
Gelap malam hilang ditelan fajar. Namun, rasa sesak itu belum sirna. Santi paham betul semua berpusat pada kemusyrikan mendiang ibunya. Tapi apa daya macam pepatah nasi sudah menjadi bubur. Ada takdir yang memang tak bisa diubah. Meski berjuang sedemikian rupa, hal buruk terjadi ketika menebar benih luka di masa lalu.
Santi membuka mata perlahan, semenit kemudian bangkit dari ranjangnya dan bergegas mengambil air wudhu. Kesegaran nan menyejukan hati di tengah risau. Mengadu kepada Sang Khalik adalah keputusan terbaik dalam segala kesesakan di rongga dadanya. Kesedihan masih hinggap di benak, tetapi kembali semua harus dijalani dengan tegar. Santi harus kuat demi hidupnya dan sang adik, Reno.
Sholat merupakan kewajiban yang tak bisa ditinggalkan oleh gadis berhijab itu. Terlebih sejak lulus SMA, dia semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Berharap belenggu dosa orang tuanya tak berdampak ke dalam hidupnya maupun sang adik tercinta. Berdoa... Memohon ampun bagi keluarga kecilnya yang sudah tak utuh, bagaikan gelas pecah yang tertimbun tanah. Orang tua sudah tiada dan dia menjadi tumpuan Reno.
Reno memang berbeda dengan Santi. Jauh. Lelaki yang beranjak ABG itu lebih cuek dan tak terlalu mendalami agama. Hidupnya terlalu banyak dimanja oleh kedua mendiang orang tua. Sejak kecil selalu saja Reno menjadi pusat perhatian ayah ibunya. Saat masih miskin pun iya, apalagi saat bergelimang harta. Ratih selalu mengutamakan Reno. Begitulah cermin kesalahan mendidik anak lelaki. Membuat mentalnya lembek dan tak bisa bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
"Sudah sholat, Nduk..." sapa BuLek dari dapur.
"Sudah, BuLek. Santi bantu ya," jawab gadis itu sambil mengaduk beras yang sedang dimasak (dikaru)
"Reno sudah bangun belum?"
"Belum, BuLek. Santi capeklah bangunin lelaki bukan pejaka itu. Sudah gede mosok mau manja terus," cicitnya kesal.
"Huss! Nggak boleh bilang begitu, Nduk. BuLek paham kalau kamu sebel sama Reno, tapi bagaimanapun dia keluargamu satu-satunya. Jangan bilang begitu ya.... apalagi di depan adikmu," BuLek menasehati.
Santi terdiam sejenak. Mengapa hidup tak seadil pemahamannya? Selalu saja Reno dibela. Namun, adakah yang berpihak pada Santi yang taat agama dan berhidup baik? Bahkan kedua orang tuanya semasa hidup selalu membela dan memanjakan Reno.
"BuLek, kadang aku lelah jadi orang baik. Kenapa sih yang bandel malah selalu disayang dan diperhatikan?"
Santi pun berlalu dari dapur. BuLek terdiam menatap punggung gadis remaja itu berlalu dari ruang memasak. Sungguh berat beban yang ditanggung Santi. Serta merta kejadian buruk yang bertubi-tubu menghajar kewarasannya pun membuat mental semakin down. Gadis mana yang mampu bertahan diusia belum genap dua puluh tahun menghadapi kenyataan ayahnya meninggal menjadi tumbal keserakahan ibunya?
Santi masuk ke kamar dengan bersungut-sungut. Lalu diraihnya gawai yang sedari kemarin tergeletak di meja, diabaikan. Dia pun terkejut saat membaca pesan. Pesan dari seorang yang sudah dianggap sebagai keluarganya.
[ Santi, ini Tante Ningsih. Santi dan Reno bagaimana kondisinya? Tante akan menyusulmu. Sekarang kalian berada di mana? ]
Santi langsung membalas pesan itu. Secerca harapan, syukurlah Ningsih selamat.
[ Tante baik2 saja kan? Aku dan Reno berada di Salatiga. Aku share lokasi ya. ]
[ Baik. Tante akan ke sana nanti. Jaga kesehatan ya. ]
Santi tak henti-hentinya bersyukur. Paling tidak sahabat ibunya selamat dari maut. Walau dia tahu kenyataannya Ningsih terlibat dalam hal sesat seperti ibunya, tetapi semua dia simpan rapat-rapat. Dia hanya bisa berharap semua ini akan berakhir.
"PakLek, Tante Ningsih mau ke sini," ucap Santi menemui PakLek Darjo di depan rumah.
"Teman Ibumu?"
"Iya, PakLek...." Santi menunduk.
"Sudah, tak apa. Biarkan dia ke sini agar lebih aman. Dia bersama anaknya," PakLek menyeruput kopi hitamnya sambil mata menerawang jauh.
"Kak, siapa yang mau ke sini?" Reno tiba-tiba muncul dan membuat Santi terkejut.
"Oh, Tante Ningsih dan Wahyu," jawab Santi acuh.
"Mereka menjemput kita, Kak?"
Santi hanya terdiam, menatap Reno dengan tatapan mengancam. Tak berkata apa pun.... Lantas berlalu menuju kamarnya dan menutup pintu kencang.
"Reno salah ya, PakLek?"
"Le, biarkan saja dulu Mbakyumu itu. Dia baru banyak pikiran. Lelah."
"Inggih, PakLek."
"Sebaiknya jaga sikapmu jika teman Ibumu datang," PakLek memperingatkan Reno.
Reno hanya terdiam. Dia pun kembali ke kamar. Pagi hari nan galau baginya. Memang semua orang serasa menyalahkannya, tapi apakah mereka tahu perasaan Reno sesungguhnya? Hah. Tak mungkin mereka peduli.
Reno merasakan bahwa rasa khawatir dan pedulinya kepada Ningsih bukan hanya sekedar hubungan tante dan keponakan. Dia terhanyut oleh kejadian yang membuatnya lepas keperjakaan. Cinta itu seperti apa? Akankah cinta terlarang ini bersambut dengan baik? Sepertinya Reno paham jika hal ini salah dan Ningsih pun tak merasakan hal yang sama.
****
Siang itu Ningsih cek out dari hotel. Bergegas pergi, melaju dengan mobilnya bersama sang buah hati. Mengikuti arahan dari GPS yang dia setting sesuai petunjuk pesan dari Santi. Berharap semua akan membaik.
'Bima, bagimana keadaanmu?' tanya Ningsih dalam hati.
Belum ada jawaban dari Bima. Ningsih sedikit khawatir. Terlebih Bima sempat menghilang beberapa waktu lalu.
Mengapa semua berjalan menjadi sulit dan rumit? Bahkan hanya ingin hidup tenang menikmati hasil pun susah. Hari-hari menjadi tak mudah dijalani. Bahkan untuk sekedar tidur dan beristirahat pun sekarang tak tenang. Ningsih selalu was was dan khawatir sesuatu hal terjadi. Seperti siang ini..... firasat buruknya benar-benar terbukti.
Perempatan jalan nan ramai, mobil Ningsih berhenti di belakang garis putih sesuai peraturan berlalu lintas. Tak di sangka sebuah bis melaju pesat dari arah berlawanan. Sepertinya rem bis itu blong dan melaju dari jalan turun ke arahnya.
Ningsih tergugup takut melihat kemungkinan yang bisa terjadi. Dia mencoba memajukan mobilnya lalu membanting stir ke arah kanan secara cepat. Nyaris sekian detik bis itu menlindas beberapa kendaraan di belakang mobil janda beranak satu itu.
Wahyu menutup kedua matanya dengan tangan. Takut dan syok. Ningsih selamat dari petaka yang membuat jalanan ramai dan heboh. Tangan Ningsih masih gemetar memegang stir. Sedangkan pandangannya melihat ke arah belakang. Bis menelindas banyak mobil dan motor. Terlihat darah berceceran bersama sempalan bodi mobil dan motor beserta bagian tubuh pengemudinya. Korban begitu banyak tertlindas kendaraan besar tanpa penumpang itu.
Mual. Hampir muntah. Lalu seketika bayangan itu mengabur. Ningsih pingsan di dalam mobil saat beberapa orang menghampirinya.
****
GAES JANGAN LUPA LIKE, VOTE, TIPS, & KOMENTAR YAA.... AUTHOR SANGAT BERTERIMA KASIH ATAS SEMANGAT DAN DUKUNGAN KALIAN! LOVE YOU ALL