
...🔥 TUMBAL JANIN 🔥...
Lukas dirawat dalam bangsal kelas satu selama dua hari. Setelah semua pemeriksaan usai dan hasilnya baik, Lukas diperbolehkan pulang. Mama Fani sangat bersyukur putranya bisa pulang dari rumah sakit.
Penyelidikan kepolisian pun terhenti saat menemukan empat sosok mayat di rumah kosong sebuah tempat terpencil. Menurut penuturan warga, mayat itu adalah preman yang meresahkan warga. Kecurigaan polisi terbukti saat motor sport Lukas berada di lokasi kejadian meninggalnya preman itu secara tragis. Hasil dari olah TKP, diduga para preman itu berebut uang dan motor hingga saling membunuh. Hal itu disimpulkan karena tak ada sidik jari lain selain mereka berempat dan juga tidak ada tanda-tanda pembunuhan.
Setelah semua terungkap, Lukas pun merasa lega karena motor kesayangannya kembali dalam kondisi utuh. Namun, satu hal membuat Lukas sedih, mamanya menjual mobil demi biaya Lukas selama dirawat di rumah sakit. "Ma, maafin Lukas, ya. Setelah ini, Lukas akan bekerja lebih giat untuk bisa mengganti mobil Mama." kata Lukas di teras rumah.
"Sayang, jangan berpikir seperti itu. Anak adalah tanggung jawab orang tua, begitu pula Lukas. Tak apa mobil dijual, kita bisa menggunakan taksi, bukan? Tenang saja." jawab Mama Fani mencoba menenangkan.
Lukas merasa tak enak hati pada mamanya. Dia pun menghubungi Bella untuk mencari tahu bagaimana bekerja dengan menjadi youtuber dan selebgram yang bisa menghasilkan banyak uang.
...****************...
Malam harinya saat Lukas terlelap ... Dinda datang menghampirinya. Menagih janji yang harusnya sudah dipenuhi beberapa hari yang lalu. "Lukas ... ingat perjanjian kita. Tumbal janin Bella kutunggu segera." bisik Dinda pada Lukas. Seakan menghipnotis, Lukas hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Dinda.
Dinda menyeringai, dia merasa memenangkan jiwa Lukas dan memperbudaknya agar lebih banyak berbuat dosa. Lukas yang tak mau bertaubat, semakin jauh dalam kengerian JERAT IBLIS. Dosa sekecil apa pun itu tetap dosa. Lama kelamaan akan membawa dalam kesengsaraan dengan perbuatan dosa-dosa lainnya.
Lukas mengirim pesan pada Bella.
Lukas: [ Bella, aku mau tanya padamu. Apakah kamu hamil? ]
Menunggu beberapa menit akhirnya Bella membalas pesan itu.
Bella: [ Lukas, kamu tahu dari mana? Aku waktu itu hendak bercerita padamu. Sepertinya bukan hal yang tepat dibahas dengan pesan. ]
Lukas: [ Ok. Aku ke rumahmu sekarang. ]
Bella: [ What? Really? Tapi ini jam sebelah malam, Lukas. ]
Lukas: [ Tak apa. Aku on the way. ]
Lukas bergegas mengenakan jaket tebal dan berganti celana panjang jeans. Dia langsung keluar kamar dan pelan-pelan mengambil kunci motor untuk segera pergi ke rumah Bella. Dalam pikiran Lukas hanya memenuhi keinginan Dinda agar Angel tidak menghantuinya lagi. Padahal Angel sudah membuat kesepakatan tersendiri dengan Dinda. Dinda memang iblis yang licik dan penuh tipu daya. Sekali lelaki terikat olehnya, tak akan bisa terlepas dari cengkramannya.
Dinda tertawa melihat Lukas yang bergegas ke rumah Bella. Saat itu, hampir tengah malam. Tanpa Dinda sadari, kakaknya datang menghampiri.
"KENAPA KETAWA SEPERTI KUNTI?" ucap Bima mengagetkan Dinda.
"Apaan, sih? Terserah aku lah, Kak. Kenapa tiba-tiba muncul? Mau curhat?" sahut Dinda yang terkejut dengan kedatangan Bima.
"HA HA HA ... ADIKKU SEKARANG PINTAR MENGEJEK KAKAK SENDIRI. KUALAT NANTI!" kata Bima sambil tertawa.
"Lah, biasanya kalau Kakak menemui aku tiba-tiba, pasti mau curhat tentang manusia yang Kakak amati itu, kan? Siapa itu namanya? Emm ... Ningsih, ya?" tanya Dinda pada Bima.
Bima pun tersenyum menatap adiknya. Perasaan yang tak pernah dia rasakan, kali ini mengalahkan segala ego dan keinginannya.
"DIA SUDAH MENJADI ISTRIKU. TADI MALAM, DIA MENGADAKAN RITUAL. DAN AKU MENGAMBIL KESEMPATAN ITU." jelas Bima yang membuat Dinda memutar bola matanya dengan malas. Dinda sesungguhnya tak setuju sejak awal kakaknya bercerita tentang Ningsih. Dinda tahu jika hal itu akan membawa kakaknya dalam permasalahan yang rumit.
"Huh, kalau sudah urusan cinta, jadi budak cinta juga tak sadar! Heran saja, kenapa Iblis bisa jadi bodoh gara-gara menyukai wanita tak jelas." gerutu Dinda yang malas mendengarkan curhatan Bima.
"MEMANGNYA KAMU TIDAK BERURUSAN DENGAN CINTA? LALU LELAKI KOREA YANG SAAT INI MENUNGGUMU DI BALI ITU SIAPAMU, HA?" Bima membalik keadaan. Dinda pun mengerucutkan bibirnya dan makin kesal.
"Dia beda! Dia menyukaiku tanpa ikatan magis. Memang lelaki itu bodoh, masih saja menungguku yang tak mungkin menemuinya lagi. Oh, iya, sudah dulu, Kak. Aku hendak mengambil tumbal janin dari korbanku. Pasti Penguasa Neraka Lapis Ketujuh suka dengan persembahanku ini," jelas Dinda yang hendak pergi.
"BAIKLAH. SEE YOU!" Bima pun menghilang, pergi.
Dinda lekas ke rumah Bella, di mana Lukas sudah berada di sana. Dinda mengamati apa yang hendak Lukas dan Bella katakan.
Lukas segera masuk ke rumah setelah memarkirkan motornya di garasi. Dia langsung naik ke kamar Bella.
"Lukas ... aku hanya takut dan malu. Aku cek di dokter, janin ini sudah berusia sebulan. Waktu kita melakukannya, aku tidak tahu jika masa subur." ucap Bella di tengah isak tangis.
"Tak apa. Sudah, tak apa. Jika kamu belum siap, mari kita pikirkan cara lain." kata Lukas sambil mengelus lembut rambut Bella.
"Maksudmu?" Bella mendongakkan kepala menatap Lukas.
"Kalau kamu tak siap, ada cara lain. Temanku ada yang bisa menghilangkan janin secara magis dan tidak sakit," kata Lukas. Tentu saja yang Lukas maksud adalah Dinda. Dia mencari celah dan persetujuan Bella terlebih dahulu.
"Lukas, apakah itu aman? Aku belum siap. Bisa-bisa Papaku membunuhku jika tahu hal ini." lirih Bella yang ketakutan.
"Aman. Temanku bisa melakukan itu." Lukas pun tersenyum.
"Dinda ... bisakah kau datang dalam wujud yang bisa dilihat Bella untuk mengambil tumbal janin ini?" batin Lukas yang berharap Dinda mendengarnya. Jelas saja Dinda mendengar hal itu. Dia segera mengubah wujudnya menjadi manusia dan masuk dari pintu. "Permisi ...." ucap Dinda sebelum masuk ke kamar Bella.
"Si-siapa kamu?" tanya Bella bingung menatap Dinda.
"Itu temanku yang kumaksud. Aku khawatir denganmu dan mengajaknya untuk berjaga-jaga. Mumpung ini tengah malam, tidak akan ada yang tahu." bisik Lukas mencoba menenangkan Bella.
"I-iya, Lukas. Tapi aku masih takut."
"Hai, Bella. Tak usah takut. Aku akan lakukan tanpa rasa sakit, tanpa ada darah, jadi tenang saja." kata Dinda meyakinkan mangsanya.
"Baiklah, kalau begitu." lirih Bella pasrah.
Dinda pun meminta Bella berbaring di ranjang. Lukas pun duduk di samping Bella untuk memegang erat tangannya. Sedangkan Dinda melakukan tugasnya dengan sempurna. Dinda meraba tanpa menyentuh Bella, dari wajah hingga perutnya. Lalu, dengan kekuatan Dinda, dia mengambil tumbal janin itu beserta rahim Bella. Saat Bella dan Lukas mensetujui Dinda mengambil janin, disitu juga Dinda mengambil kesempatan untuknya memperdaya manusia.
"Sudah selesai. Tidak sakit apa pun, kan?" tanya Dinda pada Bella.
"Tidak. Tapi mengapa rasanya nyeri?" Bella mengusap-usap perutnya.
"Itu hanya efek sementara. Tenang saja, besok sembuh," jelas Dinda. Dia pun berpamit dan pergi dari rumah Bella. Sedangkan Bella meminta Lukas menemaninya malam itu karena takut.
"Lukas, aku takut sekali. Nyeri rasanya," kata Bella.
Lukas membelai kembali dahi Bella dan berkata, "Tenang, sayang. Itu hanya sementara. Besok pasti sudah enakan. Sekarang kamu tidur saja. Biar aku berjaga, menemanimu." Bella pun memejamkan mata dan tertidur lelap. Dalam mimpi, Bella melihat hal menyeramkan sedang memakan sesuatu dan terlihat berceceran darah di wajahnya. Bella ketakutan dalam mimpi, tetapi tak bisa bangun.
Sedangkan Lukas menunggu Bella yang tertidur, Dinda datang kembali. Hanya Lukas yang bisa melihatnya. "Lukas ... tumbal janinmu sudah diterima oleh Tuanku. Kerja yang bagus," bisik Dinda yang menghampiri Lukas dan menggerayangi tubuh Lukas. Hal itu jelas membangkitkan hasrat Lukas yang tak bisa dibendung ketika melihat Dinda.
Lukas kembali masuk dalam perangkap Dinda. Sentuhan dan pelukkan itu beradu dan bertaut dalam kepuasan yang tak terkira. Mereka tak peduli adanya Bella yang terlelap karena Dinda sudah tahu Bella tak akan sadar sebelum pagi datang. Bella berada di alam yang mengerikan, dia melihat Tuan Chernobog memangsa janin beserta rahimnya tanpa ia sadari.
...****************...
Di tempat lain ....
Seorang lelaki tampan asli korea sedang menghabiskan soju sendirian di bar. Dia merasakan sakit hati karena wanita yang menarik hati dan perhatiannya tak kembali dari penjelajahannya. Nama lelaki itu Boy.
Meski berada di Bali dan banyak wanita yang ingin bersama Boy, dia menolak. Memilih hanyut dalam kesendirian dan penantian yang entah kapan bersambut pada gadis cantik yang bernama Dinda. Boy tidak tahu jika Dinda adalah Iblis. Dia hanya mengetahui gadis cantik itu mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Seakan takdir yang pempertemukan atau memang keadaan yang berpihak pada Boy.
Boy mulai mabuk dengan beberapa botol soju. Dia pun memutuskan untuk pulang. Saat itu, hari mulai pagi. Boy berjalan perlahan. Dia merindukan Dinda amat sangat. Seperti janjinya saat pertama bertemu Dinda beberapa bulan yang lalu, Boy akan menunggu sampai Dinda kembali.
"Aku akan menunggumu kembali. Aku akan menyewa rumah ini. Menantimu kembali ke sini," lirih Boy waktu itu. Dinda berada di pelukkan Boy. Dia tak menyangka jika ada manusia yang terpikat tanpa dia menggunakan kekuatannya.
"Entah, jangan menungguku. Bagaimana kalau aku tidak kembali?" tanya Dinda pada Boy waktu itu.
Boy tersenyum dan menatap Dinda. "Aku akan terus menanti. Sampai kau menemuiku lagi. Aku yakin, kau akan kembali lagi. Aku sudah menyerahkan semua urusanku di Korea pada Park Kim. Aku bisa menunggumu sepanjang waktu." kata Boy dengan penuh rasa percaya diri.
Namun, hari ini sudah berbulan-bulan semenjak pertemuan itu. Boy merasa sedih dan kehilangan. Dia berharap Dinda mengingatnya. Pertemuan yang berakhir dengan malam yang panjang berdua, apakah Dinda tak mengingatnya? Boy terus memikirkan Dinda dan berharap Dinda kembali menemuinya. Dia pun masuk ke rumah dan melepas jas tebalnya dan langsung menghempaskan tubuh ke ranjang. Dia menatap langit-langit kamar yang terasa temaram. Boy menangis karena rindu.