JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 22


...🔥 CEMBURU 🔥...


Setelah puas menangis, Nindy pun meraih ponselnya. Dia menghubungi teman sesama mama muda. Dia hendak meminta saran.


Nindy: "Hallo? Cint, lagi free nggak? Aku mau ngobrol penting."


Susan: "Hallo juga, Cint. Free, nih. Mau ngobrol apa? Meet up aja, yuk."


Nindy: "Ya, deh. Tapi jemput, ya. Tahu 'kan, aku ini nggak bisa nyetir."


Susan: "Ok. Siap-siap, ya."


Nindy pun mengakhiri percakapan di telepon dan segera bersiap pergi. Saat dia hendak keluar, Ibu memanggil. "Nindy, mau ke mana, Nak? Tadi Ibu dengar kamu nangis. Kamu sama Reno ada masalah apa?"


"Nggak apa, Bu. Ibu tenang aja. Nindy mau pergi dulu, ya. Ibu dan Abah di rumah dulu soalnya Reno tadi pergi sama Lisa." jawab Nindy yang berlalu pergi.


Susan sudah mengemudikan mobilnya dan menunggu di depan gerbang rumah Nindy. Susan adalah salah satu dari mama teman Lisa. Nindy dekat dengan Susan karena Susan bersikap baik padanya. Meski dia tak tahu jika sikap baik itu ada maksudnya.


Siapa yang tak kenal Reno? Usaha Reno dan Santi yang sukses membuat tempat indekost di beberapa sudut Kota Yogyakarta. Hal itu jelas membuat Reno dan Santi kaya raya. Setelah Santi menikah, dua tempat indekost diserahkan ke Reno. Sedangkan Santi hanya memegang satu tempat untuk tabungan karena segala kebutuhannya sudah dicukupi Budi.


Saat ini, Reno sedang membuat perjanjian bisnis dengan investor untuk membangun indekost di daerah Sleman. Reno sudah membeli tanah strategis seharga hampir satu milyar. Oleh karena itu, dia butuh investor untuk membantu idenya membangun indekost. Hal itu membuat nama Reno semakin terkenal di Kota Yogyakarta.


"Susan, thanks ya." ucap Nindy saat membuka pintu dan masuk ke dalam mobil Susan.


"Iya, sama-sama. Mau ngobrol di mana?" tanya Susan sambil menyetir mobil pergi dari rumah mewah itu.


Susan ingin dekat dengan Nindy untuk mencari informasi yang cukup tentang Reno dan usahanya. Nindy tak tahu jika Susan bermuka dua. Sesampainya mereka di sebuah cafe, mereka pun masuk dan duduk di sana untuk berbincang.


"Kamu mau cerita apa. Nindy?" tanya Susan disela pembicaraan basa-basi mereka.


"Gini, Susan ... suamimu pernah nggak ada gelagat aneh setelah ketemu mantan gebetan?" Nindy terlihat resah. Dia sesekali meremas ujung gamisnya.


"Oh, soal begitu. Aku, sih, cuek aja. Kalau suami selingkuh, biarin aja. Ribut juga rugi sendiri. Selama ini dia 'kan yang mencukupi kebutuhan. Bayangkan aja kalau cerai, mau jadi apa kita? Nggak kerja dan nggak punya tabungan pula." Susan terlihat tak ada masalah mengatakan hal itu.


"Kok, bisa kamu begitu? Nggak cemburu?" selidik Nindy.


"Ngapain cemburu? Awalnya, sih, iya. Tapi sekarang udah nggak. Lagi pula, ada sesuatu yang kulakukan untuk dia. Dia udah nggak berani selingkuh lagi," bisik Susan serius.


"Apa yang kamu lakukan? Ajari aku, dong. Aku nggak mau Reno selingkuh." kata Nindy yang terlewat menaruh curiga.


"Nanti kuberi tahu. Tapi ... ini rahasia, ya." Susan pun tersenyum.


"Kena kau, Nindy. Sebentar lagi keluarga harmonismu akan hancur!" batin Susan.


Nindy dan Susan berbincang banyak hal. Nindy tak tahu jika sedang diperdaya Susan. Dia terlalu menaruh curiga sehingga membuat Reno makin hari makin tak nyaman bersamanya.


...****************...


Reno bergegas pulang setelah puas bermain dan makan bersama Lisa. Anak cantik itu membuatnya tak bisa berpisah dengan Nindy hanya karena sikap posesif. Meski kadang Nindy memaki Reno tanpa alasan yang jelas, dia masih bersabar demi keutuhan keluarga.


Saat hampir sampai ke parkiran, tak sengaja Reno menabrak seorang wanita. "Aduh ...." ucap wanita yang hampir saja terjatuh.


Reno memegang pinggul wanita itu secara refleks agar tidak terjatuh. Wanita itu pun menatap Reno. Betapa terkejutnya dia mengingat wajah Reno, salah satu dari keluarga Ningsih.


"Maaf, aku tak sengaja. Kamu tak apa?" tanya Reno, kemudian melepas tubuh wanita itu.


"Aku tak apa. Sepertinya kita pernah berjumpa. Kamu saudaranya Ningsih?" tanya wanita cantik dengan senyum menawan itu.


"Kamu kenal Tante Ningsih? Aku Reno. Ponakan dari Tante Ningsih. Tapi ponakan angkat bukan kandung. He he he ...." ucap Reno yang tersenyum.


"Iya, aku ini kenal dengan Ningsih. Namaku Lily," ucap wanita iblis itu sambil mengulurkan tangan.


"Pa, jangan ...." lirih Lisa memperingatkan dari balik tubuh Reno. Anak cantik itu memegang erat kemeja yang dipakai Reno.


Reno tak mendengarkan Lisa, dia justru menjabat tangan Lily dengan hangat. "Senang berkenalan denganmu, Lily."


Lily pun menatap Reno dengan tatapan menggoda. "Sama, Reno. Tak disangka, sekarang kamu tambah tampan."


"Papa! Lisa mau pulang!" protes Lisa yang tak ingin papanya terkena pengaruh wanita iblis itu.


"I-iya, Sayang. Ayo pulang." ucap Reno menenangkan anaknya, lalu berpamitan. "Lily, aku pulang dulu, ya. See you next time."


"Iya, Reno. Kita pasti berjumpa lagi," kata Lily dengan senyum penuh arti.


Lisa langsung menarik tangan papanya. Dia sungguh tak menyukai Tante Lily daripada Tante Dinda. Mereka pun masuk ke mobil dan perjalanan pulang. Lisa pun langsung protes kepada papanya.


"Papa! Lisa nggak suka sama Tante tadi." Lisa terlihat sebal dan melipat tangannya di depan dada.


"Lah, kok, begitu? Tante Dinda juga nggak suka. Sekarang Tante Lily nggak suka juga. Jangan begitu, Lisa. Mereka temannya Oma Ningsih." Reno menyetir mobil sambil menjelaskan.


"Papa itu tak paham. Sebel bilang Papa Mama tak ada yang percaya!" celetuk Lisa makin sebal.


Reno: [ Dinda, sudah bertemu Tante Ningsih? ]


Reno: [ Dinda, kenapa belum ada kabar dari kemarin? ]


Dinda: [ Bisa jemput di dekat stasiun kereta Tugu? ]


Reno langsung semangat menerima balasan dari Dinda. Dia segera membalas.


Reno: [ Ya. Tunggu. On the way. ]


Dinda: [ Ok. ]


Reno pun memutar arah mobilnya menuju ke stasiun tugu. Sedangkan Lisa yang belum hafal arah hanya diam saja. Dia masih diam karena sebal Reno seakan mengabaikan perkataannya hanya karena dia masih kecil.


Disaat yang sama, Gio sudah sampai di Yogyakarta. Dia sedang turun dari kereta api dan menuju ke gerbang luar stasiun. Dinda berada di sudut jalan menatap luar, menunggu Reno datang. Saat itu, Gio merasa merinding melihatnya. Tidak seperti orang lain yang tak berkedip melihat kecantikan Dinda.


"Jangan-jangan ...." gumam Gio menatap Dinda.


Dinda pun menoleh ke belakang karena merasakan aura Gio di sana. Hal itu jelas membuat Gio kaget san semakin merinding. Padahal dia di luar menunggu Gilang menjemputnya.


"Oh, bocah yang dahulu berteman dengan Lukas. Ha ha ha ... dia di Yogyakarta juga? Dunia memang sempit. Neraka pun tak cukup luas." Dinda menatap Gio beberapa detik, lalu kembali melihat lalu lalang mobil dan motor yang lewat.


Gio merasa jika wanita itu seperti iblis yang berada di ruangan ICU saat Lukas sakit. Namun, dia belum bisa memastikan karena kurang bukti dan Gilang belum datang.


Reno pun sampai di depan stasiun. Dia segera memarkirkan mobil dan turun mencari Dinda. Lisa yang memegang tangan Reno terpisah saat gerombolan orang berjalan keluar stasiun. Reno pun mencari Lisa. Namun, justru menemukan Dinda yang termenung menatap luar stasiun.


"Dinda!" seru Reno.


"Reno? Kamu sendirian?" tanya Dinda yang menghampiri Reno.


"Aku tadi sama Lisa. Ini Lisa terpisah. Bantu cari, ya." kata Ren khawatir.


"Iya, ayo kita cari anakmu."


Lisa bingung karena banyak orang. Dia pun mencari di mana papanya. Namun, belum ketemu. "Papa di mana?" Lisa hampir menangis karena kerumunan orang yang tak ada habisnya berlalu-lalang sedangkan Reno belum terlihat.


"Adik kecil, cari siapa?" tanya seorang pemuda membuat Lisa tidak jadi menangis.


"Kak, aku cari Papa. Papaku namanya Reno." ucap Lisa bersedih.


Saat pertama melihat gadis kecil yang kebingungan di depan stasiun, Gilang tahu jika anak itu juga istimewa. "Ayo, Kakak antar cari Papa kamu. Nama kamu siapa? Kakak namanya Gilang," kata Gilang yang mengulurkan tangan ke anak itu.


"Aku Lisa. Terima kasih, Kak." Lisa menjabat tangan Gilang.


Seketika Gilang merasakan semuanya. Tentang Dinda, Lily, Ningsih, Bima, Alex, dan Boy. Memory yang ada di Lisa, tersampaikan ke Gilang begitu saja melalui jabat tangan. Hampir saja Gilang menampik tangan kecil itu. Namun, dia menahan dan merasakan saja apa yang Lisa rasakan.


"Gilang!" seru Gio yang berlari kecil menghampirinya.


"Oi!" jawab Gilang. Dia masih memegang tangan Lisa karena takut anak itu akan semakin tersesat di stasiun.


"Eh, anak siapa ini?" tanya Gio yang bingung.


"Ini anak kesasar. Nyari Papanya. Namanya Reno."


"Oh, kasihan. Kita bawa ke bagian informasi aja. Biar dipanggilkan orang tuanya." Gio memberi ide yang tepat.


"Betul juga. Ayo kita ke sana," kata Gilang antusias.


"Siapa orang tua anak ini? Kenapa anak sekecil inj berinteraksi dengan makhluk gaib selevel iblis dan malaikat? Anak ini bukan anak semabarangan." batin Gilang yang berjalan menuju ruang informasi.


Ternyata, Reno sudah ada di sana menanyakan ke petugas. Tepat saat Gio dan Gilang mengantar Lisa ke sana.


"Papa!" seru Lisa yang langsung melepaskan genggaman tangan Gilang dan berlari ke papanya.


"Sayang! Lisa, jangan jauh-jauh dari Papa. Papa gendong aja, ya." kata Reno yang bersyukur anaknya sudah kembali.


Pertemuan itu membuat Gio dan Gilang tak sengaja bertatap dengan Dinda. Wanita iblis yang menyesatkan Tante Fani dan Lukas.


"Dua orang ini. Huh, bisa-bisa mereka mengusikku terus!" batin Dinda menatap para indigo itu.


"Terima kasih sudah mengantarkan anakku ke sini. Bagaimana kalau aku menraktir makan malam sebagai ucapan terima kasih." kata Reno dengan tulus.


"Tidak usah, terima kasih tawarannya," jawab Gilang sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya. Merasa sungkan.


"Tak apa. Terima kasih sudah menemukan Lisa. Kita bisa makan malam sambil berbincang, bukan?" imbuh Dinda membuat Gilang dan Gio terdiam dan tak bisa menolak.


Mereka pun meninggalkan stasiun kereta dengan mobil masing-masing. Gilang dan Gio mengikuti mobil Reno. Mereka menjadi penasaran soal Dinda. Terlebih, Gilang sudah bercerita tentang penglihatan Lisa. Lisa hidup dikelilingi makhluk gaib yang berpangkat tinggi. Bukan hanya soal hantu gentayangan. Ini soal Iblis dan neraka, serta malaikat dan surga. Manusia yang terbelenggu dalam ikatan gaib, tidak akan mudah melepaskan meski sudah tahunan. Reno hanya beruntung tidak direnggut jiwanya dahulu kala. Hanya karena PakLek Darjo tak tega dan meruat Reno, justru Bima mengambil nyawa Ratih sebagai gantinya.