JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 62


...🔥 NINGSIH DAN MALAIKAT PENCABUT NYAWA 🔥...


Ningsih bangun dengan sakit disekujur tubuhnya. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh, tetapi belum bisa dia pahami. Entah hanya perasaan atau memang kenyataan yang belum dia mengerti. Ningsih segera bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah berganti pakaian dan berdandan, ia bergegas ke ruang makan. Ningsih duduk di bangku dan menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh bibi.


"Rumah ini terasa begitu besar ketika aku hanya sendiri. Iya, rumah ini terasa menyenangkan ketika ada suami dan anak-anak. Sungguh, kehidupan tidak ada yang tahu di depan seperti apa. Hanya bisa menjalani segala sesuatunya sebaik mungkin hari ini, untuk masa depan yang lebih baik," batin Ningsih sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya. Makanan itu tersaji di atas meja, tetapi nafsu makannya sama sekali tidak ada. Wanita itu terus berpikir banyak hal yang membuat dirinya semakin cemas.


Belum selesai Ningsih dengan pemikirannya, bel pintu rumah pun berbunyi. Dia bergegas berdiri dan hendak membukakan pintu. Namun ternyata Bibi sudah membukakan pintu terlebih dahulu. Ada tamu yang datang. Ningsih sangat semangat menemui orang itu. Tanpa disangka, tamu yang berada di depan pintu rumahnya adalah Budi.


"Loh, Budi? Kok, sudah sampai di sini? Pagi sekali ada apa? Di mana Santi dan juga anakmu?" tanya Ningsih sambil menengok ke belakang Budi yang ternyata tidak ada siapa pun kecuali dirinya.


"Iya, aku sengaja ke sini pagi karena ada acara di Kota Yogyakarta. Biasa ... mengisi ceramah. Tapi kali ini aku sendirian. Maaf kalau aku ke sini terlalu pagi. Apakah aku mengganggumu?" ucap Budi sambil tersenyum menatap Ningsih yang baru saja terlihat selesai sarapan. Budi menebak karena dilihat dari sudut bibir wanita itu ada bercak kopi.


"Oh, ada acara ceramah, ya. Pantas saja kamu tumben sendirian. Biasanya kamu bersama tim atau Wahyu dan juga Santi. Kalau begitu, masuk dulu, Budi, udara masih dingin. Ayo sarapan biar nanti tidak pergi dengan perut kosong saat meninggalkan rumahku," ajak Ningsih yang ada dihadapannya itu.


Budi pun senang mendengar tanggapan Ningsih yang ramah dan mempesona baginya. Budi pun mengikuti Ningsih masuk ke rumah dan segera ke ruang makan. Ningsih mempersilahkan Budi duduk dan dia membuatkan secangkir Kopi. Tentu saja hal itu membuat Budi sangat senang dan merasa dihargai Ningsih. Di dalam pikirannya, muncul hal untuk membandingkan istrinya dengan Ningsih. Sangat berbeda jauh karena Santi memang baik dan wanita yang solehah, tapi dia jarang membuatkan kopi atau sarapan. Pagi hari, dia terlalu sibuk mengurus anak mereka. Budi memang tidak pernah mengeluhkan hal itu, tetapi dalam hatinya dia pun ingin merasa spesial tidak seperti ini.


Budi menatap lekat wanita yang ada di hadapannya. Dia merasa senang dan hatinya seakan melayang sebagai tamu di rumah yang sangat besar. Budi berandai-andai, jika saja dia menjadi suami Ningsih. Pasti sangat menyenangkan.


Budi langsung tersadar dan mengucap Astaghfirullahaladzim di dalam hati. "Ya Allah, bagaimana bisa aku berpikir seperti itu dan bagaimana bisa aku saat ini berada di wanita lain sedangkan aku ini sudah memiliki istri dan anak? Ya Allah, cobaan ini, rintangan ini sungguh sangat berat. Engkau sesungguhnya tahu selama ini aku menikah tidak cukup bahagia. Semua hanya karena untuk mengikuti perkataan almarhum Ayah. Bukan karena perasaanku. Aku tersiksa, ya Allah," batin Budi berkecamuk sedemikian.


"Budi ... ada apa? Kenapa kamu hanya diam aja? Ayo minum kopinya dulu. Kamu mau sarapan apa? Biar aku siapkan, ya. Oh ya, acaranya kamu pukul berapa dan di mana? Siapa tahu aku juga melewatinya saat berangkat kerja, jadi bisa berangkat bersama saat pergi. Pagi ini aku ada acara peresmian salah satu minimarket yang akan dibuka di daerah Candi Prambanan," kata Ningsih sambil tersenyum manis. Dia masih berdiri dan menyiapkan apa yang akan menjadi sarapan Budi.


"Kalau soal sarapan ... terserah aja. Masakkan apa pun yang kamu buat, pasti sangat enak. Aku sudah tahu dari dulu, bukan? Jika kamu sangat pintar memasak, sejak ikut bekerja denganmu. Kalau soal ceramah, ya nanti aku akan mengisi ceramah di kota. Namun, kalau kamu tak ingin untuk berangkat sendiri, aku akan mengantarkan kamu ke sana terlebih dahulu. Anggap saja untuk membalas kebaikanmu sudah menyediakan secangkir kopi dan sepiring sarapan ini," kata Budi sambil tertawa menatap Ningsih.


"Oh begitu ... oke, baiklah aku akan membuatkan nasi goreng spesial untuk kamu. Jika kamu tidak ada waktu, lebih baik berangkat saja ke tempat ceramah yang akan kamu hadiri. Aku bisa berangkat kerja sendiri. Lagi pula, aku ada sopir pribadi juga. Kalau aku ingin berangkat sendiri, bisa diantarnya," ujar Ningsih yang mulai meracik nasi goreng.


Setelah selesai makan, Ningsih bergegas siap-siap untuk berangkat ke tempat pengesahan minimarket yang dia buka baru saja. "Aku akan segera berangkat. Lebih baik pergi ke acara saja, karena aku akan berangkat kerja dengan sopir pribadi," kata Ningsih membuat Budi merasa kecewa.


Sesungguhnya, Budi tidak memiliki acara apa pun di Yogyakarta. Dia hanya ingin menemui Ningsih, karena pada malam hari dia bermimpi sesuatu yang membuatnya semakin yakin untuk harus menemui Ningsih. Dalam mimpi Budi, semalam dia melihat sesosok makhluk menggunakan jubah hitam dan wajahnya tertutup oleh kerudung yang ada di jubah hitam itu. Dalam mimpi Budi, terlihat jelas makhluk itu mendatangi Ningsih. Budi sangat khawatir karena makhluk itu mirip seperti malaikat pencabut nyawa. Dia pun semakin khawatir karena perasaan yang tak menentu ketika memikirkan Ningsih. Lelaki itu takut, jika ada sesuatu hal buruk terjadi dan Ningsih sendiri menghadapinya.


Budi terpaksa berbohong kepada Santi. Dia pergi sendirian sebelum subuh agar bisa sampai di tempat Ningsih sepagi mungkin. Mimpi yang kelihatan begitu nyata itu membuat Budi ketakutan. Makhluk yang seperti malaikat pencabut nyawa itu mendekati Ningsih dan merangkul wanita itu sambil berbisik, "Sudah waktunya kamu untuk pulang. Hei, wanita yang buruk akhlaknya. Bahkan iblis yang menjadi tempat kau memuja tidak bisa menggagalkan takdir yang sudah ditetapkan. Mati tetaplah harus mati. Kau tidak bisa menghindar dari kematian."


Mendengar makhluk berjubah hitam berkata seperti itu kepada Ningsih, jelas membuat Budi gemetar ketakutan. Bukan takut soal melihat makhluk itu, tetapi dia takut kehilangan Ningsih sebelum dia bisa mengatakan isi hatinya yang sesungguhnya. Apakah salah mencintai seseorang? Sesungguhnya rasa cinta itu sudah hadir sebelum dia menikah dan tertahan tak bisa diungkapkan. Oleh karena itu, Budi merasa inilah waktu yang tepat untuk mengatakan sesuatu agar jika ada hal buruk yang terjadi, Budi tidak akan menyesali karena belum mengungkapkan perasaannya sesungguhnya.


"Ningsih ... kumohon Izinkan aku mengantarkan kamu untuk pergi ke tempat minimarket. Ada suatu hal yang ingin aku ungkapkan juga. Aku hanya ingin bicarakan secara empat mata." Perkataan Budi semakin membuat Ningsih penasaran apa yang akan dia bicarakan.


"Baiklah kalau begitu, Budi. Ayo berangkat." Ningsih mengiyakan saja untuk ikut di mobil Budi. Perjalanan pergi ke Minimarket akhirnya dengan Budi. Mereka pun pergi bersama di dalam mobil yang dikendarai Budi.


Awalnya, mereka hanya terdiam selama sepuluh menit, tidak membahas apa pun. Setelah itu, Ningsih pun bertanya Budi. "Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan padaku? Sekarang kita hanya berdua, 'kan? Ungkapkan saja, ada apa? Apakah Santi dan anakmu baik-baik saja? Apakah kau ada masalah dengan keluarga? Atau apa, Budi?" tanya Ningsih yang penasaran.


"Baiklah kalau itu yang kamu ingin dengar sekarang. Aku dan Santi baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang kamu belum ketahui. Aku menaruh hati padamu sejak bekerja di rumahmu bertahun-tahun yang lalu. Aku mau memendam semua perasaan itu karena almarhum Ayah menginginkan seorang wanita sholehah yang menjadi pendamping hidupku. Dan tidak beruntungnya aku, karena wanita yang disebut Ayahku itu adalah Santi, yang tidak lain keponakanmu. Meski aku sudah tahu Santi itu bukan keponakan kandung, hanya keponakan dari sahabat saja. Tapi hari itu sangat sulit untuk kupikirkan. Aku menyerah sebelum mengatakan hal ini padamu. Aku mengikuti perkataan Ayahku untuk menikahi Santi. Kukira aku akan bisa bahagia dan dapat melupakan perasaan itu terhadapmu. Namun ... apakah kau tahu? Nyatanya tidak semudah yang kupikirkan. Perasaan itu masih ada meski sudah bertahun-tahun aku jalani dengan Santi hingga memiliki anak," jelas Budi sambil menatap jalanan yang ramai penuh kendaraan. Dia masih fokus menyetir mobil.


Pernyataan dari mulut Budi tentunya membuat Ningsih sangat terkejut. Mengapa bisa dia menikahi Santi tanpa adanya perasaan? Dan bagaimana mungkin seorang lelaki yang sholeh menyukai Ningsih yang penuh dosa? Tak habis pikir wanita itu dibuatnya.


"Kenapa kau bisa menyukaiku? Lantas, bagaimana perasaan Santi, jika dia mengetahui kau berada di sini satu mobil denganku dan mengatakan semua hal yang tidak masuk akan ini?" Ningsih mencoba menyadarkan Budi bahwa rasa itu salah.


"Rasa cinta itu datang begitu saja. Aku sudah memendam. Aku sudah mencoba melupakan. Aku sudah menikahi Santi dan memiliki anak, tetapi tetap saja rasa itu ada. Dan saat ini aku benar-benar memikirkanmu karena tadi malam aku mengalami mimpi buruk. Aku takut ada hal buruk terjadi padamu. Aku takut menyesali jika tidak mengungkapkan perasaanku padamu. Aku tidak meminta apa pun darimu. Aku tidak pernah mengharapkan apa pun darimu. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa yang selama ini terpendam. Maafkan aku jika aku lancang," ucap Budi yang bingung harus bagaimana. Dia hanya ingin mengatakan hal jujur pada wanita di sampingnya.


Ningsih hanya terdiam. Dia tak ingin membuat keadaan semakin sulit dengan adanya cinta yang tak semestinya. Setelah sampai tempat minimarket, Ningsih pun turun. Dia mengucap terima kasih ke Budi. Tanpa disangka Budi justru hendak menemaninya. Dia jujur jika tidak ada kegiatan apa pun hari ini. Dia hanya mencari alasan agar bisa bersama Ningsih.