JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 103


...🔥Cinta Mengalahkan Segalanya🔥...


Snowice datang menghampiri Tuan Abaddon yang duduk di singgah sananya yang megah dalam Samudra Pasifik. Iblis sedingin es itu tersenyum menatap Tuan Abaddon yang sudah melihat kejadian tersebut. "Bagaimana kerja hamba, Tuan Abaddon?" tanya Snowice yang bangga dengan perbuatannya membuat kecelakaan mobil Bima dan seorang wanita yang harusnya menjemput suami dan anaknya di airport atau bandara.


"HA HA HA HA ... KERJA BAGUS, SNOWICE. KAU MEMANG KESAYANGANKU DAN KERJAMU PALING BAGUS DIBANDINGKAN YANG LAINNYA. TETAPLAH SEPERTI ITU DAN ... JANGAN KHIANATI AKU." Tuan Abaddon memberi pengakuan atas kerja keras Snowice dan memberi peringatan soal kesetiaan. Sesungguhnya, rasa percaya Tuan Abaddon pernah luntur karena Lucifer yang memilih membangun dan menguasai neraka bersama para malaikat pengikutnya yang juga dibuang. Awalnya mereka berdua sepakat akan menguasai samudra dan perairan di dunia. Namun, Lucifer berkhianat dan memilih membuat neraka untuk mengambil jiwa-jiwa manusia berdosa.


Sejak saat itu, Tuan Abaddon sulit percaya siapa pun. Kali ini, Snowice berhasil membuat iblis yang kuat dan licik itu untuk percaya padanya. Snowice yang memang sebenarnya menaruh perasaan pada Tuan Abaddon.


"Iya, Tuan. Hamba tidak akan mengecewakan Tuan Abaddon. Hamba akan mengusahakan yang terbaik untuk Yang Mulia Tuan Abaddon." Snowice merasa dia bisa mengikuti apa pun yang Tuan Abaddon perintahkan.


"KALAU BEGITU, UJI MEREKA LAGI. RENCANA SELANJUTNYA, JALANKAN SEBAIK MUNGKIN!" Tuan Abaddon sudah memberikan perintah untuk Snowice.


"Baik, Yang Mulia Tuan Abaddon." Snowice pun pergi. Dia akan segera melanjutkan tugasnya.


Iblis memang suka membuat manusia merada menderita. Mereka akan membuat seolah hidup manusia paling terpuruk dan tak bisa bangkit lagi. Hal itu dibuat Iblis agar bisa menjatuhkan iman manusia. Menjauhkan manusia dari hal benar yang seharusnya mereka lakukan dan membuat manusia berpikir hal buruk tentang Sang Pencipta


...****************...


Seminggu setelah kecelakaan mobil tersebut ....


Bima masih mengenakan kursi roda karena kaki yang patah bekas operasi belum pulih sempurna. Semua membutuhkan proses dan waktu yang tak sebentar. Sedangkan Wahyu, luka di tangannya mulai pulih. Beberapa hari lagi, gipsnya bisa dilepas karena dokter sudah datang memeriksa. Sedangkan wanita yang bertabrakan dengan Bima itu masih di ICU belum sadarkan diri. Nama wanita itu Stefy dan suaminya bernama Richard. Anak dari wanita itu bernama Lucy, masih berusia lima tahun.


Ningsih sering mondar mandir ke rumah sakit memastikan pengobatan Stefy berjalan dengan baik. Meski Ningsih tahu wanita itu masih di ICU dan kemungkinan sembuh sangat kecil, tetapi Ningsih tetap mendoakan dna memohon kesembuhan bagi wanita tersebut. Tak lupa juga Ningsih memohon agar Allah mempertemukan wanita itu dengan keluarganya.


Selama empat hari Bima dan Wahyu dirawat di rumah sakit. Setelah itu, mereka pulang ke rumah. Ningsih selalu menerima mereka dengan tangan terbuka dan justru merawat semaksimal mungkin. Selama di rumah sakit hingga kembali di rumah, Ningsih selalu berusaha yang terbaik. Sedangkan Bima merasa menjadi rendah diri. Dia merasa menjadi manusia sangat rumit terlebih jika sakit. Istrinya yang sedang hamil menjadi sangat kerepotan untuk mengurus semuanya sendirian. Hanya dibantu oleh Alex.


Ningsih dengan sabar dan ikhlas menanggung segala biaya dan menjalani semua ini. Dia merawat Bima dengan sepenuh hati, dibantu oleh putra bungsunya. Semua ini harus terlewati karena bagian dari cobaan kehidupan. Namun ternyata tidak selamanya niat baik diterima baik.


"Sayang, kamu mau makan apa sekarang? Aku masak atau kita pesan saja?" tanya Ningsih pada suaminya dengan lembut. Dia berharap suaminya mau makan dan minum obat teratur.


"Tak usah, Ningsih. Kalau kamu memasak, pasti akan mual karena ada si kecil di dalam perutmu. Aku belum lapar juga. Biar anak-anak makan masakan Bibi atau delivery order saja," jawab Bima sambil menyentuh perut istrinya yang belum membesar. Meski masih rata, dalam rahim Ningsih terdapat buah cinta mereka. Bima sangat mencintai Ningsih dan berharap anaknya akan tumbuh sehat dan kelak lahir selamat serta hidup bahagia.


"Bima Sayang, kamu belum makan dari pagi. Katanya mau menjaga anak kita? Ayolah, kamu harus makan teratur, donk. Minun obat teratur juga dan harus sehat kembali," bujuk Ningsih pada suaminya agar lekas sembuh dan bisa segera minum obat yang ada jadwalnya. Wanita itu berharap semua bisa kembali seperti biasanya.


"Iya, Ningsih. Baiklah aku akan makan. Aku akan ke ruang makan sendiri. Kamu tidak usah mendorong kursi rodaku. Kasihan anak kita kalau kamu kecapekan," jawab Bima yang kemudian memutar kedua roda kursi tersebut menuju ke arah ruang makan. Lelaki itu berlalu perlahan meninggalkan Ningsih yang masih terdiam.


Sesungguhnya Bima merasa sedih dan malu karena kecelakaan tersebut membuatnya cidera dan terluka cukup serius sehingga membuat Ningsih ikut kerepotan akan semua hal ini. Bukan hanya soal mengurus administrasi, Bima merasa istrinya terbebani soal merawat dirinya. Dia juga bersedih karena membuat istrinya lebih banyak mengurus dirinya serta Wahyu dan terlihat kelelahan. Sungguh, baru kali ini Bima merasa tak berdaya dan menjadi beban. Dia pun mulai berpikir jika menjadi iblis adalah yang terbaik. Apalagi untuk menjaga keluarganya. Sebagai manusia, Bima memiliki banyak keterbatasan. Terlebih saat menghadapi musibah tak terduga seperti ini, Bima merasa tak berdaya.


Wanita itu terkejut dan bersedih. Tangannya sampai gemetar saat meletakkan piring makan kembali ke meja. Belum pernah semasa mereka bersama, Bima membentak Ningsih. Apalagi hingga membuat Ningsih gemetar ketakutan. Hal ini membuat Ningsih sangat terluka dan hendak menangis. Dia langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Bima sendiri di ruang makan. Hati wanita itu terluka dan rasanya teriris perih.


"Setelah apa yang aku lakukan dan perjuangkan, mengapa kau kasar? Membentakku seperti itu. Padahal aku hanya ingin membantu. Kamu tak tahu aku lelah dan penat. Setiap pagi harus mual muntah karena kandungan ini mengalami morning sick, tetapi aku tak pernah mengeluh padamu. Mengapa kamu tega, Bima?" batin Ningsih saat menangis di kamar. Dia hanya bisa terus menangis karena luka hatinya teramat perih.


Alex yang mendengar suara ayahnya dengan nada tinggi pun segera ke ruang makan dengan terkejut. Dia mendekati perlahan ayahnya. Tidak seperti biasa ayahnya berucap melukai hati. "Papa ... ada apa?" lirih Alex bertanya.


"Pergi saja sana. Susul Mamamu. Papa ingin sendiri," jawab Bima dengan nada menyesal sudah menggertak istrinya. Entah mengapa perasaan di benak Bima menjadi tidak karuan. Dia merasa menyusahkan keluarganya dan merasa tak nyaman dengan semua itu.


Alex pun heran mengapa ayahnya bisa seperti itu. Lelaki beranjang remaja itu segera menyusul ibunya di dalam kamar. Saat hendak masuk, Alex pun mendengar percakapan ibunya dengan seseorang di telepon.


"I-iya. Baik. Saya akan segera ke sana. Baik, Pak. Biar saya saja yang ke sana. Baik."


Ningsih segera mengakhiri panggilan masuk tersebut yang ternyata dari pihak kepolisian yang sedang di rumah sakit. Mengusut perihal kecelakaan tersebut. Ningsih memilih untuk berangkat sendiri diantar Pak Sopir agar Alex bisa di rumah menemani Bima dan Wahyu.


Alex pun masuk ke kamar ibunya. Terlihat wajah ibunya sembab pertanda baru saja menangis. Namun dia tak tega memberi pertanyaan pada ibunya yang terlihat segera mengambil tas dan jaket. "Mama ... Mama mau ke mana?" tanya Alex menatap ibunya.


"Alex di rumah saja, ya? Mama mau pergi sebentar diantar Pak Sopir. Alex di rumah menemani Papa dan Kak Wahyu agar tidak kesulitan kalau ada apa-apa. Di rumah cuma para Bibi, kan?" perintah Ningsih yang sepertinya tak bisa diganggu gugat.


Alex pun mengangguk tanda setuju karena tak ada hal lain yang bisa dia perbuat. "Mama hati-hati di jalan, ya. Alex sayang Mama dan calon adik bayi," ujar Alex sambil memeluk ibunya.


"Iya, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Tenang, ya?" Ningsih mengelus pucuk kepala anak bungsunya. Dia mencoba menenangkan Alex.


Setelah itu, Ningsih segera mengenakan jaket dan membawa tas jinjingnya. Dia keluar dari kamar dan bergegas pergi bersama Pak Sopir dengan mobil menuju ke rumah sakit. Saat ini, pihak kepolisian berada di sana bersama keluarga dari wanita tersebut. Ningsih tak mau Bima semakin tertekan akan hal ini. Dia hanya diam dan menghadapi itu seorang diri. Padahal dia tahu, hasil penyelidikan polisi menyatakan mobil Bima lah yang bersalah. Berarti Bima harus mempertanggung jawabkan atas kecelakaan ini.


"Ya Allah ... lindungilah kami. Lindungilah keluargaku dari segala cobaan. Mampukan kami melampaui hal-hal sulit yang terjadi. Mampukan hamba-Mu ini menemui polisi dsn keluarga korban kecelakaan karena pada-Mu hamba berharap dan berpasrah penuh. Amin." batin Ningsih yang berdoa sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.


Wanita itu tahu hal yang akan dia hadapi bukan hal mudah. Namun dia percaya Sang Pencipta akan memampukannya menghadapi permasalahan itu. Ningsih begitu mencintai Bima hingga tak bisa membiarkan Bima semakin sakit dan tersiksa karena musibah kecelakaan ini.


Sesampainya di depan rumah sakit, Ningsih keluar dari mobil dan masuk ke rumah sakit sendirian. Seorang laki-laki menghampiri Ningsih dan bertanya, "Bu Ningsih, di mana suami Anda?"


"Maaf, Pak. Kondisi suami saya belum stabil. Saya akan mewakilkan Bima," jawab Ningsih dengan mantab.


"Baik kalau begitu. Silakan masuk. Keluarga korban kecelakaan sudah ada di sini. Ternyata waktu musibah itu terjadi, dia hendak menjemput suami dan anaknya yang berada di bandara. Semua ketahuan karena laporan kehilangan keluarga dari suami dan anaknya. Saat ini, kondisi wanita itu makin kritis, kemungkinan keluarga akan menuntut," jelas pihak kepolisian yang sudah di rumah sakit sejak tadi.


Ningsih bingung harus melakukan apa kecuali hanya berpasrah. Dia tak bisa mengelak sekali pun. Hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja.