JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 125


πŸ€ MINGGU KELABU πŸ€


Seorang ibu bisa menahan segala keinginannya demi sang buah hati.


Seorang ibu rela lapar dan haus untuk mengenyangkan perut anaknya.


Seorang ibu tahan didera suami dan tak ingin pisah dengan alasan keluarga utuh untuk buah hatinya.


Ibu ... makhluk apakah kamu?


Hatimu lembut dan keras dalam waktu yang sama.


Kau terlihat galak dan marah padahal khawatir serta ketakutan.


Ibu ... aku tak pernah mengerti semua itu yang kau rasakan, sebelum aku menjadi sepertimu ... Ibu ....


***


Pagi hari yang cerah, tetapi tak seperti isi hati Ningsih yang gundah sejak semalam. Hari ini, Minggu yang dinanti oleh Santi, Reno, Budi, dan Mak Sri. Bahkan mungkin Wahyu juga menantinya. Namun, Ningsih sangat tak menginginkan hari ini datang cepat. Sebenarnya, keberangkatan pesawat ke Yogyakarta sore hari. Mereka sengaja pergi pagi untuk bermain bersama, menikmati sarapan, makan siang, dan mengukir kenangan bersama.


Ningsih gundah karena Santi sudah mengutarakan tak ingin bertemu Bima saat kepergian mereka ke Yogyakarta. Hal itu membuat Ningsih makin pilu. Mereka sudah tahu suami gaib Ningsih adalah Bima dan mereka tak menyukainya. Semakin sepi Ningsih melangkah dalam gelap dan sendirian. Hanya Bima yang bersamanya.


Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai, Ningsih keluar dari kamarnya. Melangkah menyusuri tangga untuk turun ke lantai satu yang sudah terdengar ramai perbincangan. Ningsih sudah siap dengan tas dan handphonenya untuk dibawa pergi sekalian.


"Nah, itu Tante Ningsih sudah bangun," kata Santi tersenyum menatap tantenya.


"Yeay! Wahyu dah siap ini mau pindahan. Pokoknya di Yogyakarta mau buat kamar serba Spiderman ya. Kak Reno beneran ya buatin," celetuk Wahyu sambil berlarian.


Putera Ningsih memang sangat aktif dan ceria. Ningsih bersyukur puteranya bisa hidup dengan kecukupan. Bahkan saat dia tak bisa memperhatikan dengan baik, ada Mak Sri, Santi, dan Reno yang perhatian padanya. Mungkin perpisahan adalah pilihan terbaik. Merelakan demi kebaikan anaknya. Itu yang Ningsih pikirkan agar tak ada air mata saat mengantarkan mereka ke bandara.


"Iya, sayang. Pokoknya di Yogyakarta nurut ya sama Kak Santi dan Kak Reno. Jangan lupa sering video call Mama biar kangennya Mama terobati." ucap Ningsih lalu mencium kening puteranya.


"Siap, Mama. Kak Santi juga mau beliin Wahyu handphone keren biar bisa telepon Mama setiap saat. Wah seneng banget!"


"Iya, sayang. Yuk hari ini kita makan dan main sepuasnya sebelum Wahyu tinggal di Yogyakarta," kata Ningsih sambil tersenyum menutupi kesedihannya.


"Aku harus bisa. Aku harus menahan. Jangan ada air mata. Jangan kelihatan sedih." batin Ningsih berkecamuk.


Dari kejauhan, Bima melihat hal itu. Sedih ... melihat pujaan hatinya menahan luka dengan senyum palsu membuat Bima ikut merasakan sakit. Bima merasa bersalah karena menjadikan Ningsih pengikutnya. Bima merasa serba salah dengan keadaan ini. Dia pun menghilang pergi.


Ningsih mengajak Joko untuk menyetir mobil Alpard miliknya karena mereka berjumlah tujuh orang tak cukup di mobil sedan atau city car Ningsih. Setelah memasukkan barang bawaan, tas, dan koper, Joko pun mengendarai mobil ke tujuan pertama. Sarapan Soto Betawi kesukaan Wahyu. Setelah itu bermain di TransStudioMini. Lalu pergi ke Studio Foto Keluarga dan membuat kenang-kenangan di sana. Mereka menikmati hal itu meski dalam hati masing-masing berkata lain.


Sepanjang kegiatan pagi hingga sore, Budi mengamati Ningsih. Senyum di wajah Ningsih adalah topeng semata. Budi tahu apa yang disembunyikan Ningsih dan melihat perasaan sedih yang teramat dalam. Budi pun bertekad akan melepaskan Wahyu dari ikatan jerat iblis yang Ningsih lakukan. Meski soal menyelamatkan Ningsih akan menjadi sulit karena Ningsih sudah memilih bersama Bima, tetapi semua kemungkinan bisa terjadi. Budi akan membujuk ayahnya untuk membantu lebih.


Mak Sri pun merasakan hal yang sama. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, dia tahu persis perasaan Ningsih terluka. Merelakan satu-satunya anak yang diperjuangkan untuk pergi dari sisinya. Demi keselamatan sang anak, Ningsih membunuh egonya. Mak Sri tahu jika Ningsih melakukan hal musyrik ini semata demi memenuhi kebutuhan anaknya agar tidak kekurangan seperti saat hidup bersama Agus dahulu kala. Namun tetap saja semua tindakan ada konsekuensinya. Ningsih harus menanggung hal itu sendirian. Mak Sri hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja.


Reno sebenarnya tak ingin pulang ke Yogyakarta secepat ini. Meninggalkan Tante Ningsih yang masih bersedih soal ketahuan suami gaibnya adalah Bima dan kenyataan untuk berpisah dengan Wahyu. Dalam benak Reno, dia masih mendamba Tante Ningsih. Menginginkan untuk melindunginya agar tak bernasib sama dengan Mama Ratih. Namun aoa daya, Reno tak cukup keberanian untuk menanggung semua resikonya. Dia hanya bisa membantu menjaga Wahyu seperti adiknya sendiri. Reno berjanji akan melindungi dan membuat Wahyu bahagia.


Wajah tersenyum, hati berduka. Itulah hal yang sama dirasakan Santi. Kenangan buruk akan kehilangan orang tua kembali muncul. Menatap Wahyu yang masih kecil dan lugu membuatnya tak tega jika Wahyu mengetahui sebenarnya. Dia berjanji akan menyayangi Wahyu seperti dia mendidik dan melindungi Reno. Santi juga berjanji akan berusaha menyelamatkan Wahyu bagaimana pun caranya. Anak tak berdosa ini akan dijaga sekuat hati tanpa harus memberi tahu seperti apa Tante Ningsih melakukan kesalahan.


"Wah, nggak terasa udah mau jam lima sore ya. Kalian harus masuk gate biar bisa pemeriksaan dulu sebelum pemberangkatan jam enam." kata Ningsih membuyarkan pikiran masing-masing orang.


"Iya, Tante. Santi minta maaf ya kalau ada banyak salah. Santi harap Tante akan selalu semangat dan memikirkan kembali perkataan Santi tempo lalu," jawab Santi yang segera memeluk tubuh Tante Ningsih untuk salam perpisahan.


"Reno juga minta maaf kalau ada salah ya, Tante. Kami juga akan sering ke Wonosari menengok Uti dan Kakung," imbuh Reno yang lalu bergantian memeluk Tante Ningsih yang masih terdiam menahan air mata.


"Bu Ningsih, saya juga minta maaf kalau selama ikut bekerja ada banyak salah." ucap Mak Sri dengan mata berkaca-kaca lalu memeluk Ningsih bergantian dengan Reno.


Wahyu hanya diam mengamati mereka karena memang belum paham hal itu. Joko pun diam karena bingung harus berkata apa. Mereka pun berpisah saat masuk ke Gate. Setelah rombongan Santi tak terlihat, Ningsih pun mengajak Joko ke tempat melihat penerbangan pesawat. Di sana Ningsih terdiam cukup lama hingga jam enam sore saat pesawat hendak lepas landas. Ningsih menatap dalam diam pesawat yang take off dan berlalu pergi.


"Joko, ayo pulang. Mereka sudah pergi," lirih Ningsih sambil berjalan meninggalkan bandara.


"Baik." jawab Joko yang mengikuti Ningsih dari belakang.


Setelah ke parkiran mengambil mobil, Ningsih pun duduk di samping kursi supir. Sepanjang perjalanan dia terdiam dan menatap luar lewat jendela. Keadaan menjadi makin canggung saat sayup-sayup terdengar isak tangis dari Ningsih.


"Hiks ... hiks ... hiks ...."


Ningsih mulai menangis. Air mata yang sejak tadi ditahan untuk tak pecah akhirnya tumpah bersamaan terbangnya pesawat menjauh dari Jakarta. Joko menyetir mobil dengan rasa haru. Tak tega melihat Ningsih seperti itu. Joko memilih menghibur Ningsih dan berniat tidur di pos jaga tempat Budi karena khawatir.


***


Di sisi lain ....


Bima merasa marah pada diri sendiri dan menyalahkan perbuatannya. Dia pun memaki diri sendiri dan membuat danau yang hening beberapa kali bergemuruh seperti tersambar petir dari tangan apinya.


"Sial! Mengapa semua menjadi seperti ini? Aku tak berniat melakukan hal itu! Memang aku tak berguna, sampai menjadi iblis pun tak berguna! Harusnya aku bisa menahan air mata itu jatuh! Harusnya aku bisa melindungi dia dan anaknya bukan justru memisahkan mereka. MENGAPA AKU JADI IBLIS JIKA SEPERTI INI JADINYA!" teriak Bima dengan suara nyaring meski tak bisa didengar manusia biasa.


Amarahnya semakin menggebu dan Bima berkali-kali melampiaskan kekesalannya pada danau. Lalu terdengar suara dari belakangnya.


"Berisik tahu! Kamu tahu jam berapa ini dasar Iblis gilla!" ucap gadis buta tempo lalu berjalan dengan tongkatnya ke arah Bima di pinggir danau.


"Apa-apaan kau gadis buta! Terserah aku lah ini wilayah bebas." kata Bima semakin kesal.


"Iya, aku memang buta tapi aku ini TIDAK TULI. Jadi kalau kamu teriak-teriak dan mengacau di sini jelas menggangguku!" gertak gadis itu membuat Bima semakin geram.


"Dasar kamu ya manusia menyebalkan! Mau cari mati ya!"


"Dasar kamu juga Iblis menyebalkan! Ganggu orang mau tidur aja!"


Saat Bima hendak menghampiri gadis itu, dari kejauhan ada cahaya dan suara orang berlari mendekat. "Nona Lauren ... Nona Lauren! Mengapa Nona di sini malam-malam dan sendirian pula? Ada apa?" kata seorang lelaki mengenakan setelan jas dan celana panjang warna hitam seperti seorang bodyguard.


"Maaf, Daniel. Aku terganggu sama suara ikan besar yang berisik di danau. Jadi kusuruh dia diam," jawab Lauren menyindir Bima.


"Ikan besar? Mana ada ikan besar di sini. Nona pasti kecapekan dan mendengar yang bukan-bukan. Ayo kembali ke rumah." Daniel menuntun Lauren dengan hati-hati sambil membawa lampu penerangan.


Bima pun terdiam dengan menahan kesal dengan kelakuan gadis buta itu. Bima menjadi penasaran mengapa gadis buta itu bisa melihat Bima padahal dia tak bisa melihat dunia.


"Daniel ...."


"Ya, Nona. Ada apa?"


"Kalau ikan besar di kolan itu ngamuk lagi, tolong kamu lakban saja ya mulutnya," bisik Lauren pada Daniel yang jelas tak dipahami artinya.


"Oh, baik Nona. Terpenting sekarang Nona pulang dan beristirahat."


Daniel sempat menengok ke belakang melihat danau dan merasa merinding. Daniel tak biaa melihat hal gaib tetapi dia bisa merasakan jika ada suatu hal yang tak beres.


Daniel pun berjaga semalaman menjaga Lauren dari balik pintu kamar. Dia sudah berjanji sebelum orang tua Lauren meninggal, Daniel ditugaskan untuk selalu menjaga dan bersama Lauren. Lauren si gadis buta berusia 22 tahun menjadi Nona muda kaya raya sejak orang tuanga meninggal. Sedangkan Daniel pemuda yang mengabdi sejak kecil di keluarga Lauren, sekarang sudah berusia 28 tahun dan siap menghadapi dunia demi melindungi Nona muda Lauren yang juga menjadi cinta pertamanya.


Bersambung ....