
Malam pun menyambut pasangan pengantin yang baru saja menikah. Ningsih sebenarnya tidak nyaman dengan pernikahan beda keyakinan, tetapi hal ini adalah syarat utama Bima mengambil tumbalnya (seperti tumbal lainnya).
"Aku bahagia memilikimu, Ningsih," lirih Lee yang mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.
Ningsih dalam pergolakan batin. Antara akan melakukannya atau tidak. Dia berpikir setiap orang mempunyai hak untuk berubah dan diberi kesempatan untuk mengubah dirinya.
"KENAPA KAMU RAGU, NINGSIH? KAMU TAHU PASTI KESALAHANNYA TAK TERMAAFKAN, BUKAN? LAKUKAN SAJA SEPERTI BIASANYA. AKU AKAN MENGAMBILNYA SAAT KAMU PULANG KE INDONESIA. DAN ALMARI SESAJI DI KAMAR KHUSUSMU AKAN PENUH EMAS DAN UANG!" kata Bima membuat Ningsih yakin apa yang harus dia perbuat.
"Lee... aku milikmu hari ini...." ucap Ningsih sambil memeluk suami barunya.
"Hari ini, besok, dan seterusnya... selamanya... jangan berpaling dariku, Ningsih," jawab Lee sambil mengecup bibir merah milik istrinya.
Keduanya terhanyut dalam rasa dan kenikmatan dunia. Lee dan Ningsih bagaikan bermandikan keringan. Mereka melakukannya dengan hasrat yang telah lama terpendam.
****
Keesokan harinya....
"Sayang, hari ini aku ada urusan sebentar. Kamu di sini dahulu ya. Nanti ada Lily yang akan menemanimu ke mana pun kamu pergi akan didampingi. Dia salah seorang bodyguard perempuan terbaik di sini," kata Lee sambil memakai kemejanya.
Lee sudah mandi terlebih dahulu. Dia sengaja tidak membangunkan istrinya karena takut membuatnya bangun awal setelah semalaman kelelahan. Ningsih yang masih di ranjang, menguap dan merenggangkan tubuhnya yang masih lelah.
"Sayang mau ke mana? Aku ikut, ya?" pinta Ningsih.
"Aku pergi sebentar. Tidak sampai siang, kok. Sayang di rumah saja kalau capek. Atau jalan-jalan ke Orchard nanti Lily temani sayang. Aku ada urusan penting," ucap Lee sambil mengusap rambut istrinya.
"Aah... ikut, ya? Please...." lirih Ningsih, matanya membulat meminta dengan serius membuat Lee tak tega meninggalkannya.
"Hmm... yaudah ayo ikut. Tapi sayang mandi dulu," jawab Lee, menyerah.
"Mandiin...." Ningsih bermanja kepada Lee.
"Aih... kalau dimandiin jadinya lama. Ayo sayang sudah mau terlambat ini dari jam janjian," kata Lee mencoba menahan diri.
"Iya deh, sayangku."
Ningsih bangkit dari ranjang. Lalu bergegas mandi dan berhanti pakaian. Dress lengan panjang berwarna merah selutut sangat cocok dengan wajahnya yang sensual. Dia memilih memakai wedgess dari pada higheels. Memoles sedikit wajahnya yang cantik dan tak lupa memakai lipstick merah seirama dengan dressnya.
"Ayo sayang, aku sudah siap," ucap Ningsih sambil memeluk punggung lelaki yang memuaskannya semalam.
Lee membalikan badan dan menatap Ningsih. "Sudahkah aku berkata bahwa kamu wanita tercantik yang pernah kupandang? Rasanya tak ingin orang lain memandang kecantikanmu, sayang." kata Lee menggombal.
Ningsih pun tertawa. Lee yang begitu gemas, lantas mencium bibir istrinya. Ningsih mencoba melepaskan diri.
"Sayang... lipstikku bisa hilang ini. Nakal ya..."
Lee hanya tertawa dan menari tangan Ningsih untuk segera pergi dari rumah. Kali ini Lee mengendarai citycar biasa. Warna silver tidak mencolok karena banyak mobil seperti ini di jalanan. Ningsih beberapa kali memandang wajah Lee yang memang sangat tampan.
"Kenapa sayang? Curi-curi pandang dari tadi..." tanya Lee mengagetkan Ningsih.
"Ah, nggak. Pede banget sih," elak Ningsih yang merasa malu.
"Suamimu memang tampan 'kan? Banyak lob yang mengidolakanku. Bahkan sampai tergila-gila. Kamu termasuk beruntung mendapatkan cintaku. Ha ha ha ha...." kata Lee menyombongkan diri sambil menggoda Ningsih.
"Apaan sih? Pede banget."
"Bener nggak, sayang? Banyak orang bilang aku mirip pemeran drama korea The Legend of The Blue Sea loh. Sayang setuju nggak?"
Ningsih menatap suaminya yang memang mirip pemain drama korea itu. Muka Ningsih memerah mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Lee terlihat sangat menggoda dan ketampanannya alami.
"Sayang mikir apa? Pasti mengagumi ketampananku, ya?" goda Lee kembali.
Mobil segera direm dan Lee meminggirkan mobilnya sejenak. Lelaki itu mencondongkan tubuh ke arah Ningsih. Memegang dagu istrinya dan berkata, "Mungkin wajahku banyak yang hampir sama di daerah sana, tetapi hanya aku yang bisa membuatmu merancau seperti semalam. Sayang katakan itu kan semalam, aku yang terhebat?"
Ningsih terdiam menahan malu. Dia secara tak sadar memuji Lee. Suaminya tahu betul cara mengatasi wanita.
"Sa... sayang.... jam nya loh. Kan mau ketemuan penting," alih Ningsih agar melanjutkan perjalanan.
"Oh, iya. Untung aku buru-buru. Kalau tidak.... aku lahap kamu di mobil. ha ha ha ha...."
Lee tertawa bahagia melihat istrinya tersipu malu. Baginya, membuat istri senang dan puas adalah awal kebahagiaan berumah tangga. Dia selalu ingat perkataan Ayahnya tentang Ibunda. Maka Lee berusaha hal itu tak terjadi padanya.
Sesampainya di tempat pertemuan Lee meminta Ningsih tetap di mobil.
"Sayang, di sini dulu ya. Aku harus bertemu dengan seseorang."
"Aku ikut, ya?"
"Jangan... di sini sebentar ya. Please."
Ningsih hanya mengangguk. Lee keluar dari mobil dan berjalan ke arah basement.
"Aku harus mengakhiri ini. Mungkin kaki tanganku tak akan dengan musah berhenti. Semoga uang ini cukup untuk membungkam mereka," batin Lee yang terdengar jelas oleh Ningsih.
(Seperti yang sudah dijelaskan, saat Ningsih bertemu Bendot, dia mendapatkan kekuatan membaca hati dan pikiran orang.)
Ningsih pun resah. Jadi Lee benar-benar ingin bertaubat? Padahal Bima sudah merencanakan semuanya. Ningsih pun sedikit bimbang.
"NINGSIH... KAU MENYUKAI LELAKI ITU?" kata Bima mengagetkan Ningsih.
"Oh... maaf Bima. Jangan salah paham," batin Ningsih berkomunikasi dengan Bima.
"WAKTUMU DI SINI HANYA SAMPAI MINGGU. KUHARAP JANGAN TERPAUT HATI OLEHNYA. NANTI MALAM, KAMU AKAN MELIHAT BETAPA MENGERIKANNYA DIA."
Bima pun pergi tanpa pamit. Ningsih pun merasa aneh dengan hatinya. Antara suka dengan Lee atau hanya bimbang. Sudah empat tahun Ningsih tak disentuh manusia dan Lee menjadi orang pertama yang membuatnya merasa masih manusiawi.
"Sayang, ayo pergi. Sudah selesai urusanku," ucap Lee membuat Ningsih terkejut.
"Oh, iya, sayang. Kukira masih lama."
"Tidak. Hanya urusan sebentar, kok. Tenang saja sayang," kata Lee sambil masuk ke mobil.
Dia menyetir city car itu menuju ke Marlion, tempat yang menjadi daya tarik khas Singapura.
"Sayang, kita abadikan foto di Marlion, yuk. Sudah lama aku tidak ke sana."
"Lee orang Singapura tetapi jarang ke sana? Apa iya?"
"Iya, sayang. Di sana ada kenangan bersama orang tuaku sebelum Ibunda meninggalkan ayahku. Sejak kedua orang tuaku berpisah, aku tak ingin mengunjungi Marlion lagi. Namun sekarang, aku sudah memilikimu. Tidak ada alasan apa pun lagi untuk takut ke sana," jelas Lee sambil tersenyum. Tangannya menyentuh dan menggenggam tangan Ningsih sesaat.
"Lee... andai kamu tahu waktu tidak berjalan sesuai yang diinginkan... aku hanya datang sesaat bagaikan malaikat maut yang mengincarmu selama ini. Pantaskah aku menjadi sumber bahagiamu? Kurasa tidak," batin Ningsih bergejolak.
Bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mana nih fansnya Lee? Atau malah suka Bima? Atauu suka Ningsih? Ha ha ha ha....
Tenang yaa gaes... Reno di Jakarta baru galau maksimal itu membayangkan apa yang Ningsih dan Lee lakukan jika bersama. Siapa kangen Reno? Bersambung yak. Nanti malam update lagi^^