke rumah sakit dengan keponakan Bos," ucap Joko.


"Iya, Bang..." jawab gadis remaja itu sambil masuk ke mobil yang sudah dibuka pintu kursi belakang.


Joko berada di depan bersama Santi sedangkan Reno di belakang duduk bersebelahan dengan Nindy. Suasana menjadi canggung.


Reno beberapa kali melirik ke arah gadis di sampingnya. Nindy saat ini berusia tujuh belas tahun, sedangkan Reno usia dua puluh tahun. Sebenarnya mereka terlihat cocok jika bersebelahan. Hal itu pun yang dipikirkan Santi.


"Reno..."


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Kenalan dong sama adiknya Mas Joko. Kalian sepertinya seumuran," kata Santi mencoba mencairkan suasana.


"Uhm... mungkin... kamu masih sekolah?" tanya Reno pada Nindy di sampingnya.


Joko hanya mengamati dari kaca spion tengah. Nindy terlihat agak malu untuk menjawab.


"Iya, saya masih sekolah, Tuan. Kelas duabelas SMK. Nama saya Nindy," jawab gadis itu, berkata dengan ragu-ragu.


"Ha ha ha ha... kenapa panggil Tuan? Namaku Reno. Salam kenal ya. Umurku masih dua puluh tahun kok," ucap Reno sambil mengulurkan tangannya.


"Oh, iya Tuan... eh... Reno."


Santi pun ikut tertawa melihat keluguan Nindy. Ternyata Joko memiliki adik perempuan yang sangat cantik. Pantas saja Joko selalu bekerja keras dan tak kenal waktu. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Nindy pun bercerita tentang keluarganya. Betapa Joko sangat berbakti kepada orang tuanya.


Mendengar semua cerita itu, Santi semakin kagum kepada Joko. Jarang lelaki zaman kini yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Tak terasa dua puluh lima menit berlalu. Mereka sampai di Rumah Sakit Umum Kota Jakarta di mana ayah Joko dirawat.


"Abah di bangsal apa, Dek?" tanya Joko setelah memarkir mobil.


"Bangsal Bougenvil A-2, Bang. Ibu sama Pak Ustad ada di sana. Tadi Nindy langsung nyusul Bang," jawab Nindy sambil tergesa-gesa berjalan.


Reno dan Santi mengikuti mereka. Saat perjalanan tadi, Santi sudah memesan parcel online untuk dibawa menjenguk ayah Joko. Kurirnya datang pada saat yang pas. Santi mengambil parcel buah itu dan meminta Reno membawanya.


Sesampainya di Bangsal Bougenvill A-2, Joko dan Nindy masuk terlebih dahulu.


"Assalamualikum, Abah Ibu, Bang di sini," ucap Nindy sambil membuka tirai.


"Walaikumsallam... Terima kasih Nindy sudah jemput Bang Joko. Ini Abah sudah membaik kok," jawab ibu.


"Abah kenapa, Bu? Jatuh di mana?" tanya Joko sambil mengusap lengan Abahnya yang terbujur lemas.


"Tadi Abah mau beli buah di depan desa. Tahu-tahu ada motor melaju kencang, kena serempet. Orangnya kabur," kata Abah sambil mencoba duduk.


"Ya ampun... Abah ini kakinya nggak kena motor, kan? Kok diperban? Tadi kata dokter apa, Bu?"


"Dokter bilang kalau ini lecet dan memar saja. Namun karena Abah kena diabetes dan tensi tinggi, perlu dirawat dahulu," jelas Ibu.


Setelah sekiranya semua agak tenang, Santi dan Reno pun masuk.


"Assalamualaikum...." sapa Santi sambil masuk ke bangsal.


"Walaikumsallam... siapa ini, ya?" tanya Ibu Joko.


"Oh, ini keponakan Bosnya Joko, Bu. Berhubung Bos Ningsih sedang di Singapura, jadi tadi Joko pamit sama Non Santi dan Tuan Reno. Mereka malah sudi ikut ke sini."


Joko menjelaskan sambil menggaruk kepalanya. Ibu dan Abah langsung merasa tak enak hati.


"Maaf ya Non, Den, jadi merepotkan. Abah ini sudah tua, sakit-sakitan, malah merepotkan," ucap Abah sambil duduk. Ibu membantu Abah duduk.


"Tudak merepotkan, Pak. Kami senang bisa ikut ke sini mewakilkan Tante Ningsih. Saya Santi. Ini adik saya, namanya Reno," kata Santi dengan sopan.


"Non Santi baik sekali. Den Reno juga. Terima kasih sudah mau ke sini menengok Abahnya Joko. Ini kamar kelas tiga jadinya sempit, maaf ya," kata Ibu sambil menjabat tangan Santi lalu Reno.


"Bu, panggil saya Santi dan adik saya Reno saja. Jangan pakai tambahan, jadi sungkan ini. Bapak bagaimana sudah enakan?"


"Ya begini ini kalau orang sudah tua..."


Reno menyerahkan parcel yang dibawanya. Ibu pun menerima dengan senang hati. Joko dan Nindy pun kaget jika Joko membawa parcel juga, karena mereka memang belum tahu.


Hari itu... mereka di rumah sakit hingga sore. Santi ke administrasi dan menanggung pengobatan ayah Joko serta meminta naik kelas 1. Keluarga Joko sangat berterima kasih atas kebaikan Santi dan Reno. Santi membuat alibi dengan mengatakan itu perintah Tante Ningsih. Joko pun senang jika bos kesayangannya memperhatikan, padahal itu keinginan Santi.


****


"Mak Sri, Joko ke mana ya? Kok dari tadi saya pulang nggak ada?" tanya Ningsih di dapur menunggu wanita tua yang selama ini bekerja dengannya sedang membuat makanan untuk Wahyu.


"Maaf, Bu Ningsih. Saya lupa bilang, Joko izin karena ayahnya masuk rumah sakit kemarin pagi," jawab Mak Sri.


"Ada apa? Oh, mungkin Joko sudah hubungi tetapi handphone ku jatuh kemarin di Bandara Soekarno Hatta jadinya belum bisa nyala."


"Ayahnya Joko kesrempet motor, Bu. Padahal kondisi kaki Ayah Joko sudah diamputasi satu," jelas Mak Sri.


"Astaga... kasihan sekali. Terus Santi dan Reno sudah ke sana, Mak?"


"Sudah, Bu. Non Santi juga sudah membayarkan serta menanggung untuk naik kelas satu agar perawatannya lebih baik."


"Iya, Mak Sri. Tumben saja tadi pagi Santi dan Reno hanya diam."


"Maaf, Bu. Mungkin karena Bu Ningsih habis perjalanan jauh jadi menunggu Bu Ningsih istirahat dulu," ucap Mak Sri secara logis.


"Iya, ya. Terima kasih ya Mak Sri."


Ningsih pun menuju ke teras, mencari Santi. Namun justru si Reno yang berada di teras.


"Reno... kakakmu di mana?"


"Oh, Kak Santi di depan baru nelpon Joko," jawab Reno dengan santai.


"Loh, kenapa nelpon Joko? Mau pergi?"


"Nggak, Tante. Dia nanyain kabar Abahnya Joko. Tante belum nengok, ya? Mau Reno antar?" tanya Reno sambil menutup chat di handphonenya.


Ningsih merasa aneh dengan kedua ponakannya. Tidak seperti biasa, heboh jika bertemu dengannya.


"Boleh deh kalau Joko mau antar Tante," jawab Ningsih, senang.


"Tante... Santi ikut ya! Sekalian mau bawa makan siang buat Mas Joko," sela Santi sambil berlari ke teras.


"Wah, ponakan Tante ada yang kasmaran nih," ledek Ningsih pada Santi yang bersemangat hendak bertemu Joko.


"Ah, Tante. Nggak kok. Mas Joko kan baik sama kita," elak Santi sebisanya.


Reno pun senyam senyum sendiri melihat Ningsih dan Santi. Diam-diam Reno pun ingin bertemu dengan Nindy, adik Joko. Mereka pun bergegas ke rumah sakit. Ningsih menyetir mobil, Santi duduk di sampingnya. Sedangkan Reno bermain ponsel di kursi penumpang.


Ningsih berharap semua akan baik-baik saja. Dia menyembunyikan ketakutan tentang kepergian Lee. Hal yang Ningsih takutkan adalah adanya masalah seperti Satria dahulu.


Bersambung..