
π KEPUTUSAN BURUK π
Setelah selesai melayat, Ningsih dan keluarga besarnya kembali ke rumah. Bukan hal yang menyenangkan dipaksa untuk baik-baik saja di depan orang yang melukai hatinya. Tetangga Agus pun tak sedikit yang mencibir Ningsih. Bahkan ada yang tega mengatakan:
"Dasar wanita tak tahu diri."
"Wanita gila harta! Suami meninggal langsung nikah lagi biar dapet harta."
"Lihat dandanannya seperti wanita ******."
Perkataan terpedas adalah, "Mungkin si Ningsih kerja jadi selingkuhan pejabat di Jakarta makanya cepet kaya. Lihat aja keluarganya malah senang."
Semua perkataan pedas itu membuat Ningsih meradang. Hampir saja ada keributan di tempat melayat. Tetangga dari keluarga Agus memang sudah dihasut karena Ningsih tak mau memberi uang lagi, semua dibuat membenci keluarga Ningsih.
Joko hampir saja beradu otot karena tak tega melihat Ningsih sedih. Bapak Ibu Ningsih memilih untuk lekas pergi setelah menyumbang dan melayat dari pada terjadi keributan.
Mereka pulang ke rumah Bapak Ibu Ningsih dengan perasaan berkecamuk. Suasana menjadi canggung dan dingin. Sesampainya di rumah, Ningsih masuk ke kamar tanpa memperdulikan keluarganya.
"Kenapa sih mereka bermulut kejam? Kenapa mereka selalu mengusikku? Mereka tak tahu Agus menyiksaku bukan hanya fisik, tapi juga mental dan hatiku. Apa belum puas membuatku jadi seperti ini? Aku berusaha mati-matian mencari harta demi anakku. Bukan untuk menyumpal mulut mereka!" batin Ningsih berkecamum bersama derasnya air yang jatuh dari sudut matanya.
Bima tiba-tiba muncul dan geram, "JANGAN MENANGIS ISTRIKU... AIR MATAMU TERLALU BERHARGA UNTUK TUMPAH. AKU AKAN MENGURUS ITU SEMUA. TENANG SAJA. PERINGATANKU TADI PAGI TERNYATA TAK MEMBUAT MEREKA JERA. BAIKLAH INI JALAN YANG HARUS KULAKUKAN!"
"Bima..."
"JANGAN MENANGIS, OK. TUNGGU SEBENTAR. AKU AKAN MEMBERESKANNYA."
Ningsih langsung duduk di ranjangnya. Bima menghilang bersamaan Ibu masuk ke kamar.
"Nduk... jangan sedih ya. Sudah abaikan saja mereka. Ibu tahu kamu pasti sedih," lirih Ibu sambil mengusap bahu Ningsih.
Ningsih menghapus air matanya, "Iya, Bu. Ningsih cuma menangis saja biar lega. Rasanya sakit je Bu."
"Iya, Nduk. Ibu paham... tapi kita bisa apa? Mau jelasin juga ga bisa. Toh keluarganya Agus sudah meninggal semua karena kebakaran. Bu Dwi, Lastri, Via, sama Wulan sudah berpulang hari ini, ikhlaskan saja. Semoga warga lekas sadar siapa yang salah."
Ningsih pun tak ingin berlama-lama bersedih. Dia ikut ke ruang tamu dengan Ibunya. Melihat Wahyu sedang bermain dengan Bapak, rasanya sangat senang. Ningsih tak ingin terlihat sedih di depan anaknya.
***
Sore harinya saat pemakaman empat jenazah keluarga Agus, angin kencang menerpa jalan menuju pemakaman yang dilalui para pelayat dan tetangga Agus yang membantu pemakaman. Seketika bukit yang dilalui longsor, tanah melahap semua orang yang berada di jalan itu. Semua tewas dalam timbunan termasuk Rohmad dan Sigid yang diutus menemui keluarga Ningsih tadi pagi.
Berita itu membuat heboh se Wonosari. Evakuasi besar-besaran pemerintah dan warga dilakukan segera. Ningsih yang tahu hal itu perbuatan Bima lantas mengajak Bapak Ibunya ke Kota Yogyakarta untuk berlibur. Sore itu juga mereka pergi ke Yogyakarta. Reno dan Joko sempat berebut untuk menyetir mobil yang dinaiki keluarga Ningsih. Hal itu membuat Santi dan Nindy cemburu dan sebal.
"Dah... Mas Joko nyetir Avanzanya aja. Biar Reno bawa Pajeronya," ucap Reno santai.
"Den Reno mending bawa Avanza, 'kan saya sopirnya Bu Ningsih. Nggak apa, Den," jawab Joko agak merendah.
"Oalah kalian ini seperti anak kecil rebutan permen saja! Sama-sama mau ke Yogya kok repot. Jadi pergi tidak?" gertak Bapak Ningsih membuat ciut nyali Reno dan Joko.
"Sudah nggak usah berebut... Tante nyopir sendiri aja. Dah Reno bareng ama Joko ya di Avanza. Tuh dah ditunggu Mak Sri, Nindy dan Santi. Nanti ikuti Tante aja yaa jalannya," kata Ningsih sambil menggandeng tangan Bapaknya ke Pajero milik Reno.
***
Sementara di waktu yang sama....
"Welcome to Indonesia," sapa seorang petugas bandara kepada Lee dan Lily.
Mereka berjalan bagaikan pasangan muda yang kaya raya. Keputusan mereka untuk ke Jakarta mencari Ningsih semata untuk balas dendam. Tentunya hal itu membuat kehidupan mereka jauh dari rasa tenang.
"Lee... andai kau bertemu wanita itu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lily yang memeluk lengan lelaki di sampingnya.
"Aku tidak akan melakukan apa pun. Aku hanya ingin menghancurkannya perlahan tapi pasti, tanpa menyentuhnya. Itu balas dendam terindah untuk orang yang mengirimku ke Neraka," jawab Lee tanpa goyah memandang lurus ke depan.
Sepanjang perjalanan Lily menanyai Lee soal hubungannya dengan Ningsih dan semua dijawab lelaki itu. Bahkan soal dia mati dan dibawa ke Neraka pun semua sudah diceritakan. Jadi Lily merasa tak ada dusta di antara mereka. Sebenarnya itu hanya tiou daya iblis yang menyerupai Lee. Sengaja memanfaatkan Lily untuk membunuh banyak orang lagi.
"Lee... kamu mau makan dulu?" tanya Lily penuh perhatian.
"Tentu... makan malam romantis? Apakah kamu mau?" jawab Lee membuat hati Lily berbunga-bunga.
"Tentu... aku mau... Lee mau makan apa atau di mana?"
"Daging... aku mau makan Steak dan minum wine... Ayo ke hotel berbintang lima saja," sahut Lee sambil mengecup dahi Lily.
Daging mentah adalah hidangan kesukaan iblis. Sedangan anggur merah menjadi minuman pengganti darah yang bisa diterima kerongkongan. Lily yang terlalu cinta Lee menjadi buta segalanya. Dia sudah terlalu bahagia bisa bersanding dengan lelaki idamannya.
Seusai mereka makan malam, Lee pun menceritakan soal Neraka dan seisinya. Tentang lapisan Neraka dan penguasa yang berbeda. Tentang umat manusia yang serakah dan penuh dengki, berjiwa kotor dan pantas menjadi penghuni Neraka. Lily mendengarkan semua cerita Lee. Seakan terhipnotis oleh setiap perkataan Lee, wanita itu semakin terhanyut dalam rasa cinta dan kegelapan.
"Kamu setuju denganku 'kan? Manusia-manusia seperti itu tidak layak berada di bumi. Neraka menjadi tempat terbaik untuk mereka," ucap Lee mengakhiri ceritanya.
"Iyaa... aku sependapat denganmu. Aku juga tak suka banyak orang munafik dan egois. Apa lagi yang mengatas namakan cinta untuk memenuhi nafsunya," jawab Lily sambil berbaring di dada Lee dalam kamarnya.
"Kalau begitu... sayang, mulai malam ini, ikutlah berburu jiwa manusia yang busuk. Lebih mudah jika berdua mengirim mereka ke Neraka."
"Baik sayang... everything for you..."
Lily menerima ajakan Lee dan mengakhiri pembicaraan dengan bibir yang bertaut. Mereka saling melepaskan hasrat dan membawa kata cinta dalam semua rasa yang membuncah. Lily tak sadar jika dia sudah tak bisa tertolong. Mengiyakan ajakan Iblis sama dengan mengabdi selamanya. Keputusan buruk yang akan diratapinya kelak.
Bersambung....