JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 121


πŸ€ SEMBUH MESKI TERLUKA πŸ€


Bagas sedang sibuk dengan wanita incarannya. Seperti biasa kelakuan lelaki kucing garong itu selalu mencari mangsa.


Bagas: [Gimana, sayang? Jadi ketemu kan malam ini?]


Seorang wanita: [Maaf, Bang. Nggak bisa dulu. Aku ada job malam ini.]


"Huh dasar wanita tak jelas! Tadi siang katanya mau ketemu malah sekarang batalin janji nggak bilang-bilang! Apa aku cari jajan aja ya? Dah lah pergi dulu. Terlanjur dah booking kamar," gerutu Bagas sambil membuang puntung rokoknya.


Sial nian malam itu karena Bagas sudah membooking hotel lewat aplikasi dengan nominal yang tidak sedikit. Dia pun mengendarai mobil mencari ke tempat lokalisasi kelas menengah. Berharap ada yang cocok untuknya.


"Mami, ada yang bohay nggak?" tanya Bagas pada wanita setengah baya yang mendekat ke arah mobil Bagas.


"Ada donk, Om. Mau yang spesial atau yang biasa atau yang pedes?" Wanita yang disebut Mami itu menawarkan dengan kode sandi.


Bagas yang tak paham pun memilih asal. "Spesial aja, berapa?"


"Short time 500 ribu kalau long time 700 ribu buat yang spesial. Aman dan bersih. Ada lima pilihan," ucap Mami sambil menepuk tangannya tiga kali lalu lima gadis cantik keluar dari tempat lokalisasi dengan pakaian press body nan sexy.


"Wah, pas banget sama barangnya. Ok, aku pilih yang dress merah. Uangnya sekarang atau nanti?" Bagas sumringah melihat gadis montok itu.


"DP dulu Om. Sisanya biar dibawa Natasha. Lokasinya mau di mana ya? Nanti Natasha biar lapor sharelock sama Mami."


Bagas pun mengambil lima lembar seratus ribuan untuk diserahkan si Mami. "Ini uang DPnya Mami. Natasha masuk mobil sini."


"Wah. Thanks Om. Silahkan bersenang-senang." kata Mami mempersilahkan Natasha pergi.


Natasha tersenyum menatap Bagas. Mereka berbasa-basi hingga sampai ke hotel yang dituju. Masuk ke loby untuk check in sesuai aplikasi. Setelah berjalan menuju kamar, Natasha mengecek handphonenya dan mengirim lokasi pada Mami sesuai prosedur.


Bagas yang hasratnya sudah memuncak pun lekas mengajak Natasha berhubungan. Pas sekali dengan kondisi Bima yang terluka parah dan mencari energi untuk menyembuhkan lukanya.


"BAGAS, PINTAR SEKALI KAMU. MALAM INI CARILAH LIMA WANITA UNTUK TUMBAL." kata Bima mengagetkan Bagas yang hendak bercinta.


Tentu saja hanya Bagas yang mendengar perkataan Bima. Hal itu membuat Bagas makin bersemangat karena setiap tumbal yang meninggal akan diganti dengan harta oleh Bima di almari sesaji. "Natasha, kamu hubungi Mami dulu. Empat temanmu ajak ke sini buat main bareng. Kamu mau?" lirih Bagas sambil mengusap wajah cantik di bawah tubuh Bagas.


"Mau, Om. Sebentar Natasha ambil handphone dulu."


Wanita penghibur itu dengan semangat mengabari Mami karena dengan merekrut temannya akan membuatnya bertambah komisi. Setelah menunggu beberapa saat, Mami mengangkat telepon dan setuju dengan penawaran Bagas. Dia pun mengirim empat wanita spesial pesanan Bagas untuk menggenapi jadi lima wanita.


Bima menyeringai melihat kerja Bagas yang sangat mudah terjerat dalam tipu dayanya. Bagas pun bermain dengan Natasha sambil menunggu keempat wanita lainnya datang. Setelah hampir pelepasan, suara bel kamar berbunyi. Bagas pun terpaksa berhenti. memakai handuk dan membuka pintu. Empat gadis cantik di hadapannya pun masuk. Bersamaan Mami menerima uang DP dari Bagas.


"Selamat party, Om." ucap Mami sambil mengerlingkan mata.


Bima pun masuk ke tubuh Bagas segera. Saat Bagas bercinta dengan kelima wanita itu, Bima menyerot energi dan hawa manusia mereka. Sehingga wanita itu cepat lemas dan capek. Bima berangsur pulih dari luka meski belum sempurna sembuh. Sangat mudah mengambil nyawa manusia yang sudah terjun ke lembah dosa.


Mereka menyelesaikan permainan saat hendak subuh. Bagas pun mandi dan bersiap ke kantor setelah memberi upah kelima wanita bohay itu. Tentunya dengan memberi uang lebih pada mereka.


Bima pun segera mengikuti lima wanita itu untuk mencabut nyawa mereka. "KERJA BAGUS! PULANGLAH DAN TENGOK ALMARI SESAJI DAN LIHAT BERAPA BANYAK YANG AKAN KAU DAPATKAN." tegas Bima sambil berlalu.


"Yes! Aku kaya raya!" teriak Bagas bahagia dengan kesenangan sesaat.


Bima pun menyusul langkah kelima wanita yang sudah memesan taksi. "Mami perhatian ya sudah mesanin kita taksi." ucap Natasha sambil masuk ke mobil. Mereka pun bercakap-cakap tanpa memperdulikan sopir taksi itu.


"Jelas donk. Kita dapat uang sih. Coba nggak?"


"Dah jangan gerutu, cuss pulang bersih-bersih and tidur cantik."


"Om semalam kuat ya. Moga lain kali pakai kita lagi. Aku sampai lemes nih."


"Sama. Aku juga lemes nihm Kirain cuma aku yang kualahan."


"Ha ha ha ... memang kok."


Bima tersenyum membawa kelima wanita itu dengan taksi gaib. "BAWA MEREKA KE NERAKA UNTUK TUAN CHERNOBOG." kata Bima kepada supir gaib.


Dalam dunia nyata, kelima wanita penghibur itu meninggal tertabrak bis saat menyeberang jalan hendak kembali ke tempat lokalisasi. Tubuh mereka hancur karena tertindlas tanpa ampun. Hal itu membuat Mami trauma dan hendak menutup lokalisasinya sementara.


Bima tertawa melihat hal itu. Pastinya lima tumbal itu akan menyenangkan hati Tuan Chernobog untuk sementara.


***


Ningsih bergegas ke rumah sakit saat Budi hendak pulang tidak melanjutkan opnamenya. Reno mengantar Tante Ningsih sedangkan Joko mengantar dan menunggu Wahyu sekolah. Santi dan Mak Sri masih di rumah sakit menunggu Budi sejak kemarin.


"Tante, jangan terlalu banyak pikiran ya? Reno khawatir dengan Tante." lirih Reno saat berjalan di bangsal rumah sakit.


"Terima kasih ya Reno. Maaf Tante banyak ngrepotin." jawab Ningsih yang tak fokus karena banyak hal dipikirkan.


Budi sudah bersiap pulang. Dokter sudah mengijinkan karena hasil check up semua baik. Terlebih Pak Anwar semalam memberi transfer energi ke Budi.


"Ningsih?" Budi terkejut melihat Ningsih masuk ke bangsalnya saat dia hendak keluar bersama Santi dan Mak Sri.


"Budi sudah mau pulang?"


"Iya. Maaf, Bu."


"Tak apa panggil Ningsih saja. Usia kita juga tak jauh beda. Kalau gitu aku urus administrasi dulu," kata Ningsih berbalik badan.


"Tante, sudah Santi bereskan untuk administrasi." sahut Santi sambil tersenyum. Dia tahu jika Tante Ningsih pun berbeban berat memikirkan Budi yang sakit secara tiba-tiba.


"Wah, Santi baik banget. Terima kasih ya. Nanti biar Tante ganti. Ayo sekarang pulang. Tante bawa mobil yang gede kok." Ningsih menggandeng Budi yang masih terlihat lemas berjalan.


"Terima kasih, Bu Ningsih. Saya bisa jalan sendiri." ucap Budi melepaskan tangannya dari Ningsih.


"Ah, iya. Maaf."


Suasana menjadi canggung karena Ningsih merasa sangat bersalah dengan Budi. Hal salah paham yang entah apa dalam pikiran Bima hingga menyerang Budi. Ningsih tak tahu.


Mereka pun kembali ke rumah Ningsih tanpa percakapan di dalam mobil. Sesampainya di rumah, Santi pun mengutarakan isi hatinya.


"Tante, maaf. Santi mau pulang ke Yogyakarta dengan Reno. Kalau Wahyu kami ajak apakah boleh?" kata Santi disaat tak tepat.


"Kenapa mau bawa Wahyu? Biar dia di sini kan sudah bahagia." jawab Ningsih yang bingung.


"Maaf, Tante. Soalnya tak cuma kami yang mau pergi dari sini ...." Santi berhenti bicara. Budi pun melanjutkan.


"Maaf, Bu. Saya dan Budhe Sri juga izin pulang kampung saja. Jujur saja keadaan di sini sudah tidak kondusif. Saya khawatir akan membahayakan Budhe juga jika tetap bekerja di sini." Budi mencoba sehalus mungkin menerangkan.


Ningsih syok dan merasa akan ditinggalkan begitu saja. "Kalian udah berencana mau meninggalkanku ya? Kalau memang aku ikut pesugihan kenapa? Toh kalian bisa hidup enak dari uangku. Dari uang suami gaibku! Dasar manusia munafik! Kalau mau pergi ya pergi saja jangan bawa anakku!" gertak Ningsih yang sudah kehilangan akal.


Mak Sri pun kaget dan mengelus dada, "Istighfar, Bu. Saya ikut Ibu sudah tahunan. Sudah sayang sama Wahyu. Saya harap Ibu mau berubah biar Wahyu tidak ikut kena getahnya. Maafkan kelancangan saya dan keponakan saya ini. Maaf, Bu."


Mak Sri mendekati Ningsih yang masih emosi. Ningsih pun sedih. "Terus setelah kalian tahu kenyataannya, kalian mau lari meninggalkanku sendirian? Apakah ini yang namanya keluarga? Kalian tidak tahu apa yang kuhadapi sampai memilih jalan ini."


Ningsih terlihat kacau. Tangis pun pecah tak tertahan. Dia pun menjatuhkan tubuhnya di sofa, terduduk. Keadaan itu membuat Santi, Budi, Reno, dan Mak Sri serba salah. Mereka terdiam sejenak membiarkan Ningsih menangis.


"Maafin aku, Tante. Ini keputusan berat. Tapi kami sudah tahu semuanya karena kemarin suami gaib Tante menyerang Mas Budi hingga hampir meninggal. Tante sayang kan dengan Wahyu? Kalau sayang, biar Wahyu bersama kami dahulu. Tante bisa memikirkan lagi jalan ini. Mau berhenti atau tidak. Kami tidak akan memaksa," jelas Santi sambil mengusap punggung Tante Ningsih.


Ningsih masih terdiam. Dia menjadi menyalahkan Bima atas kejadian ini. "Bima, jika kamu kemarin tidak menyerang Budi begitu saja, pasti tak akan terjadi hal ini. Apa yang kamu pikirkan sekarang? Bahkan menemuiku pun tidak. Sekarang mereka menginginkan pergi dari sink bersama Wahyu. Salahmu! Salahmu, Bima!" batin Ningsjh berteriak menyahkan suami gaibnya tanpa melihat diri sendiri.


Ikatan yang salah. Jalan hidup berliku yang diambil. Keputusan sulit dan kejam untuk menumbalkan nyawa orang lain. Semua salahnya Bima kah? Atau justru salah Ningsih yang mau terjun ke kelamnya kehidupan gelap dan berujung pada siksa api neraka?


Bima mendengar hal itu dan menuju ke rumah Ningsih. "NINGSIH, MENGAPA KAMU MARAH TERUS PADAKU? LIHAT AKU SAAT INI JUGA TERLUKA HEBAT AKIBAT SEMALAM AYAH BUDI MEMBALAS KEPADAKU. AKU LAKUKAN INI KARENA TAK INGIN MEREKA MEMISAHKAN KITA. NINGSIH, JIKA BISA PUN AKU AKAN MELEPASKANMU DARI HAL INI. NAMUN TUANKU PUN SUDAH MENGANCAMKU." ucap Bima yang hanya bisa didengar Ningsih.


Bima terluka. Ningsih menatapnya dan merasakan sakit juga. Tak disangka hubungan ini akan menjadi sangat rumit ketika banyak hal harus dipertimbangkan. Hubungan gaib ini bukan hanya sekedar harta atau kepuasan syahwat saja. Namun semua sudah terlalu dalam. Ningsih tak ingin lepas dari Bima. Begitupun Bima tak ingin melepas Ningsih. Padahal gengaman cinta mereka hanya akan berujung pada kehancuran bagi keduanya. Jika bukan saat ini, maka secepatnya hal itu akan datang menghampiri mereka. Di Bumi ... maupun di Neraka.


Mampukah mereka menghadapi kenyataan yang pahit?


Bersambung ....