JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 48 SPECIAL EDITION BIMA -3-


Bulan berganti dengan cepat ....


Ningsih baru saja membaringkan bayinya yang berusia tiga bulan di kasur dalam ranjang kayu yang mulai lapuk. Bayi lelaki itu tertidur nyenyak setelah menyusu ibunya.


"Akhirnya Wahyu tidur juga. Aku mau nyuci baju dulu ah. Oiya, aku belum makan. Makan dulu kali ya? Moga aja sarapan Mas Agus tadi masih sisa," gumamnya melangkah ke dapur.


Ningsih membuka tudung saji dari plastik yang sudah bolonh beberapa lubang. Tidak didapatinya sisa nasi uduk yang dibeli suaminya tadi pagi. Padahal Ningsih jelas sudah meminta uang pada Agus. Namun Agus hanya diam dan berlalu pergi.


Belum selesai mengelus dada, Ningsih terkejut ketika ada suara orang memanggil nama suaminya dari depan rumah.


"Agus! Woi, Agus! Keluar kamu! Hutang nggak mau bayar!" teriak seorang lelaki dari depan pintu.


Nasib Ningsih malang nian. Perut lapar, keroncongan, masih harus menghadapi orang yang entah siapa. Dia pun jalan ke depan. Wanita itu takut jika suara teriakan itu membangunkan anaknya.


"Ada apa, Pak?" tanya Ningsih pada lelaki yang dia ketahui namanya Juragan Sugeng.


"Eh, Ningsih. Suamimu mana? Dia hutang padaku," katanya agak memelankan suara.


"Maaf, Pak, Mas Agus sudah berangkat kerja. Dia tidak berpesan apa pun," lirih Ningsih yang bingung dan serba salah.


"Ah, sudah tak apa. Jangan panggil aku bapak, aku ini belum terlalu tua. Hutangnya juga tak banyak kok, hanya sepuluh juta rupiah. Ningsih habis melahirkan kok tambah cantik?" ucapan Sugeng membuat Ningsih takut. Lelaki tua bangka itu selain terkenal sebagai Juragan kaya raya, dia juga terkenal suka bermain wanita.


"MasyaAllah, banyak sekali? Saya betul tak tahu kalau Mas Agus pinjam sebanyak itu, Juragan," jawab Ningsih ketakutan dan mundur perlahan saat Sugeng maju.


Bima melihat keadaan Ningsih genting. Lelaki yang otaknya dipenuhi hawa napsu dan pikiran cabul itu terlihat bergairah melihat tubuh Ningsih. Terlebih setelah melahirkan, Ningsih justru makin cantik.


"TAKKAN KUBIARKAN KEPA*AT ITU MENYENTUH NINGSIH!"


Bima mengubah wujudnya menjadi bapaknya Ningsih. Saat Sugeng menyentuh Ningsih, terjadi perlawanan hingga tamparan keras mendarat di wajah wanita cantik itu hingga tubuhnya terjatuh.


"Oh, jadi wanita miskin sepertimu masih jual mahal? Berapa hargamu, ha? Sepuluh juta hutang suamimu akan kuanggap lunas jika kamu melayaniku dengan baik. Kuberi tambahan uang jika kamu mau!" kata Sugeng menatap tajam tubuh molek Ningsih yang jatuh karena tamparannya.


"Maaf, Juragan. Kumohon jangan lakukan ini..." pinta Ningsih yang mulai menangis ketakutan.


"Hahaha.... Diajak baik-baik tak mau ya? Suka jika aku bermain kasar? Ayo kalau itu maumu, dasar ******!" Sugeng menendang Ningsih hingga membuatnya tak berdaya.


Sugeng membuka kancing celananya, tiba-tiba.... Suara hantaman di kepala Sugeng terdengar sangan kencang.


"A*u! Siapa kamu!" umpat Sugeng yang jatuh tersungkur.


"Mau kau apakan anakku! Berani kau sentuh putriku, kupatahkan kedua tanganmu!" gertak bapak Ningsih.


"Ba...bapak...." lirih Ningsih dengan menahan sakit perutnya yang ditendang juragang gila itu.


"Aku hanya menagih hutang suaminya! Kalau kau ikut campur, maka bayarlah!" Sugeng bangkit berdiri dan coba mengintimidasi bapak.


"Sepuluh juta rupiah, bayar sekarang!" Sugeng merasa tak mungkin bapak Ningsih membawa uang sebanyak itu. Dia hendak mempermalukan bapak jadi-jadian itu.


Ya, itu bukan bapak asli Ningsih. Bima yang mengubah wujudnya karena geram dengan kelakuan Sugeng.


"Oh, hanya segitu kau berani menyentuh anakku? Ini bawa! Awas saja berani ke sini lagi!" ucap bapak sambil melemparkan segepok uang dari dalam tasnya ke muka Sugeng.


Sugeng yang merasa malu bergegas pergi. Dia pun merasa dendam pada Ningsih. Dia berjanji suatu saat nanti akan menghancurkan Ningsih dan menikmati tubuh wanita itu.


"Ningsih, kamu tidak apa-apa?" kata bapak menolong Ningsih untuk bangun.


Ningsih belum menjawab. Air matanya mulai jatuh terurai dan memeluk tubuh bapaknya. Tangis itu semakin kencang, serasa sesak di dada tumpah semua.


"Pak, maafin Ningsih ya. Ningsih nyesel dahulu berani sama Bapak dan Ibu. Tetap nikah dengan Mas Agus walau tanpa restu. Ningsih nyesel, Pak," lirih Ningsih disela tangisannya.


Bima memeluk kencang tubuh Ningsih dan mengelus punggung wanita yang diperhatikannya beberapa tahun ini. Wujudnya masih sebagai bapak Ningsih, dia harus bisa menahan diri.


"Tak apa, Ningsih. Semua sudah jalanan takdir. Tidak perlu menyesal dan menangis. Bapak ke sini bawa uang untuk kamu membeli kebutuhan sehari-hari dan juga membelikan anakmu apa yang dibutuhkan. Ini uangnya, tolong diterima," kata bapak Ningsih menyodorkan segepok uang dari dalam tasnya.


"Pak, ini banyak sekali. Tadi Bapak juga sudah membayarkan hutang Mas Agus. Ningsih jadi sedih...."


"Terima ya, Ningsih. Bapak dan Ibu menyayangimu. Hanya ingin kamu dan Wahyu bahagia serta hidup layak. Itu di depan, Bapak bawakan beras, telur, minyak, mie dan susu. Nanti dibawa masuk ya?" jelas bapak Ningsih.


Bima tahu dia tak bisa berlama-lama di rumah Ningsih. "Bapak pamit dulu ya Ningsih. Uangnya tolong kamu simpan dengan baik. Jangan sampai dibawa suamimu itu. Bapak takut malah buat beli keinginan suamimu, justru bukan untuk kebutuhan kalian," pesan bapak jadi-jadian itu.


Ningsih mencium tangan bapaknya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bapak pun bergi berjalan ke arah yang berbeda dari arah rumahnya. Sempat Ningsih merasa janggal, terlebih jarak rumah bapak ibu dan Ningsih cukup jauh. Sepertinya tak mungkin jika bapak jalan kaki. Tetapi tangisan Wahyu membuatnya tak bisa berpikir terlalu lama.


"Oek... oek... oek..."


"Wahyu nangis? Iya sebentar sayang...."


Wanita itu bergegas memasukan sembako yang diberi oleh bapaknya ke dapur. Lalu dia segera masuk ke kamar untuk menenangkan anaknya yang menangis.


Ningsih tak pernah tahu jika yang menolongnya adalah Bima si Iblis yang bertugas menyesatkan manusia. Dua kali ini... Bima mengubah wujud demi menolong seorang manusia. Padahal selama ratusan tahun, dia tak pernah melakukan itu. Semenjak dia mengabdi, tak lagi dia memikirkan hati maupun hidup orang.


Bersambung.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai hai hai guys! Makin seru nggak ceritanya?


Author mau mengucapkan banyak terima kasih. Setelah jatuh bangun memperjuangkan JERAT IBLIS, sempat ingin berhenti, tetapi kalian selalu menyemangati Author tanpa lelah memberi LIKE VOTE dan selalu setia komentar. Hingga.... saat ini JERAT IBLIS sudah resmi dikontrak pihak NovelToon. Thanks guys! Author mulai hari ini akan semangat update alias Crazy upday everyday, setiap hari tanpa henti selama sebulan penuh. Terima kasih sekali lagi dukungannya. Author bukan siapa-siapa tanpa dukungan kalian yang luar biasa. Kalau ada kritik atau saran, jangan ragu tulis di kolom komentar yaa. Author sangat senang bisa berkomunikasi dengan kalian semua.


Semoga kita semua diberi kemudahan rezeki, kesehatan dan kebahagiaan. amin amin amin