
π AMARAH π
"JIKA AKU TIDAK MEMENUHI KEMAUAN TUAN CHERNOBOG, PASTI NINGSIH AKAN DALAM BAHAYA. BAIKLAH, AKU AKAN MENEMUI MEREKA YANG MEMANGGIL IBLIS UNTUK BERSEKUTU," gumam Bima menghilang di telan embusan angin nan kencang.
Disebuah hutan yang sunyi, ada sepasang suami-istri yang membuat ritual memanggil roh jahat untuk membantu mewujudkan keinginan mereka.
"Datanglah ... datanglah ... ambilah sesaji ini ...." ucap bibir lelaki itu sambil komat kamit merapalkan mantra yang diberi oleh cenayang saat mereka berkonsultasi.
Bima datang bersama angin kencang. Membuat kedua orang yang berlutut di depan pohon besar di hutan itu ketakutan dan menggigil.
"Mas, apa sebaiknya kita pulang saja? Kok jadi serem?" ucap wanita itu ketakutan.
"Sudah diam saja. Mau tidak keinginan kita terpenuhi?" sahut lelaki itu yang tak henti-henti menaburkan bunga tujuh rupa ke arah pohon itu.
"HEI MANUSIA! APA MAUMU MEMANGGILKU?" kata Bima menggelegar.
Seketika dua orang itu terdiam dan tergagap untuk berkata. "A-ampun. Ampun, penghuni pohon keramat Hutan Larangan. Ka-kami ke sini dengan maksud hendak meminta pertolongan," lirih lelaki yang bernama Bagas, usia empat puluh tahun.
"HA HA HA HA ... PERTOLONGAN APA YANG KALIAN INGINKAN? KEKUASAAN? HARTA? ATAU MEMENUHI AMBISI BALAS DENDAM?" tanya Bima tanpa menunjukkan wujudnya.
"Mas, aku takut ...." bisik si wanita yang bernama Sulistyowati yang akrab dipanggil Wati.
"Sudah diam saja. Begini, penghuni pohon keramat, kami menginginkan keturunan dan jabatan di kantor sebagai Wakil Direktur atau justru jadi Direktur Utama. Apa bisa?" tanya Bagas yang mulai berkeringat dingin meski hanya dengar suara Bima tanpa melihat wujudnya.
"BISA! NAMUN SEMUA ITU MAHAL HARGANYA. KALIAN SIAP MENJADI ABDI SETIA TUAN CHERNOBOG MULIA? APA KALIAN SIAP DENGAN SYATAT YANG AKAN KUAJUKAN SEBAGAI KAKI TANGAN YANG MULIA CHERNOBOG?" tegas Bima membuat Bagas dan Wati makin ketakutan. Bahkan kaki mereka rasanya kram tak bisa digerakan.
"Mau! Kami mau! Tolong kami."
Manusia yang kalab hati, menempuh jalan singkat untuk ambisi semata. Mengorbankan sisa kehidupannya dalam jerat kegelapan. Selalu seperti itu. Manusia serakah yang selalu tak cukup dengan apa yang mereka punya. Mencari jalan keluar tercepat agar bisa menikmati sesuatu yang belum semestinya diraih.
Bima mengamati Bagas dan Wati. Bagas seorang lelaki berusia empat puluh tahun yang suka bermain perempuan. Jabatannya saat ini Manager Keuangan. Dia suka korupsi demi kesenangan sesaat. Sedangkan Wati, istrinya Bagas, wanita berusia tiga puluh tahun yang tak bisa memiliki anak alias mandul. Dia anak dari seorang pengusaha ikan asin. Bagas menikahi Wati demi harta kedua orang tua Wati. Wati anak tunggal, jelas menjadi pewaris jika orang tuanya pergi kelak.
Bima tersenyum. Syarat yang diajukannya akan membawa banyak jiwa ternoda di Bumi ke Neraka lapis ke tujuh. Wati memang tertekan karena keluarga besarnya menanti hadirnya keturunan Bagas.
"BAIK. SYARATNYA, ESOK PURNAMA KALIAN BERHUBUNGAN DI SINI PADA TENGAH MALAM. SETELAH ITU WATI AKAN HAMIL. NAMUN, SEHABIS ITU KALIAN TIDAK BOLEH BERHUBUNGAN LAGI. SEBAGAI GANTINYA, SETIAP BAGAS MENIDURI WANITA, AKAN MENJADI TUMBAL UNTUK TUANKU CHERNOBOG. LALU ... WATI, HANYA AKU YANG AKAN MENJAMAHMU SETIAP PURNAMA DATANG. JANGAN LUPA SESAJI LENGKAP KALIAN TARUH DI KAMAR KHUSUS UNTUKKU DATANG BERTEMU WATI." terang Bima pada Bagas yang terbelalak mendengar syarat itu.
Wati justru memendam rasa marah. Jadi selama ini apa yang dia rasakan benar adanya. Suaminya tak setia.
"Baik penguasa pohon keramat. Kami akan laksanakan." jawab Bagas dengan senang hati.
"PANGGIL AKU, BIMA PRAWISNU SAAT PURNAMA DATANG DAN KALIAN AKAN MEMULAI RITUAL."
"Baik, Tuan Bima. Baik."
Bagas dan Wati menunduk ketika embusan angin kencang kembali menerpa lalu pergi bersamaan kepergian Bima. Wati dan Bagas saling tatap. Lalu mereka bergegas keluar dari hutan. Awal yang buruk bagi kedua manusia ini.
***
"Dok, bagaimana kondisi keluarga kami?" tanya Reno yang sudah menanti selama lima jam penanganan pertama kecelakaan tragis itu.
"Begini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bapak Udin saat ini masih koma setelah operasi patah tulang di tangan kanannya. Sedangkan Ibu Udin saat ini masih belum sadar dengan luka di bagian wajah. Anak Wahyu kondisi paling kritis, belum ada respon hingga saat ini. Ibu Sri juga masih koma. Lalu Ibu Ningsih belum sadar dengan cidera parah di kepala. Mereka butuh perawatan itensif. Bapak Joko masih koma setelah operasi patah tulang kaki. Mohon bersabar terlebih dahulu," jelas dokter pada Reno.
Bagaikan tersambar halilintar, Reno hanya bisa mengangguk saja Dia sangat khawatir jika Santi dan Nindy tahu. Reno pun mencoba menghubungi nomor Om Bima tetapi nihil, tidak aktif. Reno makin resah.
"Reno ... bagaimana keadaan mereka?" tanya Santi kepada adiknya yang terdiam.
Reno menghirup napas dalam dan mengembuskan perlahan. "Kak, sabar ya. Semua akan segera membaik. Percaya dengan dokter. Saat ini pihak kepolisian pun mencari bukti soal mobil yanh menyebabkan kecelakaan ink. Tenang dulu ya dengan Nindy. Aku berusaha membantu sebisaku."
Santi tak bisa menyembunyikan sedihnya. Air matanya kembali menggenang di kedua matanya. Nindy yang terduduk dalam isak tangis bahkan tak mampu bertanya perihal keadaan Bang Joko. Dia tahu pasti kondisinya parah melihat mobil yang ringsek dan nyaris terbakar.
"Ya Allah, jika ada kiranya kesalahan keluarga ini, ampunilah Ya Allah. Mampukan mereka melewati masa kritis dan bisa sembuh seperti sedia kala. Ampuni segala khilaf dan dosa agar memudahkan kesembuhan mereka. Amin Ya Allah." batin Santi berdoa dengan berurai air mata.
Suasana haru menyelimuti lorong ICU rumah sakit. Dokter dan perawat berlali lalang melewati ketiga manusia yang merasa sedih dan hampir hilang harapan. Hingga, Om Bima dan Dinda datang.
"Reno, Santi, bagaimana kondisi Tante kalian?" tanya Bima cemas saat sampai di lorong bangsal.
"Om Bima! Kok Om tahu kita di sini? Bukankah handphone Om tidak aktif?" tanya Reno spontan.
Bima memutar otak dan menjawab sebaik mungkin, "Selain firasat kekasih, Dinda melihat berita kecelakaan di televisi. Kami langsung telepon pihak kepolisian dan disuruh ke sini."
"Iya, Om Bima. Reno sampai takut. Ini Kak Santi dan Nindy menangis terus."
"Biar mereka bersama Dinda ke taman. Dinda ajaklah mereka berdua ke taman. Ajak bicara dan hiburlah," perintah Bima pada adiknya yang sebenarnya tak suka pada kedua wanita di hadapannya.
"Om ... ini bukan kecelakaan tunggal. Ada yang sengaja menabrak mobil Tante agar terdorong ke jurang," lirih Reno sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Iya, Om tahu hal ini penuh keganjilan. Om akan selidiki dan tidak akan mengampuni siapa pun yang mengakibatkan kecelakaan ini. Tak peduli orang atau Iblis sekalipun," ucap Bima geram dengan tangan mengepal erat.
"Sabar, Om. Sampai sekarang belum ada titik terang dari kepolisian. Om, bagaimana ini Tante Ningsih, Uti, Kakung, Wahyu, Mak Sri dan Bang Joko belum sadar. Apa kita perlu ganti rumah sakit?" tanya Reno menatap ruangan yang terpisah kaca besar di hadapannya.
"Jangan. Biar di sini saja. Besok malam, mereka akan sadar. Om akan jamin itu. Saat ini, biar Dinda menemami kalian. Jangan lengah ya. Mungkin orang jahat itu akan berusaha lagi. Om akan mengusutnya. Reno, Om percaya kamu. Tolonglah jadi lelaki dewasa yang bisa diandalkan," pungkas Om Bima bersamaan menepuk bahu Reno.
Reno hanya mengangguk paham. Lalu Om Bima pergi meninggalkan rumah sakit.
"DASAR KAU EVAN! BERANINYA MENCURI WAKTU MENCELAKAKAN NINGSIHKU! LIHAT SAJA NANTI ... DINDA, TETAPLAH DI SINI JAGA MEREKA. AKU AKAN BUAT PERHITUNGAN DENGAN EVAN." batin Bima yang langsung di dengar oleh Dinda. Dinda hanya mengangguk menurut perkataan kakaknya yang sudah terbakar emosi.
Akankah Bima menemukan Evan (Lee) dan Lily? Kira-kira siapa yang menang?
Sabar ya guys, lanjutannya besok!^^
Bersambung ....