
...🔥 CURIGA 🔥...
Gio segera memesan tiket kereta untuk kembali ke Surabaya setelah mendengar berita lelayu tentang Tante Fani. Dia merasa hal yang tak wajar pasti terjadi. Selama bekerja di Yogyakarta, Gio mulai mengasah kemampuan indera keenamnya. Dia bersama teman sekantor yang bernama Gilang, sering mengadakan ekspedisi gaib. Mereka pun tahu jika makhluk gaib pun memiliki tingkatan strata atau pangkat yang berbeda.
Saat Gio menceritakan tentang kematian Angel dan Lukas yang mengenaskan kepada Gilang, dia mendapatkan jawaban jika hal itu bukan disebabkan makhluk gaib sembarangan.
"Iblis. Makhluk kuat yang berasal dari Neraka. Bukan lawan yang mudah. Aku melihat itu dalam penerawangan. Dia akan mengambil jiwa manusia yang sudah mengikat perjanjian dengannya. JERAT IBLIS tak akan mudah putus." Perkataan Gilang waktu itu selalu terngiang di pikiran Gio.
Wanita iblis yang waktu dahulu dilihat Gio berada di ruang ICU Lukas adalah makhluk yang menjerat kehidupan Lukas hingga meninggal. Gio pun merasakan hal yang sama saat menemani Tante Fani selepas kepergian Lukas. Pernah suatu ketika, Tante Fani terlihat sangat cantik dan mempesona hingga Gio hampir saja terpaut hati. Namun, pernah juga dalam suatu waktu wajah Tante Fani berubah menakutkan dan terlihat tua. Gio sadar jika itu salah satu pengaruh ilmu pelet atau pengasihan.
Perjalanan Gio dari Yogyakarta ke Surabaya terasa cepat. Semua pemikiran Gio yang belum menemui titik terang membuatnya tak merasakan waktu perjalanan di kereta. Sesampainya di stasiun Surabaya, Gio bergegas naik ojek online untuk ke tempat pemakaman.
Tempat duka dihadiri banyak pelayat yang bersedih atas kepergian Tante Fani. Terutama keluarga Tante Fani yang tak menyangka jika kepergiannya secepat ini. Beberapa isu pun beredar di kalangan pelayat karena sebelumnya terlihat Tante Fani dekat dengan seorang pria.
Gio akhirnya sampai di tempat duka. Tante Fani sudah dimakamkan siang tadi, tetapi suasana tempat duka masih banyak pelayat. Gio mencari orang tuanya. Lalu, bergegas ke sana.
"Papa, Mama, Gio sudah sampai di sini," lirih Gio saat menghampiri orang tuanya yang duduk di depan.
"Gio, istirahat dulu, Nak. Kamu pasti lelah." kata mama khawatir.
"Tak apa, Ma. Tante Fani dimakamkan di mana?"
"Sebelah makamnya Lukas dan Papanya Lukas. Kamu mau ke sana? Biar Papamu mengantarkan." jawab mama yang khawatir jika Gio pergi sendirian.
"Ya, Ma."
Papa Gio pun mengantar puteranya ke makam dengan berjalan kaki. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka sampai ke pemakaman. Lalu, menyusuri beberapa makam hingga sampai ke gundukan tanah yang masih merah.
"Ini makam Tante Fani, Gio." kata papa yang kemudian membuat hening terasa mencekam.
Gio menatap nisan Tante Fani. Dia berdoa agar beliau tenang di alam sana. Entah surga atau neraka, atau alam lainnya, manusia tidak ada yang pernah tahu secara pasti apa yang terjadi setelah kematian.
Selesai mendoakan, Gio melihat sosok Tante Fani dalam penerawangannya. Tante Fani menangis dan meminta tolong. "Tolong Gio ... tolong Tante ... Lukas dan Papanya juga ada di sana. Tempat mengerikan."
Gio tak bisa menolong. Dia langsung berpaling. "Pa, ayo kembali." ucap Gio pada papanya.
Mereka pun kembali ke rumah Tante Fani. Setelah sampai di sana, Gio kembali merasakan aura negatif di sekitar rumah Tante Fani. Seakan baru saja ada makhluk gaib di sana. Namun, di mana? Gio pun mengambil ponsel untuk menghubungi Gilang dengan mengirim pesan singkat.
Gio: [ Gilang, aku curiga, nih. Sepertinya memang benar kepergian kali ini juga disebabkan makhluk yang sama. ]
Gilang: [ Auranya berbeda tidak? Penerawanganku, ada dua makhluk yang berada di sana tadi. ]
Gio pun mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari kira-kira di mana asal aura negatif itu. Namun, dia belum menemukannya.
Gio: [ Saat ini tidak ada apa pun di sini. ]
Gilang: [ Makhluknya sudah pergi. Besok kamu kembali ke Yogyakarta, kan? Kita akan temukan jawabannya besok. ]
Gio: [ Oke, Bro! ]
Rasa curiga di benak Gio mengalahkan rasa takut dalam berurusan dengan makhluk gaib, terutama iblis. Gio justru semakin curiga dan penasaran akan semua kasus aneh ini. Hari itu, Gio menginap di rumah orang tuanya karena pagi-pagi betul dia harus kembali ke Yogyakarta dengan pemberangkatan kereta pertama kali.
...****************...
Setelah pertemuan Dinda di rumah, sikap Reno berubah banyak. Dia sering tersenyum dan sembunyi-sembunyi memegang handphone. Untuk apalagi kalau tidak menghubungi Dinda. Beberapa tahun bersama Nindy membuat Reno jenuh karena sikap Nindy yang berubah galak dan suka mengatur.
Reno yang bekerja keras, justru terkekang dan tak bisa hidup nyaman. Nindy selalu saja mencurigainya, padahal Reno tak pernah mendua. Namun, kali ini, Reno kembali merasakan cinta lama bersemi kembali. Cinta yang belum usai itu, kini hadir kembali. Dinda yang tidak menua sama sekali, membuat Reno takjub.
Reno bahkan beberapa kali memimpikan Dinda. Dia pun tanpa sengaja membayangkan wajah Dinda saat bersetubuh dengan istrinya. Seakan-akan Nindy adalah Dinda. Reno menjadi bersemangat dan mendapat kepuasan yang sudah lama tak ia dapatkan.
Nindy tidak tahu hal itu. Namun, dia sudah curiga dengan gelagat Reno. Nindy pun tak suka dengan kedatangan Dinda meski bersama calon suaminya. Dia tetap menganggap Dinda sebagai saingan dan patut dicurigai.
"Pa, ngapain dari tadi senyam senyum sendiri?" tanya Nindy penuh selidik.
"Loh, Papa sekarang, kok, gitu sama Mama? Ih, pasti gara-gara ...."
"Gara-gara apa atau siapa? Selalu saja nyalahin orang lain atau menerka sendiri. Padahal kamu itu sumber masalahnya!" Reno menyela perkataan Nindy dan membuat istrinya itu syok.
"Pa ... kenapa bilang begitu?" lirih Nindy yang mulai bergetar. Dia merasa sesak di dada dan hendak menangis.
"Sudah, ah. Aku mau pergi dulu!" Reno meraih kunci mobil dan jaketnya. Dia segera berlalu meninggalkan Nindy yang kemudian menangis.
"Lisa! Ikut Papa, yuk. Papa mau ke mall," teriak Reno memanggil anaknya. Lisa pun datang, berlari ke arah Reno.
"Papa, ikut!" seru Lisa yang antusias. Reno pun mengajak puterinya untuk pergi jalan-jalan.
Nindy di rumah menangis karena merasa Reno keterlaluan. Tanpa melihat ke cermin seperti apa sikap Nindy, dia justru menyalahlan suaminya. Hubungan yang selalu curiga dan saling menyalahkan hanya akan berjalan ke jurang kehancuran.
Padahal, kehidupan rumah tangga harus dilandasi kepercayaan dan saling mendukung. Rumah tangga yang sehat, akan memberi ruang pasangannya untuk memiliki kegiatan pribadi dan hobi yang bersifat positif demi kesehatan jiwa. Jika sudah selalu curiga dan posesif, yang ada hanyalah membuat tak nyaman dan mencari hal lain di luar rumah.
Reno mengendarai mobil melaju ke mall terdekat. Dia malas berdebat dengan Nindy yang pasti berakhir dengan tangis dan membuat Abah serta Ibu khawatir. "Dasar kekanak-kanakan. Dari dulu selalu seperti itu. Kupikir seiring berjalannya waktu dia akan berubah, ternyata sama saja. Justru makin menjadi!" batin Reno yang mulai muak dengan Nindy.
"Pa, Tante yang kemarin itu lucu, ya," kata Lisa membuyarkan pikiran Reno yang tadinya marah dengan Nindy menjadi bersemangat menjawab.
"Ha? Lucu kenapa, Sayang?" Reno masih menyetir mobil dan masuk ke area parkir mall.
"Lucu aja, dia punya tanduk dua. He he he ... waktu Mama jawab ketus, Tante itu seperti keluar asap di atas kepalanya." celoteh Lisa yang membuat Reno tertawa.
"Mana ada seperti itu, Sayang. Seperti Hellboy di film saja. Eh, ini sudah sampai. Ayo kita turun dan bermain sepuasnya!" kata Reno membuat Lisa semangat.
"Horee!"
Lisa pun lupa dengan pembicaraan tentang Tante Dinda. Dia asyik bermain dengan Reno di area bermain Waktuzone. Reno senang menghabiskan waktu dengan Lisa daripada dengan Nindy yang selalu penuh curiga. Kadang jika tak ingat soal Lisa, Reno ingin cerai saja. Namun, jika melihat anaknya, dia kembali bersabar menghadapi tingkah laku Nindy yang kadang tak masuk diakal.
Tiba-tiba, seseorang mengagetkan Reno. "Hai," sapa wanita cantik itu.
"Dinda?" lirih Reno yang mulutnya menganga tak percaya jika wanita yang dipikirkannya muncul tiba-tiba.
"Iya, ini aku. Kenapa memikirkanku terus? Kamu itu sudah menikah dan punya anak," ucap Dinda tanpa basa-basi.
Reno pun kaget dan bingung. Pesona Dinda memang tak bisa dihindari. Reno masih saja mengingat waktu dahulu terhanyut dalam pesonanya. "Aku cuma rindu." gumam Reno yang jelas terdengar Dinda.
"Rindu apa? Jika sekali lagi kita bersama, bukankah kamu tahu itu tak baik untuk hidupmu? Kamu bisa mati." bisik Dinda setengah menakut-nakuti.
Bukannya takut, Reno justru merasa tertantang. "Tak apa. Lebih baik mati dengan wanita yang diimpikan daripada hidup dalam kesia-siaan."
Dinda pun menatap Reno dengan tajam. "Hati-hati jika berkata, Reno! Kamu tidak akan tahu apa yang terjadi esok," ucap Dinda memperingatkan, "lupakan aku. Jangan pikirkan aku lagi. Hidupmu masih panjang jika tak menyentuhku lagi."
Reno tak bisa mencerna perkataan Dinda. Bahkan peringatan itu pun terabaikan. Entah mengapa Reno merasa sangat merindukan Dinda. Rindu menyentuh Dinda. Nafsu selalu saja menjadi awal dosa yang berlanjut ke dosa lainnya. Menjerat manusia dalam hal yang tak terduga.
Dinda pun pergi dan menghilang ketika Lisa berlari ke arah Reno. Dia menghindari anak Reno karena tahu bocah itu istimewa. Dia tak ingin membuat keributan atau memancing celoteh anak perempuan itu. Dinda tersenyum dari kejauhan dan menghilang.
"Papa! Papa kenapa lihat sana terus? Ayo main sama Lisa lagi," ajak Lisa sambil menarik tangan papanya.
"Iya, Sayang. Ayo main. Maaf, Papa lapar ini jadi kurang fokus." Reno mencoba mengalihkan perhatian.
"Wah, sama, Pa! Ayo makan dulu," kata Lisa bersemangat.
"Ayo, makan! Mau makan apa?" tanya Reno sambil berjalan menyusuri foodcourt yang berjejer di dalam mall.
"Makan apa aja. Asal jangan ajak Tante Dinda, ya, Pa. Lisa tahu Mama nggak suka," ucap bocah itu tanpa menatap Reno.
Reno pun bingung, mengapa anaknya peka sekali? Padahal usianya masih kecil. Reno pun memutuskan makan di hokben bersama Lisa. Mereka pun membahas banyak hal yang membuat tertawa bersama. Mereka terlihat bahagia meski Nindy di rumah masih menangis.