JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 43


...🔥 Minggu Ketiga 🔥...


Bima menjalani kehidupan seperti biasa dengan keluarganya meski dia sadar waktu semakin sempit untuk bersama. Dia akan segera pergi meninggalkan keluarga tercinta. Seorang istri yang menjadi wanita pertama dalam hidupnya dan juga cinta pertama Bima meski sudah menjadi iblis. Dia pun mencintai kedua putranya. Wahyu yang sudah Bima lindungi sejak dalam kandungan, meski tanpa sepengetahuan Ningsih, Bima melindungi mereka. Apalagi dengan Alex yang menambah kebahagiaan Ningsih dan Bima.


Hari-hari makin terasa sempit dan sedih karena dalam benak masing-masing saling tak siap berpisah. Malam itu, Ningsih dan Bima memandang langit malam yang penuh dengan bintang.


"Ningsih ... malam ini indah sekali. Banyak bintang bertaburan. Bulan juga bersinar terang," ucap Bima yang tak bisa menggombal.


Ningsih pun menyenderkan kepalanya di bahu suami gaib yang selama ini melengkapi kehidupannya yang sunyi. "Sayang, aku mencintaimu. Sampai akhir waktu pun aku mencintaimu. Bima sayang, aku menunggu kamu sampai kembali ke sisiku lagi," lirih Ningsih yang menatap hamparan bintang di langit malam yang gelap.


"Ningsih, jika seandainya aku tidak kembai, bagaimana? Bukankah kita harus memikirkan kemungkinan terburuk terlebih dahulu, agar tidak sedih kemudian." Bima menatap istrinya. Kedua mata mereka bertemu dalam satu tatapan. Ningsih pun duduk tegak dan menatap suaminya.


Rasa itu masih ada dan tetap sama. Rasa cinta di hati Ningsih dan Bima yang sama-sama besar. Tahun demi tahun sudah berlalu, perasaan itu tak pernah hilang. Justru semakin tumbuh dan semakin besar.


"Jika kamu pergi dan tak kembali, aku akan tetap menunggu meski di dunia lain. Apakah kita bisa bertemu di neraka?" tanya Ningsih yang membuat lubang di hati Bima makin dalam.


"Ningsih, bagaimana jika aku memintamu bertaubat saja? Lupakan aku. Alex akan kubawa saja ke tempatnya seharusnya di neraka. Dinda tak akan mengunjungimu lagi. Hiduplah dengan baik bersama Wahyu. Dia bisa mengarahkanmu ke jalan yang seharusnya. Apakah kah kau mau melakukannya demi aku?" Kata-kata yang keluar dari mulut Bima membuat Ningsih sedih dan kesal.


"Mengapa kamu seperti itu, Bima? Mungkin bagimu mudah melupakanku, tetapi aku? Aku tak bisa. Aku tak sanggup. Please, jangan meminta seperti itu ...."


Belum selesai Ningsih berbicara, Bima langsung memeluk istrinya dengan erat. Dia pun mengutarakan apa yang ada di benaknya.


"Sayang ... bukan berarti aku tak cinta atau mudah melupakan. Bukan. Aku hanya tak ingin kamu merasakan siksa api neraka. Kehidupan setelah kematian adalah kekal. Aku tak ingin kamu menderita selamanya hanya karena cinta. Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu."


Desir angin berembus meniup sepasang kekasih yang merasakan gundah gulana. Mereka saling mencintai tetapi juga takut akan segala hal yang akan terjadi. Mereka pun terdiam memikirkan hal terbaik apa yang sekiranya bisa mereka lakukan.


...****************...


Minggu ketiga adalah hari-hari yang sangat mendebarkan, karena seminggu lagi Bima akan kembali ke neraka untuk mengabdi kepada penguasa neraka. Tentu saja hal itu membuat gundah-gulana di hati kedua anaknya. Alex dan Wahyu merasa jika Bima pergi, bagaimana kelanjutan kehidupan mereka dan juga Ningsih?


Kedua anak Bima itu menyadari jika ayah dan ibunya saling terjalin hubungan yang mendalam. Mereka saling menyayangi dan mencintai. Bahkan, jika berpisah pun mereka pasti akan saling menunggu dan menanti. Wahyu disatu sisi pemikiran, ikut sedih melihat ibunya yang bersedih, sungguh terasa sakit di hati.


Sisi lain, Alex pun memikirkan hal yang sama melihat ayahnya yang bersedih. Apakah cinta dua dunia ini bisa bertahan ataukah mereka akan terpisah satu dengan yang lainnya? Seperti halnya yang dikatakan Bima, Wahyu mengikuti Ibunya dan Alex mengikuti ayahnya. Dua dunia yang terpisahkan yang memang tidak bisa bersatu dari zaman dahulu kala.


"Kak, apakah kamu punya solusi atas masalah ini?" kata Alex sambil menatap langit-langit di kamarnya. Wahyu yang tiduran di samping Alex pun segera menatap adiknya itu.


"Emm ... kita hanya bisa berikhtiar. Pasrahkan semua pada Allah. Bagaimanapun, ini sudah jalanan takdir. Mau berkata apalagi, kalo Allah tidak mengizinkan sesuatu terjadi, pasti tidak akan terjadi. Kakak bisa apa? Tidak bisa apa-apa, 'kan?" jawab Wahyu dengan berpikir keras.


Apalagi yang bisa Wahyu katakan selain hal seperti itu. Karena sesungguhnya kehidupan manusia, takdir manusia, dan nasib manusia sudah tertulis dalam buku kehidupan dan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa yang tahu.


"Iya, Kak, aku tahu Kakak itu seorang yang sholeh dan sangat mengedepankan nilai-nilai agama. Tetapi maksud Alex itu, bagaimana nasib Mama dan Papa selanjutnya? Kalau mereka berpisah, mereka pasti akan sedih. Lalu, bagaimana kita bisa membantu mereka? Aku masih memikirkan hal ini, Kak. Aku sudah tanya kepada Tante Lauren. Apakah dia masih mau membantuku untuk mengubah Papa menjadi manusia seutuhnya." Alex pun duduk sambil menatap kakaknya.


Ekspresi wajah Wahyu berubah seketika. Tak suka dengan penuturan adiknya. Dia pun menarik napas dan mengembuskan perlahan.


"Alex, jangan aneh-aneh lagi. Kamu sudah dengar sendiri, Papa bilang apa? Kali ini adalah masalah yang sangat serius karena Papa membuat perjanjian dengan penguasa neraka. Andai kata Papa diubah menjadi manusia, apakah menjamin akan membuat Papa dan Mama bahagia? Ataukah akan membawa permasalahan-permasalahan baru yang akan muncul silih berganti dan tak ada habisnya? Sejujurnya, kita tidak boleh egois. Terkadang memang harus ada perpisahan menyisahkan luka. Tetapi semua itu untuk kebahagiaan," ungkap Wahyu dengan tenang.


"Alex, bukannya Kakak itu senang Papa dan Mama berpisah. Bukannya Kakak itu menginginkan hal ini, bukan sama sekali. Malah justru Kakak itu ingin kita bisa bersama-sama menuju jalan yang terbaik untuk kehidupan kita. Kamu tidak tahu apa yang Papa ucapkan kepada Mama tadi malam?" tanya wahyu kepada adiknya secara serius.


"Emang Papa bilang apa ke Mama, Kak?" selidik Alex sangat penasaran.


"Papa bilang ke Mama untuk melanjutkan kehidupan dan bertobat. Kamu tahu apa artinya itu? Mengapa Papa yang akan pergi ke neraka pun memberikan pesan seperti itu ke Mama?" tanya Wahyu memancing apakah Alex paham atau tidak.


"Ha? Apa iya Papa bilang seperti itu? Emang artinya apa, Kak?" Alex mengamati wajah kakaknya yang memang hampir mirip dengannya.


"Artinya adalah rasa cinta di hati Papa kepada Mama itu sangat besar, sehingga Papa mengorbankan dirinya untuk melindungi keluarga dengan cara menepati janji, mengabdi pada penguasa neraka. Papa tidak memikirkan dirinya sendiri atau pun egois. Dia justru memikirkan kehidupan yang terbaik untuk pasangan dan anak-anaknya. Apakah kamu tahu juga apa yang Papa katakan ke Mama tadi malam? Papa bilang, kamu akan ikut dibawa ke tempat yang seharusnya, yaitu di neraka dan Kakak akan tetap di sini bersama Mama untuk membawa Mama ke jalan yang lebih baik, pertaubatan kepada sang Maha Kuasa," jelas Wahyu pada adiknya.


Sontak Alex tak percaya perkataan Wahyu. "Tak mungkin Papa bilang seperti itu. Ini pasti hanya akal-akalan Kak Wahyu aja, bukan?" Alex masih tidak mempercayai hal itu dan merasa Wahyu yang mungkin mengusulkan pernyataan itu.


"MasyaAllah, Dek, mengapa kamu seudzon sama Kakak? Itu adalah bentuk cinta terbesar yang sesungguhnya. Pengorbanan, tidak egois, memikirkan kepentingan pasangan dan keluarga, meski hati terluka. Itulah yang namanya cinta sejati. Cinta yang jarang ditemukan di hati manusia. Andai kata Kakak dalam posisi seperti Papa pun, belum tentu Kakak bisa melakukan hal itu. Papa sangat menyayangi Mama. Sebagai anak, mari kita dukung mereka agar mereka lebih tenang menjalani hari-hari yang tersisa. Tinggal seminggu ini. Jangan berbuat ulah ya, Dek. Kakak hanya bisa memperingatkan itu," jelas Wahyu terhadap Alex membuat semakin pening.


Alex pun tiduran kembali di ranjang besar di kamarnya. Dia kembali memandang langit-langit. Sedangkan Wahyu, langsung berdiri dan ke kamar mandi untuk wudu. Dia hendak mengadu pada Sang Maha Kuasa di tengah malam agar semua permasalahan di duniawi bisa terlewati dengan pertolongan Allah.


Sedangkan Alex justru merasa gelisah. Jika berpisah, apakah orang tuanya akan benar-benar bahagia? Apa mereka justru akan tersiksa? Alex belum memahami apa yang dimaksudkan Wahyu. Dia masih menerka-nerka banyak hal.


Malam itu, berlalu dengan penuh rasa gundah. Baik di hati Ningsih dan Bima, pun juga di hati Wahyu dan Alex. Dinda dan Boy tidak ikut campur karena mereka takut jika salah bicara. Sedangkan Daniel dan Lauren pun bingung harus berbuat apa.


Mereka semua sadar jika keputusan yang Bima ambil adalah hal yang terbaik dari segala kemungkinan yang ada. Lantas, mampukah Ningsih merelakan suami gaibnya? Melepaskan diri dari JERAT IBLIS yang membuatnya lupa akan Sang Maha Pengampun dan kemudian bertaubat, apakah bisa?


Bukan hal yang mudah untuk dijalankan. Namun, bukan hal yang mustahil juga untuk dilakukan. Sesungguhnya, Sang Pencipta memiliki ketetapan-ketetapan tersendiri yang tak bisa terelakkan. Sang Maha Kuasa lebih memahami mana yang baik kita jalani dan kapan waktu yang tepat untuk kita mengubah hidup. Itu semua juga tergantung keputusan yang akan kita ambil.


"Apa pun keputusan yang kamu ambil. Aku akan tetap seperti ini. Mencintaimu sampai mati," batin Ningsih saat menatap wajah suaminya yang sudah terlelap.


Ningsih pun memeluk erat tubuh suaminya. Seakan tak ingin berpisah dan tak ingin melepaskannya lagi. Bima rasanya hendak meneteskan air mata, tetapi dia tahan. Dia masih menutup kedua matanya dan tak ingin istrinya bersedih.


...****************...


......Hai, Guys! Bagaimana, nih, ceritanya? Pada baper, nggak?......


...Terima kasih sudah setia membaca hingga JERAT IBLIS sampai popularitas 3M + dan semoga semakin maju ke depannya....


...Jangan lupa bantu share, like, komentar, dan VOTE serta TIP KOIN agar Author makin semangat menulis....


...Author harap bisa menghibur pembaca sekalian....


...Jangan lupa follow IG Author di @rensabeth ya^^...


...Terima kasih...