JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Welcome Home Alex


Hari sudah mulai terik. Siang itu, Alex sudah sampai di bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Perjalanan tujuh jam dari Australia ke Yogyakarta dengan perbedaan waktu empat jam membuat perjalan terasa singkat. Sampai di Yogyakarta, Alex memesan taksi karena tak ingin merepotkan keluarganya.


Alex sudah mendapatkan taksi dan segera masuk ke dalam mobil. Lelaki yang sudah dewasa dan terlihat cool/ keren itu meletakkan koper di samping tempat duduknya.


"Fiuh ... akhirnya sampai Indo juga. Sudah lama tak lihat rumah. Mama gimana, ya? Kangen Cahaya juga. Apalagi ... Lisa ... xixixi kalau Kak Wahyu, sih, nggak perlu dikangenin udah nyebelin," gumam Alex sambil melihat jalanan dari kaca mobil.


Sebentar lagi ... Alex sampai di rumah. Detak jantungnya berdegup tak karuan. Dia sangat gugup karena sudah lama tak pulang. Membayangkan wajah ibunya yang tersenyum membuat hati Alex tenang.


Setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit, sampailah taksi berwarna hitam itu di depan gerbang berwarna gold, rumah milik Ningsih. Alex turun dari mobil dan memberikan selembar uang seratus ribuan kepada Pak Sopir. Dia bergegas menurunkan kopernya juga.


Saat masuk ke dalam gerbang, satpam rumah tersebut langsung menyapa. "Selamat siang! Mau mencari siapa, Tuan?" tanya Satpam melihat Alex menarik kopernya.


"Pak, lupa sama saya?" Alex melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


"Masyaallah ... Den Alex? Ya ampun, Den. Sini Bapak bawain kopernya," kata satpam bergegas meraih koper dari tangan Alex.


"He he he ... lupa ya, Pak? Maaf, ya," ujar Alex sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya, Den. Pangling Bapak tuh. Den Alex tambah tampan dan tinggi. Mirip orang bule saja."


Pak satpam pun mengantar Alex sampai masuk ke dalam rumah. Begitu masuk ke ruang tamu, Ningsih yang sedang memegang vas bunga pun tak sengaja melepas vas tersebut.


Pyarr!


Suara vas bunga yang pecah membuat para bibi asisten rumah tangga segera datang hendak membersihkan. "Saya bersihkan saja, Nyonya."


Ningsih terdiam melihat Alex. Alex pun berjalan mendekati ibunya. "Mama ... Alex pulang ...."


"A-Alex ... putraku ... putraku yang aku sayangi ...." lirih Ningsih sambil membentangkan tangannya untuk memeluk tubuh putranya.


Alex langsung memeluk tubuh ibunya. "Mama ... maafkan aku ... Alex baru pulang sekarang. Maaf ...." kata Alex sambil memeluk erat tubuh Ningsih. Dia merasa menyesal sudah lama tak pulang hanya demi menenangkan diri sendiri. Dia menyesal karena tak memikirkan perasaan ibunya yang juga sedih.


"Tak apa Alex ... terpenting kamu sekarang sudah pulang. Mama kangen sama kamu. Adik dan Kakakmu juga merindukanmu. Mama harap, kita bisa berkumpul di sini," lirih Ningsih menahan sedih dan hampir meneteskan air mata.


"Mama ... maafkan aku. Hiks hiks ...." Alex menangis tak tahan merasakan sedih. Dia meluapkan perasaannya. "Maaf kalau Alex egois dengan tinggal di sana. Maaf kalau Alex tidak memikirkan perasaan Mama yang bertahun-tahun ini merindukan aku. Maaf, Ma. Maaf ...." imbuh Alex.


Ningsih pun menangis memeluk anaknya yang kembali pulang. Para bibi dan pak satpam pun tak kuasa menahan tangis. Mereka menangis melihat Ningsih yang akhirnya bertemu kembali dengan Alex.


...****************...


Setelah selesai acara seminar, Wahyu pun segera pulang karena dia tidak ada jadwal dengan pasien konseling hari ini. Sepanjang perjalanan, Wahyu memikirkan ibunya. Sudah lama kepergian Bima dan ibunya masih sering bersedih. Wahyu hanya menginginkan kebahagiaan keluarganya. Tak hanya soal Cahaya yang beranjak besar, pun juga Ningsih dan Alex.


"Mama ... setidaknya kalau Alex pulang, kerinduan Mama kepada Papa pasti terobati. Aku tahu Mama tersiksa dengan hal ini, tapi apa boleh buat. Cahaya juga tak merasakan kasih sayang dari Papa. Aku yakin, Papa juga sedih seperti kita," gumam Wahyu sambil menyetir arah pulang ke rumah.


Ternyata Bima ada di samping Wahyu. Dia tidak bisa menampakkan wujudnya ke keluarganya lagi. Bima mempunyai tugas lain yang lebih penting. Namun dia selalu menengok keluarganya secara diam-diam.


"Wahyu ... kamu anak yang baik. Sejak dalam kandungan, kamu memang anak baik. Meski bukan saudara kandung, kamu sangat memperhatikan adik-adik mu. Maafkan Papa ... Papa pergi demi kebaikan kalian," lirih Bima yang bersedih.


Bima pun menghilang sesampainya mobil Wahyu masuk ke pekarangan rumah. Wahyu turun setelah memarkirkan mobil.


"Ma, Wahyu pulang!" seru Wahyu sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Betapa terkejutnya Wahyu melihat Alex sedang duduk bersama Ningsih dan Cahaya. Mereka berbincang-bincang banyak hal. "A-Alex??" Wahyu langsung masuk dan menghampiri adiknya.


"Kak Wahyu!" seru Alex yang langsung berdiri dan memeluk kakaknya yang datang.


"Katanya berangkat besok?"


"Sudah kangen banget, sih, Kak. Kakak apa kabar?"


"Kabar baik. Kamu gimana di sana? Macam bule saja sekarang."


Alex menatap Wahyu sambil tersenyum. "Ha ha ha ha ... Kakak bisa aja!"


Mereka pun duduk di sofa sambil berbincang. Cahaya senang sekali mendapatkan oleh-oleh dari Alex. Ningsih merasakan kehangatan itu lagi. Kehangatan kekeluargaan yang dia rindukan. Meski Bima tak ada bersama mereka, Ningsih bersyukur Alex mau pulang.


...****************...


Malam harinya setelah dinner bersama ....


Alex merebahkan tubuhnya di ranjang. Kamarnya tetap sama seperti dahulu saat ditinggal. Dia meraih ponsel dan mengirimkan pesan.


Alex: [Hai, cewek panda ... lagi apa?]


Beberapa saat kemudian ada balasan dari Lisa. Alex menyebutnya cewek panda.


Lisa: [Hola, Kak Alex. Ini lagi rebahan aja.]


Alex: [Rebahan terus. Kapan belajar persiapan ke kuliah hayoo .... ]


Lisa: [Baru aja selesai TOEFL. Pusing tahu ... Kak Alex jadi pulang besok?]


Lisa: [Loh? Kenapa nggak jadi? Kakak ingkar janji! Kenapa besok nggak jadi pulang, sih?!]


Lisa langsung sewot karena kesal menunggu Alex pulang dan ternyata tak jadi besok. Padahal Alex hanya mengerjai Lisa.


Alex: [Dasar panda jelek. Iya, nggak jadi pulang besok. Soalnya ....]


Mengirim foto


Mengirim foto


Alex mengirim dua foto Selfi. Satu saat di bandara Adi Sucipto dan satu lagi saat di kamar baru saja mengambil foto.


Lisa menerima foto itu dan langsung berteriak. Dia senang mengetahui Alex sudah di rumah Oma Ningsih. Namun kesal juga karena Alex tidak mengabarinya terlebih dahulu. Lisa pun merajuk.


Lisa: [Oh, jadi gitu? Kak Alex pulang tapi nggak bilang aku? Aku mah apa atuh ☹️🥺]


Alex langsung bingung mendapat chat dari Lisa. Dia mencoba membujuk agar Lisa tak marah padanya.


Alex: [Lisa panda ... maaf. Tadi keburu dan mau beri kejutan untukmu. Tapi kalau Lisa marah, oke nggak apa. Hadiahnya buat Cahaya semua aja, ya?]


Lisa sebenarnya masih kesal, tetapi dia pun berpikir lagi. Soal oleh-oleh pasti menyenangkan dapat banyak. Kalau marah, Lisa akan rugi karena oleh-oleh diberikan ke Cahaya.


Lisa: [Baik-baik ... kali ini aku gak akan marah. Asal hadiahnya banyak.]


Alex: [Iya. Sudah malam. Tidur sana. Besok pagi, aku ke sana, ya?]


Lisa: [Ok.]


Alex: [Good night, Lisa pandaku.]


Lisa: [Good night too ❤️]


Lisa meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur. Dia langsung berguling-guling karena malu. "Aw ... Kak Alex ...."


Lisa memeluk boneka ice bear pemberian dari Alex. Oben mengganggu Lisa dengan meledeknya.


"Lisa ... Lisa ... Om sendiri, kok, diembat. Hii hii hii hii ... kaiiak nggak ada cowok lain aja, sis."


"Huh! Dasar hantu bencong! Kenapa ganggu aku terus, sih! Pergi sana!" Lisa kesal dan melempar bantal ke arah Oben yang tertawa meledek.


"Marah, nih, ye ... Alex ku ... Alex sayang ...."


"Apaan, sih! Pergi sana Oben! Jangan ganggu Alex pokoknya kalau dia ke sini. Awas saja kalau berani ganggu!"


Oben tertawa lalu menghilang menembus dinding kamar. Lisa pun cemberut dan duduk di tepi ranjang.


Beberapa saat kemudian, Lisa menyadari kalau ternyata pintu kamarnya belum ditutup rapat. Dia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. Saat hendak menutup pintu, Lisa mengetahui ternyata Reno mengintipnya.


"Papa!" seru Lisa mengagetkan Reno.


"Ah, eh, he he he ... Papa cuma tak sengaja lewat sini, kok," jawab Reno yang bingung sambil menggaruk kepalanya.


"Papa sudah nguping, ya? Sejak kapan Papa berdiri di depan kamarku?" Lisa sangat malu karena Reno memata-matai dirinya.


"Baru saja, kok. Papa nggak dengar kamu sebut nama Alex. Oopps ...." Reno langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Papa! Ah, menyebalkan. Sana pergi!" Lisa langsung menutup pintu kamarnya.


Reno tertawa sambil berjalan menuju ke kamarnya. Ternyata benar yang Reno tebak selama ini. Lisa menyukai Alex. Dan sepertinya Alex pun menyukai anaknya. Reno sangat perhatian dengan putrinya karena hanya Lisa yang dia punya. Saat melihat Lisa, seakan Reno melihat Nindy yang juga tersenyum padanya.


"Nindy sayang ... kamu pasti bahagia di sana. Aku sudah berusaha sebaik mungkin menjaga putri kita. Aku harap kamu tenang dan bahagia di surga. Tunggu aku menyusulmu kelak. Aku berusaha yang terbaik," ucap Reno sambil mengelus pigura berisi foto Nindy di dalam kamar Reno.


Sejak kejadian Devi yang menggunakan pelet pemikat Sukma, Reno sudah tidak dekat dengan wanita mana pun. Dia takut jika putrinya justru akan bersedih atau tersiksa jika dia memiliki pacar atau istri lagi. Reno selalu terhanyut dalam kesedihan ketika seorang diri di kamar. Dia teringat Nindy dan segala kenangan indah saat bersama. Seakan hidup tak adil karena Nindy sudah bertaubat, tetapi waktunya di dunia hanya sebentar.


Di sisi lain ... Lisa menutup pintu kamarnya dan kembali berbaring di kasur empuk miliknya. Membayangkan Alex yang besok akan datang ke rumahnya. Dia tersenyum sambil memeluk boneka ice bear dan kemudian matanya mulai terpejam. Lisa tertidur dengan nyenyak. Alex membawa kebahagiaan dalam hidup Lisa. Semenjak Nindy meninggal, Lisa selalu dilindungi oleh Alex. Meski Alex kuliah dan akhirnya bekerja di Australia, tetap saja Alex menghubungi dan memperhatikan Lisa secara intens.


Di tempat lain ... Alex pun meletakkan ponselnya sambil tersenyum membayangkan Lisa. Gadis kecil yang selalu dia lindungi dahulu, kini tumbuh menjadi gadis cantik yang penuh semangat. Dia bahagia meski berkomunikasi dari jarak jauh. Alex pun mulai terpejam dan tidur.


Mereka semua tak sabar menanti datangnya pagi. Beda dengan Ningsih. Wanita itu masih terjaga di dalam kamar sambil menangis. Mengingat Bima begitu menyedihkan bagi hatinya.


"Semua yang pernah kita lewati ... tak mungkin dapat aku lupakan ... Bima ... di mana kamu sekarang? Apakah kau lupa denganku yang sudah mulai tua ini?" gumam Ningsih sambil memeluk foto Bima.


...****************...


...Hai ... hai ... gimana suka nggak cerita ini lanjut? Maaf, ya, Desember lalu ada sesuatu jadinya tidak up dulu. Semoga kalian suka Januari ini Rens akan update setiap hari 🌹 Jangan lupa share karya ini, ya, agar banyak yang membaca. Bantu Author berkarya dengan memberi tip (koin) juga boleh banget....


...Terima kasih 😘...