JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 80


πŸ€ SEPENGGAL MASA LALU πŸ€


"Ningsih... Ningsih... pulang, Nak. Bapak Ibu rindu padamu. Pulang, Nak."


"Bapaaak Ibuuu!" teriak Ningsih, terbangun dari tidurnya.


Mimpi yang sama sudah tiga hari ini. Ningsih pun gelisah karena bermimpi kedua orang tuanya meminta Ningsih pulang. Namun setiap kalk Ningsih menelepon, mereka berkata bahwa semua baik-baik saja.


Ningsih: "Pagi, Bu... Gimana kabarnya? Ningsih kok kepikiran terus Bapak Ibu di desa?"


Ibu: "Halo, Nduk. Bapak Ibu sehat kok. Adikmu bisnisnya juga lancar di desa. Kalau kangen, pulang lah Nduk walau hanya sebentar. Bapak Ibu juga kangen. Terlebih sama Wahyu. Kalau Bapak dan Ibu yang ke Jakarta, nggak kuat diperjalanan."


Ningsih: "Iya, Bu. Ningsih usahakan pulang ya akhir bulan ini. Sekalian bareng Reno dan Santi yang balik ke Yogya. Ibu Bapak jaga kesehatan ya."


Ibu: "Iya, Nduk. Pokoknya kamu dan Wahyu juga jaga kesehatan, ya."


Ningsih menutup teleponnya. Rasa lega ketika tahu ibunya baik-baik saja. Namun khawatir tetap ada karena bapak entah tidak mau atau tidak ingin berbicara lewat telepon. Setelah Ningsih menikah lagi dan kabar menyeruak suami Ningsih meninggal, Bapak tak mau lagi melihat Ningsih. Seakan Beliau tahu apa yang Ningsih perbuat dan menghindar dari Ningsih.


Pagi itu, setelah mandi... Ningsih menuju ke ruang tengah menemui keponakannya. Wahyu sudah berangkat sekolah ditemani Mak Sri dan Joko. Kegiatan seperti itu selama Senin sampai Jumat karena Sabtu dan Minggu Wahyu libur sekolah.


"Santi... Reno... sudah pada bangun?" kata Ningsih turun dari tangga.


Riuh ramai di ruang tengah. Ternyata ada Nindy (adiknya Joko) bertamu ke rumah. Sedangkan Budi membantu Santi menyiapkan sarapan karena Mak Sri menunggu Wahyu sekolah. Reno sedang asyik mengobrol dengan Nindy.


"Sudah Tante... ini kan jam sembilan pagi. Tante aja yang baru bangun," jawab Reno diiringi tawa mengejek Tante Ningsih.


"Duh... ponakan Tante nih ngejek ya... mentang-mentang udah punya pacar," sindir Tante Ningsih.


"Apaan Tante tuh... ini teman yaa... Adiknya Mas Joko. Ya, kan Nindy?"


"Maaf Bu Ningsih... saya disuruh Abah dan Ibu antar masakan buat Bu Ningsih. Tadi Bang Joko berangkat awal jadi masakannya belum matang. Maaf ya, Bu Ningsih." ucap Nindy, berdiri dari tempat duduknya. Merasa canggung dengan kehadiran si pemilik rumah.


"Oh... nggak apa Nindy. Panggilnya jangan Bu dong... Panggil Tante Ningsih juga nggak apa seperti Santi dan Reno. Nggak usah sungkan. Oiya, Santi dimana Reno?"


"Baru di dapur, Tan. Bantu Mas Budi siapin sarapan. Tadi Mak Sri belum selesai soalnya. Sekalian nata yang dibuatin Ibunya Nindy," jawab Reno dengan santai, masih duduk di sofa.


"Ya deh. Tante ke sana aja ya... takut ganggu." Ningsih berlalu ke dapur.


"Eh, Tante sudah bangun ya... ini Santi buatin bubur ayam spesial. Oiya, ini masakan dari Ibunya Mas Joko buat Tante biar cepat sembuh katanya," kata Santi sambil menyiapkan semua di meja makan.


"Saya permisi ya, Bu," ucap Budi pergi dari dapur. Mungkin merasa tak enak dengan kehadiran Ningsih.


"Santi pinter banget bikin bubur ayam sepertinya sedap betul. Tante jadi lapar," Ningsih duduk di kursi menatap keponakannya yang sudah dewasa.


"Iya dong... Tante makan aja dulu. Biar Santi panggil Reno, Nindy dan Mas Budi buat sarapan ya."


"Budi malu kalau makan ada Tante. Nanti dia makan sendiri... dah biasa gitu."


"Oh, yaudah makan berempat aja, ya Tante."


Mereka pun sarapan bersama. Meja makan bundar yang biasanya sepi jadi ramai dengan canda tawa. Ningsih seusai menyantap buburnya pun mengawali pembicaraan.


"Ehm... gini Santi dan Reno... rencananya Tante mau ke Wonosari nengok Bapak Ibu. Kalau nggak keberatan, kita ke Yogya bareng akhir minggu ini. Misal Nindy sama Joko mau ikut boleh kok. Nanti Mak Sri sama Wahyu juga ikut. Biar si Budi yang jaga rumah," terang Ningsih kepada ketiga remaja yang mulai dewasa di hadapannya.


"Wah, ide bagus Tante. Nindy kemarin juga cerita pingin ke Yogya," sahut Reno semangat.


"Iya, Tante nggak apa sih. Santi ikut aja."


"Nindy mau ikut kan?" tanya Ningsih memastikan.


"Ya, Bu... eh... Tante Ningsih... Nindy ngikut Bang Joko saja."


Mereka pun sepakat pergi ke Yogya dengan pesawat. Tentunya di sana ada mobil Santi dan Reno yang siap menjemput dengan asisten mereka. Kehidupan jauh lebih mudah jika bergelimang harta, bukan?


***


Yogyakarta, Minggu pagi....


"Akhirnya sampai juga... Nanti siang tolong antar Tante ke Wonosari ya, Reno... Santi...".


"Siap Tante!" sahut mereka bersamaan.


Perjalanan kali ini sangat ramai dengan adanya Joko, Nindy, serta Mak Sri yang senantiasa menjaga Wahyu. Wahyu sangat antusias hendak bertemu Eyang Kakung dan Utinya.


"Anak Mama lucu banget sih... jelas ingat dong... Wahyu kan cucu kesayangan."


Mereka pun bergegas ke rumah Santi dan Reno. Meletakan barang bawaan dan beristirahat sejenak. Lalu dilanjutkan perjalanan dengan dua mobil ke Wonosari kampung halaman Ningsih.


Joko menyetir mobil bersama Santi dan Nindy sedangkan Reno menyetir mobil yang dinaiki Ningsih, Mak Sri dan Wahyu. Mereka sengaja memakai dua mobil agar lebih leluasa perjalanan jauh.


Sebenarnya Ningsih tak ingin pulang. Terlebih setelah beberapa masalah dengan keluarga Agus. Ningsih sungguh sangat tak menginginkan pulang. Takut jika kembali menimbulkan percekcokan.


***


Waktu itu....


"Tuh liat janda nggak tahu diri! Suaminya meninghal belum genap seribu hari aja sudah nikah sama orang kaya raya!"


"Biasa kan mumpung masih muda... masih laku... ya begitu... tega banget ya. Padahal suaminya mati kecelakan."


"Kalo dasarnya aja ganjen ya begitu. Nggak setia sama laki dah meninggal buruan ganti deh."


Kalimat-kalimat pedas itu dilontarkan oleh keluarga Agus untuk memperkeruh keadaan saat Ningsih hendak menikah dengan Tomi. Bahkan saat meminta restu hubungan pun orang tua Agus menolak mentah-mentah dan menghujat Ningsih.


Perlakuan kejam dan hinaan yang Ningsih dapat membuatnya semakin benci dengan keluarga Agus yang selalu saja membela Agus. Mereka tak tahu seberapa bejat kelakuan anak lelaki satu-satunya yang selalu mereka banggakan. Merusak kehidupan dan pikiran Ningsih, serta membuat Ningsih selalu berbohong kepada orang tuanya jika dia bahagia.


Pernikahan seperti apa yang diharapkan jika salah satu pasangannya justru tak setia, sering memaki, memukul, bahkan menumpuk hutang demi kesenangan pribadi? Ningsih bertahan demi menjaga perasaan orang tuanya yang terlanjur menyetujui pernikahan Ningsih.


Menyesal adalah satu kata yang bisa menggambarkan sepenggal kisah masa lalu Ningsih dan Agus. Ningsih menyesal percaya pada ucapan Agus, "Mas akan membahagiakan Adek dunia akhirat."


Memuakan mengingat kalimat bualan yang sengaja diucapkan demi mendapat cinta Ningsih. Sesungguhnya Agus memang mencari wanita yang ekonomi di atasnya. Mengingnkan hidup enak tanpa susah bekerja. Dia kira, Ningsih mendapatkan harta banyak dari orang tua jika menikah. Setelah Agus tahu orang tuanya hanya memberi sejumlah uang, dia pun marah. Kesulitan ekonomi membuat Agus menunjukan sifat aslinya.


Ningsih masih merasa trauma akan semua itu. Bahkan jika di neraka bisa berjumpa dengan mantan suaminya, dia pun pasti tak akan melihat untuk sekedar bertegur sapa. Bagi Ningsih, sudah selayaknya Agus mati dan tersiksa dari pada dirinya dan si buah hati yang menderita.


***


Mobil mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup megah di tengah perdesaan. Halaman luas dengan beberapa pohon buah mangga, beberapa ayam yang mencari makan, dan sebuah kolam ikan di sudut halaman membuat rumah itu terlihat asri.


Ningsih berkaca-kaca melihat Ibu dan Bapaknya sedang duduk di teras rumah. Sekian tahun mereka tak jumpa. Ningsih bergegas keluar mobil dan sungkem pada kedua orang tuanya.


"Pak... Bu... maafin Ningsih ya baru ke sini sekarang. Ningsih minta maaf sekali. Bukan maksud Ningsih menghindar, tapi banyak hal yang harus Ningsih lupakan untuk masa depan lebih baik. Maafin Ningsih," lirih Ningsih menciumi tangan kedua orang tuanya sambil bersimpuh di hadapan mereka.


Memang setiap bulan Ningsih selalu mengirim uang kepada orang tuanya. Namun kedua orang tuanya pasti menginginkan kehadirannya.


"Sudah, Nduk... berdiri saja. Ibu Bapak maafkan kamu. Sudah jangan merasa bersalah begitu," ucap Ibu sambil menggenggam tangan Ningsih.


"Sudah, Nduk. Bapak maafkan kamu. Mana cucu Bapak? Si Wahyu... sudah besar ya?" Bapak pun mencari Wahyu yang sudah keluar dari mobil.


"Kakung... Uti...." teriak Wahyu sambil berlari.


Mereka pun berpelukan. Ningsih juga mengenalkan Joko dan Nindy pada orang tuanya. Saat mereka berbincang di teras, tak sengaja adik Agus melihat Ningsih.


"Oh... jadi sudah kaya raya lupa ya sama keluarga suaminya? Oh iya, aku lupa kalau suaminya nggak cuma satu ya yang mati?" kata-kata Lastri bagaikan belati yang menikam hati Ningsih.


Hal yang Ningsih hindari justru malah terjadi. Ningsih tahu jika keluarga Agus menginginkan uangnya. Mereka seakan selalu menuntut soal kematian Agus yang kecelakaan mengenaskan. Padahal semua kekayaan yang Ningsih dapat hasil kerjanya serta bantuan Bima. Bukan karena Agus yang sudah menyengsarakannya.


"Tante... abaikan saja. Jangan ditanggapi," bisik Santi di samping Ningsih.


"Udah biar Reno yang ke sana," ucap Reno tak terima Tantenya dihina. Ningsih memegang tangan Reno. Mengisyaratkan tak boleh.


Joko pun meradang dan maju menemui Lastri, "Siapa kamu? Lancang sekali mengatakan hal itu pada Ningsih! Cepat minta maaf!" gertak Joko yang awalnya tak ditanggapi oleh Lastri.


"Hla kamu itu siapa? Mulut-mulutku sendiri kok sewot. Emang nyatanya si janda edan itu kan doyan nikah. Laki mati ya nikah lagi. Gampangan..." Lastri makin berani.


Joko pun secara spontan melayangkan tamparan pada pipi Lastri serta mengancamnya, "Lancang! Sekali lagi mengatakan hal buruk, saya tak segan-segan lapor polisi dengan tuntutan perilaku tak menyenangkan!"


Membawa kata polisi membuat Lastri takut. Dia memegang pipinya yang merah dan panas bekas tamparan. Lalu berjalan menjauh dari rumah orang tua Ningsih.


"Bu Ningsih... maafkan saya. Saya tak kuasa menahan marah. Bukan maksud saya...." lirih Joko yang terputus karena jawaban Ningsih.


"Terima kasih, Joko... kamu sudah tolong aku. Dia adik suamiku pertama yang meninggal kecelakaan. Mulutnya memang pedas seperti cabe setan sekilo," kata Ningsih merasa lega ada yang membelanya.


Ningsih menepuk pundak Joko. Joko pun tersenyum. Seketika rasa cemburu membakar hati dan pikiran Santi.


Bersambung....