JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 107


Sebelum memulai menulis cerita pada Bab 107 ini, Author mengucapkan terima kasih kepada pembaca setia JERAT IBLIS yang selalu support dengan Like, Komentar, VOTE, dan juga mengikuti cerita dengan klik favorit. Author sangat senang bisa menghibur kalian semua dengan tulisan ini. Semoga kalian terhibur^^


***


πŸ€ INGIN MENGHILANG πŸ€


Ningsih pulang saat matahari hampir tenggelam. Dia pergi bersama Bima ke suatu tempat sebelum akhirnya memutuskan berpulang. Bima tak mengikuti Ningsih karena Budi membuat pagar gaib yang sulit ditembus.


"Budi ... mbak yang dari yayasan apa sudah datang?" tanya Ningsih saat masuk ke rumahnya.


Rumah bercat putih dengan corak bunga di dinding dalam rumah, sangat elegan dan terkesan mewah. Namun banyak kamar kosong di sana terlebih Mak Sri sedang cuti.


"Sudah, Bu. Ini namanya Mbak Rahma. Baru saja sampai, Bu," jawab Budi dengan sopan.


Budi duduk di samping wanita berusia sekitar tiga puluh tahun, memakai kerudung hitam dan pakaian warna biru tua milik yayasan penyalur asisten rumah tangga. Wahyu duduk di pangkuan Budi dan segera berlari ke arah Ningsih.


"Mama ... Ma, Wahyu lapar. Mau makan Mcd sama Mama dan Om Budi," celoteh Wahyu.


"Iya, sayang. Sebentar ya. Mama ada perlu sama Mbak Rahma dulu," kata Ningsih dengan lembut kepada anaknya.


"Iya, Ma ...." Wahyu lalu berlari ke kamarnya di susul Budi.


"Saya ikuti Den Wahyu ya, Bu." izin Budi sambil lalu.


"Iya, silahkan. Oh iya, Mbak Rahma sudah berpengalaman di yayasan sana?" Ningsih mengawali percakapan lalu duduk di samping Mbak Rahma.


"Sudah lumayan, Bu. Saya bekerja ikut yayasan sekitar tiga tahun. Berganti tuan rumah karena rata-rata tidak memperbolehkan cuti pulang kampung. Jadi saya berpamit sekalian jika lebaran," jelas Mbak Rahma.


"Oh, begitu. Baik. Mbak mulai saat ini bekerja di tempat saya, ya. Sebenarnya saya mempunyai asisten rumah tangga yang khusus memasak dan merawat Wahyu saja, tetapi beliau saat ini sedang cuti. Jadi Mbak Rahma menggantikan tugas beliau. Kalau untuk bersih-bersih rumah, dua hari sekali ada petugas kebersihan yang saya bayar membersihkan seluruh isi rumah. Jadi Mbak Rahma tak usah khawatir," tegas Ningsih kepada asisten rumah tangganya yang baru.


"Baik, Bu. Saya akan bekerja sebaik mungkin."


Ningsih pun menunjukan kamar untuk Mbak Rahma. Tepat di samping kamar Wahyu agar mudah untuk mengawasi puteranya itu.


"Ini kamarnya Mbak Rahma. Nah, yang ini kamarnya Wahyu. Kalau kamar saya ada di lantai dua. Kamar Budi ada di belakang dekat dapur. Selain itu, kamarnya kosong karena Mak Sri cuti."


"Baik, Bu. Terima kasih."


"Malam ini kamu istirahat saja dulu. Besok baru mulai kerja. Buat sarapan di dapur untuk saya, Wahyu, Budi, dan kamu, ya?"


"Iya, Bu."


Setelah menjelaskan semunya, Ningsih pun menuju kamar Wahyu. Terdengar suara puteranya tertawa diikuti suara Budi. Mereka terlihat senang dan bahagia saling menggelitik badan. Ningsih tersenyum melihat hal itu.


"Wahyu ... jadi ke MCD nggak? Apa mau sama Budi aja?" tanya Ningsih pada anaknya.


Wahyu berhenti tertawa dan menjawab, "Ah ... Mama gimana sih? Wahyu maunya pergi sama Mama dan Om Budi."


"Iya ... iya ... yuk sekarang aja," ucap Ningsih mengalah.


"Asyiik! Ayo Om Budi, kita ke MCD!" sorak Wahyu dengan girang.


Dalam perjalanan, Budi menyetir mobil sedangkan Ningsih dan puteranya duduk di kursi penumpang. Mereka bercengkrama tentang apapun.


***


Bima belum bisa menembus pagar gaib yang Budi buat. Bima pun melesat ke tempat kerja Ningsih. Di sana ada Hartono dan Alex yang sedang berpesta merayakan kebangkrutan Ningsih.


"Kami hebat sekali, Alex! Sekali tepuk, dua tiga lalat mati. Kalau begini bisa jadi jutawan mendadak." kata Hartono sambil menuangkan Jack Danielle di gelas sloki.


"Tentu saja. Tak percuma aku bekerja dengan wanita itu selama ini. Wanita itu terlalu angkuh dan jual mahal. Namun hartanya ini lumayan banyak untuk kuhabiskan sekarang. Ha ha ha ...." kata Alex si kaki tangan Ningsih dengan pongah.


Bima hanya mengamati percakapan dua manusia berhati iblis tersebut. Mereka memang berniat mengeruk harta Ningsih sebanyak mungkin.


"Kau sudah urus semuanya sebaik mungkin, kan? Jangan sampai ada yang curiga," tegas Hartono pada Alex.


"Santai saja. Semua aman terkendali," jawab Alex mengangkat sloki berisi minuman keras untuk bersulang dengan Hartono.


Mereka tertawa bersama menikmati setiap tegukan minuman memabukan itu. Bima kesal dengan kelakuan dua orang pekerja Ningsih tersebut. Bima pun merencanakan sesuatu untuk membalas mereka. Jika mereka memakai harta Ningsih, Bima berkesempatan mengambil nyawa dua lelaki itu.


"Kamu tahu kalau Ningsih itu di rumah hanya dengan anaknya berusia tujuh tahun dan tukang kebunnya saja?" tanya Hartono pada Alex yang sudah setengah mabuk.


"Gimana kalau setelah masalah keuangan ini selesai kita berkunjung ke sana," ucap Hartono menyeringai.


"Ide bagus."


Hartono dan Alex merayakan kemenangan mereka dalam merebut harta Ningsih.


Keesokan harinya, Alex menyiapkan semua bahan untuk meeting dengan investor sedangkan Hartono pergi ke tempat penjualan toko dan kantor. Mereka menawarkan dengan harga standart agar lekas terjual.


Ningsih pagi itu juga berangkat ke kantor seperti biasa. Saat di tengah perjalanan, Bima datang dan duduk di kursi sebelah Ningsih.


"Bima?" ucap Ningsih terkejut.


"Iya, maaf semalam aku tak bisa menemanimu," kata Bima dengan senyum manis di pagi hari.


"Iya tak apa. Kamu sibuk?"


"Aku ke kantormu semalam. Ternyata bukan hanya Alex yang mengincar hartamu. Hartono juga begitu." jelas Bima tak mengagetkan Ningsih. Sudah sejak lama Ningsih tahu jika beberapa orang di kerjaannya berkhianat.


"Oh, biarlah. Mereka hanya menginginkan uangku saja, bukan? Hari ini akan kuselesaikan semua. Biarkan saja orang serakah itu," jawab Ningsih sambil menyetir mobil.


"Ningsih ... mereka tak akan puas mengambil hartamu saja. Semalam mereka berencana untuk berbuat sesuatu padamu."


"Hmm ... iya kah? Kalau begitu, lindungi aku ... suamiku," lirih Ningsih dengan lembut.


Mobil Ningsih sudah berhenti di parkiran kantor. Sebelum turun dari mobil, Ningsih memeluk tubuh kekar Bima. Bima pun mengecup lembut bibir istrinya. Meski ada rasa panas saat ******* bibir Ningsih, Bima mengabaikan hal itu. Rasa rindu semakin membuncah.


"Sayang, nanti malam pulanglah ... aku rindu ...." bisik Ningsih di telinga Bima.


"Sama, aku pun rindu. Namun, rumahmu ada pagar gaib yang sulit kutembus. Ningsih, sebenarnya beberapa waktu lalu aku terluka parah saat bertempur dengan Evan dan Lily. Saat ini pun kekuatanku belum kembali 100 persen." Bima mengelus lembut pipi istrinya.


"Kenapa kamu tak bilang? Rumahku tak mungkin ada pagar gaib, kecuali ...." Ningsih teringat soal Budi yang dia tinggal beberapa waktu di rumah sendirian.


"Iya, dia yang memagari rumahmu. Tak apa, nanti kita bisa habiskan waktu di hotel," kata Bima pada Ningsih.


Ningsih tersipu malu. Rasa candu cinta membuat Ningsih tak bisa marah terhadap Budi. Bahkan melihat Bima tak mempersalahkan itu, Ningsih tak jadi meradang.


"Iya, sayang. Aku meeting dulu. Pembubaran usaha ini."


Ningsih turun dari mobil. Meninggalkan Bima di sana. Wanita itu berjalan ke ruangan meeting. Saat hendak masuk, Alex menemuinya.


"Bu, ini semua laporan tentang investor yang menarik investasinya dan soal penjualan aset kantor. Lalu ini laporan untuk gaji dan pesangon pegawai," kata Alex.


"Oh ... baik Alex. Terima kasih kerja kerasmu."


Meeting itu berjalan dengan lancar. Berakhir dengan keputusan pahit menjual semua aset, menutup kantor dan usaha, serta memecat semua pegawai dengan pesangon tiga kali gaji. Ningsih tak berkeberatan dengan hal itu. Dia memang sudah bosan dan jenuh mengelola semuanya. Hartono dan Alex tersenyum kemenangan ketika Ningsih menanda tangani semua berkas itu tanpa membaca isinya.


***


Sore harinya, Ningsih dan Bima melepas rindu di hotel berbintang lima. Sudah dua jam mereka bertaut kasih, tapi rasa haus cinta itu selalu menggelora.


Senja pun berganti dengan malam. Angin berembus masuk lewat jendela yang belum ditutup oleh dua sejoli beda dunia yang sedang mabuk cinta.


"Sayang ... sudah malam," bisik Ningsih lembut dalam dekapan Bima.


"Iya ... kamu mau pulang?"


"Emm ... aku ingin menghilang saja."


Jawaban Ningsih membuat Bima bingung. Bima menatap kedua bola mata istrinya.


"Kenapa ingin menghilang, sayang?" tanya Bima dengan lembut.


"Karena aku tak ingin bertemu siapa pun kecuali dirimu. Bawa aku menghilang dari sini agar bisa bersamamu selamanya," lirih Ningsih membuat Bima memeluk erat tubuhnya.


"Ningsih sayang, untuk saat ini hanya hal ini yang bisa kulakukan. Entah apa yang terjadi ke depan. Namun kupastikan aku akan bersamamu selamanya."


Kalimat itu mengakhiri percakapan pasangan berbeda dunia itu. Mereka pun mandi dan Ningsih bergegas pulang ke rumah. Bima pun pergi ke tempat Bagas. Seperti biasa, mengambil tumbal yang dengan mudah Bagas dapatkan.


Bersambung ....