
Ningsih ketakutan melihat tatapan Satria. Sugeng sudah pergi dari ruangan itu, saat Satria memesankan wanita bisa pakai untuknya. Namun kengerian masih terasa dalam ikatan yang menjerat tangan dan kaki Ningsih.
"Tenang, Ningsih. Aku tidak akan membunuhmu. Aku tak berniat sama sekali. Melihatmu terikat seperti ini, membuatku semakin bernapsu kepadamu."
Satria mendekat ke ranjang. Ningsih meronta, mencoba melepas ikatan itu. Percuma! Tetap tak bisa. Ningsih tak luput dari pemerkosaan. Satria mempunyai kelainan, di mana dia akan merasa bernapsu dan puas jika pasangannya disiksa dan menderita terlebih dahulu.
Ningsih merasa tersiksa dengan semua perlakuan Satria. Apa daya, ikatan pada tangan dan kakinya sangat kuat. Ketakutan dan kesakitan yang bertubi. Bahkan Ningsih tak pernah menyangka lelaki setampan dan sehalus Satria memiliki kelainan seperti itu.
"Cih! Tak seperti yang kubayangkan. Namun tak apa. Sabar Ningsih, ini baru permulaan."
Ucapan Satria membuat tubuh Ningsih merinding. Satria mengambil ikat pinggangnya, lalu mengarahkan ke tubuh Ningsih beberapa kali cambukan. Pakaian Ningsih sudah dikoyak oleh Satria. Hanya tubuh menggigil yang terikat di hadapannya.
Ningsih menggeliat kesakitan, Satria semakin bernapsu. Darah segar mengalir karena luka cambukan itu. Satria menjilatinya dengan ganas. Perih. Sakit. Takut. Semua Ningsih rasakan hingga akhirnya dia pingsan.
***
Sementara di kamar lain, wanita pesanan Satria datang ke kamar. Tempat Sugeng menunggu di ranjang dengan kondisi gelap.
Sugeng paham betul, wanita pasti takut melihat wajahnya yang lebih mirip Freddy Krueger di film horor barat.
"Tuan, mengapa lampu padam?" tanya wanita bayaran itu.
"Tak apa. Jangan dinyalakan. Aku akan membayar dua kali lipat." ucap Sugeng.
"Oh. Baik, Tuan Satria."
Wanita itu mengira Satria yang memesannya, karena mucikari mengatakan hal itu. Wanita itu melayani Sugeng sampai mereka pun terlelap.
Ketika wanita itu terbangun dan membuka ponselnya, betapa terkejutnya, bahwa lelaki yang menjadi satu selimut dengannya buruk rupa. "AAaaaaa ...." teriak wanita itu hingga Sugeng terbangun.
"Breng*ek! Kenapa kau berteriak!" umpat Sugeng yang terkejut.
"K-kau ... manusia atau hantu?" Wanita itu memastikan Sugeng bukanlah hantu.
"Apa kau bilang! Breng*ek!" Sugeng tersulut amarah, bergegas ia menarik wanita itu.
Wanita itu takut dan berusaha melepaskan diri. Mereka masih tanpa busana, terlibat perkelahian. Sugeng menampar wanita itu dan menarik tangannya saat hendak kabur. Seketika suara gelas menghantam kepala menghentikan pertengkaran itu.
***
Keesokan paginya, Ningsih mencoba membuka mata. Sekujur tubuhnya merasakan perih dan sakit. Satria tidur di samping tubuh Ningsih yang masih terikat.
Perut Ningsih luka akibat cambukan ikat pinggang dan meninggalkan bekas luka serta darah yang mengering. Paha dan kaki Ningsih pun penuh memar. Sedangkan sumpalan di mulutnya belum lepas.
'Bima ... Kau di mana? Tolong aku, Bima'
Terus memanggil Bima dalam hatinya. Ningsih meneteskan air mata, menahan semua luka yang Satria perbuat. Terlebih di bagian sensitifnya, entah apa yang Satria masukkan hingga rasa sakit itu tak hilang.
Berharap akan ada keajaiban. Ningsih hanya ingin lepas dari hal ini.
"Uhm .... Miss cantik, kau sudah bangun?" tutur Satria yang mulai meraba wajah Ningsih.
"Mengapa kamu menangis?" seakan lupa dengan perbuatannya, Satria seperti orang tak merasa bersalah.
Ningsih menatap Satria. Bodoh! Ningsih tak bisa menjawab karena mulutnya tersumpal kain.
"Oh, iya, aku tahu. Kau rindu anakmu, bukan? Sabar, Wahyu sedang perjalanan ke sini. Sedangkan Reno dan Santi sudah aman! Aku heran, kenapa kau mau disetubuhi oleh ponakan sendiri? Menjijikan!"
Perkataan Satria membuat mata Ningsih terbelalak. Akankah anak-anaknya menjadi korban kejahatan Satria dan Sugeng?
Bersambung ....
***
**JANGAN LUPA LIKE yaa guys! Jempol kamu sangat berarti buat Author^^
Author akan lanjut episode berikutnya jika LIKE episode kali ini mencapai 50 yaa....
yuk ah mudah kok! Pembaca 20k lebih, bisa kan tinggalkan LIKE?
Author sayang kalian! Thanks πππ**