
...🔥HIDUP BARU, ADA SYARATNYA🔥...
Alex mempunyai ide cemerlang. Dia mengusulkan untuk meminta satu permintaan yang akan disetujui keempat iblis itu. Ya, permintaan yang mereka inginkan, yaitu menjadi manusia kembali. "Papa minta saja Tuan Abaddon menjadikan kita sebagai manusia lagi. Jangan lupa minta agar tidak diganggu lagi oleh semua makhluk gaib terutama iblis. Bagaimana, Pa, Om Evan, dan Tante Lily?"
"Ah, ide cemerlang, Alex!" sahut Evan yang berbinar mendengar usulan dari anak Bima.
"Tepat, Alex. Kau memang pintar dan cerdas," imbuh Lily dengan tersenyum.
"Baik. Jika semua setuju, itu yang akan aku katakan dan sampaikan pada Tuan Abaddon. Apa pun syaratnya, kalian mau?" tanya Bima memastikan.
"Ya, mau!" jawab ketiga iblis itu serentak.
Adanya secerca harapan bagi mereka memulai hidup baru. Menjadi manusia tentunya adalah hal yang mereka inginkan. Terlebih bagi Bima yang mencintai Ningsih. Hal ini akan menjadi awal baru untuk kehidupan dan cinta mereka.
...****************...
Tuan Abaddon bertanya pada Bima tentang satu permintaan apa yang akan dia pinta. Bima menatap Tuan Abaddon yang mengerikan itu. "Hamba dan tiga iblis lainnya meminta satu permintaan, yaitu ... kami ingin menjadi manusia dan menjalani hidup tanpa gangguan makhluk gaib dari neraka lagi. Tuan Abaddon Yang Mulia bisa mengabulkan permintaan kami?" tanya Bima memberanikan diri.
"HA HA HA HA ... TERNYATA IBLIS TAK MURNI INGIN KEMBALI KE TEMPAT SEMESTINYA. BAIK, AKAN KUKABULKAN. TAPI ... ADA SYARATNYA." Tuan Abaddon menatap tajam Bima.
Bima tahu jika ada hal yang harus dibayarkan saat permintaan dikabulkan oleh iblis. Hal itu sudah menjadi hal yang wajar di dunia gelap neraka. "Baik, Tuan. Apa syaratnya yang harus dilakukan hamba dan ketiga iblis lainnya?"
Tuan Abaddon menyeringai. Dia tahu jika iblis di hadapannya berjuang demi seorang wanita, manusia biasa. "SYARATNYA ... SEMUA MANUSIA YANG MENGENAL KALIAN AKAN LUPA INGATAN. MEREKA TAK AKAN INGAT PERNAH MENGENAL KALIAN. DAN KALIAN AKAN MENJADI MANUSIA SETELAH MENYELESAIKAN SEMEDI SATU TAHUN DI GUNUNG TERTINGGI DI DUNIA. BAGAIMANA?" Tuan Abaddon memberi cobaan pada niat Bima. Apakah iblis itu mau menerima atau tidak.
Bima mengingat kembali apa yang menjadi kesepakatan mereka berempat. Apa pun syarat dari Tuan Abaddon, mereka akan jalani demi menjadi manusia seutuhnya. Lantas, jika semua hilang ingatan dan tak mengenal mereka terutama Bima dan Alex, bagaimana dengan Ningsih? Bagaimana dengan perasaan cinta itu? Apakah hilang juga? Bima seakan mengambil keputusan yang berat. Mau tak mau, syarat itu harus dijalani.
"Baik. Hamba dan ketiga iblis lainnya setuju dengan Yang Mulia Abaddon. Terima kasih sudah mengabulkan permintaan kami," ujar Bima sambil kembali membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"HA HA HA HA ... BAIKLAH. JADILAH SEPERTI YANG KAU PINTA. KAU DAN KETIGA IBLIS ITU AKAN MENJADI MANUSIA SETELAH MENYELESAIAN SEMEDI SELAMA SATU TAHUN DI GUNUNG TERTINGGI DI BUMI. JADILAH JUGA, SEMUA MANUSIA YANG PERNAH TAHU, MENGENAL, DAN BERINTERAKSI DENGAN KALIAN AKAN LUPA INGATAN. SEMUA TENTANG KALIAN AKAN DIHAPUS DALAM MEMORI MEREKA. SELAMAT MENIKMATI SEMEDI KALIAN!" Tuan Abaddon pun tertawa dan menghilang setelah mengucapkan kalimat itu.
Tanpa bisa berpamitan, Bima, Alex, Evan, dan Lily langsung menghilang dan muncul di atas gunung tertinggi di dunia untuk memulai semedinya selama satu tahun. Hanya keinginan yang kuat di hati Bima yang meyakini semua akan baik-baik saja. Mereka pun membeku dalam balutan es saat semedi. Satu tahun waktu yang cukup lama dan cukup singkat bagi mereka.
Sedangkan di kehidupan manusia ... semua berubah. Ningsih, Wahyu, Reno, Lisa, Gio, Gilang, dan semua yang pernah berhubungan dengan keempat iblis itu langsung lupa ingatan. Memori tentang pertemanan, pertempuran, keluarga, bahkan cinta ... semua menghilang dari ingatan. Semua tak lagi dikenang.
Kehidupan manusia menjadi berubah drastis tanpa ingatan tentang iblis yang menjerat hidup mereka. Kehidupan yang bisa makin baik dan bisa makin buruk. Semua ada di tangan manusia itu sendiri karena pilihan dan godaan menjadi hal yang sama-sama menantang.
Ingatan soal perjuangan hidup, tentang perjuangan cinta, tujuh tumbal, dan pesugihan pun sirna di memori mereka. Ningsih menjalani hidup sebagai single mom yang merawat Wahyu yang baru saja menyelesaikan study di pesantren. Wahyu hendak masuk ke perguruan tinggi setelah menunggu adanya pembukaan mahasiswa baru. Ningsih yang sebelumnya sudah mengubah penampilan dengan berhijab, menjadi lupa akan semua alasannya. Dia menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, tetap mengingat Sang Pencipta. Terlebih anaknya lulusan pesantren, Ningsih tetap menunaikan salat lima waktu.
Reno menjadi lupa akan semuanya yang berkaitan dengan makhluk gaib. Dia menjalani hidupnya sebagai single daddy, merawat Lisa yang berusia hampir delapan tahun. Mereka hidup bahagia. Meski kemampuan Lisa melihat makhluk gaib tetap ada, tetapi tidak menjadi masalah. Mereka mengenang Nindy sebagai ibu dan istri terbaik yang tak akan mereka lupakan.
Gio dan Gilang menjalani hidup seperti biasa dan melupakan semua kejadian supranatural yang mereka alami. Bahkan lupa pernah ke neraka menyelamatkan Alex. Semua ingatan itu sirna. Mereka melupakan pertemuan dan perkenalan dengan keluarga besar Reno.
Budi dan Santi tetap bahagia bersama Safira. Budi tak lagi memikirkan Ningsih. Mereka hidup seakan tak pernah mengalami masalah gaib.
...****************...
*Tiga bulan kemudian ... kediaman N**ingsih dan Wahyu* ....
Wanita itu segera bangun dari ranjang berseprei putih bunga-bunga, dan bergegas membuka tirai yang menutupi jendelanya. Udara segar terasa seketika saat jendela dibuka. Ningsih meraih remote AC dan menekan tombol OFF untuk mematikan. "Huh ... hari ini mau ngapain, ya?"
Wanita dengan baju tidur--piyama itu segera beranjak menuju ke kamar mandi. Dia segera mandi karena hendak membawa anaknya keliling, mencari rekomendasi perguruan tinggi yang bagus. Ningsih segera mengguyur tubuhnya dengan shower. Membasahi rambut, wajah, hingga ujung kaki dengan air dingin yang segar dan busa sabun yang sangat harum.
"I'm going under and this time I fear there's no one to save me ...." lirih Ningsih sambil mandi. Dia menyanyikan lagu yang sangat ia sukai. "I need somebody to hear ... some body to know ...." Ningsih menyanyikan lagu itu, seperti apa yang dia rasakan. Dia membutuhkan sesorang. Dia merindukan kehadiran seseorang. Namun, dia tak mengetahui siapa orang yang dia inginkan.
Setelah selesai mandi, Ningsih segera mengenakan celana jeans dan blouse merah maroon kesukaannya. Dia pun segera berdandan natural dan mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer. Ningsih siap keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan. Terlihat di ruang makan seorang lelaki tampan duduk di sana dengan kemeja maroon dan celana hitam. Wahyu terlihat sangat tampan dan cool.
"Assalamualaikum ... selamat pagi gantengnya Mama," sapa Ningsih pada anak semata wayangnya. Dia segera menghampiri Wahyu dan memeluk punggung anaknya dari belakang dan mengecup kepala anaknya.
"Wa'alaikumsalam, Mamaku yang cantik. Aku kira Mama lupa. Hampir saja aku berangkat dengan Pak Sopir," jawab Wahyu dengan bercanda.
"Mama nggak lupa, Sayang. Maaf, ya. Mama bangun kesiangan. Ayo sarapan dulu, bentar lagi kita berangkat," sahut Ningsih yang langsung duduk di samping Wahyu untuk segera sarapan.
Mereka berdua makan roti bakar dengan selai kacang dan minum secangkir kopi. Setelah selesai sarapan, mereka langsung pergi dengan mobil Civic hitam yang dikendarai oleh Ningsih. Mereka berkeliling Kota Yogyakarta ke tempat kuliah ternama satu tempat ke tempat lainnya.
"Ma, apa kuliah di sana saja? Bagus, kan, itu? Hmm ... Wahyu mau masuk jurusan psikologi. Wahyu ingin menjadi psikolog dan buka tempat praktek sendiri." Wahyu tersenyum menatap perguruan tinggi di hadapannya.
"Pilihan bagus, Sayang. Ayo kita ke sana. Siapa tahu pendaftaran sudah dibuka," ujar Ningsih yang segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir universitar ternama itu.
Setelah masuk dan bertanya-tanya tentang kejuruan yang dimaksud, mereka pun mendapat info dan bisa segera mendaftar via online. Ternyata saat ini semua via online bisa dilakukan. Tak perlu ke tempatnya langsung, Ningsih dan anaknya baru paham karena selama ini Wahyu sekolah di dalam pesantren.
Saat berjalan menuju ke tempat parkiran, banyak orang berbisik-bisik saat menatap mereka. Mahasiswa, mahasiswi, bahkan dosen, tak henti menatap mereka berdua.
"Wah, calon mahasiswa baru, nih. Cakep, kece."
"Mamanya aja cantik, anaknya ganteng. Pas banget."
"Calon mahasiswa baru ada yang sekeren itu? Jadi betah kuliah, deh!"
"Mamanya masih muda, cantik pula. Moga aja masih ada lowongan. Siapa tahu suaminya sudah mati."
Mendengar bisik-bisik itu, Ningsih dan putranya tetap berjalan dengan mantab tanpa memedulikan perkataan mereka. Sudah biasa sebagai wanita tanpa suami, Ningsih mendapat gosip atau berbagai cibiran, tak jarang juga pujian karena mampu mengasuh anaknya sendirian. Sudah biasa, Ningsih menjalani hal itu. Mereka pun pulang ke rumah.
...****************...
Gunung Everest ....
Bima sudah membeku di atas puncak gunung tertinggi di dunia. Namun hatinya tetap sama, memikirkan Ningsih dan Wahyu setiap detik, setiap menitnya. Bahkan saat hari demi hari berganti, perasaan Bima tetap sama. Bima mencintai Ningsih lebih dari sekedar batasan waktu. Dia begitu menyayangi wanita yang menjadi cinta pertamanya. Meski harus berkorban semedi satu tahun, Bima tak keberatan.
Bima masih yakin jika Ningsih akan mengingatnya. Bahkan hilang ingatan sekali pun, Ningsih pasti akan kembali mengingatnya jika bertemh kembali. Bima masih menyimpan semua kenangan bersama Ningsih dan berjanji akan membuat Ningsih ingat padanya jika sudah menjadi manusia.
Evan dan Lily bersemedi dengan fokus. Mereka mencoba memusatkan diri dan melupakan segalanya agar bisa menjalani kehidupan baru sebagai manusia. Sedangkan Alex, dia masih menginginkan hidup utuh sebagai keluarga dengan ibu dan kakaknya. Alex berharap akan ada jalan bersama keluarganya lagi. Dia juga tahu jika ayahnya bersedih. "Sembilan bulan lagi ... Setahun itu sebentar. Harus bertahan," batin Alex.