JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 61


...🔥 KESEMPATAN KEDUA 🔥...


Dalam kehidupan setiap orang, pasti menginginkan adanya kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Jarang sekali adanya kesempatan kedua bagi orang yang melakukan kesalahan. Begitu juga dengan keluarga mendiang Via. Bapak, ibu, Theo, dan juga Fafa mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani kehidupannya adalah sebuah hal yang sangat mengharukan. Tak henti-hentinya bersyukur karena terlepas dari hukuman yang seharusnya terjadi. Itu semua karena Dinda merasa iba dan mengikuti apa yang diucapkan kekasihnya.


Boy meminta Dinda untuk memberikan kesempatan kedua kepada keluarga yang sudah ditinggalkan oleh Via. Seperti yang dia katakan, Dinda pun mewujudkan hal itu. Meski sebenarnya itu hal yang dilarang oleh Tuan Chernobog. Namun, apa boleh buat demi kekasih yang berhati malaikat itu, Dinda lakukan.


Dinda tidak akan membawa jiwa mereka karena kesalahan yang Via buat. Sebaliknya, Dinda justru membiarkan mereka untuk melakukan apa yang menjadi jalan hidupnya. Meski pada akhirnya, saat ini semua harta yang Via miliki diambil lagi oleh Dinda. Banyak hal mereka lepaskan, yaitu mobil, uang, tabungan, bahkan bisnis yang dulu dibuat saat Via masih menjalani ikatan dengan Dinda semua musnah tak tersisa.


Sekarang Bapak Via kembali menjadi sopir taksi, tetapi tidak memakai mobilnya karena mobilnya sudah terjual. Bapak ikut bekerja dengan orang yang saat ini menjadi bosnya. Menjadi sopir taksi seperti pekerjaannya dahulu. Sedangkan Ibu Via memulai jualan lotek dan aneka masakan sederhana di depan rumah. Rumah yang mereka beli dari hasil menjual rumah di perumahan itu. Theo dan juga Fafa tidak masalah menjalani hidup sederhana seperti dahulu. Lebih baik menjalani kehidupan sederhana, daripada kehidupan mewah dan membuat nyawa keluarganya terancam. Selain itu, setelah mereka menjalani kehidupan sederhana yang tenang, akhirnya hantu yang menyerupai Via tidak lagi mengganggu mereka.


"Bu, apa Ibu merasa sesuatu? Setelah kita pindah dan jalani kehidupan di sini, hantu itu nggak ganggu lagi, ya?" ucap bapak Via saat menyantap ubi rebus dan meminum kopi di depan rumah saat sore hari.


"Alhamdulilah ... iya, Pak. Mungkin memang rezeki kita begini. Jadi, menjalani kehidupan sederhana begini membuat hidup tenang," sahut ibu yang sedang membereskan peralatan berjualannya.


"Iya, Bu. Cuma aneh aja. Jangan-jangan anak kita jadi tumbal dari Mbak Dinda, ya?" tanya bapak menaruh curiga. Selama ini dia memikirkan hal itu sendirian. Kali ini berani mengungkapkan kepada istrinya.


"Hust! Bapak itu, kok, seudzon, sih? Bukannya dulu Bapak juga senang dapat uang dari orang itu? Jangan berpikir seperti itu, Pak." Ibu Via tak ingin membahas hal itu lebih panjang karena hanya akan membuat dirinya sakit hati memikirkan anak sulungnya yang meninggal tidak wajar.


Ibu Via memilih segera membereskan peralahan dagangannya dan masuk ke dalam rumah sebelum maghrib menjelang. Dia tak ingin membahas hal yang belum pasti kebenarannya. Sedangkan bapak masih di depan rumah untuk menyelesaikan kudapan ubi dan juga kopi.


Boy menatap keluarga itu dengan senyum di wajahnya. Setelah itu, dia pun menghilang. Dia pergi ke tempat di mana kekasihnya berada.


Boy segera menemui Dinda yang berada di tempat sunyi. "Dinda, sedang apa?" sapa Boy yang mendekat pada kekasihnya.


"Sedang berpikir. Ada apa?" Dinda mendongakkan wajahnya ke arah suara itu.


"Berpikir apa? Tak usah banyak berpikir, lakukan saja. Jadi ikut denganku ke Korea Selatan?" tanya Boy memastikan apa yang akan Dinda pilih setelah menunggu beberapa hari untuk berpikir.


"Hmm ... jika aku bersamamu, apakah akan selalu ada kesempatan kedua bagi semua orang di sekelilingmu? Aku rasa, manusia tak akan bisa berubah meski diberi kesempatan." Dinda merasa semua itu percuma. Selama ini manusia selalu mengulangi kesalahan yang sama.


"Iyakah? Tidak semua seperti itu. Justru karena kesempatan kedua, seseorang bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Lihat itu ... makhluk halus yang gentayangan karena meninggal bunuh diri. Dia begitu karena tak ada kesempatan kedua dalam hidupnya. Putus asa, lalu memilih jalan pintas yaitu mengakhiri hidupnya," kata Boy membuat Dinda mengernyitkan dahi. Lelaki itu menunjuk ke arah makhluk gaib yang melayang-layang tak tentu arah.


Sesosok makhluk yang membawa seutas tali tambang dan terlihat lehernya hampir putus itu menjulurkan lidah dan menatap ke arah Dinda dan Boy. Hantu yang berasal dari manusia putus asa dan bunuh diri dengan cara menggantung di pohon besar depan mereka berdiri. Makhluk itu tak bisa melanjutkan ke alam lain karena meninggal dengan penasaran dan harus mencari pengganti terlebih dahulu. Ya, dia harus mencari manusia lainnya yang akan bunuh diri juga di sana untuk menggantikan dia.


"Mereka meninggal bunuh diri karena salah mereka sendiri. Tidak tahan dengan kesusahan di dunia, akhirnya tersiksa selamanya," gerutu Dinda yang tak setuju dengan perkataan Boy setelah menatap ke arah makhluk yang dimaksud.


"Bayangkan jika ada kesempatan kedua bagi mereka yang gagal dalam pendidikan, bagi mereka yang gagal percintaan, atau bagi mereka yang gagal saat mencari nafkah. Atau bayangkan jika ada tangan yang terulur pada mereka yang putus asa, pasti tidak ada bunuh diri, bukan?" Boy tersenyum, lalu menatap langit senja yang mulai temaram. Berharap kekasihnya mengerti apa yang dia maksudkan.


"Tak apa, kalau alergi. Nanti aku obati, deh, dengan cinta dan kasih sayangku," jawab Boy membuat Dinda berhenti tertawa. "Mau tidak, kalau mendapat cinta dan kasih sayangku? Hanya untuk Dinda seorang," imbuh lelaki setengah malaikat itu. Perkataan yang terdengar gombal, tetapi hanya diucapkan pada Dinda saja.


"A-apa yang kamu bilang? Seperti anak remaja saja. Aku tak percaya cinta!" Dinda pun hendak menghilang pergi. Namun, Boy langsung menarik tubuh kekasihnya dan memeluknya erat. Lelaki itu tak ingin kekasihnya merajuk dan pergi lagi.


Malam pun datang bersama bintang yang mulai menghiasi langit. Dinda dan Boy pun terdiam sejenak. Angin malam berembus membelai tubuh mereka. Sepasang kekasih beda dunia itu hanyut dalam perasaan mendalam yang tak bisa diungkapkan.


"Jadi, kamu mau menerima cinta dan kasih sayangku? Jika iya, ayo ikut aku ke Korea Selatan. Kesempatan kedua pun ada untukmu, Dinda. Kamu bisa menjadi makhluk yang lebih baik dari sekarang. Aku akan membawamu ke dalam kehidupan yang lebih baik. Perasaanku hanya untukmu, Dinda," bisik Boy yang membuat diri Dinda luluh juga. Perasaan berkecamuk di dada Dinda. Tak bisa dipungkiri, dia ingin bersama Boy yang sudah mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.


"Boy ... jika aku mau, jangan tinggalkan aku, ya? Jangan seperti Kak Bima dan istrinya. Apakah kau bisa berjanji hal itu? Jangan tinggalkan aku apa pun yang akan terjadi," jawab Dinda yang meminta kepastian dari Boy karena takut kejadian kakaknya akan terulang. Dinda tak ingin berakhir seperti Ningsih yang sendirian.


"Aku berjanji. Tuhan menjadi saksi perasaanku. Jangan khawatir, Sayang," ucap Boy yang memeluk erat kekasihnya dan mengusap rambut Dinda. Dia. tak ingim kehilangan Dinda. Dia ingin Dinda tidak hidup abadi di neraka dan menyesatkan manusia. Kesempatan kedua untuk iblis, apakah bisa berjalan dengan baik? Apakah bisa iblis berubah menjadi malaikat? Atau iblis memperbaiki dengan hidup kembali menjadi manusia?


...****************...


Di sisi lain, Neraka ....


Tuan Lucifer menyelamatkan Evan. Menyembuhkan serta melatih bersama Bima, Alex, dan Lily yang sudah berkumpul di neraka. Sedangkan arwah Lee, justru hilang saat perjalanan menembus ruang waktu tempo lalu ketika hendak kembali ke neraka.


Setelah mereka lengkap, penguasa neraka itu memberi mereka kekuatan dan membuat latihan khusus untuk mereka.


"Persiapkan diri kalian semaksimal mungkin. Aku akan menbuat kalian menjadi kandidat yang lantas untuk menjadi panglima neraka! Ha ha ha ha ...." seru Tuan Lucifer yang duduk di singgah sana dengan tertawa kemenangan.


Ketujuh panglima neraka yang menjadi penguasa tujuh lapisan neraka tidak tahu jika Tuan Lucifer mempunyai rencana lain dalam kerajaan penuh ratak gigi. Neraka tempa Tuan Lucifer memerintah hendak dirombak menjadi tempat yang lebih menyeramkan. Saat ini, Tuan Lucifer berpikir lebih baik membuat neraka menjadi satu bagian daripada tujuh lapisan.


Rencana yang penuh dengan tantangan. Sepertinya penguasa neraka itu hendak membuat pertempuran besar antar penghuni meraka dengan tujuh panglima neraka. Sungguh, Bima merasa terjebak saat ini karena hal ini bukan pilihan yang bisa dia pilih. Bertarung dengan tujuh panglima neraka bukanlah pilihan yang bagus untuknya. Namun, apa boleh buat. Dia sudah menjadi pengabdi penguasa neraka yang terkenal tak ada ampun bagi yang ingkar janji.


"Baik, Yang Mulia Lucifer. Hamba dan kawanan hamba akan mengabdi sebaik mungkin," jawab Bima sambil menunduk untuk mewakilkan dirinya beserta keluarganya. Bagaimanapun, Evan dan Lily sudah menjadi bagian keluarganya. Alex pun meminta ampun agar Lily bisa diajak bergabung. Meski kenyataannya hingga detik ini Lily bungkam. Dia tak mau mengucapkan sepatah kata pun.


"Bagus! Kalian harus tahu, ada hal yang paling kubenci, yaitu pengkhianat dan pemberontak. Jadi, kalian jangan menjadi salah satunya atau aku akan musnahkan kalian!" Tuan Lucifer memperingatkan karena dia memang tak segan untuk memusnahkan iblis yang tidak tunduk padanya.


Neraka menjadi semakin sesak karena banyak persaingan. Diam-diam ketujuh penguasa lapisan neraka juga menghimpun kekuatan demi memperluas daerah masing-masing. Itulah yang Tuan Lucifer tam ingin terjadi. Lebih baik disatukan atau semua menjadi arang.


...****************...


...Bagi para pembaca JERAT IBLIS yang ingin masuk ke GRUP CHAT, baiknya memberi password saat masuk agar diterima. Sebutkan 3 pemain di Novel JERAT IBLIS. Lalu tulis itu saat hendak masuk grup. Hal ini diadakan karena mengikuti usul para admin demi kenyamanan sesama penghuni Grup Chat, mohon diperhatikan ya guys. Thanks^^...